Ada satu hal yang tidak diketahui para wartawan infotainment dari sang selebriti Elang Samudra Ginting bahwa Samudra sudah menikah. Tapi siapa sangka, sebagai salah satu pria paling digilai di penjuru tanah air, Samudra mendapatkan surat cerai dari sang istri. karena mereka telah hidup terpisah selama tiga tahun.
Sejak menjauh dari sang suami, hidup Lembar Putih Ayunda berubah sepenuhnya. Ia mendapatkan pekerjaan baru, teman-teman baru, dan kehidupan baru. Namun ketika Samudra menemuinya untuk menyelesaikan perceraian mereka, ada sesuatu yang ternyata tak pernah berubah dari Samudra, Samudra tetap menjadi satu-satunya pria yang bisa mengisi hidupnya.
Kesepakatan baru pun dibuat, mereka akan tetap bersama selama sekejap sampai urusan itu selesai, sebelum menyadari bahwa hasrat mereka sungguh tak bisa terbendung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter - 23
Ayunda mengetahui isi pikiran Samudra, karena mereka sedang memikirkan hal yang sama. Sama-sama berada dalam kehilangan yang telah menghancurkan hidup mereka.
Samudra ingin berlari dan menjauh dari rasa sakit yang sudah susah payah ia sembuhkan selama tiga tahun ini.
Aviran melesat berlari mengelilingi meja kecil, melayang cepat ke lutut Mommynya, sembari mengoceh soal lukisan berikutnya dan berapa hari lagi menuju lokakarya yang akan di gelar di sekolahnya dan apa yang akan mereka makan malam ini.
Ayunda tertawa mendengar ocehan menggemaskan yang keluar dari mulut Aviran, kesedihan di matanya ajaibnya tergantikan dengan kegembiraan, lalu ia mengulurkan tangan untuk mengusap kepala anak itu. “Minggu depan. Kau akan ke sini lagi, kan?” tanya Ayunda.
“Tentu saja tante Ayunda” jawab Aviran dengan penuh semangat, lalu mengangguk keras sampai tubuhnya terhuyung mundur.
Laras meraih tangan anaknya sembari tertawa lembut, lalu membimbing Aviran keluar dari studio di belakangnya. "Kami pulang dulu ya Ayunda, terima kasih"
"Bye Aviran," Ayunda melambaikan tangannya ke arah bocah kecil itu.
Samudra mengusap-usap tengkuknya, lalu menyilangkan lengannya di depan dada, sembari mengamati Ayunda. Ayunda dengan cepat terlihat biasa, tapi Samudra sempat melihat kesedihan yang menjadi akhir dari pernikahan mereka, akhir dari keberadaan Ayunda untuk Samudra. “Kau ingin membicarakannya?” tanya Samudra kepada Ayunda.
Ayunda menggeleng, lalu menyibukkan diri dengan membereskan tumpukan crayon yang berserakan.
Samudra berjalan mendekat, kemudian menarik Ayunda ke pelukannya, Samudra tak peduli dengan orang yang berjalan melintasi studio ini. Ayunda tidak melawan atau menarik diri, ia justru bersandar di pelukan Samudra, membiarkan Samudra memeluk dan memberikan kenyamanan.
“Kau melihat Aviran seolah-olah, itu adalah anak kita?” Ayunda menelan ludah, lalu menarik kepalanya dengan napas gemetar dari dada Samudra.
“Ya,” Samudra berbisik di rambut Ayunda, membelai punggungnya dengan tangan untuk menenangkan dan menjaganya dalam pelukan. Samudra merangkulnya sangat erat, ia memahami emosi yang ia tumpahkan kepadanya dari dalam hati Ayunda.
Samudra tidak bisa lagi menyembunyikan perasaan dalam diri yang sudah hampir menelannya hidup-hidup, menenggelamkannya selama tiga tahun. “Aku bukan suami dan ayah ang baik untukmu dan anak kita.”
Ayunda mundur sambil menguspa dada Samudra. “Tidak ada yang bisa kita lakukan, saat itu dokter menjelaskan kalau kista yang aku miliki sudah pecah sebelum mereka mengetahui kalau kista itu tumbuh di sana, sehingga membuatku keguguran” Ayunda merasa jantungnya mulai berdetak melambat, bergaung dalam setiap sel di tubuhnya
Samudra memejamkan mata dan menggeleng. “Ya, tapi ketika hatimu terluka karena kehilangan Galen, dan aku tidak tahu apa yang kau butuhkan, aku menyerah. Aku membiarkanmu pergi, begitu saja.”
“Aku adalah seorang pria yang telah mengecewakan istriku, di saat istriku sangat membutuhkan keberadaanku. Aku bekerja sampai lupa waktu, agar aku tidak harus pulang dan menyaksikan kedukaan kehilangan putraku. Bahkan aku bersedia menerima tawaran kencan dengan aktris lain untuk menaikan popularitasku, di saat kau membutuhkan aku hingga kau pergi dari hidupku.” Tiba-tiba Samudra berbalik, menghampiri meja kerja, menumpukan kedua tangannya di atas meja lebar-lebar dan membiarkan kepalanya tertunduk lesu. “Suami macam apa itu?”
Ayunda mengejapkan air mata yang tidak mampu ia tahan, tak ada lagi yang bisa ia katakan. Samudra adalah suami yang menikahi Ayunda demi seorang anak yang harus pergi tanpa pernah memiliki kesempatan untuk hidup.
Ya, mereka saling mencintai. Dalam na*su, dalam semua hal ketika sepasang kekasih yang berusia dua puluh tahun dan dua puluh tiga tahun saling terpikat. Namun Samudra menikahi Ayunda setelah mengetahui Ayunda tengah mengandung anaknya, jika bukan karena itu, kisah cinta mereka mungkin akan mati dalam satu atau dua tahun. Kini mereka telah memilih jalan masing-masing, menjalani kehidupan masing-masing, dan mengarunginya tanpa beban masa lalu yang tidak ingin mereka hadapi.
Samudra telah bersikap gentleman, ia bertanggung jawab atas perbuatannya tanpa ragu-ragu dan tanpa diminta. Namun setelah mereka kehilangan Galen, ia memang sedikit berubah. Samudra berlindung di balik pekerjaannya, dan menerima tawaran kencan demi menaikan popularitasnya.
"Aku marah padamu Samudra. Marah dengan semua ketidakadilan yang ada. Marah kepada orang tuaku yang telah meninggalkanku ketika aku sangat membutuhkan mereka.”
“Orang tuamu hanya kecewa atas apa yang telah kita perbuat, kita tidak seharusnya melakukan hubungan tersebut di luar pernikahan. Di sini akulah yang jelas-jelas bersalah.” Samudra mengucapkan setiap katanya dengan tegas.
"Ya, kau memang jahat. Bahkan saat itu kau tidak merasa terluka atas kepergian Galen, kau bisa melanjutkan kembali hidupmu. Pekerjaanmu, kau masih memiliki hal lainnya, sementara aku merasa tidak memiliki apa-apa lagi. Yang kutahu adalah kau menikahiku karena aku hamil,dan aku kehilangan bayi kita. Dan—”
“Dan apa? kau pikir aku seperti orang tuamu yang akan meninggalkanmu? sehingga itu yang menjadi alasanmu pergi dariku? Kau pikir aku berkencan dengan wanita lain karena aku mencintainya, Tidak Ayunda!! Aku mencintaimu.” Samudra mencengkeram erat bahu Ayunda sambil menatap matanya. Samudra mengalungkan lengan ke punggung Ayunda, menariknya dalam pelukan sembari berbisik "Maafkan aku, sayang"
Semakin sukses dalam berkarya
Mungkin kehilangan Galen adalah cara membuatmu menjadi dewasa