Menjadi wanita single parent untuk anak laki-laki yang ditemukan di depan kosnya saat kuliah dulu membuat Hanum dijauhi oleh orang-orang terdekatnya bahkan keluarganya karena mereka mengira jika anak itu adalah anak Hanum dari hasil perbuatan di luar nikah.
Hanum hanyalah sosok figuran bagi orang di sekitarnya. Terlihat namun diabaikan begitu saja oleh mereka. Walau begitu Hanum tak mempermasalahkannya karena menurutnya cukup ada anak laki-laki itu di hidupnya itu sudah cukup membuatnya bahagia.
Menjadi sosok figuran ternyata terus berlanjut di hidup Hanum saat ia memutuskan menerima permintaan menikah dengan seorang pria anak dari Dekan fakultasnya yang telah membantunya menyelesaikan studynya saat kuliah dulu.
"Bagaimana bisa Mama memintaku menikahi wanita beranak satu itu?!" Pertanyaan berupa hinaan itu terdengar oleh telinga Hanum dari pria yang berstatus sebagai calon suaminya.
Kehidupan rumah tangga yang ia harapkan dapat bahagia ternyata justru sebaliknya karena pria yang telah menjadi suaminya itu hanya menganggapnya sosok figuran yang hanya terlihat tapi tidak dianggap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran diterima
Saat ini semua orang telah duduk dengan manis di atas sofa dengan memasang ekspresi wajah yang berbeda-beda. Jika Bu Shanty dan Nenek Eno nampak tak melunturkan senyumannya sejak datang ke apartemen Hanum, Dio dan Digo justru kini memasang wajah terkejut dan tak percaya atas apa yang baru mereka dengar beberapa saat yang lalu.
"Dio, kau pasti sudah tidak asing lagi dengan wajah Hanum bukan? Sedikit banyaknyanya kau pasti sudah dapat menilai bagaimana sikap Hanum sejak pertama kalian bertemu." Ucap Bu Shanty pada Dio masih tetap tersenyum.
"Dio baru bertemu dengannya satu kali, Mah." Jawab Dio. Yang benar saja dengan hanya satu kali pertemuan ia sudah dapat menebak dan menilai bagaimana sikap wanita yang dimaksud Mamanya itu.
"Ehem." Tuan Mahesa berdehem sebagai tanda agar Bu Shanty dan Dio diam karena ia ingin membuka acara mereka malam itu.
Bu Shanty pun mengatur ekspresi wajahnya dengan memasang wajah serius. Sedangkan Dio masih tetap memasang ekspresi yang sama.
"Hanum, kedatangan Om dan keluarga ke sini adalah untuk melamarmu menjadi istri dari anak kami Dio." Ucap Tuan Mahesa pada Hanum.
"Apa?" Dio terdengar bersuara. Sungguh saat ini ia terbelalak tak percaya jika wanita yang sudah memiliki seorang anak laki-laki itu akan menikah dengannya.
"Dio, diamlah lebih dulu. Belum waktumu untuk bersuara!" Ucap Tuan Mahesa tegas.
Dio pun memilih menurunkan egonya agar tak bersuara atau bertanya lebih lanjut.
"Walau pertemuan antara dirimu dan Dio putra kami terbilang cukup singkat, tapi Om yakin kalian bisa menjalin kedekatan satu sama lain setelah menikah. Sama halnya seperti Om dan Tante yang berpacaran setelah menikah dulu." Ucap Tuan Mahesa.
Hanum menganggukkan kepalanya. Tatapan matanya terus tertuju pada Tuan Mahesa tanpa perduli jika saat ini ada Dio yang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Bukan tanpa alasan kami memilih Dio menjadi pasanganmu begitu pula sebaliknya. Kami sebagai orang tua sudah memikirkannya secara matang dan berharap jika nantinya kalian bisa bahagia dalam menjalani rumah tangga." Ucap Tuan Mahesa.
Hanum kembali menganggukkan kepalanya dan Dio masih memasang ekspresi yang sama.
"Jadi bagaimana Hanum? Apa kau bersedia menerima lamaran Om dan keluarga?" Tanya Tuan Mahesa.
"Sa-saya..." Hanum nampak gugup. Terlebih saat ini Dio semakin menatapnya dengan tajam.
"Terima saja, Mah." Suara lembut Divan yang sedang duduk di sebelahnya membuat kegugupan Hanum sedikit berkurang.
"Bagaimana?" Tanya Tuan Mahesa lagi.
"Saya menerimanya, Tuan." Jawab Hanum pada akhirnya.
"Syukurlah..." Tuan Mahesa, Bu Shanty dan Nenek Eno menghembuskan nafas lega setelah mendengarnya.
"Hanum, Ibu sangat bahagia karena pada akhirnya wanita baik seperti dirimu yang akan menjadi menantu Ibu. Sembilan tahun mengenal dirimu Ibu sudah yakin jika kau adalah wanita yang baik dan bisa membantu Dio menjadi pria yang lebih baik lagi ke depannya." Ucap Bu Shanty.
"Mama kira aku ini buruk?" Dio yang sejak tadi sudah menahan kesal pun angkat suara.
"Bukan seperti itu." Jawab Bu Shanty singkat.
Dio mendengus mendengarnya. Percakapan di antara mereka pun kembali berlanjut untuk menentukan waktu yang pas untuk pernikahan Dio dan Hanum. Selama pembahasan berlanjut Dio hanya diam saja dan membiarkan kedua orang tuanya saling berbicara satu sama lain.
Ini sungguh gila! Bagaimana bisa Mama memintaku menikahi wanita beranak satu ini?
***
Kalau Cita harus diwaspadai lho Richard kau nanti terjebak ranjaunya Cita
memang selayaknya begitu kamu sedang hamil jadi hatimu damai semoga putrimu kelak mempunyai pribadi sebaik dirimu.