Daniella Dania wanita tangguh yg hidup sebatang kara harus mengalami peristiwa yang membuat dunianya runtuh kesucian nya di ambil oleh pria yg tidak dia kenal di malam kelulusan nya karna jebaka seseorang yg tidak menyukai nya di sebuah hotel nega A
Calix Matthew Batrix pria super tampan,cuek, dingin tak tersentuh orang paling berpengaruh baik di dunia atas atau bawah CEO BATRIX GRUP dan pemimpin mafia Eropa dan asia BLACK DRAGON.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI KELULUSAN & TRAGEDI
Suara bising mesin pengering rambut di salon kelas atas itu tak mampu meredam lamunan Dania. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Cantik, memang. Di usia 21 tahun, ia sudah menyandang gelar ganda, S.M. dan S.Ked. Namun, di balik mata indahnya, ada kabut kesepian yang dalam.
"Selesai, Nona Dania. Anda terlihat sangat mempesona dengan gaya Navy hair ini," puji sang penata rambut dengan tulus.
Dania tersenyum tipis, tipe senyum yang tidak sampai ke mata. "Terima kasih, Mbak."
Dania terbiasa sendiri. Sejak kecelakaan pesawat merenggut orang tuanya 15 tahun lalu, dan disusul wafatnya Bik Emi, satu-satunya pelindung yang ia miliki—Dania membangun benteng tinggi di sekeliling hatinya. Ia tidak butuh pria-pria yang mendekatinya hanya karena wajah atau hartanya. Ia punya D’Bakery, bisnis yang ia bangun dari nol dengan keringatnya sendiri.
Malam itu, dengan gaun selutut berwarna lilac yang kontras dengan kulit putih susunya, Dania mengemudikan mobilnya menuju Batrix Hotel.
🤍__________Calix &Dania___________🤍
Ballroom Batrix Hotel sudah penuh sesak. Aroma parfum mahal dan tawa basa-basi memenuhi udara. Begitu Dania melangkah masuk, keheningan singkat sempat terjadi. Keanggunannya yang alami menarik perhatian semua orang bagai magnet.
"Wah, itu Dania, kan? Si jenius yang lulus dua gelar sekaligus?" bisik seseorang.
"Gila, cantik banget. Tapi denger-denger dia sombongnya minta ampun," timpal yang lain.
Dania mengabaikan bisikan itu. Ia berjalan menuju pojok kiri ruangan, mencari tempat paling sunyi. Namun, sepasang mata tajam milik Gabriel mengikutinya dengan benci.
"Cih, sok cantik," desis Gabriel. Ia memutar-mutar gelas sampanye nya dengan geram. "Dia pikir dia siapa bisa mencuri semua perhatian malam ini?"
Gabriel memanggil seorang pelayan yang lewat. Ia menyelipkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke saku pelayan itu. "Antarkan gelas ini pada wanita berbaju lilac di pojok sana. Pastikan dia meminumnya sampai habis. Mengerti?"
Pelayan itu mengangguk takut-takut. "Baik, Nona."
Tak lama kemudian, pelayan itu sampai di meja Dania. "Permintaan maaf, Nona. Ini minuman selamat datang khusus untuk tamu kehormatan."
Dania yang memang merasa haus karena hawa panas ballroom, menerima gelas itu tanpa curiga. "Terima kasih."
Hanya butuh sepuluh menit sampai dunia Dania mulai berputar. Jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar. "Kenapa... panas sekali?" gumamnya. Pandangannya mengabur. Dengan sisa tenaga, Dania berdiri, berniat mencari kamar di hotel ini untuk beristirahat. Ia tidak tahu, arah langkahnya sedang membawanya pada bencana sekaligus takdir.
Di lantai yang sama, suasana tegang menyelimuti langkah Calix Matthew Batrix. CEO muda pemilik hotel itu berjalan terburu-buru, didampingi Samuel, asisten pribadinya.
"Tuan Calix, Anda baik-baik saja? Wajah Anda sangat merah," tanya Samuel cemas.
Calix mengumpat tertahan. "Brengsek si Raka itu... Dia memasukkan sesuatu ke minumanku saat tanda tangan kontrak tadi."
Napas Calix memburu. Otot-otot tubuhnya menegang hebat. Efek obat perangsang dosis tinggi itu mulai membakar logikanya. "Samuel, jangan biarkan siapapun masuk ke kamarku. Aku butuh mandi air dingin."
"Baik, Tuan."
Calix masuk ke kamar VVIP-nya dan membanting pintu. Namun, pemandangan di depannya justru membuat suhu tubuhnya melonjak ke titik didih. Di atas ranjangnya, seorang gadis dengan gaun lilac yang sedikit tersingkap sedang mengerang halus dalam tidurnya.
"Siapa... kau?" bisik Calix parau.
Dania, yang sudah setengah sadar akibat pengaruh obat yang sama, membuka matanya sayu. "Panas... tolong..."
Melihat wajah Dania yang luar biasa cantik dengan bibir merah alami yang menggoda, pertahanan Calix runtuh. Obat itu telah mengambil alih kendali. Ia mendekat, menindih tubuh mungil Dania, dan membisikkan suara berat di telinganya.
"Kau yang datang ke kamarku, manis. Jangan salahkan aku jika malam ini tidak akan pernah kau lupakan."
Dania mencoba mendorong dada bidang pria asing itu. "Jangan... pergi..." Namun, sentuhan Calix justru terasa seperti air di tengah padang pasir bagi tubuhnya yang terbakar.
Malam itu, di bawah remang lampu kamar, dua jiwa yang terjebak dalam jebakan kimiawi bersatu dalam pergulatan panas yang tak terelakkan.
Sinar matahari menyusup melalui celah gorden. Dania terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Saat ia menoleh, jantungnya seolah berhenti berdetak. Seorang pria tampan—sangat tampan—sedang tidur lelap di sampingnya. Lengan berotot pria itu melingkar posesif di pinggang rampingnya.
Ingatan malam tadi menghantam Dania seperti truk. Pesta, minuman, salah masuk kamar... dan pria ini.
"Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan?" bisik Dania gemetar.
Ia melihat ke bawah selimut. Mereka berdua tanpa busana. Dania melihat pakaiannya yang sudah robek di lantai. Dengan gerakan sepelan mungkin, ia menyingkirkan tangan pria itu. Ia melihat kemeja putih milik pria itu tergeletak di kursi. Tanpa pikir panjang, Dania menyambarnya dan memakainya sebagai penutup tubuh.
Sebelum melangkah keluar, Dania tertegun menatap wajah Calix yang tenang dalam tidurnya. Rahang tegas itu, bulu mata yang lebat...
"Maafkan aku, aku harus pergi," bisiknya lirih.
Dania keluar dari kamar dengan hati hancur. Saat menutup pintu, ia melihat nomor kamar tersebut: 909. Sedangkan kunci yang ia pegang adalah untuk kamar 906.
"Aku salah kamar," isaknya kecil sambil berlari menuju lift. Ia harus pulang. Ia harus melupakan malam ini, meski ia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah ini.
Dania berjalan terburu-buru menyusuri lorong hotel yang panjang. Kemeja putih kebesaran milik Calix ia kancing kan hingga ke leher, sementara tangannya mencengkeram erat ujung kemeja itu untuk menutupi pahanya. Rambut gelombangnya berantakan, dan matanya sembab. Ia hanya ingin mencapai lift, pulang, dan mengunci diri di kamar.
Namun, saat ia berbelok di dekat lobi lift, sebuah tawa sinis menghentikan langkahnya.
"Wah, wah... lihat siapa yang baru keluar dari sarang singa," suara melengking itu membuat bulu kuduk Dania berdiri.
Gabriel berdiri di sana, bersedekap dada dengan senyum kemenangan yang menjijikkan. Ia tidak sendirian, ada dua orang temannya yang sudah siap dengan ponsel di tangan, seolah sedang menunggu momen ini.
"Gabriel..." desis Dania, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
Gabriel melangkah maju, matanya memandangi Dania dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Lihat penampilanmu, Dania. Ke mana perginya si 'Nona Jenius' yang terhormat? Kenapa kau memakai kemeja pria? Dan astaga... apa itu tanda di lehermu?"
Dania refleks menutupi lehernya. "Minggir, Gabriel. Aku tidak punya waktu untuk urusan sampahmu."
"Sampah?" Gabriel tertawa keras, suaranya menggema di lorong. "Kau yang sampah! Aku sengaja menunggumu di sini sejak subuh karena aku tahu rencana hebat ku berhasil. Bagaimana rasanya ditiduri pria asing, huh? Apakah pelayan yang kukirim semalam melayani mu dengan baik?"
NTAR KELUAR DRAMA PENYESALAN DAN MAAF DENGAN AIR MATA BUAYA NYA..CKK