NovelToon NovelToon
Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Romantis / Cintamanis / Mafia
Popularitas:24k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kucing kecil pengganti adik

Rea keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan piyama stroberinya. Ia segera menghampiri Galen yang masih duduk di tepi ranjang.

"Sudah selesai! Mas Galen cepetan mandi, katanya tadi mau ngajakin aku main sama adiknya Mas," tagih Rea dengan nada polos yang sangat tulus.

Galen tersenyum melihat kepolosan Rea. Ia berdiri dari ranjang dan berjalan ke arah lemari. "Adik Mas sedang tidur sekarang, Rea. Mungkin besok pagi baru bisa diajak main," kata Galen sambil mengambil handuk.

Rea sedikit kecewa, namun segera mengangguk. "Oh, begitu ya? Oke deh, Rea tunggu besok pagi!" Ia lalu duduk di tepi ranjang, menggantungkan kakinya.

Galen masuk ke kamar mandi, meninggalkan Rea sendirian di kamar. Rea mengambil salah satu bantal dan memeluknya erat. "Adiknya Mas Galen pasti lucu sekali, seperti boneka beruangku," gumam Rea pada dirinya sendiri.

Tak lama kemudian, Galen keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggangnya. Ia melihat Rea yang sudah mulai mengantuk. "Sudah ngantuk, Bunny?" tanya Galen lembut.

Rea mengangguk. "Sedikit, Mas. Tapi Rea masih mau menunggu adik Mas Galen bangun."

Galen tertawa kecil. "Kalau begitu, ayo tidur. Besok pagi kita bisa cari tahu apa yang ingin dilakukan adik Mas." Ia lalu berjalan ke sisi ranjang dan menyingkap selimut, memberi isyarat agar Rea berbaring.

Rea segera masuk ke dalam selimut, merasa nyaman di samping Galen. Galen mematikan lampu, meninggalkan kamar dalam temaram cahaya bulan yang masuk dari jendela.

"Selamat tidur, Bunny," bisik Galen sambil mengecup kening Rea.

"Selamat tidur juga, Mas Galen," balas Rea, lalu ia pun terlelap dengan mimpi bertemu "adik" Galen yang ia bayangkan sebagai boneka beruang yang lucu.

Keesokan harinya, sinar matahari masuk dengan cerah ke dalam kamar. Rea terbangun lebih awal dan segera membersihkan diri. Ia sudah siap dengan buku catatannya, bersiap menghadapi mata kuliah Analisis Biaya Produksi yang katanya cukup sulit.

Namun, saat ia mengecek grup pesan mahasiswa, Rea berseru pelan, "Lho, Mas! Hari ini kelas dosen Analisis Biaya libur, katanya ada kepentingan mendadak!"

Galen yang baru selesai memakai kemejanya hanya menyunggingkan senyum misterius. Ia tahu betul "kepentingan mendadak" dosen itu adalah hasil dari panggilannya semalam agar Rea bisa tetap di rumah bersamanya.

"Baguslah kalau libur. Jadi, kamu tidak perlu bertemu dosen mana pun hari ini," ucap Galen santai sambil merapikan kerahnya di depan cermin.

Rea menghampiri Galen dengan wajah polos yang sedikit kecewa. "Tapi Rea kan mau belajar, Mas. Terus kalau libur begini, Mas Galen mau ke kebun? Rea sendirian dong di rumah?"

Galen berbalik, menarik pinggang Rea agar mendekat. "Mas juga tidak ke kebun hari ini. Mas mau menagih janji yang kemarin. Katanya mau ajak main 'adik' Mas kalau sedang libur?"

Rea mengerutkan kening. "Adik Mas? Rea cari-cari dari tadi kok nggak ada anak kecil atau bayi di rumah ini? Mas Galen sembunyiin di mana adiknya?"

Galen tersenyum kecil. "Dia tidak sembunyi, Bunny. Dia hanya butuh kamu untuk menyentuhnya agar dia mau bangun dan bermain. Coba cari di bawah meja sana."

Rea mengedipkan matanya, masih sedikit bingung, tapi mengikuti arahan Galen. Ia membungkuk dan melihat ke bawah meja. Seekor anak kucing kecil berbulu halus sedang tidur meringkuk.

"Oh! Ini adiknya Mas?" seru Rea senang. "Lucu sekali! Manja banget ya adiknya Mas Galen, harus dibangunin dulu baru mau main." Rea segera mengulurkan tangan dengan lembut untuk mengelus anak kucing itu.

Galen tertawa rendah melihat Rea yang begitu gembira dengan anak kucingnya. "Ya, dia 'adik' Mas yang paling manja. Mari kita lihat seberapa jago kamu mengajaknya bermain pagi ini, Bunny."

Rea hanya tertawa riang, fokus pada anak kucing yang mulai meregangkan tubuhnya dan mengeong pelan. Pagi itu pun diisi dengan tawa Rea dan suara purr lembut dari anak kucing, membuat suasana rumah menjadi hangat dan menyenangkan.

Sebenarnya bukan itu, Bunny... tapi ini milikku,” batin Galen sambil menatap ke arah lain, merasa sedikit jijik pada isi kepalanya sendiri yang sempat berpikir macam-macam pada gadis se-suci Rea.

Rea, yang sama sekali tidak menyadari gejolak batin suaminya, justru asyik memeluk dan menciumi anak kucing itu dengan gemas. "Mas, lucu banget kucingnya! Lihat deh matanya, kayaknya galak tapi manja, mirip banget sama Mas Galen!" seru Rea sambil tertawa riang.

Galen berdeham, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya yang sempat kaku. Ia mendekati Rea dan ikut berjongkok di sampingnya, mengusap puncak kepala Rea dengan lembut. "Oh ya? Jadi menurutmu Mas mirip kucing ini?"

"Iya! Galak di luar, tapi kalau sudah disayang langsung manja," goda Rea sambil mencolek hidung Galen dengan telunjuknya yang masih bau bulu kucing.

Galen hanya bisa menggelengkan kepala. "Terserah kau saja, Bunny. Tapi ingat, jangan sampai kau lebih sayang pada kucing itu daripada suamimu sendiri."

"Ih, Mas Galen cemburu sama kucing ya?" Rea tertawa lebih keras, membuat suasana pagi di mansion yang biasanya tegang itu menjadi begitu hangat.

Meskipun Rea belum menyadari siapa "adik" yang dimaksud Galen dalam kiasannya yang lebih dalam, Galen merasa lebih baik begini. Biarlah Rea tetap dalam kepolosannya, karena bagi Galen, senyum tulus istrinya adalah satu-satunya hal yang menjaganya tetap merasa menjadi manusia di tengah gelapnya dunia mafia tahun ini.

1
Emily
terus luka si galen gak di obati apa gimana ...udan bangun tidur aja😆
Nur Sabrina Rasmah: nggak di tulis kak 🙏🙏🙏🙏, kelupaan maaf ya
total 1 replies
Emily
rea wanita yg beruntung mendapatkan cinta pria seperti galen
Emily
cerita bagus gini kenapa gak ada yg komen
Emily
rea😁😁😁
Emily
suka ceritanya
Emily
semangat rea
Emily
rea polos bget hmm
Emily
bagus galen
Emily
galen senior kebun wkwkwk
Emily
dapat undian😆ada aja ni rea
kalea rizuky
lanjut
Fikar Bll
😍
Fikar Bll
lanjut Thor Pliss
Erfin Kota
💪💪💪💪💪 tangan berurat
Hennyy Handriani
rea kamu polos banget
Hennyy Handriani
💪💪💪
Hennyy Handriani
wow alur nya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!