Sebelum baca karya ini lebih baik baca Season pertamanya agar tidak salah sambung...🙏🙏🙏
Cinta yang terpisah kembali bersatu, Diska yang meninggalkan Rama di saat mengandung benih cintanya dengan pria yang sangat dicintainya kembali menghampiri pemuda desa itu saat dia akan dijodohkan dengan putra dari sahabatnya.
Apakah cinta mereka akan dapat bersatu?
Yuk lanjut baca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Ghina Fithri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Malam itu Diska dan Rama sama-sama sepakat untuk mengungkapkan apa pun yang mereka rasakan dan apa pun yang tengah mereka hadapi, agar hubungan mereka untuk ke depannya menjadi lebih baik lagi.
****
Hari ini Rama mengajak Diska ke pasar tradisional yang hanya ada satu kali dalam seminggu.
Pasar tradisional di daerah Silaping hanya ada setiap hari Kamis.
"Kita ngapain ke pasar, Bang?" tanya Diska pada Rama saat mereka sudah di perjalanan.
"Aku mau nyiapin barang-barang yang harus aku bawa ke kota. Kalau hari Minggu kita akan berangkat ke Bandung aku harus memiliki persiapan, dong." Rama menjelaskan tujuannya mengajak wanita yang dicintainya ke pasar tradisional.
"Oh, gitu." Diska hanya mengangguk.
Mereka pergi tidak membawa Farel, Rama merasa kasihan pada putranya, Rama tidak ingin putranya itu kepanasan di sepanjang jalan.
Mereka sampai di pasar setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit.
"Lumayan capek juga boncengan," ujar Diska saat turun dari sepeda motor.
"Kamu sabar ya, Dek. Abang akan belikan mobil untuk kamu, tapi kita nikah dulu, ya," ujar Rama pada wanita yang dicintainya itu.
"Benar, Bang? Tapi, aku mau menikah denganmu bukan karena janji kamu yang mau belikan mobil," ujar Diska
"Kamu tenang saja, setelah 3 tahun Abang berusaha, Abang sudah memiliki simpanan untuk menikahimu." Rama sudah mulai percaya diri, karena saat ini dia sudah memiliki tabungan untuk menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
"Apa pun itu, aku mau menikah denganmu karena aku yakin hanya kamu yang bisa membahagiakan aku dan Farel," tutur Diska tulus.
"Iya, Dek." Rama pun menggandeng tangan Diska dengan erat.
Mereka melangkah menerobos keramaian pengunjung pasar.
"Aku mau beli beberapa baju kaos dan kemeja," ujar Rama pada Diska.
Rama berharap Diska akan memilihkan baju dan celana yang cocok untuk dirinya.
"Bang, kemeja itu bagus. Kita lihat, yuk!" ajak Diska menggandeng tangan Rama mendekati pedagang pakaian yang tidak jauh dari mereka.
"Kemeja putih ini bagus buat kamu," ujar Diska setelah mengambil kemeja dan mencocokkan kemeja tersebut ke tubuh Rama.
"Mana cocok, Dek. Warna putih buat aku yang kulitnya hitam begini?" ujar Rama.
"Sebenarnya kamu enggak hitam, hanya saja kelamaan berpanas-panasan dan bekerja di kebun," ujar Diska.
"Ya udah, kalau gitu terserah kamu." Rama mengikuti selera Diska.
Diska juga melihat kemeja warna navy, dia juga mengambil kemeja itu untuk Rama.
"Ini juga bagus, Bang." Diska kembali mencocokkan kemeja yang sudah ada di tangannya.
"Boleh, ambil aja," ujar Rama.
"Mau beli bajunya berapa?" tanya Diska.
"Enggak tahu juga, soalnya pakaian yang di rumah udah lusuh semua," jawab Rama bingung.
"Ya udah, gini aja. Beli pakaiannya enggak usah banyak-banyak. nanti di Bandung kita beli di mall, aku pusing belanja di sini," ujar Diska jujur.
Diska bingung melihat pakaian yang bergelantungan, tak jelas di beberapa pedagang pakaian di sana.
"Ya ampun, Dek." Rama geleng-geleng kepala.
"Ya udah, aku aja yang milih. Kamu tenang di sini, ya." Rama menyuruh Diska duduk di sebuah kursi yang tersedia di depan toko tersebut.
"Kak, aku mau kemeja 5 helai kaos 3 helai celana jeans 3 helai," ujar Rama langsung.
Dia tidak peduli lagi mau pilih warna apa, yang penting apa yang dia mau ada.
Setelah membeli pakaian, Rama mengajak Diska makan bakso di sebuah kedai bakso terkenal paling enak di sana.
Diska juga sudah kangen makan bakso di sana. Diska melangkah dengan senangnya.
Saat ini Rama sudah memiliki tabungan dari hasil panen kebun selama 3 tahun selalu ditabungkan. Dia masih berharap bisa bertemu dengan Diska dan berjodoh dengan wanita yang dicintainya itu.
Apa yang diharapkannya kini hampir terwujud.
Saat ini yang harus dilakukannya adalah menemui orang tua Diska, lalu meminta wanita yang dicintainya itu pada kedua orang tuanya.
"Bang, bakso 2 porsi, ya," ujar Rama memesan bakso pada penjual bakso.
"Baik, Bang," sahut si pedagang bakso.
Tak berapa lama, bakso yang mereka pesan pun datang. Diska menyantap bakso yang ada di depannya dengan lahap.
"Rasanya masih sama dengan yang dulu ya, Bang," ujar Diska.
Bakso yang mereka makan saat ini merupakan bakso favorit Diska saat dia tinggal di desa Tanjung 3 tahun lalu.
"Iya, aku sudah lama tidak makan bakso ini, mungkin sejak kamu pergi, aku jarang keluar dari desa. Jangankan keluar desa, keluar hutan saja hanya satu kali seminggu, itupun karena shalat Jum'at," ujar Rama mulai menceritakan keadaannya selama Diska tak berasa di sampingnya.
"Benarkah, Bang?" Diska tak percaya.
"Iya, makanya sekarang aku punya tabungan buat kita bawa ke Bandung untuk mahar buat kamu," ujar Rama senang.
Jika dihitung tabungan Rama selama 3 tahun ini, tabungannya itu bisa membelikan Diska sebuah mobil mewah dan sebuah rumah mewah (jika mereka tinggal di desa nantinya)
Mereka sangat menikmati hidangan semangkuk bakso yang ada di hadapannya saat ini.
"Makasih, Bang," ujar Diska setelah mereka keluar dari tenda pedagang bakso.
"Kamu mau beli apa?" tanya Rama pada Diska.
"Aku enggak mau beli apa-apa," jawab Diska.
"Ya udah kalau gitu kita langsung pulang aja," ajak Rama.
Mereka tidak bisa berlama-lama di pedagang bakso tersebut, karena di luar tenda sudah banyak pengunjung yang sedang menunggu.
****
Hari ini Diska dan Rama sudah siap untuk berangkat ke Bandung.
Semua keperluan Diska sudah disiapkan oleh Mbak Yuyun, mereka telah siap untuk berangkat.
"Uci, kami berangkat dulu," ujar Diska pamit.
Mereka pun berpamitan pada wanita paruh baya yang tinggal seorang diri di rumah sederhana miliknya.
Rumah yang biasanya terdengar percakapan riang antara Uci Desmi, dan Diska, serta tawa bahagia yang jelas terdengar dari mereka yang tengah bercerita, dan rumah yang selalu terasa ramai, kini rumah itu dibaluti rasa sepi karena ditinggal oleh semua rombongan yang dibawa Diska.
Terlihat Uci Desmi sangat sedih melepas kepergian mereka.
"Uci, do'akan semua yang aku niatkan dan aku harapkan terwujud," pinta Rama sebelum dia melangkah meninggalkan Uci Desmi.
"Nenek, aku pergi, ya," ujar Farel ikut berpamitan.
Mereka pun masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan halaman rumah Uci Desmi.
Dengan langkah penuh keyakinan Rama melangkah menggapai impiannya.
Sepanjang perjalanan Farel terlihat sangat riang karena dia selalu berada di dalam dekapan tubuh kekar sang ayah kandung.
Tak ada yang paling membahagiakan bagi seorang anak selain berada di dekat sang ayah kandungnya.
Rama dan Diska ikut bahagia melihat keceriaan putra mereka.
Bersambung...