••GARIS TAKDIR RAYA••
Kehidupan Raya Calista Maharani penuh luka. Dibesarkan dalam kemiskinan, dia menghadapi kebencian keluarga, penghinaan teman, dan pengkhianatan cinta. Namun, nasibnya berubah saat Liu, seorang wanita terpandang, menjodohkannya dengan sang putra, Raden Ryan Andriano Eza Sudradjat.
Harapan Raya untuk bahagia sirna ketika Ryan menolak kehadirannya. Kehidupan sebagai nyonya muda keluarga Sudradjat justru membawa lebih banyak cobaan. Dengan sifat Ryan yang keras dan pemarah, Raya seringkali dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan atau menyerah.
Sanggupkah Raya menemukan kebahagiaan di tengah badai takdir yang tak kunjung reda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Di jemput Liu
•••
"Ya hallo, Tante!!" ujar Raya saat telepon tersebut sudah tersambung.
"Hallo, Raya. Boleh Tante tanya, kamu di mana?" tanya Liu tanpa basa-basi, melayangkan pertanyaan yang berhasil membuat Raya terdiam sejenak. Raya merasa terjebak, tidak tahu harus menjawab apa. Saat itu, Liu kembali berbicara, menunggu jawaban.
"Kamu tidak mendengar ucapan Tante Raya?" ujar Liu lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas. Suara itu cukup untuk membuat Raya tersadar dari lamunannya.
"Maaf, Tante! Aku sedang di rumah temanku. Kami sedang melakukan sesuatu," ujar Raya, berusaha terdengar meyakinkan meski sedikit berbohong pada Liu.
"Tugas kampus?" tanya Liu, menunggu konfirmasi lebih lanjut.
"Ya, Tante," jawab Raya dengan nada pelan.
"Kirimkan alamatnya, Tante akan datang ke sana!" ujar Liu dengan nada yang mulai terdengar lebih kaku dan tidak sabar.
"Tapi Tan..." Ucapan Raya kembali terpotong.
"Tinggal kirim alamatnya, apa susahnya?!" ujar Liu dengan suara yang lebih tajam, seakan sudah kehilangan kesabaran. Raya terdiam, terhimpit oleh ketegasan dalam suara Liu. Namun, ucapan Mia yang baru saja tiba dan masuk ke dalam ruangan itu berhasil menyadarkan lamunan Raya.
"Ray... Ayo kita turun, aku akan menunjukkan sesuatu padamu!" ujar Mia sembari menarik tangan sahabatnya itu dengan ceria.
"Ekh... Bentar Mi, aku belum selesai," ujar Raya, tersenyum canggung.
Mia mengangkat alis, merasa heran, tapi Raya buru-buru beralasan. Bagaimana tidak, Mia belum tahu jika dirinya akan menikah dalam beberapa hari lagi. Raya benar-benar merahasiakan hal ini, sementara keluarga Sudradjat sudah mengumumkannya ke semua orang, seolah pernikahan itu adalah acara besar yang tak bisa dihindari.
"Kamu sedang menelepon pacarmu itu? Aku ingin bicara juga, kenalkan aku juga dong, Ray," ujar Mia sambil langsung meraih ponsel dari tangan Raya. Sebelum Raya sempat menolaknya, Mia sudah terlebih dahulu berbicara dengan ceria.
"Halo, Kak Arkana... kangen ya sama Raya?" ucap Mia, namun ucapannya terpotong karena Raya buru-buru merebut ponselnya kembali dengan cepat.
"Arkana?" suara di seberang sana terdengar heran, jelas sekali bahwa liu terkejut, mendengar penuturan Mia.
"Mia, aku masih bicara! Pergilah dulu, aku ingin minta izin juga nanti dengan Kak May, ya, please." ujar Raya dengan nada memohon. Akhirnya, Mia mengalah dan berhenti menggoda, meskipun wajahnya masih terlihat penuh rasa penasaran.
"Maafkan aku, Tante... barusan itu sahabatku..." ujar Raya sambil mencoba menjelaskan dengan lembut, namun ucapan Raya langsung terpotong oleh Liu.
"Kirim alamatnya sekarang juga... cepat!" suara Liu terdengar sangat tegas, bahkan cenderung dingin, tanpa memberi kesempatan bagi Raya untuk menjelaskan lebih lanjut. Liu langsung mematikan sambungan teleponnya begitu saja.
Raya terdiam sejenak, menghela napas panjang. Suasana terasa hening beberapa detik, seolah waktu ikut membekukan momen itu. Perasaannya campur aduk, tak tahu harus berbuat apa. Dia menatap ke sekeliling kamar Mia yang sunyi, memikirkan setiap kata yang baru saja diucapkan oleh Liu. Nada bicara Liu yang jelas menunjukkan kekesalannya begitu terasa di udara, meninggalkan Raya dengan perasaan cemas yang semakin menumpuk.
Dengan langkah hati-hati, Raya menuruni tangga, mencoba menenangkan dirinya. Saat kakinya menginjak lantai bawah, ia melihat Mia dan Ulamay sudah duduk dengan tenang di sofa ruang tamu. Ruangan itu terasa sepi, hanya terdengar suara detak jam dinding yang berdetak pelan, seolah memberi tanda bahwa waktu terus berjalan meski perasaan Raya terhenti. Sebenarnya, Raya masih ingin bermain di sana, merasa nyaman dengan perlakuan Mia dan Ulamay yang begitu hangat kepadanya. Namun, meski begitu, dia tak bisa mengabaikan permintaan dari calon ibu mertuanya yang terasa begitu menekan. Mata Raya menatap mereka berdua, namun hatinya seperti terbelah, tak tahu harus memilih yang mana.
"Kak May!!" ujar Raya, suaranya agak terburu-buru, mencoba menarik perhatian Ulamay yang sedang sibuk mengobrol dengan Mia. Raya berhasil membuat tatapan Ulamay teralihkan padanya.
"Ya, Raya, duduklah... ada apa?" tanya Ulamay lembut, matanya menyelidik namun penuh kehangatan, seperti biasa.
"Aku minta maaf, Kak... aku harus pulang, ada yang akan menjemputku. Dan ya, maafkan aku juga karena telah memberikan alamat rumah ini pada orang lain." Raya menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajah Ulamay ataupun Mia yang duduk di dekat mereka.
Ulamay berdehem, menggeser posisi duduknya dan kini berada di samping Raya. Ia menatap adiknya itu dengan penuh perhatian, lalu ia mulai berbicara pada sahabat dari adiknya yang kini terlihat rapuh.
"Raya..." Ulamay memulai pelan, suaranya penuh dengan kepedulian. Raya mengangkat pandangannya, menatap wajah Ulamay yang penuh perhatian, "apa kamu ada masalah dengan kekasihmu itu? Maaf jika kakak sedikit lancang karena ikut campur dalam urusan pribadimu. Tapi Raya, jika memang kamu merasa tidak nyaman dengan hubunganmu ini, mengapa tidak berhenti saja? Sebelum semuanya terlambat dan kamu akan menyesal nantinya, lebih baik diakhiri sekarang juga, kan? Jangan memaksakan apapun yang tidak sejalan dengan hati dan pikiranmu, hanya karena kamu takut pada seseorang. Katakan yang sebenarnya pada kami, kami akan membantu semampu kami," Tanya Ulamay berharap mendapatkan jawaban dari Raya. Namun Raya hanya terdiam, dan sejenak merenung, lalu dengan suara pelan dan sedikit tergetar, dia menjawab.
"Semuanya baik-baik saja, Kak... Terima kasih karena telah mengkhawatirkan keadaan ku. Aku sangat senang karena bisa mengenal orang-orang baik seperti kalian ini." Suaranya penuh rasa terima kasih meskipun hati Raya terasa berat. Mia, yang duduk di samping mereka, tidak bisa diam begitu saja. Dia menatap Raya tajam, matanya mengungkapkan kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan.
"Tidak ada kata terima kasih, Ray... kenapa kamu tidak pernah mau jujur padaku? Kamu selalu mengalihkan pembicaraan jika sudah menyangkut Kak Arkana. Apa kamu dipaksa untuk jadi pacarnya?" tanya Mia dengan nada sedikit kecewa, mencoba menggali lebih dalam.
"Benar begitu? Apa dia mengancam mu? Jika iya, katakan pada kakak, maka kami akan membantu mu untuk bebas darinya." Ulamay menambahkan, suaranya serius namun penuh kasih sayang, memberikan jaminan bahwa Raya tidak sendirian.
"Aku baik-baik saja, Mia, Kak May... aku tidak apa-apa." Suaranya pelan, tapi sangat jelas bahwa Raya masih belum siap untuk menceritakan segalanya pada mereka. Ulamay menarik napas panjang, suaranya terdengar berat, namun penuh perhatian.
"Huff... baiklah, tapi ingat, jika terjadi sesuatu, ceritakan saja pada kami. Kami kan keluarga mu juga, kamu adikku juga, jadi jangan ragu, oke?" Ulamay menggenggam tangan Raya dengan lembut, lalu menariknya ke pelukan, memberikan rasa nyaman yang begitu dibutuhkan oleh Raya saat itu. Pelukan hangat itu membuat Raya merasa sedikit lebih tenang, meskipun hati dan pikirannya masih bergejolak. Ulamay meletakkan dagunya di pucuk kepala sahabat dari adik-nya itu, lalu kembali berkata dengan lembut.
"Dengarkan kakak baik-baik. Jangan terlalu memendam semuanya sendiri. Jika sakit, katakan sakit. Jika bahagia, katakan bahagia. Jika lelah, istirahatlah. Jika ingin menangis, menangislah. Seseorang tidak akan disebut anak kecil hanya karena menangis, kan? Jadi, apapun yang kamu rasakan, sebisa mungkin kamu harus mengatakannya pada orang lain yang kamu anggap dekat. Intinya, jangan memendam segala sesuatu sendiri. Itu tidak baik bagi kesehatan mentalmu," ujar nya begitu tulus, sembari sesekali mengusap - ngusap surai hitam milik sahabat dari adiknya itu.
Ulamay mengusap-usap kepala Raya dengan lembut, seolah ingin menenangkan dan memberikan rasa aman pada wanita yang sedang dilanda kesedihan itu. Raya mendengar setiap kata-kata yang keluar dari mulut Ulamay dengan penuh perhatian, merasa seakan ada angin segar yang menerpa hatinya yang selama ini terkunci rapat. Satu-satunya orang yang selama ini ada di sisinya hanya Mia, yang memberikan kekuatan. Namun, mendengar kata-kata ini, dari orang yang baru ia kenal, entah kenapa terasa begitu hangat di hati.
"Terimakasih, Kak... Terimakasih banyak," ujar Raya dengan suara bergetar, tanpa melepaskan pelukan Ulamay. Air matanya turun tanpa diminta, dan kali ini, rasanya seperti ada beban yang sedikit berkurang, seiring dengan kehadiran Ulamay yang memberinya ketenangan.
Raya merasa begitu tersentuh, karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasakan pelukan yang begitu tulus dan penuh kasih sayang. Pelukan ini berbeda dari pelukan-pelukan lainnya yang pernah ia terima. Selama hidupnya, dia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya disayangi sehebat ini oleh orang lain. Bahkan ketika dia merasa begitu terpuruk, Ulamay datang dengan kata-kata yang menenangkan dan menguatkan.
FLASHBACK ON
"Kenapa selalu seperti ini? Kemana dia pergi sebenarnya?" tanya wanita yang kini tengah berdiri di depan pintu rumah yang terkunci, wajahnya tampak dipenuhi kekhawatiran.
"Mah... apa kita pulang saja? Kak Ryan juga tidak bisa dihubungi, mungkin dia sedang sibuk!" ujar Cantika, mencoba menenangkan ibunya yang terlihat kesal.
Ya, wanita yang dimaksud adalah Liu. Ia dan Cantika datang ke rumah Raya dengan harapan bisa mengajak Raya tinggal bersama mereka di mansion mereka. Lagipula, beberapa hari lagi mereka akan menikah, jadi menurut Liu, tidak ada salahnya jika Raya dan Ryan sudah tinggal serumah. Namun, lagi dan lagi, saat mereka datang, Raya tidak ada di rumah. Hal itu tentunya membuat Liu sedikit kesal karena ini bukan pertama kalinya.
"Tidak! Kita cari Raya. Mama tidak mau tahu, pokoknya mulai besok, dia harus sudah ada di rumah kita!" ujar Liu, dengan nada tegas, sambil melangkah melewati sang putri begitu saja, tidak menghiraukan saran Cantika.
"Tapi, Mah, kita mau mencari dia ke mana lagi? Kita sama sekali tidak tahu siapa yang harus dihubungi untuk mencari keberadaannya. Ini juga sudah malam," ujar Cantika, kelelahan, namun tetap berusaha menahan emosinya. Dia mengikuti langkah sang ibu yang masuk ke dalam mobil, dan mau tak mau mengikuti keinginan nya.
"Mama tidak mau tahu! Pokoknya, kita cari dia kemanapun itu, mama mau Raya malam ini juga!" tegas Liu, sambil menatap jalan yang gelap, menambah ketegangan yang terasa di dalam mobil.
"Tapi Mah..." Ucapan Cantika terhenti karena sang ibu langsung menyela.
"Mama akan cari sendiri!" jawab Liu lagi. Cantika menghela napas panjang, menahan kekecewaan yang tak bisa ia luapkan pada ibunya. Namun, akhirnya ia berkata.
"Tidak, jangan pergi sendirian. Cantik akan temani." Tak ingin membiarkan sang ibu pergi sendirian, meski hatinya penuh keraguan dan kekesalan yang tidak bisa dia tahan.
"Pokoknya, Mama ingin bertemu dengan Raya malam ini juga," ujar Liu, dengan tekad yang tak terbendung, sembari mengutak-atik ponsel di tangannya.
"Mah, sebelumnya coba Mama telpon Kak Raya dulu, jangan sampai pencarian kita sia-sia," saran Cantika, yang mulai khawatir jika mereka malah sia-sia mencari tanpa arahan jelas. Liu pun menyanggupinya, dan segera menekan tombol pada ponselnya.
"Ya... Tante..." suara Raya terdengar dari seberang sana, memberikan sedikit harapan di tengah kekesalan mereka.
FLASHBACK OFF
"Benar ini rumahnya?" tanya Cantika ragu, matanya meneliti bangunan megah di hadapannya. Rumah itu terlihat mewah dengan pagar tinggi yang kokoh membentengi sekelilingnya.
"Betul, Pak?" Liu memastikan kepada sopir yang duduk di balik kemudi.
"Iya, Nyonya. Ini sesuai dengan alamat yang Nyonya berikan," jawab sopir itu mantap.
"Baiklah." Liu mengangguk kecil. Keduanya turun dari mobil dan berjalan mendekati gerbang tinggi yang terkunci rapat dari dalam. Liu menekan bel dua kali, suara nyaring bel bergema di sekitar mereka. Tak lama, seorang pria berbadan tegap dengan seragam sekuriti mendekat ke arah mereka.
"Iya, Bu. Ada keperluan apa?" tanya pria itu ramah namun tetap waspada.
"Saya ingin menjemput menantu saya. Katanya dia ada di sini," ujar Liu dengan nada tenang namun tegas.
"Ah, begitu. Silakan tunggu sebentar, Bu. Saya buka dulu gerbangnya," jawab sekuriti itu dengan sopan.
Setelah beberapa detik, gerbang besi besar itu terbuka perlahan dengan suara berderit lembut. Pria itu memberi isyarat agar Liu dan Cantika mengikutinya. Tanpa banyak bicara, keduanya melangkah masuk, mengikuti langkah sekuriti yang memandu mereka ke arah pintu utama. Begitu tiba di teras, sekuriti membuka pintu dengan gerakan hati-hati.
"Maaf, Non Ula, tamu yang anda katakan sudah tiba," katanya sambil mendorong pintu lebih lebar agar Liu dan Cantika bisa masuk.
Udara dalam rumah terasa hangat dan harum oleh wangi bunga segar yang tersusun rapi di sudut ruangan. Pandangan pertama Liu tertuju pada tiga wanita cantik yang duduk di ruang tamu. Salah satunya adalah Raya yang bersandar lemah di pundak seorang wanita lain. Mata Raya yang sedikit sembab memandang ke arah Liu dengan sorot mata yang sedikit membengkak.
Tatapan Liu menyipit tajam, sementara Cantika berdiri di sampingnya dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu. Suasana menjadi hening, seolah semua orang di ruangan itu menahan napas menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Eh, Nyonya, silakan masuk. Saya akan siapkan minum," ujar Ulamay dengan sopan, berdiri dan berjalan mendekati Liu serta Cantika yang masih berdiri di ambang pintu. Liu tersenyum ramah seperti biasanya, wajah elegannya terpancar di bawah lampu.
"Tidak usah repot-repot. Saya hanya ingin menjemput Raya. Maaf mengganggu waktu kalian malam-malam begini," ujar Liu dengan nada lembut namun tegas.
"Ouuh, tidak apa-apa, Nyonya," jawab Ulamay dengan nada canggung, sedikit salah tingkah di hadapan Liu yang terlihat berwibawa.
"Jangan terlalu formal, panggil saja Tante. Kalian sahabat Raya juga kan?," tanyanya sembari melirik ke arah Raya yang duduk di samping Mia dengan ekspresi sedikit canggung.
"Baik, Tante." Ulamay mengangguk.
"Ayo pulang, sayang. Ini sudah malam," ajaknya sembari meraih tangan Raya dengan lembut namun pasti.
Raya hanya mengangguk tanpa banyak bicara. Tatapan Mia dan Ulamay mengikuti mereka yang mulai melangkah keluar dari rumah. Liu sempat berpamitan dengan sopan kepada Ulamay dan Mia sebelum akhirnya membawa Raya pergi ke dalam mobil yang terparkir di depan rumah.