NovelToon NovelToon
Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.

"Gus Hilman!"

Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.

Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34

Tiara tidak mempedulikan ocehan Arkan. Alih-alih masuk ke rumah, ia justru nekat berlari kecil mengejar Zaki yang sudah berjalan beberapa meter di depannya. Dengan sandal tepleknya yang berbunyi plak-plik-pluk, Tiara berusaha menyalip barisan santri.

"Eh, Mas! Tunggu dulu! Aku serius nanya jalan!" teriak Tiara sambil berusaha meraih ujung baju koko Zaki.

Namun, karena jalanan desa yang masih sedikit licin akibat embun pagi dan tanah yang tak rata, kaki Tiara benar-benar tergelincir. Ia kehilangan keseimbangan dan tubuhnya terhuyung ke depan tepat ke arah Zaki. Zaki yang mendengar teriakan dan suara langkah gaduh di belakangnya, menoleh secara refleks.

BRUKK!

Zaki tidak sempat menghindar. Tubuh mungil Tiara menabraknya dengan keras hingga keduanya terjatuh ke atas rumput di pinggir jalan. Posisi mereka sangat canggung; Zaki terjatuh telentang di bawah, sementara Tiara berada tepat di atas dadanya.

Hening seketika.

Para santri di belakang mereka terkesiap, ada yang menutup mata, ada yang melongo. Arkan yang melihat dari kejauhan pun sampai menjatuhkan sapu lidinya.

Dalam posisi yang begitu dekat, mata mereka saling beradu. Zaki yang awalnya ingin marah karena privasinya terganggu, mendadak kelu.

Untuk pertama kalinya, ia menatap wajah seorang gadis sedekat ini. Ia melihat mata Tiara yang bulat, hidung kecilnya, dan wajah yang meskipun belum dicuci, tetap terlihat sangat cantik dan menawan seperti porselen. Ada getaran aneh yang belum pernah Zaki rasakan selama bertahun-tahun menghafal Al-Quran di pesantren.

Cantik sekali... batin Zaki sekejap, terpaku oleh pesona gadis kota itu.

Tiara pun sama. Ia yang awalnya ingin menggoda, kini justru terpana melihat wajah Zaki dari jarak sedekat ini. Ia bisa mencium aroma sabun batang yang segar dan wangi buku dari tubuh Zaki. "Gila... beneran spek dewa," gumam Tiara pelan tanpa sadar.

Namun, kesadaran segera menghantam Zaki bagaikan petir. Ia teringat di mana ia berada dan siapa dirinya.

"Astaghfirullahaladzim! Astaghfirullah..." Zaki langsung beristighfar berkali-kali dengan suara gemetar. Ia segera memalingkan wajahnya dan berusaha mendorong bahu Tiara agar menjauh dengan tangannya yang dilapisi lengan baju koko.

Tiara tersentak dan segera bangkit dengan wajah memerah karena malu sekaligus senang. "S-sorry... aku nggak sengaja, beneran!"

Zaki bangkit dengan terburu-buru, wajahnya yang tadi tenang kini merah padam sampai ke telinga. Ia merapikan pecinya yang miring dan menepuk-nepuk sarungnya yang kotor terkena rumput. Jantungnya berdegup sangat kencang, ia terus menundukkan kepala.

"M-mohon maaf, Mbak. Ini... ini tidak boleh. Saya permisi!" ucap Zaki dengan nada bicara yang berantakan, jauh dari kesan tenang yang biasanya ia tunjukkan. Ia segera berjalan setengah berlari meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi, diikuti para santri yang ikut bingung.

Arkan berlari menghampiri Tiara sambil berkacak pinggang. "Wah, parah lo Ra! Lo beneran bikin satu pesantren gempar ya! Tuh lihat, Kang Zaki sampai istighfarnya kenceng banget kayak lagi ngusir setan!"

Tiara justru tersenyum lebar, memegangi dadanya yang ikut berdebar. "Biarin! Gue rasa setannya bukan gue, tapi rasa suka dia ke gue. Tadi dia sempet bengong kok liatin gue. Fix, dia naksir!"

Sementara Zaki yang baru saja tiba di masjid ia masuk ke dalam lalu Zaki duduk bersila di pojok masjid, mencoba membuka mushaf Al-Qur'an untuk menyetorkan hafalannya. Namun, jemarinya sedikit gemetar. Bayangan mata bulat Tiara dan wajah cantiknya saat terjatuh tadi terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

Tiba-tiba, seorang santri teman akrabnya bernama Fahri, menyenggol lengannya sambil berbisik nakal.

"Eh Zak... gila ya? Cantik banget, Zak! Putih banget kulitnya, kayak artis-artis di TV yang sering kulihat kalau lagi pulang kampung," bisik Fahri dengan mata berbinar. "Gila, body-nya juga... ya ampun, beda banget sama santriwati di sini yang pakai gamis longgar. Itu tadi adik iparnya Gus Hilman, kan?"

Zaki tersentak. Ia menutup mushafnya dengan sedikit keras hingga menimbulkan suara debub. Ia menoleh ke arah Fahri dengan tatapan yang berusaha ia buat setegas mungkin, meski wajahnya sendiri masih terasa panas.

"Astaghfirullah, Fahri! Jaga lisanmu! Ghadhul bashar (jaga pandangan). Kamu ini di masjid, lho!" tegur Zaki dengan suara rendah yang ditekan.

Fahri justru terkekeh. "Alah, Zak, jangan munafik deh. Tadi aku lihat sendiri kamu bengong pas dia di atas kamu. Mata kamu nggak bohong, Bro. Kamu juga ngerasa dia cantik, kan? Jujur aja!"

Zaki terdiam. Kalimat Fahri barusan telak menghantam batinnya. Ia tidak bisa memungkiri bahwa saat mata mereka beradu tadi, ada sesuatu yang "patah" dalam pertahanannya. Keindahan wajah Tiara tadi benar-benar di luar jangkauan

pengalamannya selama sepuluh tahun di pesantren.

"Dia... dia bukan mahram kita, Ri. Pakaiannya tadi juga... ah, lupakan," gumam Zaki sambil kembali mengucap istighfar berkali-kali dalam hati. Ia mencoba membaca ta'awudz untuk mengusir bayangan Tiara yang terus menggoda pikirannya.

"Tapi Zak," lanjut Fahri lagi, makin bersemangat, "kalau dia beneran adiknya Mbak Nayla, berarti dia bakal di sini tiga hari. Ini ujian iman paling berat buat kamu, si santri teladan. Kita taruhan yuk, kamu kuat nggak nggak ngeliatin dia lagi?"

"Berhenti bicara, Fahri! Atau aku laporkan ke Gus Hilman supaya kamu disuruh membersihkan kamar mandi lantai dua!" ancam Zaki.

Fahri akhirnya diam sambil cekikikan, sementara Zaki mencoba fokus kembali pada ayat yang akan ia hafal. Namun, saat ia mulai melantunkan ayat, pikirannya justru melayang kembali ke harum sabun buah-buahan dari tubuh Tiara yang sempat singgah di indra penciumannya.

Ya Allah, ampunilah hamba... kenapa hamba jadi tidak khusyuk begini hanya karena seorang gadis? batin Zaki frustrasi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!