NovelToon NovelToon
Ketulusan Yang Nyata

Ketulusan Yang Nyata

Status: tamat
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: dtf_firiya

Freya Rodriguez seorang wanita cantik anggun dan dewasa dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria misterius yang dingin bahkan tak seorangpun tau kehidupannya dengan jelas. Pria itu bernama Pablo Xander seorang pria yang hidup sendirian setelah kakeknya meninggal, kakeknya menjodohkan dia dengan freya yang mau tak mau harus menurut karena kakeknya adalah kesayanganya.

_
Tanpa disadari mereka berdua telah saling mencintai satu sama lain setelah pertemuan pertama. Freya yang menerima semua kekurangan Pablo begitupun sebaliknya membuat mereka berdua sangat bahagia dengan keluarga kecilnya bersama dengan anak Pablo yang selama ini di rahasiakan dari publik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Princess

Pagi di Manhattan biasanya dimulai dengan hiruk-pikuk klakson dan langkah kaki terburu-buru para pekerja di trotoar beton. Namun, di balik dinding kokoh mansion Xander yang terisolasi dari kebisingan kota, pagi hari adalah sebuah simfoni ketenangan yang telah dirancang sedemikian rupa oleh Freya. Sejak Alessia lahir, ritual pagi keluarga ini telah berubah dari rutinitas korporat yang kaku menjadi momen paling berharga yang tak boleh diganggu gugat.

Sinar matahari musim semi yang keemasan menyusup malu-malu melalui celah tirai sutra di kamar utama. Cahaya itu jatuh tepat di wajah Pablo, yang anehnya, tidak terbangun oleh alarm ponsel, melainkan oleh tarikan lembut pada helai rambutnya.

Pablo membuka mata perlahan, menemukan wajah mungil Alessia yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari hidungnya. Bayi perempuan itu rupanya sudah bangun lebih awal dan telah "dipindahkan" oleh Freya dari boks bayinya ke tengah tempat tidur besar mereka. Alessia menatap ayahnya dengan mata bulat yang cerdas, jemari mungilnya menggenggam erat telunjuk Pablo.

"Selamat pagi, Princess," suara Pablo serak, khas orang yang baru terjaga, namun penuh dengan kelembutan yang hanya ia tunjukkan di dalam kamar ini.

Freya, yang baru saja keluar dari walk-in closet dengan mengenakan jubah sutra berwarna salem, tersenyum melihat pemandangan itu. "Dia sudah merindukan ayahnya sejak pukul enam tadi, Pablo. Dia tidak berhenti menendang-nendang boksnya sampai aku membawanya kemari."

Pablo duduk bersandar pada tumpukan bantal, membiarkan Alessia merangkak di atas dadanya. Ia mencium puncak kepala putrinya yang beraroma sabun bayi dan bedak. "Dia tahu ayahnya punya jadwal rapat penting pagi ini, jadi dia ingin memastikan aku tidak lupa siapa bos yang sebenarnya di rumah ini."

Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk dengan ritme yang sudah sangat dikenal. Nael masuk dengan seragam sekolah yang sudah rapi—hasil didikan Freya agar ia belajar mandiri—meskipun dasinya masih sedikit miring. Di tangannya, ia membawa sebuah buku cerita bergambar.

"Boleh aku masuk?" tanya Nael sopan.

"Tentu saja, Jagoan," jawab Pablo.

Nael segera melompat ke sisi tempat tidur yang kosong, duduk di samping Alessia yang langsung menyambutnya dengan ocehan riang. "Mama, aku sudah menyiapkan tas sekolahku sendiri. Tapi aku butuh bantuan Ayah untuk mengencangkan ikat pinggang ini."

Pablo tertawa kecil, membantu putra sulungnya merapikan seragamnya. Inilah momen yang paling disukai Pablo: menjadi seorang ayah yang dibutuhkan untuk hal-hal sederhana, bukan hanya untuk keputusan bisnis bernilai jutaan dolar.

...----------------...

Keluarga itu kemudian turun ke ruang sarapan kecil yang menghadap langsung ke taman belakang yang asri. Berbeda dengan ruang makan formal yang luas, ruangan ini lebih intim, dengan meja bundar yang memungkinkan mereka saling berdekatan.

Aroma kopi segar yang diseduh untuk Pablo dan Freya bercampur dengan wangi roti panggang dan gandum. Freya dengan cekatan menyiapkan mangkuk sereal untuk Nael dan potongan buah segar untuk Alessia yang kini duduk di kursi tingginya.

"Nael, apa rencana besarmu di sekolah hari ini?" tanya Freya sambil menuangkan jus jeruk.

"Hari ini ada kelas seni, Mama. Aku berencana melukis taman di Tuscany yang kita kunjungi kemarin. Aku ingin memberikannya pada Kakek Alan saat kita berkunjung nanti," jawab Nael dengan penuh semangat.

Pablo menyesap kopinya, menatap putranya dengan bangga. "Kakekmu akan sangat menyukainya. Tapi pastikan kau tidak menaruh terlalu banyak warna kuning, dia lebih suka warna hijau yang tenang."

Sementara itu, Alessia sedang sibuk dengan potongan pisangnya. Dengan tekad yang luar biasa, ia mencoba menjumput potongan pisang itu menggunakan jarinya, sebuah latihan koordinasi motorik yang membuatnya terlihat sangat serius. Saat berhasil memasukkannya ke mulut, ia bertepuk tangan sendiri, memicu tawa dari seluruh anggota keluarga.

...----------------...

Di tengah keceriaan anak-anak, ada komunikasi tanpa kata antara Pablo dan Freya. Genggaman tangan di bawah meja, atau tatapan mata yang penuh pengertian.

"Kau punya rapat dengan konsorsium Eropa pukul sepuluh nanti, bukan?" tanya Freya pelan.

"Ya," jawab Pablo, ekspresinya sedikit mengeras saat memikirkan urusan kantor, namun ia segera melembut saat menatap istrinya. "Tapi aku akan pastikan pulang sebelum Nael selesai latihan bola. Aku tidak ingin melewatkan gol pertamanya."

Freya mengangguk. "Aku juga akan berada di yayasan sebentar untuk meninjau program beasiswa baru. Tapi aku sudah meminta pengasuh untuk membawa Alessia ke kantor siang nanti agar aku bisa menyusuinya."

Pablo mengagumi bagaimana Freya mampu menyeimbangkan peran sebagai ibu yang penyayang dan pemimpin yayasan yang visioner. Sejak awal pernikahan mereka yang dimulai dari sebuah kontrak, Pablo tidak pernah menyangka bahwa ia akan menemukan mitra hidup yang begitu tangguh sekaligus lembut.

Persiapan Keberangkatan

Pukul delapan tepat, suasana mulai sedikit lebih sibuk. Sopir sudah memarkir mobil di depan untuk mengantar Nael ke sekolah. Nael mencium pipi Freya dan memberikan tos kepada Pablo.

"Hati-hati di sekolah, Sayang. Jangan lupa minum airmu," pesan Freya.

"Siap, Mama!" seru Nael sebelum berlari kecil menuju mobil.

Setelah Nael pergi, suasana menjadi sedikit lebih tenang. Tinggal Pablo, Freya, dan Alessia yang kini sudah mulai mengantuk kembali untuk tidur pagi keduanya. Pablo bangkit dari kursinya, merapikan jas gelapnya yang elegan, namun sebelum ia memakai jam tangannya, ia menghampiri Alessia.

Ia membungkuk, membisikkan sesuatu di telinga bayi itu yang membuat Alessia tersenyum dalam tidurnya. Pablo kemudian berbalik dan memeluk Freya. Pelukan yang lama dan erat, sebuah pertukaran energi sebelum mereka menghadapi "dunia luar" yang seringkali keras dan penuh intrik.

"Terima kasih untuk pagi yang indah ini, Freya," bisik Pablo di dekat telinga istrinya. "Ini adalah bahan bakarku untuk menghadapi orang-orang di dewan direksi."

Freya melepaskan pelukan itu dan merapikan dasi Pablo dengan jari-jarinya yang lentur. "Ingatlah, Pablo. Apapun yang terjadi di gedung perkantoran itu, istanamu yang sebenarnya ada di sini. Kami menunggumu pulang."

Pablo akhirnya melangkah keluar menuju limusinnya. Saat ia masuk ke dalam mobil, aura "Hiu Wall Street" itu kembali muncul; wajahnya menjadi tegas, matanya tajam, dan pikirannya mulai menghitung angka. Namun, jika ada yang melihat lebih dekat, ada seutas benang halus di saku jasnya—sebuah mainan kecil milik Alessia yang tanpa sengaja terbawa. Ia tidak membuangnya, melainkan menyimpannya dengan hati-hati di saku dalam, tepat di atas jantungnya.

Di dalam rumah, Freya masih berdiri di lobi, menatap pintu yang tertutup. Ia mendengar suara ocehan pelan Alessia dari lantai atas. Ia tahu hari ini akan panjang dan melelahkan, namun ia juga tahu bahwa pondasi yang mereka bangun setiap pagi di meja sarapan adalah sesuatu yang tak tergoyahkan.

Pagi di mansion Xander bukan hanya tentang makanan dan persiapan kerja. Ia adalah tentang penguatan ikatan, tentang janji-janji kecil yang diucapkan tanpa kata, dan tentang pengingat bahwa di balik segala kekuasaan dan harta Rodriguez-Xander, mereka hanyalah sebuah keluarga yang sedang berusaha menjaga kebahagiaan mereka tetap utuh di tengah badai dunia.

Satu jam kemudian, New York benar-benar bangun dengan segala kebisingannya, namun di dalam hati setiap anggota keluarga itu, ketenangan pagi tadi masih tersimpan rapi, siap menjadi pelindung hingga mereka bertemu kembali di jam makan malam nanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!