Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Sagara berdiri di depan kompor dengan ekspresi yang jarang sekali terlihat, ragu. Di tangannya ada pisau, di depannya bawang merah, bawang putih, dan seekor ayam yang sudah dipotong rapi oleh asisten rumah tangga.
Sebelumnya Widari memberi titah ke Sagara. "Potongan ayamnya boleh dibantu Bibi, tapi masaknya harus tanganmu sendiri."
Widari benar-benar ingin menunjukkan ke Sagara, bahwa hal sekecil apapun tentang Senja sudah menjadi tanggung jawabnya.
Sagara menatap bahan-bahan itu seperti sedang menghadapi soal ujian yang tidak ada di silabus hidupnya. Rumusnya tak semudah membuat segelas susu hangat. Kali ini lebih rumit dan memeras otak.
Adam bersandar di kusen pintu dapur, menyilangkan tangan, menikmati pemandangan itu dengan mata berbinar jahil.
"Profesor, ini momen bersejarah. Biasanya kamu meneliti mesin. Sekarang kamu sedang belajar memberi makan manusia."
Sagara melirik singkat. "Kakek bisa kembali ke ruang tamu."
"Bisa. Tapi aku memilih menonton."
Sagara mendengus pelan. Ia mulai mengiris bawang. Terlalu tebal, terlalu besar, tidak seragam, tapi tangannya mantap, gerakannya masih terkendali di bawah garis bahu yang gagah.
Lima detik kemudian, matanya perih. Melihat itu Adam terkekeh. "Nah. Itu baru namanya kehidupan."
"Ini reaksi kimia biasa."
"Kalau begitu, biarkan kakek mencatat, profesor kalah oleh bawang."
Sagara tidak menanggapi. Tapi sudut bibirnya bergerak tipis. Hampir tidak terlihat.
Di ruang keluarga, Senja duduk bersandar di sofa dengan posisi yang diajarkan Widuri. Kakinya sedikit ditekuk, punggungnya disangga bantal. Wajahnya masih pucat, tapi matanya lebih tenang.
Widuri duduk di samping Senja, menyelimuti bahu gadis itu dengan selimut tipis. "Perempuan hamil itu tidak perlu sok kuat. Tubuhmu sedang bekerja dua kali lipat."
Senja tersenyum kecil. "Saya cuma… belum terbiasa diperhatikan seperti ini, Nek."
Widuri menatapnya lama, lalu mengelus rambut Senja pelan. "Karena selama ini kamu terlalu sering berdiri sendiri." Kalimatnya lepas tanpa tuduhan. Hanya pengakuan.
Senja menunduk. "Iya…"
"Waktu Nenek mengandung ayahnya Sagara, Nenek juga sering mual. Bahkan pingsan dua kali."
Senja terkejut. “Benarkah?”
Widuri mengangguk. “Dan kakekmu itu… panik bukan main. Satu rumah jadi rumah sakit darurat.”
Senja tersenyum, lebih lebar kali ini.
“Perempuan hamil itu bukan lemah,” lanjut Widuri lembut. “Dia sedang membentuk kehidupan baru. Itu pekerjaan paling berat di dunia. Seorang pria sekalipun tidak akan sanggup.”
Mata Senja berkaca-kaca. “Saya takut dianggap beban, Nek.”
Widuri menggenggam tangannya erat.
“Beban itu kalau kamu dibiarkan sendirian. Tapi kalau dipikul bersama, itu namanya keluarga.”
Untuk pertama kalinya, sebutan itu terasa tidak asing bagi Senja.
Keluarga.
Di dapur, suara panci mulai berbunyi. Air mendidih pelan. Sagara memasukkan ayam, jahe, dan bawang dengan hati-hati, seperti sedang menyusun teori penting di dalam kelas.
Adam mendekat, lalu mengendus. “Baunya belum salah.”
“Belum salah?”
“Artinya masih ada kemungkinan aman.”
Sagara menghela napas pendek. “Kakek tidak membantu.”
“Justru ini bantu. Mengawasi dan memberi tekanan mental."
"Tekanan mental?"
"Iya, tekanan mental adalah bagian dari proses.”
Ucapan Adam membuat Sagara menghela napas samar. Semua gerak geriknya di depan kompor dan panci, serasa di awasi oleh auditor yang siap mencari celah kesalahannya.
Beberapa menit berlalu. Sagara menambahkan garam, sedikit lada, lalu mengaduk perlahan.
Tangannya besar. Gerakannya tidak luwes, tapi ada keseriusan yang membuat siapa pun tahu, bahwa ia tidak sedang bermain.
Adam memperhatikannya lebih lama kali ini, dengan senyum yang tidak lagi jahil.
“Kamu kelihatan seperti ayah muda yang sedang belajar."
Sagara berhenti mengaduk sesaat. "Aku bukan ayah." Suaranya tenang, tapi ada garis keras yang tidak bisa dinegosiasikan.
“Belum. Tapi kamu sedang menuju ke sana.”
Sagara tidak membantah. Sup ayam akhirnya jadi. Tampilan tak begitu meyakinkan, tapi harum. Sagara menuangkannya ke mangkuk. Tangannya sedikit lebih berhati-hati dari biasanya ketika membawanya ke ruang keluarga.
Senja menoleh. Widuri tersenyum penuh arti. “Ini buatan Sagara,” kata Widuri. “Tangan sendiri. Tanpa bantuan.”
Senja menatap Sagara, terkejut kecil.
“Om… masak?”
“Sup ayam,” jawabnya pendek. “Katanya bisa bantu meredakan mual.”
Adam ikut menyela, “Dan juga bisa meredakan rasa bersalah.”
Sagara melirik tajam. “Kakek.”
Senja tersenyum tipis. “Terima kasih.”
Ia meniup pelan, lalu menyeruput sedikit. Matanya membulat. “Hangat…”
“Enak?” tanya Widuri.
“Enak sekali, Nek.”
Sagara tidak bereaksi besar. Tapi napasnya terasa lebih ringan.
Widuri berdiri. “Kalau begitu, tugasmu hari ini selesai.”
“Belum,” jawab Adam. “Tugas selanjutnya, mencuci panci.”
Sagara menghela napas. "Ada pembantu."
"Tanggung jawab jangan setengah-setengah."
“Baik," ucap Sagara akhirnya. Bukan pasrah, tapi tak berniat membantah.
Adam tertawa puas.
Senja memegang mangkuk itu dengan dua tangan. Sup itu bukan hanya hangat. Ia seperti memegang bukti bahwa dirinya tidak lagi sendirian.
Widuri duduk di sampingnya. “Perasaanmu bagaimana sekarang?”
Senja berpikir sejenak. “Tenang.”
“Bukan cuma tubuhmu yang perlu sembuh. Tapi juga hatimu.”
Senja mengangguk.
Di dapur, suara air dan peralatan terdengar. Sagara sedang mencuci panci. Tidak ada keluhan. Tidak ada gengsi.
Untuk pertama kalinya, Senja melihatnya bukan sebagai pria yang terlalu tinggi untuk dijangkau, tapi sebagai manusia yang sedang belajar menebus kesalahan lewat hal paling sederhana.
Ia menatap mangkuk sup itu lagi.
Dan tiba-tiba, tanpa sadar, sebuah kalimat tumbuh di dadanya.
Aku layak dirawat. Aku layak diperlakukan dengan lembut. Meski aku datang lewat kesalahan.
Di rumah besar itu, di antara orang-orang yang tidak pernah ia kenal sebelumnya, Senja akhirnya merasakan sesuatu yang belum pernah ia punya sejak lama.
Bukan perlindungan. Bukan pula belas kasihan. Tapi pengakuan bahwa dirinya pantas dimanusiakan.
Bersambung~~