NovelToon NovelToon
Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kutukan / Fantasi Timur / Fantasi Wanita / Demon Slayer / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:54
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
​Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Menuju Pegunungan Salju

​Udara di dalam kereta kuda tidak lagi mampu menahan serbuan hawa dingin yang merayap masuk melalui celah-celah kayu obsidian. Jika Solaria adalah negeri yang dicium oleh matahari, maka wilayah perbatasan Obsidiana yang sedang mereka masuki adalah negeri yang telah dilupakan oleh kehangatan. Di luar jendela, vegetasi hijau yang tersisa telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh barisan pohon cemara hitam yang merunduk di bawah beban salju tebal, tampak seperti raksasa yang sedang berlutut dalam duka.

​Kereta kuda mulai menanjak dengan kemiringan yang curam. Aethela bisa mendengar deru napas kuda-kuda Utara yang perkasa, serta teriakan para pengawal yang berusaha menjaga formasi di atas jalan setapak yang licin oleh es.

Aethela merasakan isolasi yang mencekam. Setiap mil yang mereka tempuh menjauhkannya dari segala sesuatu yang ia kenal. Rasa takut akan kutukannya—yang biasanya terasa seperti bisikan di belakang kepalanya—kini berdenyut lebih kuat seiring dengan semakin redupnya cahaya matahari. Di tanah yang gelap ini, sihir bulannya terasa lebih liar, seolah-olah ia bisa merasakan energi rembulan bahkan di balik awan mendung yang tebal.

​"Kita sudah memasuki wilayah The Frozen Spine," suara Valerius memecah kesunyian yang beku. "Pegunungan ini adalah pelindung alami Obsidiana. Tidak ada tentara manusia yang bisa melewatinya tanpa pemandu dari ras Naga."

​Aethela merapatkan jubah bulunya, wajahnya pucat. "Dan tidak ada Putri Solaria yang pernah bertahan hidup di sini, bukan?"

​Valerius menatapnya. Mata emasnya berkilat dalam keremangan kabin. "Kau adalah yang pertama. Dan jika kau ingin tetap menjadi yang terakhir, kau harus mulai mengatur napasmu. Udara di sini tipis bagi paru-paru manusia."

​Aethela tidak ingin menunjukkan kelemahannya. Ia menarik napas dalam, namun udara dingin itu terasa seperti pisau-pisau kecil yang mengiris tenggorokannya. Ia terbatuk kecil, dan seketika itu juga, ia merasakan guncangan hebat.

​DUAARK!

​Kereta kuda terhenti mendadak. Aethela terlempar ke depan, namun sebelum tubuhnya membentur meja kayu, sepasang lengan yang kuat menangkapnya. Valerius menariknya ke dalam pelukannya, menstabilkan posisinya dengan kekuatan yang tak tergoyahkan.

​"Tetap di belakangku!" perintah Valerius, suaranya kini penuh dengan otoritas militer.

​Kewaspadaan yang tajam. Ia bisa merasakan getaran di tanah—bukan getaran biasa, melainkan Avalanche (longsor salju) yang dipicu oleh sesuatu yang tidak alami. Ia melepaskan Aethela dan menendang pintu kereta hingga terbuka.

​Di luar, pemandangan sangat kacau. Badai salju mendadak turun dengan intensitas yang tidak masuk akal. Angin menderu seperti ribuan naga yang menjerit. Darius, panglimanya, berteriak di tengah kebisingan.

​"Pangeran! Penyihir pemberontak dari klan Wyrm-Eaters! Mereka memicu longsoran di atas tebing!"

​Valerius menggeram. Musuh internal kerajaannya sendiri mencoba menyerang saat ia sedang membawa "kunci" keselamatan mereka. Ia berbalik ke arah Aethela yang berdiri di ambang pintu kereta, matanya yang ungu melebar karena terkejut melihat dinding salju raksasa yang mulai meluncur dari puncak gunung.

​Ada rasa protektif yang mendesak. Ia tidak bisa membiarkan Aethela tertimbun. Tanpa perlindungan sihir bulan wanita itu, rencana perdamaian akan hancur—dan begitu pula harapannya untuk meredam kegelapannya sendiri.

​"Aethela! Gunakan sihirmu! Sekarang!" teriak Valerius.

​"Aku... aku tidak bisa mengendalikannya dalam badai ini!" balas Aethela, suaranya tertelan angin.

​"Kau harus! Jika tidak, kita semua akan terkubur di sini!"

​Valerius melompat keluar, membiarkan bayangannya meledak dari punggungnya seperti sayap raksasa. Ia mencoba menahan runtuhan batu dan es dengan sihir bayangannya, namun tekanannya terlalu besar. Sisik-sisik hitam mulai menyelimuti wajahnya saat ia mengerahkan kekuatan penuh.

​Aethela melihat Valerius berjuang di tengah badai. Pria itu berdiri di antara dia dan kematian, sosok hitam yang gagah berani melawan keputihan salju yang mematikan. Sesuatu di dalam diri Aethela tersentak. Ia tidak bisa lagi menjadi pengamat yang pasif. Jika ia adalah "Penghancur" atau "Penyelamat", maka biarlah kekuatan itu keluar sekarang.

​Ia melangkah keluar dari kereta, berdiri di atas tanah yang membeku. Ia merentangkan tangannya, memejamkan mata, dan mencari sisa-sisa energi bulan yang tersembunyi di balik awan.

​Aethela merasakan tarikan sihir Valerius yang sedang berjuang. Ia mengarahkan sihir peraknya bukan ke arah salju, melainkan ke arah Valerius. Ia menyatukan energinya dengan kegelapan pria itu.

​BUM!

​Sebuah pilar cahaya perak kebiruan meledak dari tubuh Aethela, menyatu dengan bayangan hitam Valerius. Gabungan kekuatan mereka menciptakan kubah energi yang sangat kuat, sebuah perisai yang membelah longsoran salju menjadi dua bagian, mengalirkannya ke sisi kanan dan kiri rombongan.

​Keheningan mengikuti setelah gemuruh salju berhenti.

​Aethela jatuh berlutut, napasnya tersengal. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena dingin, tapi karena kelelahan sihir. Sebelum ia menyentuh tanah yang beku, Valerius sudah berada di sana, berlutut dan menopang tubuhnya.

​Matanya menunjukkan rasa tidak percaya. Ia menatap Aethela dengan tatapan yang jauh lebih dalam dari sebelumnya. "Kau... kau menyelamatkan kami semua."

​Aethela mendongak, bibirnya biru karena kedinginan, namun ia tersenyum tipis yang penuh kemenangan. "Aku bilang... aku bukan porselen rapuh, Valerius."

​Valerius tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan gerakan yang hampir lembut, ia mengangkat Aethela ke dalam dekapannya, membungkusnya dengan jubahnya yang hangat dan beraroma kayu cendana. Ia tidak memedulikan tatapan para pengawalnya.

​"Kita lanjutkan perjalanan," perintah Valerius, suaranya rendah namun bergetar oleh emosi yang ia sendiri belum pahami. "Kita harus sampai ke Benteng Obsidian sebelum malam benar-benar jatuh."

​Saat kereta kembali bergerak, Aethela tertidur karena kelelahan di pundak Valerius. Untuk pertama kalinya, sang Pangeran Naga tidak menjauh. Ia membiarkan wanita itu bersandar padanya, sementara tangannya menggenggam jemari Aethela yang mulai menghangat.

​Bagian pertama dari perjalanan mereka telah usai. Mereka telah meninggalkan Solaria, melewati pengkhianatan dan bencana alam. Di depan mereka, puncak-puncak hitam Obsidiana menjulang, siap menyambut sang pengantin yang kini telah membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar tawanan politik. Ia adalah badai yang setara dengan sang Naga.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca📖

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!