NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.

Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertarungan Round Robin

Pertanyaan Vino yang menuntut cara penunjukan pemimpin yang adil dan efisien telah membungkam Tino, Raka, dan Nanda. Mereka bertiga saling pandang—tidak ada yang berani mengambil risiko mengusulkan kembali ide yang hanya menguntungkan wilayahnya sendiri setelah dipermalukan oleh Misca dan diuji oleh Vino.

Misca tetap duduk. Tubuhnya tegak, namun pandangannya tidak lagi tertuju pada tiga pemimpin di depannya. Misca melihat sekeliling ruangan—pada dinding gudang yang retak, pada tumpukan ban bekas yang berbau karet terbakar, pada bayangan dirinya dan teman-temannya yang memanjang di lantai beton.

Misca tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Ia bukan hanya memikirkan solusi, tetapi ia bergulat dengan keputusan yang lebih besar—keputusan yang membawanya ke posisi ini. Ia benci kekacauan. Ia benci konflik yang tidak efisien. Ia benci menjadi pusat perhatian yang membuat semua mata tertuju padanya.

Namun, di saat Jeka memohon bantuan dengan mata yang hampir berkaca-kaca, di saat Vino membutuhkannya dengan kesetiaan yang tak tergoyahkan, Misca tahu bahwa harga dari ketentraman adalah pengorbanan dirinya.

Jika ia bisa menjadi perisai bagi mereka, jika ia bisa mengakhiri siklus kekerasan ini dengan dirinya sendiri sebagai tumbal, maka ia harus melakukannya.

Ia menerima beban ini—bukan sebagai pemimpin yang haus kekuasaan, tetapi sebagai seorang sahabat yang tidak bisa melihat orang-orang terdekatnya terluka.

Setelah keheningan yang terasa seperti berjam-jam—padahal baru dua menit—Misca perlahan mengangkat tangannya dari meja. Ia menoleh ke arah tiga pemimpin wilayah dengan tatapan yang kini tenang, namun tegas—tatapan seseorang yang telah mengambil keputusan yang tidak bisa diubah.

"Kalian ingin solusi yang adil dan efisien," ucap Misca, suaranya pelan, mengalihkan seluruh fokus ruangan ke dirinya tanpa perlu berteriak.

Tino, Raka, dan Nanda mengangguk—serempak, hampir seperti gerakan yang dikoordinasi. Mereka menunggu.

"Solusi yang paling cepat dan paling sedikit menimbulkan korban," lanjut Misca, suaranya meninggi sedikit—cukup untuk memenuhi gudang yang luas ini. "Itu adalah pertarungan yang adil dan terpusat."

Misca berdiri. Gerakan kecil itu membuat Tino, Raka, dan Nanda merasa terintimidasi—seperti terdakwa yang melihat hakim berdiri untuk menjatuhkan vonis.

"Kita tidak akan adu voting yang bisa dibeli. Kita tidak akan adu tes otak yang hasilnya bisa didiskreditkan. Kita akan kembali ke prinsip paling dasar yang bisa diterima oleh semua wilayah—kekuatan," ujar Misca.

Nanda mulai menyeringai lebar, mengira Misca setuju dengan usulannya tentang adu fisik massal.

Tapi Misca memotong seringai Nanda sebelum tumbuh sempurna. "Bukan adu geng. Bukan adu pengikut. Bukan keributan di jalanan yang merugikan warga. Tapi pertarungan satu lawan satu antara empat pemimpin wilayah yang duduk di meja ini."

Gudang itu meledak dalam bisikan terkejut. Semua pengikut dari ketiga wilayah, yang tadinya tegang dan siap berkelahi, kini saling bertukar pandang penuh keterkejutan—bahkan ketakutan.

"Duel?" tanya Tino, menggeser kursinya dengan bunyi gesekan logam yang keras. Cengengesannya kembali, tapi kali ini penuh pertimbangan—perhitungan cepat di otaknya. Duel antar ketua adalah ide gila, namun cepat dan efisien.

Raka mendadak kehilangan sifat cerewetnya. Dia menatap Misca, lalu menatap Vino dan Jeka dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran antara kagum dan takut.

"Satu lawan satu?" Nanda mengulang, wajahnya yang tadinya marah kini dihiasi kebingungan yang bercampur kegembiraan. "Kamu mau duel sama aku, adik manis? Kamu yakin?"

Misca mengangguk, tanpa gentar—tanpa keraguan sedikitpun. "Pertarungan Round Robin. Setiap ketua akan melawan ketua lainnya. Total tiga pertarungan per orang. Ketua dengan jumlah kemenangan terbanyak, atau yang terakhir bertahan dalam keadaan layak memimpin, akan diakui oleh empat wilayah. Itu adil. Itu menguji kekuatan fisik, stamina, strategi, dan kemauan."

Misca menatap Nanda dengan tatapan yang tidak berkedip. "Kamu bilang mau adu fisik, Nanda. Ini kesempatanmu untuk membuktikan disiplin dan kontrol yang aku pertanyakan tadi. Buktikan kalau kamu layak menang."

Misca menatap Tino. "Kamu bilang mau adu kekuatan. Buktikan kalau kekuatan wilayah Timur bukan cuma omong kosong di atas kertas."

Misca menatap Raka. "Kamu bilang mau adu strategi dan otak. Duel satu lawan satu adalah strategi paling murni. Kamu harus tahu kapan menyerang, kapan bertahan, dan bagaimana mengakhiri pertarungan dengan cepat tanpa menguras energi untuk lawan berikutnya."

Jeka hanya bisa menatap Misca dengan ekspresi yang sulit dijelaskan—perpaduan antara keterkejutan dan keputusasaan. Misca baru saja memilih jalur paling berbahaya—jalur yang Jeka ingin ia hindari dengan segala cara.

Jeka tahu Misca kuat—ia pernah melihat sekilas kemampuan Misca saat insiden di belakang gedung olahraga tahun lalu. Tapi ia tidak pernah ingin Misca mempertaruhkan dirinya di arena terbuka melawan tiga petarung yang sudah jelas brutal.

"Misca! Apa yang kamu lakukan?" bisik Jeka, tangannya gemetar—gemetar karena marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi Misca dari keputusan berbahaya ini.

Misca tidak menoleh ke Jeka, tetapi Vino, yang berdiri di sisi kirinya, kini tersenyum tipis—senyum persetujuan yang tulus. Vino tahu, ini adalah Misca yang sebenarnya. Misca yang paling efisien, yang memilih cara paling logis untuk mencapai hasil maksimal dengan korban minimal.

Duel berarti mereka bisa mengeliminasi keributan massal yang akan membuat warga ketakutan. Misca hanya perlu fokus pada tiga lawan. Dan Vino percaya pada Misca—percaya dengan cara yang hampir buta, tapi bukan karena bodoh, melainkan karena ia sudah melihat kemampuan Misca yang sesungguhnya.

Nanda berdiri dengan gerakan cepat—kursinya berderit keras. "Aku setuju! Itu adil. Nggak ada alasan buat aku nggak setuju. Aku akan tunjukkin siapa yang paling layak memimpin dengan darah dan keringat!"

Tino melirik Nanda, lalu kembali ke Misca. Dia melihat ketenangan Misca—ketenangan yang tidak natural, ketenangan yang hanya dimiliki oleh orang yang sudah siap mati atau orang yang sangat yakin akan kemenangan. Tino tahu, Misca bukan petarung sembarangan. Namun, Tino juga percaya pada skill-nya sendiri—skill yang ia asah di jalanan sejak SMP.

"Well, Utara. Kamu lumayan berani." Tino menyeringai—seringai yang lebih mirip tantangan. "Aku terima tantanganmu. Tapi, kita nggak bertarung di sini. Tempat harus netral, adil bagi semua. Nggak ada yang punya home advantage."

Raka menghela napas panjang, tampaknya memikirkan kemungkinan strategi yang harus ia susun dalam satu bulan ke depan—perhitungan probabilitas, analisis kekuatan lawan, pemetaan titik lemah. "Oke. Duel. Aku juga setuju. Tapi aku butuh waktu persiapan yang cukup."

Kesepakatan Akhir

Pertemuan yang tadinya memanas kini menuju titik akhirnya dengan kesepakatan yang mengejutkan—kesepakatan yang tidak ada yang bayangkan saat mereka datang ke gudang ini.

"Bagus," kata Misca, mengangguk sekali dengan gerakan tegas. "Kita sepakat. Pertarungan satu lawan satu antar ketua. Waktu: Satu bulan dari sekarang. Cukup waktu bagi semua untuk mempersiapkan diri—latihan, strategi, dan mental."

"Tempatnya?" tanya Vino, suaranya kembali ke nada normal—tidak lagi mengandung ancaman.

"Kita gunakan Bekas Pabrik Baja di perbatasan selatan-barat. Daerah itu netral. Tidak ada yang berani mengklaimnya karena terlalu terpencil dan berbahaya," usul Nanda, nadanya sudah berubah dari provokatif menjadi seorang peserta kompetisi yang serius.

Tino dan Raka setuju dengan anggukan cepat. Jeka hanya bisa mengamati dalam diam—seperti orang yang melihat kecelakaan terjadi di depan matanya tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikannya.

Misca berhasil mengubah kekacauan menjadi pertandingan yang terstruktur—pertandingan dengan aturan yang jelas, dengan waktu yang pasti, dengan hasil yang final.

"Satu bulan dari sekarang," ucap Misca, mengunci kesepakatan itu dengan Nanda, Tino, dan Raka—suaranya datar tapi mengandung janji yang tidak bisa dibatalkan. "Perjanjian harus dihormati. Siapa pun yang menang, dialah ketua empat wilayah. Tidak ada pembalasan dendam setelahnya. Tidak ada perang lanjutan. Yang kalah harus mendukung yang menang. Itu final."

Tiga pemimpin wilayah mengangguk—setuju dengan syarat yang jelas dan tidak bisa dibantah.

Ancaman Baru

Saat Tino, Raka, dan Nanda mulai bangkit dari kursi mereka, memberikan isyarat kepada pengikut masing-masing untuk bersiap pergi, Raka tiba-tiba berhenti. Ekspresinya yang tadinya sibuk menghitung strategi kini berubah menjadi gelap dan serius—serius dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.

Ia menoleh ke Misca, Nanda, dan Tino. "Tunggu sebentar. Ada satu hal lagi yang harus aku sampaikan, dan ini lebih serius dari duel kita."

Semua orang terdiam. Raka jarang sekali serius tanpa embel-embel cerewet—dan itu membuat semua orang waspada.

"Beberapa hari terakhir, ada laporan dari perbatasan luar Wilayah Barat." Raka menarik napas dalam, seperti sedang menyiapkan mental untuk mengatakan sesuatu yang berat. "Ada geng baru yang bergerak. Mereka bukan dari daerah kita. Mereka beringas. Mereka tidak memalak atau mengganggu warga biasa, tapi mereka menyerang geng-geng kecil tanpa ampun—membantai, menghancurkan, tidak meninggalkan apa-apa. Mereka mengambil alih teritori dengan cepat dan brutal."

Raka menelan ludah—gerakan yang menunjukkan bahwa ia sendiri ketakutan dengan informasi ini. "Wilayah mereka jauh, tapi pergerakan mereka cepat. Yang paling ditakutkan adalah... geng itu mulai bergerak ke arah kawasan kita. Kalau mereka masuk sebelum kita punya ketua resmi, kita semua akan hancur satu per satu tanpa bisa melawan."

Nanda mendengus—tapi tidak sekeras biasanya. Ada keraguan di sana. "Paling-paling cuma geng musiman. Kamu terlalu penakut, Raka."

Raka menggeleng keras—gerakan yang sangat jarang ia lakukan dengan keyakinan penuh. "Tidak, Nanda. Aku serius. Mereka punya kode etik yang aneh dan cara bertarung yang brutal—bukan bertarung jalanan biasa. Mereka terlatih. Mereka terorganisir. Mereka menyebut diri mereka 'The Phantom'. Dan aku khawatir, kalau duel ini kelamaan, kita nggak akan sempat punya ketua untuk menghadapi mereka."

Misca, yang sedari tadi tenang, kini menunjukkan ketertarikan—matanya menyipit sedikit, tanda bahwa otaknya mulai bekerja menganalisis ancaman baru ini. Ia mendengar nama "The Phantom" dengan seksama—nama yang terdengar seperti mitos, tapi cara Raka mengatakannya menunjukkan bahwa ini bukan mitos.

Ini adalah kekacauan eksternal yang jauh lebih besar daripada begal atau preman lokal. Ini adalah ancaman yang bisa menghancurkan empat wilayah sekaligus jika mereka tidak bersatu.

Pertemuan yang harusnya berakhir dengan kepastian kini ditutup dengan ancaman yang tidak pasti—bayangan gelap yang mengintai dari luar, menunggu momen yang tepat untuk menyerang saat mereka semua lemah.

"Satu bulan," ucap Misca, mengulangi batas waktu itu—kini dengan makna yang jauh lebih dalam, lebih mendesak. "Kita harus selesaikan ini dalam satu bulan. Tidak ada penundaan. Tidak ada drama tambahan. Duel terjadi tepat waktu, atau kita semua mati bersama-sama."

Tino, Raka, dan Nanda mengangguk—lebih serius dari sebelumnya. Mereka berbalik dan bergegas meninggalkan gudang, diikuti pengikut mereka yang bergerak dalam formasi cepat dan waspada.

Suara deru motor mereka kembali meraung—menggelegar di malam yang dingin—lalu menghilang di kegelapan, meninggalkan jejak asap knalpot yang perlahan disapu angin.

Sendirian di Gudang Kosong

Misca, Jeka, dan Vino kini sendirian di gudang—di tengah meja bundar yang menjadi saksi kesepakatan berbahaya itu.

Jeka menatap Misca dengan tatapan bertanya yang penuh kekhawatiran. Vino hanya menatap pintu yang kini kosong dengan ekspresi waspada—seperti mengharapkan musuh tiba-tiba muncul kembali.

Misca tidak bergerak. Ia hanya menatap ke arah pintu yang sekarang tertutup—pintu yang memisahkan mereka dari dunia luar yang penuh ancaman.

Suara deru motor Nanda, Tino, dan Raka perlahan hilang ditelan keheningan malam. Gudang itu kini terasa dua kali lipat lebih besar dan lebih dingin. Hanya Misca, Vino, dan Jeka yang tersisa—tiga remaja yang baru saja membuat keputusan yang bisa mengubah hidup mereka selamanya.

Atau mengakhirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!