Aku di jadikan alat balas dendam oleh suamiku.
Satu tahun menikah tak ada kelembutan dan tanggung jawab suami yang kudapatkan melainkan kehadiran ku hanya di anggap patung tak ternilai.
"Kau hanyalah boneka tidak lebih dari apapun yang berharga di dunia. Kesengsaraan hidup mu kebahagiaan terbesar bagiku," ucap Rizal penuh penekanan menatap benci wulan yang seketika melemas mendengar pengakuan pria tersebut.
"Apa salah ku hingga kau tega melakukan ini? kenapa tidak kau bunuh saja aku biar kau puas, kenapa harus seperti ini? kau bukanlah manusia, kau iblis berwujud manusia!" Teriak Wulan menggebu-gebu muak dengan tingkah rizal.
"Hahaha.... hahaha ... kau benar saya iblis berwujud manusia. Dan semua itu karena kakak mu!" jawab Rizal tertawa dan seketika langsung berubah dingin dengan tatapan pembunuh.
Sanggup kah aku menjalani pernikahan ini? atau mundur agar tak tersakiti lebih dalam?
Yuk baca kisah ku🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulia rysa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Hampir keceplosan
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Wulan menjadi muak menatap rizal, bahkan wanita itu ingin sekali menyumpal rizal dengan sambal cabe di depan nya.
"Dasar pria gila, akting nya begitu bagus kenapa tidak jadi aktor saja," jijik Wulan berkata dalam hati.
Dan rizal tidak menyadari jika dirinya di tatap wulan dengan tatapan kesal dan juga benci teramat besar di mata nya.
Wulan dapat melihat dari ekspresi pria yang duduk depannya seketika berubah.
"Kenapa dengan nya? apa kak dinda sedang memarahinya? dasar pria gila di marahi kakak saja langsung tak berkutik kalau aku saja lawan sama," wulan semakin kesal melihat tingkah dan ekspresi rizal yang berubah-berubah.
Semakin di pandang pria itu ia semakin kesal dan juga bertambah berlipat-lipat.
"Sabar wulan, tahan jangan sampai terpancing dengan nya ingat misi sebelum nya. Semua tidak boleh berantakan hanya karena melihat kelakuan menjijikkan nya," batin wulan menasehati dirinya sendiri agar tidak merusak semuanya.
Sedangkan di sisi lain, rizal mendengar ocehan dinda hanya bisa menghela nafas, entah kenapa ia tak bisa berkata kasar atau memarahi Dinda seperti yang di lakukan pada wulan.
📞:"Oke, setelah aku dan wulan sarapan kita segera ke sana."
📞:"Sudah seharusnya itu, oh iya kamu dan juga wulan wajib nginap aku tak ingin mendengar penolakan mu, kedua anak ku sangat merindukan aunty nya."
📞:" Apa nginap? apa itu wajib? ayolah dinda gak perlu seperti itu, lain kali saja sekarang cukup berkunjung," kata Rizal tidak ingin nginap.
Pria itu benar-benar tidak ingin menginap ia malas bertemu pria yang sangat amat ia benci hingga harus melakukan semua yang sangat di benci.
Rizal berusaha menolak dengan banyak alasan agar tidak nginap, tapi keras kepala dinda tidak ada tanding nya, wanita itu terus memaksa.
Dia menatap wulan dan berharap wanita itu dapat membantu nya meski ia tidak yakin wulan akan membantu setelah semua yang di perbuat padanya.
Wulan yang di tatap seperti itu oleh rizal seolah tidak tau dan mengerutkan kening, sebenarnya ia tau arti tatapan itu.
"Dih ngapain aku bantu pria tua itu, nanti bukannya berhasil malah gagal sebelum di mulai," batin Wulan acuh melanjutkan makan.
Rizal kesal wulan bersikap acuh.
📞:"Rizal apa kau mendengar ku di sana!" teriak dinda.
📞:" Ya, aku dan wulan akan nginap, apa kamu puas sekarang?" tanya Rizal terpaksa tak mempunyai pilihan lain selain mengiyakan.
📞:"Sangat puas, terimakasih adik ipar sampai jumpa nanti."
📞:"Sama-sama."
Rizal mengembalikan ponsel pada wulan dan wanita itu mengambil nya.
📞:"Hallo kak," sapa Wulan.
📞:" Hallo dek, beres setelah makan kamu dan suami mu akan segera ke sini," lapor Dinda bahagia.
Wulan pun sama sangat bahagia, tapi ia berusaha untuk tidak memperlihatkan sekarang nanti bisa curiga rizal padanya.
Dia berusaha sebisa mungkin memasang wajah datar seperti tak mengetahui apapun.
📞:"Baiklah kak, kami akan segera ke sana. Aku tutup dulu."
Panggilan terputus dan ia kembali melanjutkan makan.
Bahkan wanita itu tak menunjukkan reaksi apapun hingga rizal yang menatap wajah wulan menjadi bingung ekspresi dan reaksi apa yang di berikan wulan sekarang.
Kenapa tidak menunjukkan kebahagiaan? padahal sebentar lagi akan bertemu dengan keluarga nya.
"Wanita aneh? kenapa aku merasa dia memiliki kepribadian ganda yang tak di miliki wanita mana pun," batin Rizal terus menatap wulan.
Wulan menyadari tatapan rizal padanya, tapi wanita itu bersikap seolah tidak tau.
Dia terus menyantap makanan di depan nya dengan lahap.
"Apa kau tidak bahagia bertemu keluarga mu?" tanya Rizal penasaran menatap wulan.
"Iya, emangnya ada alasan saya tidak bahagia bertemu keluarga saya?" tanya balik wulan.
"Lalu kenapa ekspresi mu biasa saja tidak seperti orang bahagia pada umumnya yang ingin bertemu keluarga."
"Untuk mereka di luar sana pasti bahagia, keluarga yang ingin di jumpai adalah keluarga kandung."
"Maksud nya?" bingung Rizal perkataan wulan tak bisa ia pahami.
Rizal tak pernah mengetahui asal usul wulan, sebab semua akses data wulan telah di kunci oleh Papa naldo Papa angkat nya.
Dan semua orang di luar sana hanya mengetahui wulan adalah anak kandung Papa naldo yang sejak kecil sengaja di sembunyikan.
Tidak ada informasi lain lagi. ( Orang kaya bebas lakuin apa saja nama nya juga di dalam dunia novel, bebas mengeluarkan semua imajinasi hayalan setinggi yang di bisa.)
Wulan memaki dirinya sendiri atas kebodohannya karena sudah keceplosan.
Bagaimana ia bisa melupakan hal itu.
"Bodoh nya kamu wulan, kenapa punya mulut gak bisa di kontrol sih, gak ada satu orang pun boleh mengetahui ini."
"Maksud nya apa?" wulan balik bertanya dengan wajah tak mengerti.
"Perkataan mu tadi, tentang keluarga kandung?"
Rizal sedikit curiga dengan pekerjaan wulan, ia yakin ada sesuatu yang di sembunyikan nya, dan tidak ingin ada orang yang mengetahui itu.
"Ada apa dengan keluarga kandung?" wulan masih memasang wajah polos tak mengerti yang di maksud rizal.
"Seharusnya saya yang bertanya seperti itu bukan sebaliknya! Apa yang kau tutupi selama ini?" curiga Rizal.
Entah kenapa firasat nya berkata wulan menyembunyikan sesuatu.
"Apa yang kau maksud? menyembunyikan apa? tidak ada yang saya tutupi jika ada itu tidak ada urusannya dengan kau," tegas Wulan.
"Ya itu benar tidak ada urusan dengan saya, tapi kau adalah istri saya apapun yang kau sembunyikan saya wajib mengetahui."
"Istri? wajib?" ucap Wulan mengulangi perkataan rizal lalu tertawa. "Hahahaha, kau begitu lucu bapak rizal yang terhormat, apa saya tidak salah dengar tadi, kau mengatakan saya istri dan juga tentang kewajiban?" kata Wulan menatap rizal yang juga menatap nya.
"Apa kau tidak sadar dengan semua yang kau lakukan pada saya selama ini? apa semua itu pantas di sebut suami dan saya istri? tidak, tidak ada suami yang memperlakukan istri nya sendiri seperti hewan peliharaan. Dan tidak akan ada kewajiban selagi masih ada kekerasan dalam rumah tangga," lanjut Wulan menjelaskan panjang lebar.
"Oke fine, jika kau tidak ingin mengatakan saya bisa mencari sendiri, dan sampai pun itu kau akan seperti ini, sekali murahan akan tetap murahan meski sudah berubah," hina Rizal lalu beranjak pergi dari meja makan.
Selera makan nya sudah hilang karena wulan, setiap berbicara dengan nya ia tak bisa mengontrol dirinya, bawaan nya saja marah.
Wulan melihat kepergian rizal kesal pada nya merasa puas.
"Hufft syukur dia tak memaksa ku. Lain kali aku harus lebih hati-hati dalam bicara," gumam Wulan mengelus dada hampir saja semua terbongkar.
Wulan kembali makan dan setelah selesai ia segera bangkit bergegas menyiapkan beberapa keperluan barang untuk menginap.
"Sekarang giliran ku, selamat menikmati semoga kau menyukai itu pak tua gila," ucap Wulan dengan senyum aneh di sudut ujung bibir nya.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
Ceritanya bagus dn endingnya bahagia
Tetap semangat kakk authorrr untuk karya2 selanjutnya
Kembang sekebon buat kk otor😍