"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Perempuan Cacat
Wajah Erlangga seketika cerah ceria, padahal sejak pagi senyumnya hilang. Tapi mendengar info status identitas terbaru Dira yang baru bercerai membuat hati Erlangga berbunga-bunga.
"Pak... Pak Erlangga baik-baik saja?" Ramdan begidik ngeri mungkin atasannya ini sudah tidak waras. Tadi murung, marah sendiri, lantas sekarang senyum-senyum tidak jelas.
"Ahh... Aku baik dan tidak gila Ramdan, jadi singkirkan pikiran anehmu tentang sikapku." Ucap Erlangga.
Ramdan mengedikkan kedua pundaknya, lalu pergi setelah mendapatkan tanda tangan beberapa berkas yang diajukan warga.
Sedangkan Erlangga bertekad mendekati Dira, tapi dia juga berfikir untuk mencari strategi supaya Dira aman dari fitnahan yang mungkin timbul.
Bagaimanapun posisinya adalah calon suami Mirna yang semua warga Desa Jatimulyo sudah mendengar berita tentangnya. Hal itu tidak luput dari mulut ember bocor Ibu Ningsih. Yang selalu membanggakan Mirna, keponakannya sebagai calon Istri yang sempurna untuk Erlangga si anak angkat. Tidak ada celah untuk memutuskan hubungan, tapi Erlangga akan berusaha.
Sementara itu di rumah Dira, semua perabot sudah rapi tertata. Kompor, panci dan pecah belah kebutuhan dapur juga sudah tersusun di lemari yang Dira beli. TV, mesin cuci sudah siap, bahkan AC sudah terpasang sempurna. Sekarang tinggal kembali menyapu lantai serta membuang sampah kardus bekas, tidak terasa hari sudah sore.
"Ibu... Ibu... Terima kasih atas bantuannya, Maaf kalau tidak ada jamuan untuk Ibu bawa pulang. Sebagai gantinya, masing-masing saya beri uang 300 ribu nggih? Apa masih kurang?" Tanya Dira.
"Ya Alloh Mbak Dira, kerja cuma 5 jam dapat imbalan 300 ribu sudah banyak banget. Matur nuwun." Ucap Bu Wati.
"Saya orangnya tidak suka diomongin dari belakang, jadi kalau kurang bilang saja sekarang. Saya tambahi." Ucap Dira tegas aura CEO, tapi tidak mengurasi sopan santunnya.
"Saestu Mbak, yotro tigang atus ewu niku sampun kathah sanget. Mboten usah ditambahi mboten nopo. Kulo sedoyo ingkang matur nuwun diparingi rejeki. (Beneran Mbak, uang tiga ratus ribu itu sudah sangat banyak. Tidak perlu ditambahi tidak apa. Kami semua justru berterima kasih diberi rejeki)." Ucap seorang perempuan tua yang lainnya.
"Tapi kayaknya dari banyaknya barang yang Mbak Dira beli itu. Yang paling mubazir adalah AC." Celetuk Bu Wati tiba-tiba.
"Loh kok bisa?" Tanya Dira.
"Memangnya semalam Mbak Dira tidur merasa kegerahan?" Tanya Bu Wati.
Dira mengingat kembali sejak dua hari tinggal di rumah barunya. Dengan kasur lama milik Mbah Wingit, Dira tidur nyenyak di bawah selimut tebal bermotif batik. Tidak ada kipas angin apalagi AC, tapi udara malam terasa dingin yang membuatnya nyenyak tidur.
"Ibu benar, dua hari tinggal di sini tiap malam udaranya dingin. Apalagi masuk kamar mandi, wiihhh... kayak ada es batunya." Ucap Dira yang baru sadar. Karena rumah terbuat dari seratus persen kayu, bahkan di atapnya tidak ada tambahan plafon pvc di bawah genting tanah liat. Jadi angin alami mudah masuk.
"Nggih sampun... Ibu... Ibu... matur nuwun." Ucap Dira belajar bahasa Jawa meskipun logatnya terdengar aneh.
Setelah para warga yang membantunya pulang, Dira pun menutup pintu. Masih ada banyak tugas tambahan. Yakni membuat garasi untuk mobilnya, dan membangun kamar mandi dalam. Dan... Dira pikir perlu membangun pagar tembok yang mengelilingi rumahnya.
Jam tua milik Mbah Wingit berdentang, menandakan sudah waktu maghrib. Setelah menjalankan Ibadahnya, Dira menikmati suasana Desa sambil berjalan-jalan di sekitar tanah kosong miliknya. Otak bisnisnya seketika terkoneksi cepat, tanah luas yang hanya menjadi ladang rumput yang tidak berharga. Akan Dira ubah menjadi ladang uang yang tumbuh berlipat ganda.
Belum ada yang tahu jika Dira penderita gangguan pada pendengarannya. Karena secara tidak sengaja, beberapa hari ini Dira selalu menggunakan topi yang menutupi kedua telinganya. Sebenarnya tujuannya adalah menutupi rambutnya supaya tidak kotor saat beberes. Tapi justru itu menutupi dua Hearing Aid kecil di telinganya. Sehingga orang-orang tidak menyadarinya.
Malam ini, Dira menggunakan pakaian tertutup karena dingin menusuk kulit. Topi kupluk pun tidak ketinggalan. Karena memang cuacanya sedang dingin, tapi Dira tetep kekeh ingin jalan-jalan keliling tempat tinggalnya.
"Sudah banyak tanaman teh di sini, dan Juragan Karsa pemiliknya. Jika aku juga ikut menanamnya, aku akan dianggap ingin menyainginya. Lebih baik besok aku minta orang bersihkan semua tanaman teh yang sudah tua dan mati. Lebih baik tanah ini aku tanami sesuatu yang bernilai tinggi. Tapi apa ya?" Gumam Dira.
Setelah puas melihat tanah yang dibelinya, Dira pun berjalan berbalik. Kali ini tujuannya adalah rumah tetangga yang tadi datang membantunya.
Saat melewati rumah juragan Karsa, Dira melihat Erlangga di sana. Tapi dia tidak berani menyapa, karena ada Mirna di sampingnya. Sedangkan Mirna memperhatikan ekspresi calon suaminya yang menatap lekat Dira.
Mirna adalah perempuan sumbu pendek, manipulator, dan pemain drama unggulan. Jadi, saat merasa posisinya terancam. Dengan sikap impulsif, Mirna menyerang.
"Kamu kenal dia Mas Angga? Kenapa menatap dia tak berkedip. Jangan sampai kamu tergoda olehnya, ingat pernikahan kita tinggal sebulan." Ucap Mirna tapi diabaikan Erlangga.
Keesokan harinya, berhubung ini hari Sabtu maka pegawai libur semua. Sedangkan Dira yang masih pengangguran, justru sibuk dengan buku-bukunya. Tentang impiannya menjadi seorang Juragan.
Dira dengan pakaian santai, rambut digelung ke atas tengah menyapu dedaunan yang berguguran diterpa angin. Wajah cantiknya tanpa makeup terpancar, membuat iri siapa yang melihatnya. Tak tercuali Mirna yang menatapnya dengan pandangan bagaikan musuh bebuyutan. Padahal mereka tidak saling kenal, tapi karena Mirna yang mulai ketakutan pamornya di Desa tersaingi.
Apalagi, setelah mencurigai calon suaminya. Dengan langkah anggun yang dibuat-buat, Mirna mendatangi rumah Dira.
"Kamu... Aku gak tahu siapa kamu, karena itu tidak penting. Tapi, jangan coba-coba menggoda calon suamiku seperti tindakanmu semalam." Ucap Mirna dengan sangat ketus.
"Maksudnya semalam saya menggoda siapa? Kamu itu bicara tidak jelas." Ucap Dira kemudian melanjutkan kegiatannya, membungkuk mengambil ranting pohon mangga.
Dan pada saat itu tidak sengaja Mirna melihat Hearing Aid menempel di kedua telinga Dira.
Sreekkk
Dengan gerakan cepat, Mirna menarik alat bantu dengar itu dan melemparnya ke semak-semak.
"Apa yang telah kamu lakukan?" Teriak Dira dengan wajah panik.
"Ternyata kamu hanya perempuan cacat." Ucap Mirna, meskipun tidak mendengarnya. Tapi Dira bisa membaca ucapan dari gerakan bibir lawan bicaranya.
"Aku memang cacat di pendengaranku, setidaknya aku tidak cacat mental yang mengganggu orang lain tanpa tahu masalahnya apa." Ucap Dira.
Kemudian berlari ke arah semak, berusaha mengambil kembali alat pendengarannya.
Sebaliknya, setiap sebab, ada akibatnya.
Masuk akal kan?
Asap sebagai akibat dan api menggambarkan penyebab.
Hmm … kalau dipikir-pikir lagi, setiap fenomena di dunia ini memang berhubungan dengan sebab dan akibat.
Hukum sebab akibat merupakan sesuatu yang berlaku secara universal, dan bsai kita temui dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari.
Pada hakikatnya, kita perlu sadar dulu bahwa apa yang terjadi di dalam kehidupan ini, merupakan akibat dari tindakan sebelumnya...🤔
Pada dasarnya, perilaku impulsif dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti saat sedang menghadapi stres atau situasi genting yang memerlukan respons cepat.
Namun, jika perilaku ini dilakukan secara terus-menerus atau telah menjadi bagian dari kepribadian seseorang, perilaku ini bisa menjadi gejala dari suatu gangguan mental.
Berpikir panjang sebelum berkata atau bertindak adalah kunci untuk menghindari penyesalan di kemudian hari.
Banyak masalah muncul dari kata-kata atau tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan matang.
Sebuah kata yang diucapkan dalam emosi, atau tindakan impulsif, dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meluangkan waktu sejenak sebelum berbicara atau bertindak, merenungkan apa dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.
Dengan bersikap lebih hati-hati, kita bisa menjaga hubungan, menghindari konflik yang tidak perlu, dan menjadi pribadi yang lebih dewasa.
please thor jodohin elang sama dira🫶
kl g jodoh harus di jodohkan, kan author yang buat cerita😂