Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Rekan Kecil
Cahaya matahari pagi yang tipis menembus celah-celah bangunan tua, menggelitik kelopak mata Li Yuan. Namun, bukan sinar itu yang membuatnya terjaga, melainkan sebuah tarikan halus pada roti yang masih ia dekap erat.
Sontak, insting bertahannya menyalak. Ia bangkit dengan mata membelalak.
"Siapa yang berani menyentuh rotiku?!" geramnya, siap untuk melayangkan tinju.
Namun, amarahnya luluh seketika. Di hadapannya, bukan preman jalanan yang berdiri, melainkan seekor monyet kecil yang sangat kurus. Bulunya kusam, dan tulang rusuknya menonjol jelas di balik kulitnya yang tipis. Makhluk malang itu menatap roti di tangan Li Yuan dengan gemetar.
Sebagai orang yang tahu betul rasanya sekarat karena lapar, Li Yuan menghela napas panjang. "Kau terlihat jauh lebih menyedihkan dariku, Sobat."
Dengan sisa tenaga yang ada, Li Yuan membagi roti itu menjadi dua bagian yang sama besar. Ia menyodorkannya pada makhluk kecil itu. "Nih, ambil. Anggap saja ini pesta kemenangan kita."
Monyet kecil itu terdiam sejenak, menatap Li Yuan dengan binar mata yang dalam, seolah sedang membaca ketulusan di hati bocah jalanan tersebut. Dengan ragu, ia meraih roti itu dan mulai mengunyahnya dengan lahap.
Mereka pun duduk berdampingan di atas tanah yang kotor, menikmati sarapan sederhana mereka.
"Seperti biasa, rasanya benar-benar seperti sampah! Keras dan hambar." gumam Li Yuan sambil berusaha menelan potongan roti yang tersangkut di tenggorokannya.
Monyet itu mencicit, wajahnya berkerut masam saat mengunyah—sebuah tanda bahwa ia pun setuju dengan kualitas makanan tersebut. Namun, lapar tidak memberi mereka pilihan. Mereka terus mengunyah sampai remah terakhir lenyap.
Setelah kenyang, mereka saling bertatapan. Entah mengapa, Li Yuan merasa bisa memahami apa yang dipikirkan makhluk itu. Ia tertawa renyah, tawa pertama yang tulus sejak sekian lama.
"Hahaha! Ternyata seleramu tinggi juga, ya? Bagaimana kalau kau ikut denganku? Hidup sendirian di dunia ini sangat membosankan." ajak Li Yuan sambil mengulurkan tangan.
Tanpa ragu, monyet itu mengangguk mantap dan melompat ke pundak Li Yuan.
"Bagus. Mulai sekarang namamu adalah Dong Dong. Ayo kita berangkat, siapa tahu di luar sana ada harta karun yang menunggu kita." ucap Li Yuan penuh harap.
Dong Dong berdiri tegak di bahu Li Yuan, tangannya menunjuk ke arah cakrawala. "Uaaa! Uaaa!"
"Benar, kita ke hutan. Setidaknya di sana ada air bersih dan mungkin saja ada buah yang lebih layak daripada makanan sampah kota ini."
Mereka pun melangkah meninggalkan gang kumuh itu, berjalan menuju hutan lebat yang membentang di pinggiran kota. Namun, kenyataan tak seindah harapan. Setelah berjam-jam menjelajah, mereka tidak menemukan satu pun pohon yang berbuah.
"Sial, tidak ada buah sama sekali. Hutan ini sama pelitnya dengan para bangsawan," keluh Li Yuan sambil menyeka keringat. "Dong Dong, coba kau naik ke atas pohon yang paling tinggi. Lihat apakah ada sesuatu yang bisa dimakan atau mungkin sungai di sekitar sini."
Dong Dong mengangguk paham. Dengan kelincahan yang luar biasa, ia memanjat pohon raksasa di dekat mereka dan menghilang di balik rimbunnya dedaunan.
"Kau melihat sesuatu?!" teriak Li Yuan dari bawah, sambil melindungi matanya dari silau matahari.
Tiba-tiba, Dong Dong meluncur turun dengan kecepatan tinggi dan mendarat tepat di atas kepala Li Yuan dengan keras.
"Aduh! Bisakah kau mendarat dengan lebih elegan sedikit?!" Li Yuan mengaduh sambil memegangi kepalanya yang pening.
Dong Dong mulai mengoceh dengan bahasa monyet yang cepat, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah semak belukar yang rimbun di depan mereka. Wajahnya tampak sangat bersemangat.
"Ke sana? Kau yakin ada makanan?"
Li Yuan pun berjalan lurus, membelah semak-semak yang tinggi. Tak lama kemudian, ia melihat sebuah benda berwarna hijau gelap yang tampak berkilau di antara akar pohon besar.
"Ini apa? Buah raksasa?" gumamnya penasaran.
Ia meraih benda itu dan menariknya dengan kuat. Namun, saat benda itu terangkat, jantung Li Yuan seakan berhenti berdetak. Itu bukan buah, bukan pula harta karun, melainkan ekor bersisik yang dingin dan sangat besar.
Sepasang mata vertikal yang kuning menyala terbuka di balik semak. Seekor ular sanca raksasa terbangun dari tidurnya dengan perasaan sangat terganggu.
"LAAARRIIIIIII!!!"
Li Yuan memutar arah dan berlari secepat kilat. "Kenapa kau menunjukkan tempat ini padaku, monyet bodoh! Itu maut, bukan makanan!"
Dong Dong tidak kalah panik. Ia memukuli kepala Li Yuan berulang kali sambil menjerit ketakutan, sementara di belakang mereka, ular besar itu meluncur cepat di atas permukaan tanah, mendesis marah siap melahap mangsa yang telah berani mengusik tidurnya.