Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya...
Hari ini.. sesuai janji aku akan bertemu Arsaka. Dalam hati berdenyut.. takut rasa itu kembali muncul. Tapi di sisi lain aku juga ingin minta penjelasan. Tentang semua. Bahkan kalau perlu aku ingin mengamuk karena luka yang dia torehkan. Baiklah... kali ini saja.. biar semua jelas. Setelah ini aku nggak akan peduli padanya lagi. Entah nanti apa yang akan aku dengar... Tapi kali ini, aku harus hadapi semua ini. Dengan begitu antara aku dan Arsaka benar benar akan berakhir dan aku hanya tinggal memantapkan hati pada Adit. Sepertinya dia serius dan akupun begitu. Dia telah tunjukan keseriusannya selama ini. Ok.. Ya Allah bantulah segala urusan hamba mu yang lemah ini... Amin....
Sore ini jam kerja telah usai. Aku memesan taksi on line untuk membawaku ke konferensi shop yang kemarin ketemu dengan Arsaka. Tadinya dia ingin menjemput ku kesini tapi ku tolak karena sungguh rak ingin terlalu sering berinteraksi dengan nya. Sempat dia memaksa tapi ku ancam ketemuan gagal kalau tetap memaksa. Akhirnya dia setuju.. Dan saat ini aku duduk sendiri di depan butik menunggu taksi pesanan ku datang. Sambil termenung menebak nebak apa kiranya yang akan dia katakan. Sambil mempersiapkan hat menerima apapun yang akan dia katakan. Duh jadi gugup ini...
" Lho Amara masih disini? kirain udah pulang tadi? " tiba tiba bu Zahira datang dari dalam butik dan mengagetkan ku.
"Eh.,. iya .. ternyata ibu... ngagetin saya deh. Ini mau pulang kok lagi nunggu taksi. " jawabku tersenyum
" Ngelamun aja sih... jadi kaget kan. "au pulang bareng saya? nanti saya antar sampai rumah.? * dia menawarkan tumpangan nih.. kalau saja nggak ada janji sama Arsaka pasti mau banget tapi ini?
" Nggak usah bu... udah mesen taksi tadi. Paling bentar lagi sampai" tolak ki halus
"Ooo. yaudah kalo gitu saya duluan ya"
"Iya bu.. silahkan"
Siapin meninggalkan ku sendiri. Tapi tepat saat mobilnya pergi, taksi juga datang. Aki langsung berjalan menuju taksi dan menaikinya. Aku mengatakan alamat tujuan dan taksi langsung meninggalkan butik. Di sepanjang jalan hatiku tak tenang. Mengingat kejadian yang lalu. ' Pokoknya semua harus selesai saat ini' gumam ku dalam hati. Tapi tiba tiba ponselku bergetar menandakan ada pesan masuk.
( Ra.. udah pulang ya?) Adit bertanya dalam pesannya
( Udah nih. kenapa?)
( Padahal aku mau jemput lho udah di depan butik ini..)
( Duh.. maaf. Hari ini aku ada janji ketemu sama teman soalnya. Kamu sih nggak ngabarin aku dulu)
(Ya kan tadinya mau ngasih surprise. Tapi ya udah deh nggak papa. Ntar malam aja aku kerumah ya ? boleh dong,)
(Ok boleh datang aja. aku ini perginya bentar doang kok)
( Siip... ya udah sampe ketemu ntar malam...)
( iya.. sampe ketemu)
Setelah menempuh sekitar 20 menit perjalanan akhirnya sampai juga. Aku memasuki kafe dengan bergumam membaca basmallah berharap tak akan terluka lagi. Ku edarkan pandangan ke seluruh meja yang ada disana mencari keberadaan si dia yang akan aku temui. setelah ku telusuri akhirnya aku menemukannya di meja paling pojok. Dia melambaikan tangan agar aku mendekat. Ku tarik nafas panjang dan menghembuskannya mencoba menata hati ini.
"Akhirnya datang. Makasih udah mau menemuimu" sapanya saat aku sampai di mejanya
"Aku ingin dengar apa yang bisa kamu jelaskan" jawabku saat menduduki kursi di hadapannya
"Minumlah dulu.. Sudah ku pesan kan cappuchino latte favoritmu. ". Aku terkaget.. Dia ingat ternyata
" Makasih" ku seruput minuman itu pelan agar sedikit memenangkan hati.
" Jadi.... bagaimana penjelasanmu? " Aku langsung memulai agar tak terlalu lama
"Jadi waltu dulu kita janjian di taman, aku sudah siap datang. Tapi saat aku mau pamit sama ortu tiba tiba papa pingsan. Nah aku panik banget dan langsung membawanya ke rumah sakit sama mama. Setelah di periksa ternyata ada masalah di paru parunya. Sebenarnya menurut mama udah sering sakit tapi selalu di abaikan makanya aku nggak pernah tahu. Jadi deh malam itu juga di bawa ke Singapura karena ternyata sudah separah itu. Aku tak sempat mengirim pesan pada siapapun. Di benak ku hanya ada papa yana tak sadarkan diri. "
" Terus....? "
" Ya gitu. kami di sana sampai perawatan papa selesai. Tapi karena kebetulan aku dah selesai ujian jadi lanjut kuliah di sana. Dan baru pulang 5 bulanan ini"
" Kalu tentang papamu yang sakit aku bisa ngerti sepanik apanku waktu itu. Tapi yang ingin ku rahu itu tenteng..,.. taruhan? " susah payah aku mengatakannya karena rasanya sangat sakit.
"Maksud kamu? ". dia tersentak kaget mungkin nggak nyangka kalo aku ternyata tahu semua nya
" Ku dengar dari temen tau kalo kamu deketin aku karena ada taruhan sama mereka. Begitu kan? "Aku mencoba berbicara setenang mungkin walau rasanya ingin mengamuk.
" Kamu tahu dari mana? " gugup dan kaget bercampur menjadi satu
" Beberapa hari setelah kau menghilang? aku tak sengaja mendengar mereka membahas itu di kantin. Kau bisa jelaskan? "
"Itu... mmm"
" Apa benar begitu? "Aku tekankan kata kata ku agar dia mau menjawab
" Iya... Tapi... "
" Tolong jelaskan"
"Iya benar tapi... " terlihat dia menarik nafas dalam dalam sebel melanjutkan sementara aku dunia seakan berhenti berputar mendengar penjelasannya. Aku kira sudah siap mendengarnya tapi ternyata tetap terasa sakit.
" Setelah aku kenal kamu, ternyata hatiku ikut merasakan sesuatu. " lanjutnya
" Merasakan kasihan atau merasa puas karena aku benar benar pake hati?
"Merasakan kalau ku memang besa seperti yang mereka katakan"
" Memang apa yang mereka katakan? " Aku tersenyum sinis bersiap akan kembali sakit.
" Menurut mereka, siapapun yang mendekat tak kan kamu hiraukan. Tak kan kau pedulikan dan kau tolak mentah mentah. Aku tak percaya jadi.,.. ya ada taruhan deh. terus aku mulai deh deketin kamu. "
" Karena aku memang nggak mau pacaran" Teringat waktu dia mendekatiku pertama kali, betapa senangnya aku. Hatiku berbunga. Waktu itu ku kira dia tulus karena sempat juga aku cuekin dia beberapa minggu. Tapi dia terus berusaha mendekat jadi luluh lah aku karena memang sudah lama aku menyimpan rasa untuk kakak kelasku itu. "Tapi malah terjebak di permainanmu. Mana pake hati lagi. Bodoh banget..! "
"Akulah yang bodoh karena waktu itu nggak bisa melihat ketulusan mu. Padahal kau begitu baik. Begitu lembut. Aku benar benar minta maaf. Padahal kamu sangat perhatian dan sering menemaniku".
" Mungkin saat itu kamu benar benar puas karena bisa memulihkan ku. Lalu apa yang kau dapat dari taruhan itu? "
"Aku nggak dapet apa apa dari mereka kan waktu itu aku kabur. Tapi aku dapat sesuatu dari kamu. "
" Iya dapat cinta. Cinta yang kau hancurkan"
" kamu salah. Aku memang merasakan cinta itu tapi aku menyadarinya saat kita tak lagi bersama. Saat aku ingat semua yang telah kamu lakukan untukku. Ingat semua perhatianmu. Walaupun rak pernah kau nyatakan perasaanmu. Aku benar benar menyesal" wajahnya terlihat tulus tapi aku tak mau tetapi lagi
" Kau hanya kasihan padaku."
" Tidak aku serius. Selama hampir lima tahu disana aku selalu mengingatmu. Tak pernah tenang memikirkanmu. Aku mulai ada rasa untukmu".
" Hanya kasihan ". potong ku
" Tidak Ra.... aku... "
"Kamu sudah cukup menjelaskan. Dan aku sudah cukup dengar. Dan mulai sekarang lupakan semua tentang kita dulu. Aku maafin kamu tapi jangan ganggu aku lagi. Ku mohon. " semoga dengan ini usailah kisah masa lalu itu. Walau masih tersisa sedikit si hati ini.
" Aku akan buktikan Ra... Aku ingin memperbaiki semuanya. Kembali memulai dari awal. Tolong beri aku satu kesempatan lagi"
"Cukup Arsaka. semua sudah selesai. " Aku meraih tas ku dan siap untuk pergi " Aku pergi dan jangan ganggu aku lagi. Selamat tinggal"
Aku berdiri dan berlalu dari hadapannya..
" Akan aku buktikan kalau aku serius Ra* ucapnya pelan saat eki pergi namun masih terdengar jelas di telinga ku....