Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.
Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.
Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...
baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 - Pertemuan Kedua Dan Yang Pertama Beserta Luka Orang Tersayang...
-~-Di Suatu Sore yang Terlalu Senyap
Arthur berdiri sendirian di pinggir lembah yang ujungnya tidak kelihatan. Latihan hari itu telah selesai lebih cepat dari biasanya. Asean mengistirahatkan Arthur tanpa penjelasan. Hendry terlihat terlalu lelah untuk bertanya.
Angin bertiup rendah.
Arthur merasakan sesuatu bukan sesuatu yang bahaya dari monster, tapi kehadiran seseorang.
“...Keluar saja” ucap Arthur pelan.
“Aku tahu kau di sana.”
Tidak ada jawaban.
Lalu dari balik batu besar yang retak, seorang pria muncul. Rambutnya lebih panjang dari terakhir kali mereka bertemu. Wajahnya tampak lebih kurus, matanya menyimpan kelelahan yang tidak ingin diakui.
“Kepekaanmu meningkat, Arthur” kata Borein.
“Itu berarti Hendry masih hidup setelah banyak hal yang terjadi dan kamu dilatih oleh orang terbaik.”
Arthur menegang.
“Kau mengikuti kami selama ini...”
“Aku hanya memastikan sesuatu hal” jawab Borein.
“Bahwa anak dari Moren Fireloren tidak berjalan sendirian.”
-~-Percakapan yang Tidak Seimbang
Mereka berdiri berhadapan, dipisahkan jarak yang tidak perlu dijembatani.
“Kau bilang waktu itu aku tak boleh sepenuhnya percaya, Borein” kata Arthur.
“Tapi kau juga tidak mengatakan kau musuh.”
Borein tersenyum miring.
“Karena aku memang bukan atau belum saatnya...”
Arthur mengepalkan tangan.
“Tapi kau salah satu dari enam orang itu!!.”
Senyum itu memudar.
“Ya, aku tahu tentang itu Arthur...” kata Borein.
“Dan aku satu-satunya yang masih bisa tidur dengan nyenyak.”
Arthur terdiam.
“Kau pasti ingin tahu kenapa kan?” lanjut Borein.
“Yaa kan? Kan? Itu karena ayahmu tidak menyelamatkan kami sebagai pahlawan.”
Ia menatap tanah.
“Dia menyelamatkan kami sebagai manusia biasa.”
Arthur menelan ludah.
“Lalu kenapa semuanya mencoba mengkhianatinya?”
Borein mengangkat bahu perlahan.
“Karena manusia yang diselamatkan… bisa memilih untuk membalas, atau memanfaatkan.”
Enam Nama, dan Enam Luka
Arthur menatap Borein tajam.
“Ceritakan kepadku...”
Borein menghela napas panjang napas orang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu.
“Clorfin kehilangan rumahnya karena persoalan PAJAK 21% yang sangat tak masuk akal. Ayahmu memberi perlindungan, makanan, dan jalur dagang. Tapi Clorfin belajar satu hal: kekuasaan lebih cepat dibangun dengan rasa takut.”
Arthur menggertakkan gigi.
“Permo adalah akuntan brilian. Ia berutang nyawa pada Moren karena disembunyikan dari eksekusi karena Permo membuktikan kasus korupsi seseorang yang penting. Tapi ia belajar dari kejadian itu dan membaca celah hukum lebih baik dari siapa pun.”
Borein melanjutkan tanpa menatap Arthur.
“Lalu ada Forlen yang diberi tanah untuk membuat usaha. Vastorci diberi modal untuk membuka laboratorium. Terakhir Ervin…”
Ia berhenti.
“Ervin diberi kepercayaan, dia...” katanya akhirnya.
“Dia adalah yang paling pendiam selain ku, dan itulah yang paling berbahaya, menurutku.”
Arthur merasakan dingin menjalar.
“Lalu kau?” tanyanya.
Borein tersenyum pahit.
“Aku diberi kesempatan untuk pergi dan memilih.”
-~-Pilihan yang Tidak Diambil
Arthur menggeleng pelan.
“Kalau kau tahu semua ini, kenapa kau tidak mencoba menghentikan mereka?”
Borein menatapnya tatapan orang yang pernah bertanya hal yang sama pada dirinya sendiri.
“Karena saat itu kami masih membutuhkan Moren untuk hidup, Arthur” katanya.
“Dan setelah kami tidak membutuhkan… sudah terlambat.”
Arthur merasa dadanya sesak.
“Aku datang hari ini bukan untuk bertarung...” lanjut Borein.
“Aku datang untuk memastikan kau tahu: tidak semua dari kami memilih jalan yang sama.”
Ia melangkah mundur perlahan.
“Dan ketika waktunya tiba” katanya sebelum pergi, “ingat satu hal yang paling berbahaya bukan mereka yang berteriak paling keras dan lantang.”
-~-Selama Percakapan Mereka, Ada Bayangan di Atas Pohon Yang Melihat
Kemudian Borein menghilang di balik pepohonan.
Arthur berdiri lama, mencoba mencerna semuanya.
Dan satu hal yang ia tidak tahu
sejak awal percakapan itu, sepasang mata telah mengamati dari atas dahan tinggi.
Sesosok Bayangan Pria.
Pria itu tidak bergerak. Tidak bereaksi.
Ia hanya mendengar.
Tatapannya tajam, penuh perhitungan.
“Kupikir Borein masih terlalu lunak, seperti biasa” gumamnya pelan, nyaris tanpa suara.
“Dan anak itu… sudah mulai mengerti.”
Ia melompat turun dengan senyap, menghilang ke arah berlawanan.
Malam Setelahnya
Arthur kembali ke perkemahan dengan langkah berat.
Hendry menatapnya sekali dan ia seperti memiliki indra keenam dan langsung tahu.
“Kau bertemu Borein, tuan muda” katanya.
Arthur mengangguk.
Hendry menutup mata lama.
“Dia selalu yang pertama ragu.”
Arthur duduk.
“Mereka berenam… ayah menolong mereka bukan untuk membangun kekuatan bukan?.”
Hendry membuka mata.
“Tidak. Dia menolong karena tidak tega melihat orang jatuh.”
Arthur menatap api.
“Dan itulah yang mereka pelajari, darinya...” lanjut Hendry pelan.
“Bahwa kebaikan bisa menjadi pijakan.”
Asean mendekat.
“Dan sebuah pijakan pasti akan selalu diinjak.”
Arthur mengepalkan tangan.
“Kalau begitu, Hendry” katanya, suaranya tenang tapi keras, “aku tidak akan menghentikan kebaikan.”
Ia menatap Hendry.
“Aku akan menghentikan mereka yang menggunakannya dan memanfaatkan.”
Hendry menatap Arthur lama.
Di mata tua itu, untuk pertama kalinya, bukan hanya ada perlindungan, tapi sebuah keyakinan.
Di suatu tempat, Seseorang yang Misterius terlihat bergerak menuju arah utara.
Paman Arthur, Norvist sedang menunggu sesuatu atau kabar yang mengkhawatirkan.
Dan enam nama yang dulu diselamatkan oleh Moren…
perlahan mulai bergerak ke arah yang sama.
Sementara Arthur berdiri di tengahnya, tidak lagi sebagai anak yang dilindungi melainkan sebagai titik yang akan memaksa semua jalan bertabrakan.
-~-Pagi Hari Saat Arthur Berada Di Jalan Batu Menuju Selatan
Arthur berjalan sendiri pagi itu. Hendry melarangnya pergi jauh, tapi tidak melarangnya berjalan.
Asean menyebutnya perlu “mengenal langkahnya sendiri”.
Jalan batu itu sempit dan jarang dilewati. Di kanan-kirinya tumbuh rumput liar yang sudah lama tidak dipotong. Tempat seperti ini jarang mempertemukan siapa pun.
Itulah sebabnya Arthur langsung berhenti ketika melihat seorang pria berdiri di tengah jalan.
Pria itu berpakaian sederhana. Terlalu rapi untuk pengelana, terlalu tenang untuk perampok. Rambutnya disisir ke belakang, wajahnya bersih, nyaris tanpa ekspresi.
“Kau tidak seharusnya berjalan sendirian disini anak muda...” kata pria itu.
Arthur tidak menjawab. Tangannya refleks bergerak ke gagang pedang yang dia pake latihan di pinggang nya.
Pria itu tersenyum tipis.
“Tenang... Santai... Jika aku ingin melukaimu, kau tidak akan sempat berpikir.”
Arthur menatapnya tajam.
“Siapa kau??”
Pria itu menoleh sebentar ke langit, seolah memeriksa cuaca.
“Hanya Orang yang penasaran saja, mungkin?” katanya.
“Apakah anak Moren akan tumbuh seperti ayahnya… atau justru kebalikannya.”
Arthur menegang.
“Kau terlihat seperti mengenal ayahku dengan baik.”
“Semua orang yang hidupnya berubah mengenalnya” jawab pria itu ringan.
“Pertanyaannya: berubah ke arah mana.”
Arthur melangkah maju satu langkah.
“Namamu?".
Pria itu tersenyum lagi, kali ini tanpa kehangatan.
“Rahasia.”
Percakapan yang Tidak Mencari Jawaban
Mereka berdiri saling berhadapan.
“Kau tidak terlihat seperti musuh” kata Arthur.
Orang Misterius itu tertawa kecil.
“Musuh jarang terlihat seperti itu.”
“Kau datang untuk apa?” lanjut Arthur.
“Melihat...” jawab Orang Misterius.
“Apakah kau sudah cukup dewasa untuk mulai kehilangan semuanya secara perlahan.”
Arthur mengepalkan tangan.
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
Orang Misterius mendekat setengah langkah cukup dekat untuk membuat udara terasa berat.
“Kau akan...” katanya pelan.
“Dan saat itu tiba, ingat wajah ini. Bukan untuk dibenci tapi untuk diingat.”
Ia melangkah ke samping, memberi jalan.
“Kita akan bertemu lagi, anak muda” katanya sambil berlalu.
“Dalam keadaan yang tidak sebersih ini.”
Arthur menoleh mengikuti langkahnya, tapi Orang Misterius itu sudah menghilang seolah jalan itu menelannya.
Arthur baru setengah perjalanan kembali ketika ia melihat Toxen berlari ke arahnya. Napasnya berat, wajahnya tegang.
“Tuan... Arthur...” katanya cepat.
“Kita harus kembali. Sekarang.”
“Ada apa?” tanya Arthur.
“Rumah.”
Satu kata itu cukup.
Api di Tempat yang Pernah Hangat
Ketika Arthur bergegas dan melakukan perjalanan tercepat yang mereka bisa dan ketika tiba di wilayah keluarga, asap masih tipis menggantung di udara.
Tidak pekat tanda kebakaran besar telah dipadamkan. Tapi cukup untuk meninggalkan bau besi dan tanah terbakar. Di kejauhan, barisan knight terlihat. Banyak yang terluka. Beberapa duduk di tanah, helm mereka tergeletak.
Arthur melihat ayahnya Moren berdiri dengan mantel robek di sisi kiri. Darah mengalir tipis dari lengannya, dibalut kain kasar.
“AYAH!”
Moren menoleh. Tatapannya langsung berubah.
Arthur berlari, berhenti tepat di depannya.
“Ayah terluka, siapa yang melakukan ini?” kata Arthur dengan suara bergetar.
Moren tersenyum lelah.
“Hanya pengingat bahwa aku masih hidup.”
Arthur menatap luka itu dengan marah yang tertahan.
Pertempuran yang Tidak Dimenangkan Siapa Pun
Norvist berdiri tak jauh, berbicara dengan beberapa perwira dan kapten knight Sir Hollton. Wajahnya keras, jauh lebih tua dari yang Arthur ingat.
“Apa yang terjadi paman?” tanya Arthur.
Norvist menoleh.
“Mereka datang sebelum fajar. Mungkin sekitar seribu lima ratus knight dan tiga ribu tentara bayaran.”
Arthur terkejut.
“Sebanyak itu…?”
“Gabungan dari 3 keluarga pengecut” lanjut Norvist.
“Bendera berbeda. Disiplin berbeda. Tapi tujuan mereka sama.”
Moren menyela.
“Aku membawa enam ratus knight. Norvist empat ratus lima puluh… dan seribu tentara bayaran yang telah disewa.”
Arthur menelan ludah.
“Itu tidak seimbang.”
Moren mengangguk.
“Tidak pernah.”
“Lalu kenapa mereka mundur?” tanya Arthur.
Norvist menatap jauh ke barisan pohon.
“Karena ini bukan serangan terakhir mereka.”
Moren duduk akhirnya, didukung Hendry yang wajahnya pucat tapi matanya tajam.
“Clorfin?” tanya Hendry pelan.
Norvist tidak menjawab langsung.
“Borein tidak ada.”
Arthur terdiam.
“Dan itu membuatku lebih khawatir,” lanjut Norvist.
Arthur teringat Orang Misterius. Tatapan itu. Kalimat tentang kehilangan.
“Ayah,” kata Arthur pelan.
“Tujuan mereka bukan membunuhmu.”
Moren menatap putranya.
“Tidak, Ayah” lanjut Arthur.
“Mereka ingin memastikan keluarga kita berdiri… cukup lama untuk melihat semuanya diambil.”
Moren tersenyum pahit.
“Kau sudah mulai melihatnya.”
Malam itu, rumah keluarga Arthur dijaga lebih ketat dari sebelumnya.
Hendry duduk di kursi, kelelahan jelas di wajahnya. Toxen berdiri di belakang Arthur, diam seperti bayangan setia.
Norvist menulis surat tidak panjang, tapi penuh makna.
Dan jauh dari sana, Orang Misterius itu berdiri di atas bukit kecil, memandang cahaya rumah itu dari kejauhan.
“Bagus, sepertinya” gumamnya.
“Dia sudah mulai merasakan arusnya.”
Arthur berdiri di dekat jendela kamarnya, tangan mengepal.
Ia sadar kini:
perjalanan ini tidak lagi disebut sebagai kisah tentang masa lalu ayahnya, melainkan tentang apa yang akan ia izinkan terjadi selanjutnya dan seterusnya...
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥