Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.
Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!
Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Kenangan indah tentangmu.
Reynand menutup sambungan telepon begitu anak buahnya mengakhiri laporannya. Dia tercenung sesaat, mencerna laporan yang diberikan bawahannya. Dirinya masih merenung, sedangkan matanya masih menatap sendu sang bunda yang terpisahkan oleh kaca tebal ruang rawat ICU. Tubuhnya kaget saat sebuah tangan menyentuh bahu dan merematnya pelan.
Rupanya, ayahnya datang menghampiri dari arah pantry. Walaupun kamar VVVIP, ruang ICU haruslah terisolasi agar steril. Setelah melewati masa kritis, pasien akan dipindahkan ke ruang rawat untuk diobservasi.
"Bagaimana, son! Apa kata orang-orang kita yang dikirim ke lokasi kejadian!?" tanya sang ayah.
Pemilik mayoritas saham Ambrosia itu bertanya pada puteranya yang masih menatap bundanya di balik kaca, sambil membawa nampan berisi dua mangkuk bubur ayam spesial buatannya plus (topping satay jeroan, telur puyuh, kulit) sambal serta kerupuk bawang. Tak lupa dua gelas teh manis hangat kesukaan mereka berempat (Daddy, Mommy, Rembulan dan dirinya). Nampan tersebut diletakan di meja makan depan ruangan.
"Seperti yang dikatakan Kak Damian dan Mbak Ellena, ada bangkai mobil namun tak ada jasad anak itu. Dan asumsi anak buahku, tubuh gadis malang itu terlempar keluar mobil selebar 3 meter dan terjun bebas ke dasar jurang. Dia bersama sopir dan seorang bodyguard. Keduanya selamat dan terluka. Saat ini keduanya di rumah sakit."
"Ada banyak genangan darah yang membeku sepertinya keluar dari daerah kepala dan sedikit darah dari kaki. Aku sudah menyuruh orang-orang kita untuk memperluas daerah pencarian asalkan tidak menarik kegaduhan masyarakat. Aku juga akan berangkat ke lokasi untuk memastikan keabsahan penyelidikan mereka!" ucap Reynand.
Sebenarnya dia tertarik mendengar penjelasan anak buahnya yang mengatakan ada keanehan, namun tidak ingin berterus terang kepada ayahnya untuk menghindari pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Untuk memastikan, dia akan berangkat ke lokasi kejadian hari ini.
"Astaghfirullah hal'azim! Malang betul cucuku itu. Daddy tidak bisa membayangkan penderitaannya dalam keadaan sakaratul maut. Dalam cuaca dingin, sendiri dan kesakitan!" lirih sang ayah pilu.
Tak terasa, butiran bening mengalir deras dari mata tuanya tentang cucu angkatnya yang sedari belia bersamanya.
"Jam berapa kamu akan pergi? Ditemani Jacky!?" tanya sang ayah tentang asisten sang anak.
"Iya Dad, dengan Jacky! Sekarang jam 08:00 pagi. Paling jam 09.30, menunggu dia menjemputku."
"Ya, sudah kita sarapan dahulu. Ini adalah bubur kesukaan kita berempat!" ucap sang ayah sambil mengenang kebersamaannya dengan isteri, anak bungsu dan Rembulan.
"Selain daddy belum tuntas membayar hutang budi pada anak itu , kita hanya memberikan kedukaan padanya dengan pernikahan ini yang kita tahu, tidak diinginkan oleh keponakanmu, Calvin!" ujar Jonathan di sela suapan sarapan pagi.
"Rembulan pasti tidak bisa menolak karena tidak ingin mengecewakan hati ibumu. Dan pernikahan ini juga hanya pepesan kosong. Tiada arti dan tidak ada kebahagiaan untuk keduanya walau kita berharap mereka bisa saling mencintai satu sama lain karena tumbuh besar bersama dalam mansion. Hanya itu cara untuk mencegah agar wanita ular itu tidak bisa menjadi bagian dari keluarga ini!" tambahnya sendu.
Reynand hanya terdiam mendengarkan curahan hati sang ayah. Dan membiarkan sang ayah menyebut mantannya itu 'manusia ular' atau sang bunda mengatai 'siluman ular betina' dan sebagainya. Dia pun tahu, orangtuanya tidak menyetujui dirinya menjalin kasih dengan Helga tapi dia terus memaksa dan mengindahkan nasehat keduanya.
Sekarang ini barulah dia menyadari perangai asli seorang Helga Oriza dari klan Hendrio. Penyesalan datangnya terlambat. Nasi sudah menjadi bubur, tidak bisa kembali ke awal.
Sebagai manusia, hanya menjalani takdir dan maju ke depan. Di saat terpuruk, keponakan angkatnya (Rembulan), yang hadir mengisi kesehariannya. Membangkitkan semangatnya yang sudah jatuh ke titik nadir terendah.
Gadis itu menghiburnya, dengan nyanyian merdu dan tarian konyolnya. Juga kata mutiara yang selalu menghiasi ponselnya. Ada satu kalimat gadis itu yang sangat membekas di hatinya sampai sekarang.
"Om! Cinta boleh, bodoh jangan!"
Itulah salah satu kenangan indah tentangnya dan masih banyak lagi.
"Daddy teringat kalian bertiga, kamu, Calvin dan Rembulan. Makan mie rebus dengan rebusan telur setiap sabtu-minggu setelah capai berenang. Mereka berebut mie padahal sudah seporsi tiap anak. Dan kamu selalu mengalah dan memberikan jatahmu pada dua anak gembul hobi makan.
Mommymu diam-diam memperhatikan dan setelah mereka pergi tidur, dia memberikan semangkuk mie rebus dengan dua telur sebagai pengganti untukmu he he!"
Jonathan tertawa terkekeh mengingat kenangan di masa cucu dan anak bungsunya ketika kecil. Begitu lucu dan ceria.
"Iya, dad. Aku ingat. Mereka seringkali ribut, sejam kemudian akur, lantas ribut lagi he he!" kekeh Reynand sambil menyuapkan bubur ke dalam mulutnya.
"Dia sudah bersama kita selama belasan tahun. Gadis itu berbudi pekerti luhur serta welas asih. Di saat kalian sibuk dengan urusan keluarga masing-masing, hanya anak itu yang menemani kami di rumah dengan senyum cerahnya, permainan piano serta suara merdunya hik hik hik!" kenangnya sambil terisak.
"Masih terbayang, gigi gingsul serta lesung yang menawan di pipi gembulnya saat dia masih berseragam SD. Lantas SMP, dia mati-matian diet. Ada yang dia taksir katanya.
Dan dia ingin tampil secantik mungkin untuk pria yang kejatuhan hati cucuku, sampai saat ini tidak daddy ketahui. Pasti dia sedih, tidak bisa bersama dengan laki-laki yang disukainya!" unggah Jonathan dengan mata menerawang.
Jleb!
Ada perasaan tertohok di sanubari Reynand atas curahan hati sang ayah. Dia pun tiada beda dengan saudari-saudarinya. Sibuk dengan dunianya. Sibuk bekerja di perusahaan keluarganya, sibuk bersama teman dan kekasihnya yang dia kira berhati tulus ternyata berakal bulus (licik).
Dia sudah mencurahkan kasih sayang yang begitu banyak pada sang wanita, membangkang perintah orangtua dan melimpahkan materi yang membuat semua wanita di dunia, iri hati. Dia pun tidak banyak meluangkan waktu untuk keponakan angkatnya, padahal karena Rembulan, kedua orangtuanya masih bernafas. Karena ketulusan dan keceriaan gadis itu pula dia bisa bangkit dari keterpurukan.
"Dad! Aku janji sebagai seorang Ambrosia, padamu dan mommy, akan mencari keberadaan Rembulan baik itu hidup maupun hanya sekedar batu nisannya, walau pun memerlukan waktu sampai penghujung usiaku!" ucap Reynand penuh keyakinan.
Reynand Armano Ambrosia tiba pukul 12:01 WIB di lokasi kecelakaan. Disana sudah menunggu enam orang bawahan kepercayaan. Mereka sengaja menggunakan pakaian lusuh dan topi caping, menyaru sebagai tukang yang mengarit ilalang dan rumput untuk ternak, agar tidak menimbulkan kecurigaan masyarakat. Tampak di jalan raya, mobil lalu lintas cukup ramai.
"Selamat siang pak bos!" ucap pimpinan grup yang sejak semalam tiba di lokasi.
"Selamat siang!" ucapnya ramah dan hangat.
"Ben, bagaimana hasil penelusuran kalian!?" tanya Reynand to the poin di atas kursi roda elektrik didampingi asisten Jacky.
"Kami sudah menelusuri hingga ke tepian aliran sungai namun tidak ditemukan jejak kaki maupun roda kendaraan, kalau kemungkinan tubuh gadis itu dihanyutkan ke sungai!" terang Benny Anshori, anak buahnya yang bertugas di lapangan dan yang menberikan laporan pertama.
"Aliran sungai ini, mengarah ke lautan. Pasti ada jejaknya, tersangkut di akar pohon atau tenggelam ke dasar sungai terakhir bermuara kelautan lepas!" tambah Benny Anshori.
"Orang-orang kita yang handal menyelam sedang diterjunkan, mencari di dasar sungai hingga ke ujungnya (lautan lepas).
"Prediksimu, bagaimana?" tanya Reynand.
"Belum sampai ke lautan lepas, paling banter tenggelam ke dasar sungai!" tambahnya.
Reynand pun terdiam, mencermati analisa anak buahnya ini. Mereka bertiga berjalan mendekati spot kecelakaan. Beruntungnya sudah memasuki musim panas (kemarau), roda kursi listriknya bisa menelusuri tanah kering tanpa perlu didorong orang lain. Dan ketiganya sampai di tujuan yang dimaksud.
Benny pun menyuruh dua anak buahnya membuka terpal yang menutupi TKP. Begitu tersingkap, pria itu tertegun pada penampakan seperti yang digambarkan anak buahnya tadi pagi walaupun belum terlalu jelas karena penjelasan via hape.
"Dari jejak genangan darah yang cukup banyak ini saya perkirakan posisi kaki menghadap tebing, kemungkinan besar bagian kepala yang terluka parah karena area genangan begitu luas, disini!" jelas Benny menunjuk spot dimaksud dengan pointer.
"Saya ukur, panjang tubuh setinggi 170-an sentimeter!" tambahnya lagi.
"Bos! Tinggi Bulan ada segitu. Kita berdua sekitar 180an dan dia sejajar daguku (kurang lebih)!" ucap Jacky.
"Ada kemungkinan si korban terlempar dari dalam mobil dari atas atau mobil dulu menghantam tanah, entah jatuhnya dengan posisi terlentang atau tengkurap sebab posisi mobil jatuh miring bukan nyungsep (kap mobil menyentuh tanah) dan pintu yang terbakar, terlempar!" lanjut Benny memberikan analisa.
"Hmm! Menurutmu, apakah si korban ada kemungkinan hidup dengan luka benturan separah itu. Maksudku, tubuh tersebut dalam keadaan hidup atau meninggal!?" tanyanya dengan suara serak.
"Firasat saya mengatakan, korban dalam keadaan sekarat saat dibawa pergi. Tapi entahlah dalam perjalanan. Bisa saja, meninggal di perjalanan!" tambah Benny.
Nyuuttt!
Ada perasaan sakit berdenyut di dalam dada anak muda berusia 26 tahun itu, mengetahui kemungkinan bahwa sang keponakan tidak selamat. Besar kemungkinan dia berharap ada secercah harapan berupa petunjuk jejak keberadaan gadis itu. Ada perasaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata tentang perasaan yang dirasakan saat ini.
Dia paham betul, Benny Anshory adalah salah satu kepercayaannya yang merupakan dokter forensik di dunia underground yang dimilikinya dan biasanya analisanya 90% akurat. Saudari dan keluarga besar bahkan orangtuanya pun tidak mengetahui.
Hanya orang-orang kepercayaannya yang tahu termasuk Jacky dan beberapa sahabat lainnya yang tergabung dalam kelompok ini. Hal ini sengaja dirahasiakan sebab sebagai pengusaha harus bergulat dengan dua sistem secara bersamaan, sisi terang dan gelap, sisi baik dan jahat.
"Dan berperan sebagai malaikat sekaligus Iblis!"
Tidak semua bisnis itu lurus seperti jalan tol sebab ini bisnis multi miliaran sampai triliunan! Ada saja yang tak jujur, saling sikut, jegal dan saling bunuh hanya untuk recehan lima ribu rupiah! Betapa murah harga manusia!
Realita itu yang dia hadapi begitu dia mengambil alih operasional perusahaan dari sang ayah, sebab dia adalah anak lelaki yang harus mengambil alih nama dan usaha keluarga (pemimpin) seperti lazimnya.
Ada istilah terkenal: "Siapa yang kuat, itu pemenangnya".
Lantas, " Kalau tidak memangsa, yah dimangsa!"
"Oh ya! Menurut penjelasan kemarin, yang mana keganjilannya?" tanya Reynand.
"Ahhh, hampir saja lupa, bos. Untung diingatkan! Yang ini!" jelas Benny sambil jongkok.
"Ini bos!" sambil menunjuk jejak yang diberi garis putih.
"Ada tetesan darah terluar, satu di selatan, tiga di timur dan tiga tetes di arah barat. Coba bos simpulkan! Dan kau Jack, bisa menebak, tidak!?" tantang Benny yang juga mengenal Zakaria alias Jacky.
Lantas, mata Jacky mengarah pada atasannya. Sesaat dia terdiam untuk berfikir setelah mendapat persetujuan.
"Bos, boleh saya mengeluarkan pendapat!?" tanya Jacky kemudian dan diangguki sang bos.
"Kepala menghadap Selatan dan kaki menghadap Utara. Jejak darah terluar ada tiga tetes dan berakhir di Barat.
Itu artinya, badan korban diputar 90° ke arah Timur menghadap jalan raya (Barat) sebagai satu-satunya akses keluar-masuk dari tempat ini. Tidak ada jejak apapun dari titik ini ke arah jalan menanjak artinya ... tubuh korban menghilang alias raib di tempat!" seru Jacky serius.
"Persis si Jacky bilang!" seru Benny menggebu sedangkan Reynand mengerutkan dahinya lantas paham.
"Nah, di situlah letak aneh bin ajaibnya! Membagongkan sekali, bukan!" seru Benny.
"Semalaman saya dan semua anak buah dengan teliti mencari jejak, baik alas kaki, kaki polos maupun jejak roda empat dan dua tapi nihil!" ujarnya lagi.
"Coba lihat!" ucapnya lagi sambil menjauh dari lokasi.
"Disini ada jejak kursi roda bos dan alas kaki Jacky dari arah turunan tebing menuju ke bawah hingga kemari!" tambah Benny sambil menunjuk pada jejak roda dan kaki yang tampak jelas.
"Padahal tanah saat ini kondisinya kering begitupun kondisi kemarin, sesuai dengan laporan kantor BMKG. Untuk waktu seminggu, cuaca cerah dan terang benderang, cenderung terik. Pasti meninggalkan jejak yang sama dengan jejak yang ditinggalkan kalian!" terang Benny panjang lebar.
"Kalaupun ada yang ingin menutup jejak, mustahil dilakukan. Sekali lagi, dengan apa menutupnya? Apakah ditiup angin!?" ujar Benny membuat Reynand dan Jacky lebih paham.
"Cukup jelas!" jawab Jacky.
"Kalau memakai alat perata tanah manual pun pasti terlihat jejaknya!" ujar Benny melengkapi hipotesanya.
Mata Reynand dan Jacky mengarah pada arah yang ditunjuk oleh Benny Anshori. Benar, ada jejak roda dan sepatu milik dirinya dan sang asisten serta kondisi tanah berdebu alias kering sedangkan jejak yang membawa Rembulan, nihil!
Benny Anshori membuat garis putih di sekeliling lokasi korban dan garis yang dilalui Reynand dan asistennya. Jelas sekali perbedaannya. Garis putih berhenti di titik jatuh, selanjutnya tak ada lagi jejak alias korban menghilang di tempat!
"Yah, memang ada keanehan! Aku bingung harus berkata apa pada Daddy kalau beliau bertanya tentang keadaan kita disini!" unggah Reynand sambil memangku dagu dengan kedua tangan dan siku di atas pegangan kursi.
"Bos, sebaiknya jangan bilang keanehan ini pada bapak sepuh. Soalnya tak ada jawaban!" ujar Jacky memberi saran.
Reynand pun mengangguk tanda sependapat dengan asistennya.
Dan siang pun berlalu dengan menyisakan beribu tanya. Akhirnya pewaris muda itu menginstruksikan penghentian pencarian, untuk saat ini. Mereka pun kembali menuju ibukota sore harinya.