Memiliki pacar kaya merupakan impianku. Mengejar cinta pria kaya, walaupun hanya Om-om gemuk. Ada alasan tersendiri mengapa aku melakukannya, hanya untuk merebut perhatian ayahku dari tiga saudaraku yang berhasil memiliki kekasih direktur, dokter dan pilot.
*
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipiku, terasa kebas."Dasar pelakor!" teriak seorang wanita paruh baya. Aku yang salah karena menyangka suaminya seorang duda, pria tua gemuk yang menipuku.
Hingga pertolongan itu datang. Tetangga kostku yang paling miskin dan pelit. Seorang pemuda dengan celana pendek dan kaos kutangnya.
"Pelakor?Dia bukan pelakor, kami sudah lama menikah,"dustanya. Pemuda yang hanya tersenyum merangkul bahuku.
"Aku minta makan"
"Aku pinjam uang"
"Boleh pinjam komputer?Aku lupa beli pulsa listrik!"
Benar-benar makhluk pengiritan sejati. Hingga pada malam gelap dia berkata.
"Aku meminta anak darimu,"
Satu yang tidak aku ketahui manusia pengiritan ini, adalah konglomerat irit, posesif yang akan menjeratku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Di Luar Nikah
Rumah yang sudah mengalami banyak renovasi. Sebelum bekerja di pabrik, Fujiko membantu ayahnya di toko elektronik, sembari kuliah. Setelahnya, karena sulit mendapatkan pekerjaan di kota. Gadis itu memasukkan beberapa lamaran di pabrik. Hingga dirinya bekerja di tempat yang sekarang.
Matanya menelisik, setiap gajian dirinya memang memesan perabotan baru dari toko online, bukan hanya barang-barang yang dibelikannya saja. Ada juga beberapa perabotan yang diberikan kakak-kakaknya.
Foto-foto terpajang di atas rak kayu jati yang tidak begitu tinggi. Ada foto Rosita bersama Anwar disana, seorang pilot, duda satu anak.
Sedangkan di dinding tidak kalah, foto Fumiko dengan Dwi, seorang direktur botak yang merangkul gadis cantik.
Terakhir foto Tari diatas meja, dengan kekasih Jovanka, seorang dokter bedah.
Sedangkan, foto dirinya hanya seorang diri. Entah dengan siapa dipajang nantinya.
"Ayah tidak mempersiapkan diri?" tanya Fujiko melihat ayahnya yang masih berpakaian santai.
"Hanya tinggal ganti baju. Fumiko sudah menyiapkan pakaiannya. Fumiko juga menyuruhmu langsung ke salon. Ini alamatnya," Firman memberikan brosur salon pada putrinya.
"Acaranya jam 7 malam. Omong-ngomong apa kamu punya pacar?" lanjutnya dengan mata menyelidik. Dengan cepat Fujiko menggeleng, tidak ingin diinterogasi lebih banyak.
"Asalkan menyayangi dan dapat menjagamu itu sudah cukup. Jangan terlalu pemilih," petuah dari sang ayah mencengkeram mulut putrinya. Memaksa memasukan vitamin yang diambil dari dalam tasnya.
"Apa-apaan! Ayah pahit!" teriak Fujiko.
"Lain kali harus lebih waspada," senyuman terlihat di wajah ayahnya yang tengil. Pria yang paling tengil membuat keempat anaknya begitu menyayanginya. Seorang ayah yang unik, benar-benar unik, terbiasa memasukan vitamin secara paksa pada putri-putrinya.
*
Area salon terlihat, disana terdengar beberapa pegawai yang memuji kagum. Tentu saja karena kakak-kakaknya ada dalam salon. Hingga dirinya masuk.
"Ini pasti adiknya Rosita?" ucap karyawan salon menarik tangannya.
Perawatan spa yang menyakitkan kala bulu-bulu kakinya yang tipis dicabut menggunakan perekat khusus. Dipijat, berendam di air mawar, jangan fikir ini istimewa.
Keempat orang gadis itu ditangani oleh orang-orang yang berbeda, mengganti baju dengan warna senada namun model berbeda. Tentunya model pakaian Fumiko adalah yang paling glamor mengingat ini adalah acara pertunangannya.
Hingga pada akhirnya, memakai sepatu bersamaan. Cantik tanpa celah itulah mereka, tiga mobil terparkir disana. Ketiga kakaknya sudah dijemput oleh pasangan mereka masing-masing. Kecuali Fujiko karena tidak mungkin ada sepeda yang rantainya sering lepas disana. Gadis itu menaiki motor ketempat acara mengikuti mobil dari kekasih kakak-kakaknya.
Tidak terfikirkan apapun olehnya. Hanya makanan hangat yang dibuatkan Raka, pagi, siang, sore malam.
"Aku lapar..." gumamnya tidak boleh makan karena menggunakan gaun yang begitu ketat.
*
Alunan suara musik terdengar, deretan makanan menggugah selera terdapat disana. Para tamu dari kalangan atas, terlihat dari pakaian mereka. Fujiko melangkah kikuk mengenakan topeng berwarna biru tua, menatap ke arah kakak-kakaknya yang berbaur dengan mudah.
Hingga seorang pemuda menghentikan langkahnya."Hai, kamu Fujiko kan? Perkenalkan namaku Sean." ucapnya mengulurkan tangan.
"Da... dari mana kamu tau namaku?" tanya Fujiko tidak mengerti.
"Aku adalah pengagummu," pria bertopeng coklat itu meraih jemari tangannya, menciumnya.
Fujiko menarik tangannya dengan cepat merasa tidak nyaman.
"Aku pengusaha restaurant. Aku pernah mendengarmu dari kakak-kakakmu," ucapnya tersenyum.
Apa ini orang yang ingin dikenalkan oleh kakaknya? Mungkin itulah yang ada dalam benaknya. Pada akhirnya memberanikan diri membuka pembicaraan.
"Aku Fujiko," Fujiko tertunduk tersenyum, seperti biasa berpura-pura bersikap anggun.
*
Sementara Fumiko mengenyitkan keningnya berada di atas panggung dengan tunangannya. Menghela napas kasar."Sepertinya aku tidak perlu mengenalkan teman-temanmu pada Fujiko," bisiknya pada Dwi, mengingat semua yang hadir merupakan orang-orang dari kalangan atas. Mungkin juga pria yang tengah berbincang dengan adiknya kini.
Dwi mengenyitkan keningnya."Tapi siapa sedang bicara dengan adikmu?"
"Sudahlah, biarkan saja dia sudah dewasa. Lebih baik fikirkan kapan kita akan menikah," ucap Fumiko mencubit pipi chubby tunangannya yang botak.
Mencintainya dengan tulus? Tentu saja, Dwi yang menghormati ayahnya, selalu bertindak lucu menghibur dirinya, tidak ada yang kurang, bahkan pria yang terlalu baik. Perasaan yang membuatnya nyaman. Walaupun orang-orang mengatakan gadis cantik yang bersanding dengan jin botak jelek. Cukup tutup mata dan telinga, jangan dengarkan kata-kata orang lain, yang penting dirinya nyaman dan bahagia.
*
Sebuah kamar hotel tersebut.
Seorang pemuda mengganti pakaiannya mengenakan setelan tuxedo, dasinya dipakaikan seorang pelayan wanita, sedangkan dua orang pelayan wanita lainnya membenahi jasnya. Topeng hitam yang didesain khusus benar-bebar berkelas terlihat mahal, hingga sepatunya pun begitu elegan, jam tangan seharga ratusan juta dikenakan olehnya.
Sedangkan Danu ada di sana mulai menghubungi Dwi, pria yang bertunangan hari ini."Tuanku akan hadir pada pertunanganmu. Kenapa tidak memberi undangan pada kami!?" bentaknya.
"A...aku tidak tau orang dari keluarga Pramana bersedia hadir di pesta ini. Jadi---" Kata-kata Dwi disela.
"Atur kehadirannya tepat setelah acara pertukaran cincin!" Danu mematikan panggilannya terdengar murka. Matanya menelisik ke arah sang pemuda.
"Seharusnya sehari-hari kamu berpakaian seperti ini. Seperti Imanuel sehingga semua orang menghormatimu." Cibir Danu pada Raka.
Raka menatap ke arah cermin."Saldo Rekeningku lebih banyak daripada saldo rekening sepupuku,"
"Sudah aku bilang, ibumu juga sudah menasehati. Jika ingin hidup itu mudah, menikahlah dengan Barbara, dia tidak materialistis, dari keluarga terpandang, mudah beradaptasi. Kamu dapat menggabungkan semua asetmu dengan ayahnya, membuat perusahaan yang menyaingi perusahaan milik kakekmu. Kenapa masih menyukai Fujiko yang jelas-jelas materialistis?" tanya Danu tidak mengerti sama sekali.
"Kamu akan mengerti jika mengenal seseorang lebih lama." Raka tersenyum simpul.
"Benar, kalian sudah seperti pasangan suami istri satu tahun ini. Tapi dia istri yang selingkuh dan kamu suami yang setia!" cibir Danu.
"Kami hanya teman, itu intinya. Apa yang kamu ketahui tentang Fujiko? Bahkan istrimu sendiri selingkuh dengan pria yang lebih kaya. Aku tidak ingin diberi nasehat oleh orang yang gagal dalam hidupnya." Rangkaian kalimat menancap tepat di dada Danu. Pemuda ini benar dirinya bahkan salah memilih istri yang pada akhirnya melarikan lebih dari setengah asetnya.
"Kalau boleh aku tau kenapa kamu menyukainya?" tanya Danu penasaran.
"Aku hidup sendirian selama satu tahun, saat sakit bahkan harus memasak bubur seorang diri, membawa baskom karena atap yang bocor---" Kata-kata Raka sela.
"Itu karena kamu pelit, sudah aku bilang jika ingin hidup menyendiri beli apartemen atau rumah pribadi. Tapi kamu malah tinggal di kost-kostan sempit. Dasar kikir!" geram Danu.
"Bukan itu intinya. Satu tahun aku hidup sendirian, hingga dia pindah. Awalnya karena dia terlalu baik aku ingin memanfaatkannya. Tapi hanya dia yang ada saat aku senang dan sedih, sakit dan sehat. Memakan makanan seadanya, hingga perlahan niat ingin memanfaatkannya berubah, menjadi nyaman jika bersama dengannya. Tapi tetap saja, wanita makhluk yang merepotkan, dia berkeliaran menebar pesona pada setiap pria. Aku hanya dapat mengawasi dan melindunginya sebagai teman. Tidak lebih," Jelasnya menghela napas kasar.
"Teman? Tanda ungu di leher adalah tanda pertemanan? Berbagi sabun dan air l*ur juga teman? Terakhir, kurang dari satu tahun kalian akan celap-celup, sebagai tanda persahabatan sejati. Jika dia hamil anak kalian juga dinamakan aksesoris pertemanan!?" Danu tidak dapat menahan amarahnya, terlalu gemas rasanya melihat sepasang sahabat yang memiliki status aneh.
"Cicit dari tuan Pramana akan menjadi anak di luar nikah! Lalu orang tuanya dengan lugu mengatakan itu aksesoris pertemanan!" Lanjut Danu.
"Apa menurutmu Fujiko mau diajak berhubungan di luar nikah?" tanya Raka malu-malu.
Brak!
Dengan cepat Danu melemparkan bantal pada majikannya.