Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PpM 22
Mia mengangkat wajahnya perlahan, matanya sembab, suaranya nyaris tak terdengar.
“Kalau Umi di posisiku… Umi sanggup bertahan?”
Ibunya menarik napas panjang, seakan mengumpulkan kenangan yang tak pernah benar-benar hilang. Tatapannya jatuh lembut pada Mia.
“Neng… rumah tangga Umi dan Abah juga tidak luput dari ujian,” ujarnya pelan.
“Umi memilih tawakal, pasrah sama Allah. Alhamdulillah, akhirnya bisa sampai sejauh ini. Kalau semuanya diceritakan habis aor mata Umi…” Ibunya tersenyum pahit.
Mia memeluk ibunya lebih erat, seolah tak ingin melepaskan satu-satunya sandaran yang ia punya.
“Kenapa ya, Mi… laki-laki diciptakan cuma untuk menyakiti?” gumamnya lirih, suaranya pecah di akhir kalimat.
Ibunya mengelus rambut Mia, lalu mengangkat wajah putrinya dengan lembut.
“Sabar… pasti ada hikmahnya,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
“Sudah, hapus air matamu. Kamu harus kuat. Malu nanti dilihat Abah cantik cantik kok cengeng ”
Ia terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana.
Mia ikut tersenyum samar, meski matanya masih basah. Ia tahu di balik senyum itu, ibunya memahami betul rasa sakit yang sedang ia bawa.
Abah berdiri di ambang pintu kamar, masih mengenakan sarung dan kaus rumah. Wajahnya tampak heran melihat Mia berada di rumah pada jam kerja.
“Mia tumben kamu di sini? Nggak ke kantor?” tanyanya ringan.
Mia bangkit mendekat, menunduk, lalu mencium tangan Abahnya dengan takzim.
“Enggak, Bah Neng kangen sama Abah dan Umi, makanya Mia ambil cuti,” ujarnya pelan sebuah kebohongan kecil yang ia ucapkan demi menunda luka.
Abah menatapnya sesaat, seolah ingin memastikan sesuatu.
“Betul?” tanyanya singkat.
Sebelum Mia sempat menjawab, Ibunya melirik Abah lalu memberi kode halus dengan gerakan mata. Abah mengangguk pelan, paham tanpa perlu penjelasan.
“Ya sudah, istirahat dulu. Kelihatannya kamu capek,” ujar Abah akhirnya.
Mereka berdua pun melangkah pergi, meninggalkan Mia sendirian di kamar masa kecilnya kamar yang kini kembali menjadi tempat paling aman, sekaligus paling jujur untuk air matanya.
Hari itu Mia berbaring di ranjang lamanya. , lemari kayu tua, dan suara kipas angin yang berdecit pelan semuanya seperti menyambutnya pulang setelah perang panjang. Ia menatap langit-langit, mencoba mengatur napas. Di rumah ini, ia boleh rapuh tanpa harus menjelaskan apa pun.
Ponselnya bergetar sekali. Nama Johan muncul di layar. Mia memejamkan mata, membiarkannya bergetar hingga hening. Tak lama, satu pesan masuk lagi, lalu satu lagi. Mia tidak membuka. Ia menggeser ponsel ke sisi ranjang, seolah menyingkirkan luka agar tak menyentuhnya lagi .
Makan malam berlangsung dalam hening yang canggung. Sendok beradu dengan piring terdengar lebih nyaring dari biasanya. Abah beberapa kali menatap Mia bukan tatapan biasa yang penuh canda, melainkan tatapan yang dalam, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat. Mia jadi salah tingkah. Tangannya sempat berhenti di udara, lalu ia memaksa tersenyum kecil dan kembali menyuap, pura-pura tak menyadari apa pun.
Ia yakin, Umi sudah bercerita. Keyakinan itu membuat dadanya sesak. Ada dorongan kuat untuk merangsek ke pelukan Abah, mengadu, menumpahkan semua yang selama ini ia tahan. Tapi pesan Umi terngiang agar ia menjadi pribadi yang lebih tegar, . Mia menelan ludah, menegakkan punggung, menahan air mata yang nyaris jatuh. Ia memilih diam, memilih bertahan di kursinya.
Abah akhirnya berdehem pelan.
“Makan yang banyak,” katanya singkat, suaranya terdengar lebih lembut dari kata-katanya. Mia mengangguk, senyum tipis terbit dengan susah payah. Di meja makan itu, tak ada pengakuan, tak ada pertanyaan. Hanya tiga orang yang saling memahami lewat diam dan seorang anak perempuan yang belajar kuat di hadapan orang-orang yang paling ia cintai.
Malam kian larut. Rumah sudah lebih sepi Umi membereskan dapur, kakaknya sudah pamit dari siang. Mia duduk di kamar, memeluk lutut di tepi ranjang, menatap kosong dinding yang penuh foto lama foto dirinya kecil, foto wisuda, foto pernikahan yang kini terasa asing.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
“Mia,” suara Abah rendah, tertahan.
“Iya, Bah.”
Abah masuk dan duduk di kursi dekat jendela. Tidak langsung bicara. Hanya menarik napas panjang, seperti sedang mengumpulkan kata-kata agar tak melukai.
“Abah nggak tanya banyak,” ujarnya akhirnya. “Abah cuma mau kamu tahu… Abah tidak melarangmu datang kerumah ini.. tapi pergi tanpa izin suamimu itu tidak di benarkan Neng. "
Mia menunduk. Tangannya gemetar.
“Aku terpaksa Abah,” katanya lirih.
Abah menggeleng pelan.
“Abah tahu, , abah hanya ingin kamu tahu apa yang tidak boleh setelah kamu jadi istri."Tatapannya tegas, tapi hangat.
“Pasti Umi sudah cerita bagaimana saat awal Umi dan abah menikah, cobaan Umi lebih berat dari kamu. ”
"Tapi apa? Umi bertahan dan hasilnya? Alhamdullilah kami masih bersama sampai bisa melihat cucu, kamu harus belajar Umi. "
Air mata Mia jatuh tanpa suara. Untuk pertama kalinya sejak pagi, dadanya terasa sedikit longgar. Di luar kamar, malam menutup hari yang panjang dan membuka satu bab baru.
Pagi datang pelan di rumah itu. Azan subuh baru saja reda ketika Mia terbangun. Udara dingin menyusup dari jendela yang sedikit terbuka. Tidurnya tanpa mimpi tanpa suara Johan, tanpa bayangan Bandung..
Di dapur, Umi sudah lebih dulu bangun.
“Sudah bangun, Neng?” tanyanya lembut.
Mia mengangguk dan membantu menyiapkan sarapan sederhana. Tidak banyak bicara, tapi gerakan mereka selaras, seperti dulu sebelum Mia menikah. Ada kehangatan yang tidak menuntut penjelasan.
Setelah sarapan, Mia masuk ke kamar dan berkemas untuk berangkat kerja. Gerakannya rapi, terkontrol bukan karena ia baik-baik saja, tapi karena ia memilih tidak runtuh pagi itu. Ia mengganti blus, merapikan rambut di depan cermin, lalu menatap bayangannya sendiri sejenak. Wajahnya masih sembab, tapi matanya sudah berbeda lebih dingin, lebih waspada.
Di teras, Abah duduk membaca koran. Saat Mia melintas, Abah menurunkan korannya sedikit.
“Kmau mau kemana?” tanyanya tenang, seolah itu bukan pertanyaan.
Mia berhenti.
“Kekantor Bah… Abah Neng di sini dulu?”
Abah mengangguk pelan.
“Boleh sampai suamimu menjemput kamu.”
Kalimat itu sederhana, tapi membuat dada Mia mengencang. Ia mengiyakan tanpa membantah. Bukan karena setuju melainkan karena ia tahu, di rumah ini, semua keputusan besar tidak diambil dengan emosi. Mia mencium tangan Abah dan Umi, lalu melangkah keluar. Di depan pagar, ia menarik napas panjang sebelum menyalakan ponsel. Ada belasan pesan tak terbaca dari Johan.
Mia tidak membukanya. Belum.
Hari ini, ia memilih bekerja dan membiarkan Johan menunggu.
Di perjalanan menuju kantor, Mia duduk diam di kursi penumpang transportasi online. Pemandangan jalan pagi berlalu seperti film tanpa suara. Ponselnya bergetar lagi nama Johan muncul di layar. Mia menatapnya beberapa detik, lalu mematikan layar. Bukan karena ia takut membaca, tapi karena ia tidak ingin reaksinya dipakai sebagai pegangan oleh Johan. Diamnya hari ini adalah batas.
Sesampainya di kantor, Mia langsung tenggelam dalam pekerjaan. Ia menyapa rekan-rekannya seperlunya, profesional, rapi, seperti Mia yang mereka kenal. Tidak ada yang tahu semalam ia meninggalkan rumah dengan dnegan perasaan hancur . Rina sempat menatapnya lama dari seberang meja, menangkap ada yang berubah, tapi Mia hanya mengangguk kecil kode bahwa ia belum siap bicara.