Bukan hal yang mudah menjalani kehidupan sebagai seorang anak tiri, Vabilla Ahsyaniza, seorang perempuan baik hati yang selalu mendapat perlakuan tidak pantas dari ibu tirinya, dia mencoba untuk tetap ikhlas menjalani semua yang ditakdirkan didalam hidupnya.
Ibu tirinya itu sangat membenci Billa karena dia adalah anak hasil hubungan gelap suaminya dengan perempuan lain.
Pertemuannya dengan laki-laki bernama Bisma membuat Billa semakin gencar dihina oleh ibu tirinya.
Bisma menyukai Billa sejak pertemuan pertama mereka, diapun berusaha untuk masuk kedalam kehidupan Billa, tanpa mengetahui apa yang akan Billa hadapi nantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghilangnya Billa dan kehidupan barunya
Ujianpun telah usai. Billa lulus dengan hasil yang lumayan memuaskan. Ya walaupun bukan yang terbaik tapi Billa merasa sangat bahagia.
Cita-citanya sebentar lagi akan terwujud, dia tak ingin menjadi beban untuk kedua orangtuanya lagi.
Dia segera mencari pekerjaan dengan bermodalkan ijazah SMAnya itu.
Setelah mengirim lamaran kebeberapa perusahaan, akhirnya Billa mendapat panggilan dari salah satunya.
Dia diterima diperusahaan garmen yang cukup terkenal, ya walaupun hanya sebagai operator.
Tapi dia cukup sadar diri jika ia hanyalah lulusan SMA. Posisi itu sangat cocok untuk dirinya.
Billa menjalani hidupnya yang baru, suasana baru, lingkungan baru dan orang-orang baru disekitarnya.
Dia memutuskan untuk tinggal dikontrakan, jauh dari orang-orang dimasalalunya termasuk ibu tirinya yang masih saja sering menghinanya.
Ya meskipun awalnya papa tidak setuju dengan keputusan Billa, tapi setelah Billa meyakinkan papanya akhirnya papapun menyetujui keinginan Billa.
***
Bisma terlihat mengunjungi rumah Rafael, tapi bukan untuk bertemu dengan Rafael.
Dia ingin menemui Billa yang akhir-akhir ini sulit sekali untuk dihubungi, Bisma merasa sedikit khawatir.
Tok... Tok... Tok...
Bisma mengetuk pintu utama rumah itu.
Tak berselang lama seseorangpun membuka pintu rumah itu.
Ternyata Om Ardi yang membukanya, Bisma terlihat sangat gugup ketika melihatnya.
"Ada apa, ya?" Tanya Om Ardi.
Bisma menggaruk kepalanya yang tak gatal mendapat pertanyaan seperti itu.
"Saya mau bertemu Billa, Om? Apa Boleh?" Jawab dan Tanya Bisma kemudian.
Om Ardi mengerutkan keningnya, dia menatap Bisma dengan tatapan heran.
"Kamu siapa?" Tanya Om Ardi.
"Nama saya Bisma, Om. Temannya Billa." Jawab Bisma.
Tiba-tiba dia mengingat pesan Billa ketika mendengar namanya adalah Bisma.
Billa berpesan kepada papa dan Rafael sebelum pergi untuk tidak memberitahukan perihal keberadaannya kepada orang-orang dimasalalunya termasuk Bisma dan Dicky.
Dia tak ingin ada urusan lagi dengan masalalunya, dia ingin memulai hidup baru tanpa bayangan masalalu.
Papa dan Rafaelpun menyetujui permintaannya.
"Gimana Om?" Tanya Bisma membuyarkan lamunan Om Ardi.
Seketika Om Ardi tersadar.
Dia menarik nafas sebelum akhirnya berbicara.
"Billa sudah tidak tinggal disini lagi, dia sudah pergi." Jawab Om Ardi kemudian.
Bisma mengerutkan keningnya mendengar jawaban Om Ardi.
"Pergi kemana Om? Apa Om tau dimana alamatnya sekarang? Biar saya susul kesana!" Tanya Bisma.
"Om juga sebenarnya tidak tau dia tinggal dimana sekarang, yang jelas dia sudah bahagia dengan kehidupannya yang sekarang." Jawab Om Ardi.
Bisma semakin Bingung dengan yang dikatakan Om Ardi.
Dia berfikir jika ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
"Mana mungkin Om nggak tau, Om kan orang tuanya? Pasti Om tau sesuatu tentang Billa." Desak Bisma
Sebenarnya Om Ardi merasa sedikit kasihan kepada laki-laki itu, dia melihat kekecewaan dimata Bisma ketika mendengar pernyataannya.
"Maafkan saya, saya benar-benar tidak tau. Lebih baik kamu pulang saja!" Seru Om Ardi kemudian.
Seketika kaki Bisma terasa lesu mendengar itu, kenapa disaat selangkah lagi Bisma mendapatkan hati perempuan itu justru perempuan itu malah menghilang darinya.
Perlahan Bisma mulai meraih tangan Om Ardi.
"Tolong, Om kasih tau saya dimana Billa sekarang. Ada sesuatu hal penting yang ingin saya bicarakan, ini tentang masa depan Om." Seru Bisma.
Om Ardi semakin tak tega ketika Bisma memohon seperti itu kepadanya.
"Saya benar-benar tidak tau, maaf." Balas Om Ardi.
Bisma melepaskan tangan Om Ardi, sepertinya tidak ada gunanya dia memohon seperti itu kepada Om Ardi.
Dia harus memikirkan cara lain.
"Kalau gitu saya mau ketemu Rafael bisa kan Om?" Tanya Bisma kemudian.
"Ya sudah, saya panggilkan dulu, sebentar!" Seru Om Ardi.
"Iya Om." Jawab Bisma.
Om Ardipun pergi untuk memanggilkan Rafael.
Bisma benar-benar tak habis fikir, kemana perempuan itu pergi sampai-sampai keluarganya sendiripun tidak mengetahuinya.
Apa perempuan itu baik-baik saja sekarang? Bisma sangat cemas memikirkan tentang Billa.
Apalagi perempuan itu sangat nekat, dia tak bisa membayangkan ketika sesuatu yang buruk terjadi kepadanya.
Tak berselang lama Rafael datang menghampirinya.
"Ada apa Bis?" Tanya Rafael kemudian.
"Gue mau ketemu Billa bisa kan?" Bisma balik bertanya.
Rafael terdiam, dia sudah berkomitmen untuk tidak menceritakan tentang keberadaan Billa kepada siapapun.
Papanyapun tadi sudah memberitahukan hal ini kepadanya dan meminta Rafael untuk menutup rapat-rapat tentang rahasia Billa.
"Bisakan Raf?" Ucap Bisma.
"Gue nggak tau dimana dia sekarang Bis." Jawab Rafael berbohong.
"Kenapa sih loe sama papa loe rahasiain keberadaan Billa sama gue? Dia baik-baik aja, kan?" Tanya Bisma yang merasa sangat cemas.
"Gue beneran nggak tau. Kalau gue tau pasti gue kasih tau loe." Balas Rafael kemudian.
"Loe bohong Raf!" Balas Bisma cepat.
Rafael kembali terdiam, dia merasa sangat bersalah telah berbohong kepada Bisma.
Tapi ini semua demi kebaikan adik tirinya, Rafael ingin adik tirinya itu bahagia tanpa diganggu oleh orang-orang dimasalalunya.
"Ok kalau kalian nggak mau kasih tau gue dimana dia sekarang. Tapi gue bakalan temuin dia dengan cara gue sendiri. Gue bakal cari dia. Tanpa bantuan siapapun." Ucap Bisma dengan tegas.
Dia benar-benar merasa kecewa telah dibohongi oleh Rafael.
Sedetik kemudian dia pergi meninggalkan rumah itu, meninggalkan Rafael yang tertegun dengan perkataannya.
Rafael berfikir jika mereka memang berjodoh, Tuhan pasti akan mempersatukan mereka kembali meski siapapun menghalangi mereka untuk bertemu.
***
Perempuan itu benar-benar menghilang, nomor telfonnya tidak aktif, sosial medianyapun sudah diblokir.
Bisma sudah kehilangan jejak.
Bisma terus mencari Billa, menghubungi siapapun yang mungkin ada kaitannya dengan perempuan itu.
Setiap hari sepulangnya bekerja dan kuliah dia selalu menyusuri jalanan berharap bertemu dengan perempuan itu.
Semua yang dilakukannya terasa sia-sia, tak ada satupun usahanya yang membuahkan hasil.
Dia tak kunjung menemukan keberadaan perempuan itu.
Bisma tak juga menyerah, dia terus berusaha dan berusaha.
Dia percaya jika hasil takkan pernah menghianati perjuangan.
Dia yakin jika pertemuannya nanti dengan perempuan itu akan terasa membahagiakan dan kisah cintanya akan berakhir dengan bahagia.
***
3 tahun kemudian.
Billa menjalani hari-harinya jauh dari keluarga, dia benar-benar menikmati kesendiriannya selama ini.
Dia merasa sangat nyaman dengan kehidupannya yang sekarang, tak ada yang menghina dirinya, tak ada yang menyakiti hati dan perasaannya lagi.
Hanya waktu yang mampu menyembuhkan semua luka dihati perempuan itu.
Hidup Billa kini semakin membaik, berkat usaha dan kerja keras serta kesabaran dan keikhlasan yang dijalani selama ini dia menjadi orang yang lebih dewasa.
Ya meskipun Billa selalu menutup diri dari orang lain, dia selalu tak banyak bicara. Dia tak ingin menjalin persahabatan dengan siapapun, cukup berteman biasa.
Karena menurutnya persahabatan hanya akan mengingatkannya pada Felly. Baginya satu-satunya sahabat adalah Felly.
Dia terus menyibukan diri dengan bekerja, sehingga dia tak dapat memikirkan hal apapun termasuk kesedihannya.
***