Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.
Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.
Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.
Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.
.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.
[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 029 : TRAGEDI DARI NEGERI SEBERANG
Malam di desa itu turun dengan keheningan yang menyesakkan. Setelah badai ghaib yang mereka hadapi di stasiun radio mereda dan "Sang Operator" telah diringkus oleh Rachel ke alam sebelah, keluarga Gautama akhirnya kembali ke kediaman mereka.
Satu per satu anggota keluarga pamit untuk beristirahat memulihkan energi, dalam dekapan udara malam yang dingin dan sisa-sisa aroma kemenyan yang mulai memudar.
Rachel, yang tenaganya terkuras habis setelah melakukan astral projection yang berisiko tinggi, sudah terlelap di kamar.
Keheningan rumah tua itu seolah memberikan perlindungan bagi jiwanya yang lelah. Namun, tidak dengan Adio.
Pria itu duduk sendirian di meja kayu dapur rumah tua Rachel. Hanya ada suara detak jam dinding kuno dan dengungan lampu neon yang mulai berkedip redup.
Di depannya, layar ponselnya menyala terang, membelah kegelapan dapur, menampilkan deretan notifikasi yang seolah menuntut pertanggungjawaban.
12 panggilan tak terjawab. Semuanya dari satu nama: Sarah.
Drrtttt...
Drrtttt...
Ponsel itu kembali bergetar di atas meja kayu yang kasar, menggeser posisinya beberapa milimeter.
Adio menatap sayu ke arah layar yang berkedip-kedip itu. Ia tidak mengangkatnya. Ia hanya menatapnya dengan pandangan kosong, lalu menarik napas panjang yang terasa sesak di dadanya.
"Mungkin ini yang kamu rasain waktu aku datang ke kamu, Hel... Pas waktu Thoriq baru pergi ninggalin kamu," lirih Adio pelan.
Ada rasa dilema yang menyelusup di antara egonya. Ia tahu bagaimana rasanya dihantui oleh masa lalu saat hati sedang mencoba fokus pada masa depan yang baru saja mulai ia bangun bersama Rachel.
Adio memilih untuk mengabaikan panggilan itu. Ia menggeser layarnya, membaca ulang balasan pesan dari Sarah yang sudah ia jawab beberapa jam lalu.
“Yo, aku sudah di Malang sekarang. Rasanya terlalu jauh kalau harus menunggu minggu depan untuk bicara. Aku ingin bertemu. Tolong,” tulis Sarah dalam pesan terakhirnya.
Adio memijat pangkal hidungnya. Jarak Malang ke tempat kediaman Gautama saat ini memang lumayan dekat.
Masalah ini tidak akan selesai jika ia terus menghindar, namun membawanya ke hadapan Rachel terasa seperti mengundang badai baru ke dalam rumah yang baru saja tenang.
Tanpa sepengetahuan Adio, ia tidak benar-benar sendirian di dapur itu. Tepat di atas lemari es tua yang sedikit berkarat, dua sosok anak kecil berkulit pucat dengan pakaian ala bangsawan Belanda abad ke-19 sedang berjongkok.
Barend dan Albert. Kaki mereka yang mungil berayun-ayun di udara, mata biru mereka menatap tajam ke arah Adio yang terlihat frustrasi.
Mereka baru saja mendengar gumaman Adio dan menangkap riak pikiran Rachel yang sempat terhubung secara batin sebelum gadis itu benar-benar terlelap.
"Albert, lihat itu," bisik Barend sambil menunjuk ponsel Adio dengan jari pucatnya.
"Manusia ini sepertinya sedang tersesat di dalam kotak kecil itu."
Albert mendengus, ia melipat tangan di depan dada dengan gaya sok dewasa.
"Dia bukan tersesat, Barend. Dia sedang bingung karena ada wanita lain yang memanggilnya 'Yo Yo Yo' itu. Kamu dengar tadi dia bilang apa?"
"Dengar. Dia bilang soal wanita bernama Sarah," jawab Barend polos.
Albert menggeleng-gelengkan kepalanya yang berambut pirang keperakan.
"Dia gila memiliki dua wanita! Apa dia tidak tahu kalau Juffrouw Rachel itu bisa meremas sukma setan kelas teri hanya dengan satu tangan? Kalau Rachel tahu pria ini main gila, mungkin Adio akan dijadikan pajangan tetap di alam sebelah!"
[ NB : Juffrouw, adalah Nona, dalam bahasa Belanda ]
"Tapi Adio tidak main gila, Albert. Dia hanya diam saja melihat kotak itu bergetar," bela Barend dengan suara kekanak-kanakannya.
"Justru itu! Diamnya pria itu adalah tanda bahaya!" Albert melompat turun dari atas lemari es tanpa suara, mendarat tepat di samping gelas kopi Adio yang sudah dingin. Tentu saja, Adio tidak merasakannya.
"Kalau aku jadi dia, aku akan lempar kotak itu ke sumur ghaib di belakang rumah. Beres."
"Kamu payah," ejek Barend yang masih di atas lemari es.
"Kalau kotak itu dibuang, nanti Rachel tidak bisa menyuruh Adio beli bakso lewat benda itu lagi."
Albert terdiam sejenak, lalu mengangguk setuju.
"Benar juga. Bakso itu penting. Tapi tetap saja, pria ini sedang dalam masalah besar. Lihat mukanya, sudah seperti adonan kue yang bantat."
Adio yang merasa hawa di dapur mendadak menjadi lebih dingin, merapatkan jaketnya. Ia merasa merinding, namun ia menganggapnya hanya karena udara malam pegunungan.
Ia mematikan ponselnya total, berdiri, lalu berjalan menuju kamar, tanpa menyadari dua hantu kecil Belanda itu terus tertawa cekikikan di balik bayang-bayang dapur.
Keesokan paginya, suasana di rumah tua tampak lebih hidup. Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah jendela besar.
Aroma nasi goreng kencur dan telur mata sapi buatan Ibunda memenuhi ruangan, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan kegelisahan yang masih tersimpan di hati Adio.
Di meja makan kayu yang panjang, keluarga besar sudah berkumpul. Rachel duduk di kursi rodanya, tampak tenang dengan rambut yang dikuncir asal, namun aura kewibawaannya sebagai pimpinan tetap terpancar.
Adio duduk di sampingnya, sesekali mengaduk kopinya yang sudah dingin tanpa niat meminumnya segera.
"Yo, itu kopi diaduk terus sampai pusing, nggak diminum-minum. Lagi mikirin apa?" celetuk Rachel memecah keheningan meja makan.
Adio tersentak dari lamunannya, lalu buru-buru menyesap kopinya.
"Eh, enggak, Hel. Habis sarapan ini, kamu dandan yang cantik ya. Aku mau ajak kamu jalan-jalan ke Malang. Cari suasana baru, mumpung udaranya lagi enak."
Rachel menghentikan kunyahannya, menatap Adio dengan satu alis terangkat.
"Malang? Tumben banget. Mau cari bakso apa mau cari masalah?"
"Cari bakso dong. Sama mau ajak kamu hirup udara sejuk biar nggak jenuh di rumah terus," jawab Adio berusaha tersenyum seringan mungkin di hadapan keluarga Gautama yang lain.
"Ya sudah, asal jangan ajak aku ke tempat yang banyak tangganya. Kasihan kamu nanti angkat-angkat kursi roda terus, nanti encokmu kambuh, aku yang repot," jawab Rachel menyetujui dengan gaya bicaranya yang apa adanya.
Perjalanan menuju Malang pun dimulai. Di dalam mobil, suasana awalnya terasa hangat. Rachel benar-benar menjadi dirinya sendiri. Dia berbicara blak-blakan tanpa filter.
Jika orang lain berbicara pada Adio dengan batasan dan penuh sopan santun karena statusnya sebagai dokter, maka Rachel tidak.
Dia akan memprotes jika Adio menyetir terlalu pelan atau mengejek musik pilihan Adio. Kejujuran dan keberanian Rachel inilah yang membuat Adio sangat menyayanginya.
Saat mobil berhenti tepat di sebuah lampu merah yang cukup lama, Adio menoleh ke arah Rachel.
Melihat wajah kekasihnya yang terlihat begitu cantik saat sedang bercerita tentang kelakuan hantu-hantu di rumahnya, Adio tak tahan untuk tidak mengulurkan tangan. Ia mencubit gemas pipi Rachel.
Biasanya Rachel akan risih dan meresponnya dengan jual mahal sedikit ala dia—mungkin dengan menepis tangannya sambil bersungut-sungut.
Tapi, kali ini berbeda. Saat kulit mereka bersentuhan, sebuah getaran aneh mengalir. Sebagai seorang Gautama dan cenayang yang sangat kuat, sentuhan fisik itu menjadi jembatan bagi Rachel.
Di sana, ia melihat kilas balik kehidupan yang Adio jalani. Sebuah kilas balik perihal Sarah. Rachel melihat kedalaman hubungan mereka di masa lalu, tawa mereka, dan betapa Sarah adalah orang yang sangat penting bagi Adio.
Rachel terdiam seketika. Sorot matanya berubah. Ia perlahan melepas tangan Adio dari pipinya dengan gerakan yang sangat sadar.
"Kamu mau ke Malang buat apa?" tanya Rachel cukup tenang. Namun, ketenangan itu terasa menusuk.
Pertanyaan itu membuat Adio membulatkan mata. Ia tertegun, tangannya yang tadi mencubit pipi Rachel perlahan turun kembali ke kemudi.
Ia tersentak, teringat kembali bahwa kekasihnya adalah seorang cenayang keturunan darah biru.
Menutupi sesuatu darinya adalah kemustahilan. Adio kembali fokus pada jalanan saat lampu berubah hijau, menghembuskan napasnya kasar.
"Apa yang kamu lihat, sayang?" tanya Adio lembut. Nadanya terdengar begitu pasrah.
"Apa yang ada di pikiranmu! Apa yang kamu alami! Dan, apa yang udah kalian berdua jalani! Sarah gadis yang cantik, wajar jika kamu tidak bisa melupakan dia!" tutur Rachel.
Adio menoleh ke arah Rachel singkat, jantungnya berdebu hebat. Gadis itu sekarang menatap jalanan depan sambil melipat kedua tangannya di dada dan tersenyum miring—sebuah senyum yang menunjukkan bahwa ia sudah tahu segalanya.
"Jadi?" tanya Adio singkat.
Rachel menoleh, memiringkan kepalanya sedikit membiarkan helaian rambut hitamnya jatuh menutupi sebagian wajahnya.
"Jadi?" tanya Rachel balik dengan nada menantang.
Adio menggigit bibir bawahnya. Perasaan bersalah dan takut kehilangan Rachel bercampur aduk.
"Aku.."
"Selesaikan masa lalumu, Pak Dokter! Entah, kamu bawa aku ke sana mau patahin hatiku, atau kamu mau kenalin aku ke dia sebagai punyamu? Kita udah dewasa. Aku punya masa lalu. Kamu pun sama!" potong Rachel dengan tegas sebelum Adio sempat menyusun pembelaan.
"Gak ada yang bakalan buat kamu patah hati di sana. Aku benci kalau kita bertengkar seperti ini! Jangan benci aku, sayang!" ucap Adio dengan nada yang sangat tulus, memohon pengertian dari wanita di sampingnya.
Rachel hanya tersenyum miring. Ia tidak memberikan jawaban pasti. Ia hanya akan melakukan apa yang perlu dilakukan setelah melihat keputusan Adio di sana.
duh gemesin si arka tau2an Rachel ada didepan
untung yg hampir nabrak Aldo jadi seenggaknya kamu sedikit aman sekarang
wah kemana pak dokter sama pasiennya 😄
etdah Tami kamu yaa blak2an banget
semoga nanti Tami bisa ketemu orang tua nya berkat bantuan Rachel ya
merinding bayangin kematian toby 🥺
jadi kalau Rahel nikah dy harus melepaskan kekuatan nya
Tami kan bener dia random banget