"Gak!! Aku gak mau nikah sama dia."Nadia menatap ibu tirinya tidak suka.
"Perusahaan papa kamu terancam bangkrut. Apa kamu mau jatuh miskin?"Meli mencoba membujuk Nadia yang keras kepala.
Nadia adalah anak tunggal dari pasangan Aldi dan Dina. Dulu keluarga itu sangat harmonis, tapi semenjak mamanya meninggal dan papanya nikah lagi dengan Meli, Nadia seakan hilang jati diri. Dia menjadi gadis Nakal.
"Apa tidak ada jalan lain selain aku harus menikah dengan dia? Aku belum mengenal laki-laki itu, bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya? Oh tuhan...., Ayolah, aku ini masih mau bersenang-senang dengan masa muda ku. Pa, Plis..."Nadia meminta bantuan Aldi lewat tatapan matanya.
"Maaf sayang, kamu harus tetap menikah dengan dia. Papa yakin, kamu akan bahagia bersamanya."Aldi pergi begitu saja. Sedangkan Meli sedang tersenyum penuh kemenangan.
"Welcome air mata. Pernikahan gila yang tidak pernah aku inginkan. Jangankan menikah, untuk pacaran saja aku tidak sudi."Nadia mengepalkan tangannya erat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji Rahayu Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Takdir cinta Nadia
Sudah hampir 3 Minggu Nadia pergi dari rumah. Tapi baru hari ini Bram dan Eva mengetahui kepergian menantunya itu. Sekarang Rehan sedang duduk di sofa rumahnya, tentu dengan Eva dan Bram yang berdiri di depannya.
"Kamu mau cerita sekarang atau tidak?!" Tatapan mengimindasi milik Bram, membuat nyali Rehan menciut. Mata Bram menahan ketika menatap mata Rehan, seperti elang yang sedang memburu mangsanya.
"Semua ini hanya salah paham, aku tidak sepenuhnya salah disini. Beberapa hari lalu..."
"Jangan membela dirimu, dan ceritakan langsung keintinya." Todong Eva, kali ini dia tidak setuju dengan kalimat putranya yang berbunyi aku tidak sepenuhnya bersalah, kalau putranya tidak bersalah, tidak mungkin menantunya itu pergi.
"Nesya kemarin datang ke kantor. Dan Nadia melihat kami sedang berciuman. Tapi sebenarnya..."
Plak...
Eva segera melayangkan tamparan ke pipi Rehan, sebelum Rehan menyelesaikan penjelasannya. Pantas menantunya itu pergi, ternyata putranya bermain api dibelakang.
"Papa mendidik kamu buat jadi lelaki bertanggung jawab dan tegas. Kamu ini sudah menikah, kenapa kamu bermain api dengan perempuan itu?!" Bram benar-benar kecewa dengan putranya. Dia sendiri yang meminta kepadanya untuk meminang Nadia. Tapi putranya juga yang menyakitinya.
Eva benar-benar geram dengan putranya kali ini, sesama perempuan, Eva tahu perasaan Nadia ketika melihat suaminya bercumbu dengan perempuan lain. Sakitnya tidak bisa diungkapkan lewat kata.
"Bagaimana jika kamu melihat istrimu sedang bercumbu dengan lelaki lain? Mereka berciuman, tangan Nadia berada di leher lelaki itu, dan..."
"Maka aku akan membunuh lelaki itu dengan tanganku detik itu juga!!" Terlihat jelas jika Rehan tidak terima jika Nadia bersama lelaki lain.
"Itu hanya seandainya, Rey. Dan kamu sudah marah? Lalu bagaimana dengan perasaan Nadia kala itu? Apa dulu kamu memikirkan itu?" Rehan bungkam mendengar perkataan anarkis milik mamanya.
"Kamu bukan bocah kemarin sore yang apa-apa harus papa beri tahu, kamu segera cari dan selesaikan masalahmu dengan Nadia. Karena perlu kamu tahu, Nadia itu perempuan yang cantik, banyak laki-laki yang mengejar dan mengharapkan dia diluar sana. Jangan tunggu undangan pernikahan dia bersam lelaki lain, baru kamu menyesal." Bram menepuk pundak putranya, pelan.
***
Sudah hampir setengah jam Danil diam didepan Nadia, begitupun dengan Melody. Keduanya saling tatap, lalu menunduk lagi.
"Kalian ini kenapa sih? Kalau gak ada yang dibicarakan, aku mau langsung pulang." Nadia beranjak dari tempat duduknya, namun pergelangan tangannya segera di tahan oleh Melody.
"Sebelumnya aku minta maaf, aku..."
"Kami ingin menjalin hubungan yang serius. Apa kamu marah?" Danil angkat bicara. Dia menghela nafas kasar. Selama Melody membantunya move on dari Nadia, perasaan cinta itu muncul tiba-tiba. Dan Danil cukup terkejut mendengar fakta yang keluar dari bibir Melody, Bahwa dulu Nadia pernah mengejar-ngejar dirinya.
"Kalian serius?" Nadia menatap datar wajah mereka berdua. Melody meremas tangannya, gugup.
"Kita serius!" Jawab Danil, tegas. Dia tidak mau kehilangan Melody, seperti dia kehilangan Nadia dulu. Sudah cukup kebodohannya dulu, mengajarkan dia betapa pentingnya menyadari sebuah kepekaan hati.
"Tapi pliss..., Jangan marah. Kalau kamu tidak suka, aku gak akan ngelanjutin hubungan ini. Aku akan pergi, aku akan mengikhlaskan Danil, dan aku..."
"Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku bahagia karena kamu sudah menemukan pasangan, Lody. Dulu memang aku mencintai Danil, tapi seiring perjalannya waktu, hatiku mulai mencintai lelaki brengsek itu. Aku kira dia tulus mencintai ku, ternyata dia malah bermain api di belakang ku." Danil dan Melody saling tatap, mereka berdua tersenyum canggung.
"Maaf, Nad. Aku tidak tahu jika dulu kamu sempat menyukai ku. Andai aku dulu Peka dengan semua perhatian mu, pasti sekarang kita..."
"Sudahlah, sekarang tugasmu adalah mencintai dan membahagiakan Melody. Jangan seperti suamiku, yang memberikan kebahagiaan sesaat di pernikahan kami. Setelahnya aku hanya merasakan siksa dan derita." Nadia tersenyum kecut di depan kedua pasangan baru itu.
"Aku janji, aku akan menyelidiki semuanya." Danil berjanji pada dirinya sendiri didalam hati.
"Pokoknya aku akan selalu berada dipihak kamu." Melody memeluk Nadia, erat.
****
Rehan sudah bekerja seperti biasanya, sudah seminggu lalu dia beraktifitas seperti dulu. Tapi disela-sela kesibukannya, dia tetap mencari keberadaan istrinya.
Sekarang lelaki itu bersikap sangat dingin dan angkuh. Bahkan dia sering marah-marah tidak jelas kepada Kinan, sekretarisnya.
"Kenapa harus ada miting mendadak seperti ini?! Dasar Sekretaris tidak pecus bekerja." Rehan menata jasnya, semua amarah yang Rehan keluarkan kepada Kinan, membuat Luwis emosi.
"Kamu bisa bersikap halus sama perempuan gak, Rey?! Pantes Nadia pergi, ternyata seperti ini kelakuan kamu sama perempuan, kasar." Luwis mencengkram kerah kemeja yang Rehan kenakanan. Dia tidak suka melihat Rehan membentak-bentak Kinan seenaknya.
"Jangan mentang-mentang kamu bosnya, kamu bisa seenaknya." Luwis menunjuk wajah Rehan menggunakan jari telunjuknya. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal erat.
"Terus mau kamu apa?!" Tantang Rehan, menyeringai sinis.
"Kamu..." Geram Luwis, tertahan.
"Kamu apa?" Rehan mendorong Luwis, kasar.
Bug...
Luwis menonjok perut Rehan, hingga Rehan mengeluarkan cairan putih dari mulutnya.
"Brengsek!!" Maki Rehan, tidak terima. Dia hendak menonjok pipi Luwis, namun....
"Aaa...," Kinan tiba-tiba berdiri didepannya, hingga dialah yang kena pukulannya, bukan Luwis.
Rehan menjambak rambutnya sendiri, kesal. Sedangkan Luwis sudah panik melihat Kinan pingsan.
"Benar-benar kamu Rey, gak punya hati. Kalau aku jadi Nadia, aku gak akan pernah balik sama laki-laki kasar kayak kamu." Rehan kembali terbawa emosi, dia mengepalkan tangannya erat.
"Kamu.."
"Apa? Bunuh saja aku! Ingat, tanpa bantuan ku, bisnismu tidak akan pernah berdiri seperti ini dengan maju. Dasar kacang lupa sama kulitnya." Luwis langsung membawa Kinan pergi dari ruangan iblis seperti Rehan.
"Kacau!! Brengsek!!" Maki Rehan didalam ruangnya.
***
Sekarang Dimas sedang berada dinau bersama Nadia. Dimas duduk lesehan diatas tanah, sedangkan Nadia duduk diatas ayunan pohon.
Mereka berdua sama-sama bungkam. Nadia melirik lelaki yang duduk lesehan didepannya dengan tatapan berbagai ekspresi.
"Setelah aku menolak Abang dulu, apa Abang langsung mendapatkan perempuan lain?" Nadia menatap Dimas yang sedang mendorong ayunan yang dia naiki, pelan.
"Tidak ada perempuan yang mampu menggantikan posisimu." Dimas berkata jujur, dia lebih sering menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan, untuk melupakan Nadia.
Flash back on
*Beberapa tahun lalu, tepat dihari wisudanya Nadia, Dimas berencana mengungkapkan perasaannya kepada Nadia disebuah pantai. Dia sudah menyiapkan semuanya, mulai dari dekor dan mentalnya.
Dimas tersenyum dikala melihat kedatangan Nadia bersama Melody.
Terus terang saja, jantung Dimas kala itu berdetak sangat kencang. Dia berjongkok didepan Nadia, dengan cincin berada disaku jasnya.
"Aku tidak romantis seperti laki-laki diluar sana, tapi kali ini aku mohon, ijinkan aku mengungkapkan rasa ku. Aku mencintai mu, apakah kamu mau menjalin kasih denganku?" Dimas menatap Nadia dengan penuh harap. Dia mengeluarkan cincin berlian dari saku jasnya. Nadia diam, dia melirik Melody yang berdiri tidak jauh darinya.
Bibir Melody tersenyum, dia menyerahkan semua keputusan kepada Nadia.
"Maaf, tapi aku hanya menganggap kamu sebagai abang ku, tidak lebih." Nadia berlari pergi dari hadapan Dimas dan Melody. Angin sore itu, meniup gaun putih yang dia kenakan.
Dimas berdiri dari posisi jongkoknya, dia terlihat frustasi.
"Bukankah cinta dan rasa sakit itu satu paket? Abang berani jatuh cinta sama Nadia, berarti Abang harus berani menelan pahitnya penolakan, atau manisnya penerimaan." Melody tersenyum lembut kepada Dimas, lalu setelahnya dia pergi mengejar Nadia.
"Arg..." Dimas melempar cincin yang berada digenggaman tangannya ke tengah-tengah pantai*.
Flash back off.
"Andai kamu tidak menolakku dulu, mungkin kita sudah bahagia sekarang." Dimas menatap wajah Nadia, dia kira saat Melody mengabarinya bahwa Nadia akan segera menikah, dia menikah dengan Danil. Ternyata tebakannya salah.
"Mungkin takdirku bukan bersama Abang." Nadia mencoba tersenyum kepada Dimas.
"Aku kira kamu dulu menikah dengan Danil, ternyata...."
"Danil tidak pulang, aku kira dia menatap diluar negeri. Sepertinya ini takdirku, mencintai tanpa pernah dicintai." Bibir Nadia tersenyum kecut. Cintanya kepada Danil bertepuk sebelah tangan, dan hal itu kembali terulang kembali. Cintanya kepada Rehan harus dia kubur dalam-dalam.