NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Paman Suamiku

Terjerat Cinta Paman Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Saling selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan / Penyesalan Suami
Popularitas:28.3k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

"Ketika cinta datang disituasi yang salah"

Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.

Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.

"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.

Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?

Ikuti kisah mereka...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Ancaman atau Lelucon.

Cahaya mentari sore mulai menyelimuti jalan-jalan kota dengan warna jingga menghiasi langit. Suara mobil yang berlalu-lalang sama sekali tidak berkurang meski langit kini mulai berubah gelap.

Di sebuah gedung kantor, Tuan Marlan masih duduk di kursi kerjanya. Dahinya mengernyit, rahangnya mengeras dengan satu tangan terkepal, menyiratkan amarah yang berusaha ia tahan saat pandangannya tertuju pada foto yang ditunjukkan oleh wanita yang tiba-tiba datang saat ia akan pulang. Foto yang sukses membuat dirinya murka.

Wanita yang tidak lain adalah Rihana kini tersenyum, merasa keputusannya menunjukkan foto dirinya bersama Evan di kamar hotel dalam keadaan tidak pantas pada pria paruh baya di depannya adalah pilihan tepat. Menikmati setiap perubahan ekspresi yang pria baruh baya itu tunjukkan.

"Apa maumu?" tanya Tuan Marlan dingin.

Pria paruh baya itu menghempaskan kasar lembaran foto yang baru saja ia lihat, hingga membuat beberapa foto tersebar di meja kerjanya.

"Aku ingin Evan menikahiku," jawab Rihana enteng.

"Cih..." Tuan Marlan berdecih sinis, lalu tertawa sinis.

"Kau ingin masuk ke keluarga Larson dengan cara instan? Mimpimu terlalu tinggi."

"Jadi, Anda menolak?" Rihana mendengus, menyandarkan punggung sembari melipat kedua tangannya.

"Kau pikir dirimu layak?" sindir Tuan Marlan tersenyum sinis. "Menggunakan cara rendahan untuk masuk ke keluarga Larson, sungguh menjijikan. Aku bersyukur menolakmu sejak awal."

"Pikirkan ini baik-baik, Tuan Marlan yang terhormat," ucap Rihana tanpa menurunkan senyum percaya dirinya, merasa apa yang ia lakukan bisa membantu dirinya meraih apa yang ia inginkan. Mengancam keluarga Larson menggunakan foto dan video panasnya bersama Evan.

Sudah puluhan kali ia mencoba menghubungi Evan, puluhan kali juga ia mengirim pesan, tetapi satupun ia tidak mendapatkan tanggapan. Bahkan menemuinya di kantor ini saja ia tidak bisa, Evan benar-benar menghindarinya, hingga iaa mengambil langkah terakhir dengan menemui ayah dari kekasihnya langsung.

"Jika Anda tidak menikahkan aku dengan Evan, jangan salahkan aku foto dan video ini akan tersebar," ancam Rihana.

Jika sebelumnya Tuan Marlan menunjukan wajah murka, kini pria paruh baya itu justru menyemburkan tawa, tawa mengejek yang sangat kentara bagi Rihana.

"Apakah Anda pikir aku bercanda?" gertak Rihana lagi.

"Lalu, apa yang kau tunggu?" Tuan Marlan tersenyum sinis. "Sebarkan saja."

"Kau..." Rihana membelalak tak percaya atas reaksi yang Tuan Marlan berikan.

"Kamu pikir aku tidak berani menyebarkan ini?" Rihana mengancam lagi. "Jika semua foto dan video ini tersebar, reputasimu akan hancur," lanjutnya menghilangkan sisi formalnya.

"Benarkah?" Tuan Marlan menaikkan alis. "Kalau begitu cobalah, dan nikmati kehancuranmu sendiri."

Tuan Marlan berdiri dari duduknya, memasukkan kedua tangan ke saku celana tanpa mengalihkan pandangan dari Rihana.

"Kau mengancamku atau sedang membuat lelucon? Kau pikir foto darimu tidak bisa kuubah menjadi serangan balasan untuk dirimu sendiri? Pikiranmu terlalu dangkal, Nona."

"Atau kau lupa dengan siapa kau sedang berhadapan saat ini? Hanya dengan satu jentikan jari saja aku bisa mengubah opini publik, membalik keadaan yang akan membuat hidupmu hancur dalam sekejap. Jadi, sebelum bertindak, pikirkan apa akibatnya."

Kedua tangan Rihana terkepal erat, netranya menatap tajam pria paruh baya di depannya. Tetapi di saat yang sama, nyalinya menciut usai mendengar apa yang pria itu katakan. Rencana untuk mengancam orang tua Evan justru berbalik menjadi ancaman untuk dirinya sendiri.

"Jika kau berpikir dunia bisnis selalu berjalan mulus tanpa hambatan, pikiranmu terlalu naif," Tuan Marlan menambahkan, mengembangkan senyum angkuh yang membuat siapa saja yang melihatnya merasa jengah.

Rihana segera bangkit dari duduknya, meninggalkan ruang kerja Tuan Marlan dengan amarah lebih besar. Sikap Tuan Marlan terasa seperti hinaan telak baginya, dan ia tidak terima diperlakukan demikian.

"Jika aku tidak bisa menyerangnya, aku hanya perlu menyerang Rieta," desis Rihana saat langkahnya membawa wanita itu pergi meninggalkan kantor LR Corp di belakang.

.

.

.

"Kenapa baru pulang selarut ini, Rie?"

Evan bangun dari duduknya saat melihat istrinya melewati ruang tamu, menatap jam dinding yang kini menunjukan waktu tangah malam.

"Sibuk," jawab Rieta singkat tanpa menghentikan langkah.

"Rieta." Evan meraih pergelangan tangan Rieta, menariknya sedikit kasar hingga Rieta membentur tubuhnya.

"Aku sedang berbicara denganmu," tekan Evan.

"Oh... Sekarang kau sudi menyentuhku?" sindir Rieta mengarahkan pandangan pada tangan Evan yang melingkari pergelangan tangannya.

"Apakah setelah ini kamu akan mencuci tanganmu menggunakan banyak cairan sabun sampai menghabiskan satu botol?"

Evan tertegun, ia bahkan tidak sadar cengkraman tangannya pada tangan Rieta sudah terlepas. Netranya menatap wajah istrinya. Sorot mata itu, jauh berbeda dengan yang biasa ia lihat. Ia justru melihat kilasan masa lalu yang pernah ia lakukan terhadap Rieta di mata wanita itu.

Saat itu, Rieta menyentuh tangannya, dan dengan segera ia menepis tangan Rieta dengan kasar. Tak hanya itu, ia juga mendorong tubuh mungil itu hingga jatuh tersungkur.

"Evan, aku membuatkan ini untukmu. Kamu pasti lelah setelah seharian bekerja," ucap Rieta begitu lembut saat menyodorkan secangkir kopi pada Evan kala itu.

Bukan sambutan manis yang Evan berikan, melainkan menepis cangkir itu hingga isi dari cangkir itu menyiram tangan Rieta, meninggalkan jejak melepuh di kedua tangan berkulit putih Rieta.

"Sshh..." Rieta mendesis pelan, tetapi tak cukup untuk membuat Evan menoleh. Sebaliknya, pria itu melewati Rieta begitu saja dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

"Rie, tunggu!"

Evan tersentak saat Rieta akan meninggalkan ruang tamu, kembali meraih tangan wanita itu dengan lebih lembut.

"Tolong, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kembalilah ke kamar kita," pinta Evan.

Rieta menoleh, menarik tangannya dari genggaman pria yang masih berstatus sebagai suaminya.

"Aku lebih nyaman dengan kamarku sendiri saat ini," jawab Rieta.

Rieta kembali melanjutkan langkah, mengabaikan Evan yang kembali memohon agar ia kembali ke kamar yang Evan tempati. Sejak ia melayangkan gugatan cerai, Rieta pindah ke kamar tamu untuk ia tempati hingga kini. Sebanyak apapun Evan meminta agar ia kembali ke kamar pria itu, ia selalu menolak, setidaknya sampai ia mendapatkan surat dari pengadilan.

Berkat bantuan dari Arlan, ia bisa mengumpulkan semua berkas yang diperlukan untuk mendaftar perceraian di pengadilan, dan sekarang ia hanya perlu menunggu surat itu keluar sampai ke persidangan.

"Rie, tunggu!"

Evan kembali menahan Rieta saat wanita itu hendak masuk ke dalam kamar, urung meraih tangan Rieta saat netranya justru menemukan bekas merah di leher istrinya.

"Leher kamu kenapa?" tanya Evan.

"Ah... Ini?" Rieta menggosok lehernya sendiri. "Gigitan serangga."

"Serangga?" ulang Evan mengerutkan kening.

"Ada apa lagi? Aku lelah, ingin istirahat," ucap Rieta cepat mengalihkan perhatian Evan.

"Itu... Besok saja. Istirahatlah," ucap Evan pada akhirnya seraya mengusap lembut puncak kepala istrinya.

Rieta segera berbalik, masuk ke dalam kamar dan menutup pintu tanpa menoleh lagi.

.

.

Malam semakin larut, Rieta baru saja keluar dari kamar mandi saat mendengar suara pintu kamarnya diketuk seseorang.

. . . .

. . ..

To be continued...

1
Dewi Payang
Mulai mau licik kayanya....
Zhu Yun💫
Ada Lenny jodohnya Liam kah yang datang 😁
Zhu Yun💫
Si Paman mau minta jatah plus-plusnya ini 🤭🤣🤣✌️
Zhu Yun💫
Pekerjaan plus-plus itu 😅😅😅
Zhu Yun💫
Mungkinkah Tuan Marlan sedang butuh kehangatan 🤣🤣🤣✌️
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
/Doubt//Doubt//Doubt//Doubt//Doubt/
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
masa tengah malam masuk ke kamar mantu, kok ya rieta boleh boieh aja sih
Zhu Yun💫: Maklum, Papa mertua mau menggatal dulu, Ibu... 🤣🤣 astaga 🤣🤣🤣✌️
total 1 replies
Cindy
lanjut
Bima Sakti
KA up nya yg bnyak dong🤭
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
oiiikkkkk mau minta balik jasa loe!!??? klo si arlan tau mah, bisa tantrum dia
axm
double up thor💪
Teteh Lia
Dih... kenapa nih bocah. Tiba-tiba baik 🙄
Teteh Lia
Di tembak kek gini tuh. bikin bingung, sumpah. Kata akoh yang pernah muda, masih muda dan awet muda. 🤭
Cindy
lanjut
Patrick Khan
ahh siapa ketok pintu🤔🤔😁
〈⎳ FT. Zira: coba kita cek.. beneran paman gak😏😏
total 3 replies
Dewi Payang
Udah gak ada kesempatan buat kamu Evannnnn
Dewi Payang
Makanya, jangan sok²an ngancem kalo lo bukan siapa²🙈
Dewi Payang
Berani kaalai si Rihanan ini ya, pake ngancem camer....
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up , upnya lama thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!