Karena kesalahpahaman, Anindia harus menikah dengan cowok yang paling tidak disukainya, Keanu si badboy sekolah. Mereka tidak pernah akur, bahkan Anindia selalu menghindari Keanu.
Tapi, malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih. Mereka terjebak dalam kesalahpahaman yang fatal, dan sekarang mereka harus terpaksa menikah.
Anindia, siswi paling pintar di sekolah, harus menikah dengan Keanu, sang ketua geng sekolah yang terkenal dengan keberanian dan kenakalannya.
Mereka harus merahasiakan pernikahan mereka setidaknya sampai hari kelulusan. Tapi di sekolah, Keanu justru membuat pernyataan bahwa Anindia adalah pacarnya.
Apakah Keanu dan Anindia bisa merahasiakan pernikahan mereka?
•••
"Gue memang badboy, tapi setidaknya gue bukan playboy. Kenapa gue berani ngomong kayak gini?"
"Karena gak ada seorangpun yang bisa bikin hati gue luluh selain lo, Nindi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Keanu pergi, Anindia khawatir
Setelah mengakhiri telepon, Keanu menatap Anindia dengan tatapan serius, membuat Anindia merasa penasaran sekaligus khawatir dengan tatapan suaminya itu. Keanu sendiri terlihat ragu-ragu, ingin menolong temannya itu atau hanya tinggal di rumah bersama istrinya.
"Keanu, kenapa? Kok mukanya panik gitu?" Ujar Anindia yang merasa penasaran dengan perubahan ekspresi Keanu.
"Niko butuh bantuan, dia dan Ariga di serang sama orang," ujar Keanu dengan nada yang berat.
"Di serang? Kok bisa?" Ujar Anindia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Gak tau Nindi, tapi aku harus bantuin mereka sekarang," ujar Keanu pada akhirnya yang sudah membulatkan tekadnya.
"Keanu, tapi-" ujar Anindia tapi perkataannya terpotong ketika Keanu yang tiba-tiba saja mengecup singkat bibirnya.
"Jangan khawatir, aku cuma sebentar. Ini terkait nyawa Niko dan Ariga. Aku memang udah berhenti, tapi bagaimanapun mereka tetap temen aku," ujar Keanu sembari mengacak pucuk kepala Anindia sembari menyunggingkan seutas senyum, lalu langsung melangkahkan kakinya tanpa menunggu jawaban dari Anindia.
"Keanu!" Panggil Anindia tapi tidak dihiraukan lagi oleh Keanu yang sudah berjalan menjauh.
Anindia pun langsung berlari ke arah pintu, berusaha untuk menghentikan suaminya itu. Ia tidak mempermasalahkan jika Keanu menolong kedua temannya, tapi Anindia juga takut terjadi sesuatu terhadap suaminya itu.
"Keanu!" Panggil Anindia lagi ketika ia melihat mobil hitam itu langsung berlalu pergi meninggalkan rumah megah itu di belakang.
"Aku khawatir sama kamu, Kean," gumam Anindia lirih ketika melihat mobil itu yang kian menjauh.
Sementara itu di dalam mobilnya, Keanu melaju dengan kecepatan tinggi menerobos hujan yang belum berhenti sejak tadi, meskipun hujan mulai berubah menjadi gerimis ringan saja. Ia benar-benar mengkhawatirkan kedua teman dekatnya itu, meskipun ia sendiri sebenarnya tidak ingin terlibat lagi dalam pertengkaran karena sudah janji pada dirinya sendiri.
Beberapa menit melaju di jalanan, tibalah Keanu di tempat lokasi, sebuah lapangan kosong dekat area balap yang kerap ia datangi dulu. Tanpa pikir panjang, Keanu pun langsung berlari mencari kedua temannya. Saat tiba di sana, ia bisa melihat jelas bahwa Niko dan Ariga sedang membela diri dari kelompok pemuda lain itu.
Keanu langsung berlari dan melompat ke arah kerumunan itu, berusaha melerai dengan cara yang baik-baik. Ia langsung menghentikan salah satu dari mereka yang masih terlihat sangat emosi.
"Udah, udah! Berhenti!" Ujar Keanu berusaha untuk melerai perkelahian itu.
"Lo siapa hah?! Ngapain lo ikut campur!" Ujar salah satu dari mereka yang langsung mendorong tubuh Keanu.
Saat itu, tiba-tiba saja seorang pemuda yang lainnya langsung melayangkan bogem mentah ke arah wajah Keanu, membuat Keanu langsung terhuyung ke samping. Ia menyentuh sekilas wajahnya itu lalu menyunggingkan senyum sinisnya dan menatap mereka dengan tatapan tajam.
"Berani lo serang gue, hah?!"
Bugghh!
Keanu yang awalnya tidak ingin terlibat dalam pertengkaran, kini terbawa emosi karena salah satu dari mereka menyerangnya tiba-tiba. Niat hati ingin melerai secara kekeluargaan, namun tanpa diduga salah satu dari mereka justru memancing emosi Keanu, membuat Keanu langsung hilang kendali.
Pertengkaran pun tidak bisa dihindari, Keanu dan kedua temannya terus membela diri, berusaha menghindari serangan dari mereka. Bahkan, Keanu lupa sejenak akan janjinya untuk tidak terlibat dalam pertikaian lagi.
Gaya bertarung Keanu tidak bisa diragukan lagi, ia yang memiliki reputasi sebagai badboy bahkan ketua geng, tidak memberikan celah kepada mereka untuk menyerangnya. Meskipun ada saja serangan kecil tepat mengenai wajahnya, namun Keanu berhasil menumpas para pemuda itu hingga akhirnya berlari tunggang langgang karena takut akan diberi pelajaran lagi oleh Keanu.
"Woi-woi, cabut!" Ujar salah satu dari mereka yang langsung berdiri dan berlari meninggalkan Keanu dan kedua temannya.
Keanu mengibaskan kedua sisi jaketnya, dengan tatapan tajam yang masih tertuju pada para pemuda itu. Ia bisa merasakan pakaiannya yang basah karena hujan dan juga keringat. Dengan nafas yang tersengal-sengal, Keanu menyeka ujung bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah, sebelum akhirnya ia menghampiri Niko yang sedang membantu Ariga untuk berdiri.
"Lo berdua kenapa bisa berurusan dengan mereka? Itu bukannya anggota geng black skull?" Ujar Keanu ketika menghampiri kedua temannya itu, ia bisa melihat jelas bahwa wajah kedua temannya terlihat lebam-lebam.
"Perkara cewek, padahal cewek dia sendiri yang godain gue. Tiba-tiba datang rame-rame dan main serang gitu aja," jelas Ariga yang terlihat lemas karena bertengkar tadi.
"Woi Keanu! Untung aja lo datang tepat waktu, kalo enggak mungkin gue dan Ariga udah ke alam lain," ujar Niko yang menyentuh ujung bibirnya.
"Lo berdua ada-ada aja sih! Ujung-ujungnya gue kan yang kalian repotin! Mana gue udah janji sama diri sendiri buat berubah, gara-gara lo berdua gue jadi terlibat lagi tau gak?!" Ujar Keanu dengan nada galaknya.
"Woi bro, perhitungan banget lo sama temen," ujar Niko.
Keanu hanya mengangkat bahu acuh tak acuh, ia kembali ke sikap awalnya ketika bersama kedua temannya itu. Begitulah Keanu, ia tidak ingin menghilangkan citra cool nya di depan orang lain. Ia merasa bahwa cukup Anindia saja yang tahu sisi lain dari dirinya.
"Lo berdua gak butuh bantuan lagi kan? Gue mau balik," ujar Keanu dingin dengan kedua tangannya ia sisipkan di balik saku celananya.
"Tumben banget lo betah di rumah, gak kayak biasanya," ujar Ariga sembari memicingkan matanya, seakan menaruh rasa curiga kepada Keanu.
"Bukan apa-apa, gue cuma lagi belajar buat ngerubah diri. Gue duluan," ujar Keanu sembari berbalik pergi tanpa menunggu jawaban dari kedua temannya.
Niko dan Ariga tidak menghiraukan lagi, mereka berdua menuju ke arah motornya yang terparkir di tengah lapangan. Meskipun dengan tertatih-tatih, mereka berdua harus membawa pulang motornya masing-masing.
Lain halnya dengan Keanu, ia langsung memasuki mobilnya dan menghidupkan mesin. Namun, matanya tertuju pada ponselnya yang ia tinggalkan di dashboard mobil. Karena penasaran dengan lampu LED ponselnya yang berkedip-kedip, Keanu pun akhirnya membuka benda pipih itu. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Anindia, begitu khawatirnya istrinya itu terhadap dirinya.
"Astaga, banyak banget panggilan tak terjawab. Begitu khawatirnya kamu sama aku, Nindi?" Gumam Keanu lirih pada dirinya sendiri.
Sementara itu di lain sisi, Anindia mondar-mandir di dalam ruangan. Sedari tadi ia menghubungi Keanu, tapi tak ada satu panggilan pun yang dijawab oleh suaminya itu. Anindia benar-benar mengkhawatirkan Keanu, ia takut bahwa telah terjadi sesuatu terhadap suaminya itu.
"Keanu, kamu di mana sih? Kamu baik-baik aja, kan?" Ujar Anindia sembari menggigit jarinya karena rasa khawatirnya. Ia merasa gelisah karena Keanu tidak menjawab satu pun panggilan telepon darinya.
Dreett... Dreett...
Saat itu, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Anindia langsung meraih ponselnya di atas meja, dan ia menarik nafas lega karena panggilan itu berasal dari Keanu.
"Halo Kean, kamu dimana? Kamu baik-baik aja kan? Kamu gak kenapa-napa kan?" Ujar Anindia yang langsung melemparkan beberapa pertanyaan kepada Keanu, menunjukkan rasa khawatirnya.
Terdengar kekehan dari seberang telepon, jelas saja membuat Anindia langsung mengernyitkan dahinya. Ia mengkhawatirkan Keanu, tapi suaminya itu justru tertawa seakan tidak terjadi apa-apa.
"Ihh nyebelin, kok malah ketawa sih?! Gak tau apa aku khawatir!" Ujar Anindia dengan nada kesalnya.
"Aku baik-baik aja cantik." Ujar Keanu yang masih tertawa. "Oh, mumpung aku lagi di luar, kamu mau aku beliin apa? Martabak manis, pizza atau apa?" Lanjutnya dengan nada yang lebih serius.
"Yakin baik-baik aja?" Ujar Anindia yang merasa ragu-ragu dengan perkataan suaminya itu.
"Yakin sayangku," ujar Keanu dengan suara khasnya. "Pertanyaan aku gak di jawab? Mau aku beliin apa, hmm?"
Anindia langsung menggelengkan kepalanya, merasa heran dan bingung dengan tingkah suaminya itu. Keanu yang tadi dikhawatirkan habis-habisan oleh Anindia, sekarang malah menanyakan tentang apa yang ingin dibelikan. Hal itu jelas saja membuat Anindia merasa tidak habis pikir dengan suaminya itu.
"Aku gak mau apa-apa Kean. Aku cuma mau kamu baik-baik aja," ujar Anindia pada akhirnya.
Terdengar suara tawa lagi dari seberang telepon, membuat Anindia merasa bahwa Keanu meragukan rasa khawatir dari dirinya. Anindia mendengus kesal, berharap suaminya itu berhenti tertawa seperti ini.
"Lucu banget sih? Khawatir ya, sayang?" Goda Keanu dari seberang telepon. "Aku beneran baik-baik aja kok, serius. Ya udah, aku pulang nih. Tunggu mas di rumah ya dek," lanjut Keanu yang sempat-sempatnya mengusili Anindia.
Mendengar hal itu, Anindia pun langsung terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar merasa bahwa Keanu punya cara sendiri untuk menghiburnya. Bahkan, rasa kesalnya langsung memudar ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Keanu.
"Iya udah, hati-hati di jalan. Matiin aja telponnya," ujar Anindia kemudian.
"Iya bawel, assalamualaikum," ujar Keanu sebelum panggilan terputus.
"Waalaikumsalam," jawab Anindia lalu mematikan ponselnya.
Anindia langsung duduk di atas sofa, dengan senyuman yang terukir di wajahnya karena kata-kata manis dari suaminya itu. Ia memainkan kembali ponselnya, sembari menunggu kedatangan Keanu.
Beberapa menit berlalu, terdengar suara langkah kaki menghampiri. Anindia yang fokus pada layar ponselnya, kini menoleh ke belakang, dan ia mendapati Keanu yang tersenyum sembari membawakan bungkusan makanan di tangannya.
"Keanu, itu bibir kamu kenapa? Kok lebam gitu?" Ujar Anindia yang langsung berdiri menghampiri Keanu.
"Cowok, biasalah Nindi," ujar Keanu dengan nada santainya.
"Tuh kan? Pasti habis berantem? Itu lebam tapi kamu bilang baik-baik aja?" Ujar Anindia sembari menunjuk sudut bibir Keanu.
"Aku baik-baik aja. Oh, ini aku beliin pizza buat kamu." Ujar Keanu mengalihkan pembicaraan sembari memberikan kotak pizza itu kepada Anindia.
"Ih, malah sempat-sempatnya beliin makanan! Ganti baju dulu gih, ini bajunya basah kayak gini," ujar Anindia yang merasa kesal dengan Keanu namun juga merasa haru karena Keanu benar-benar memperdulikan dirinya.
"Iya-iya, aku mau ganti baju. Ambil dulu ini, pegel tangan aku kayak gini terus," ujar Keanu sembari memberi kode kepada Anindia untuk mengambil kotak pizza di tangannya.
Anindia menghela nafas panjang, akhirnya ia pun menerima kotak makanan itu lalu menatap suaminya dengan tatapan yang sulit di artikan. Keanu hanya menaikkan sebelah alisnya, sebelum akhirnya ia pun berlari menuju ke lantai dua untuk mengganti pakaiannya.
"Ada-ada aja kamu, Keanu," ujar Anindia sembari melangkahkan kakinya ke arah meja untuk meletakkan kotak itu.
Setelahnya, Anindia pun beranjak ke dapur untuk mengambil baskom dan es batu. Ia ingin mengompres luka lebam di wajah Keanu. Di dapur sedang tidak ada orang, karena dua asistennya sedang pergi belanja bahan makanan ke pasar.
Tak berapa lama, ia pun kembali ke arah ruangan itu dengan baskom yang sudah ia isi dengan es batu dengan kain bersih nya juga. Setibanya di sana, ia bisa melihat jelas bahwa Keanu sedang duduk di atas sofa setelah mengganti pakaiannya.
"Keanu, sini aku kompres," ujar Anindia lembut ketika duduk di sebelah Keanu.
Keanu tidak mengatakan apa-apa selain menatap Anindia dengan seutas senyum tipis, seolah membiarkan Anindia untuk mengompres lukanya itu. Dengan hati-hati, Anindia pun langsung mengompres sudut bibir Keanu dengan hati-hati.
"Padahal belum lama gue kenal dia, tapi kok gue sayang banget ya sama dia?" Batin Keanu di sela-sela Anindia mengompres lukanya.
^^^Bersambung...^^^