Rizar Abran Maulana seorang pria tampan dan sholeh sudah jatuh cinta kepada seorang wanita cantik yang dia temui di sebuah pesta tapi wanita itu tidak menyadarinya, hingga suatu saat sahabatnya ingin menjodohkannya dengan adik kandungnya sendiri yang ternyata adalah wanita yang selama ini Rizar cari.
Jihan Addara Puteri seorang wanita cantik yang merupakan seorang artis dan model papan atas, Jihan yang biasa dipanggil Darra tidak menyangka kalau hidupnya sangat menyedihkan, disaat pacar yang dia cintai mengkhianatinya dan selingkuh dengan sahabatnya sendiri, sekarang Darra harus menerima perjodohan dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal.
Akankah Rizar bisa membuat Darra jatuh cinta kepadanya dan menerima Rizar sebagai suami seutuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kapten Rizar
✈️
✈️
✈️
✈️
✈️
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, tibalah saatnya Darra dan artis serta para kru berangkat menuju China sebagai hadiah atas menangnya dalam acara penghargaan tempo hari.
Semuanya sudah masuk ke dalam pesawat yang saat ini di kendalikan oleh Kapten Roy dan Co-pilot Galih. Kebetulan tadi Galih datang sebelum Darra dan Amel sampai di Bandara jadi dia bisa cepat-cepat masuk ke dalam pesawat tanpa ketahuan.
"Mas Ri ga jadi ikut ya, Ra?" tanya Amel.
"Enggak, kayanya dia lagi sibuk. Ya sudahlah ga apa-apa," sahut Darra dengan lemasnya.
Sejujurnya Darra ingin sekali Rizar ikut dan Darra berjanji akan mengenalkan Rizar kepada semua krunya tapi kenyataannya Rizar ga bisa ikut.
Tapi tanpa Darra ketahui, Rizar sudah duduk manis di antara para penumpang lainnya. Rizar duduk dengan menggunakan topi dan kacamata hitamnya.
"Maaf, apa kamu penulis novel yang terkenal itu ya?" tanya Jeslin.
"Iya."
"Oh ya ampun, kenalkan namaku Jeslin."
"Eriska."
Jeslin begitu sangat antusias tapi berbeda halnya dengan Eriska yang tampak kesal mendengar Jeslin terus saja bicara.
Sementara itu di ruangan kokpit...
"Lih, Kapten Rizar ada di penerbangan ini ya?" tanya Kapten Roy.
"Iya Kapten, katanya mau kasih kejutan buat istrinya. Dasar tuh orang, pakai rahasia-rahasian segala punya istri cantik memangnya dia ga takut istrinya di ambil orang, secara kan sekarang ga ada yang tahu kalau Darra sudah menikah," sahut Galih.
Kapten Roy hanya terkekeh mendengar cerita Galih. Awalnya perjalanan berjalan dengan lancar, bahkan Galih dan Kapten Roy pun terlihat berbincang ringan dan sesekali bercanda bersama.
Kreeekkk...
Tiba-tiba kaca depan kokpit retak, membuat Kapten Roy mengerutkan keningnya.
"Kenapa kacanya bisa retak?" seru Kapten Roy.
Keadaan di dalam pesawat mulai tidak stabil, pesawat mulai terguncang dan Rizar hanya bisa melihat ke arah jendela.
"Kanapa ini?" seru Darra panik.
"Ga tahu Ra, aku takut," sahut Amel.
Darra dan Amel saling berpegangan tangan...
"Mohon maaf, penumpang sekalian di harapkan memakai sabuk pengaman dan apapun yang terjadi harap tenang dan jangan pernah melepas sabuk pengaman," seru Malla salah satu pramugari.
Semua kru pun mulai was-was, sudah di pastikan saat ini pesawat sedang mengalami turbulenci. Kapten Roy menyentuh retakan kaca itu tapi tiba-tiba...
Kraaakkkk...
Kacanya pecah dan tubuh Kapten Roy tersedot ke dalam pecahan kaca itu untunglah Galih segera menahan tubuh Kapten Roy.
"Kapteeeeennn!" teriak Galih.
Seketika keadaan begitu kacau, udara masuk ke dalam pesawat sehingga suasana di dalam pesawat kacau. Para pramugari terlempar, tapi mereka tetap berusaha untuk tetap bertahan.
Begitu pun dengan Darra dan yang lainnya sudah berteriak dan menangis karena merasa takut. Di dalam pesawat tambah kacau, Galih tidak bisa mengendalikan pesawatnya sementara dirinya harus memegang tubuh Kapten Roy yang setengah tubuhnya berada di luar pesawat.
Para kru di luar pesawat yang selalu memantau pesawat tampak panik melihat keadaan pesawat yang sudah mulai tidak stabil. Suasana sudah semakin kacau, Darra dan Amel saling berpelukkan dengan memejamkan mata saking takutnya.
Rizar sudah tidak bisa diam lagi, keadaan sudah tidak bisa terkendali sementara saat ini laju pesawat sudah tidak normal dengan kecepatan di atas rata-rata.
Rizar memerintahkan kepada pramugari supaya semua penumpang memakai masker oksigen. Rizar membawa tiga masker oksigen menuju ruangan kokpit.
Rizar dengan susah payah berdiri dan ingin menghampiri ruang kokpit. Setelah penuh perjuangan sampai di kokpit, Rizar menggedor pintu kokpit.
"Galih, buka pintunya ini Kapten Rizar!" teriak Rizar.
Galih yang memang sudah kesusahan akhirnya membuka pintu kokpit dan tangannya yang masih memegang tubuh Kapten Roy supaya tidak terlempar keluar, Galih dengan sekuat tenaga menarik tubuh Kapten Roy. Rizar segera memakai masker oksigen, kemudian Rizar juga memakaikannya kepada Galih dan kepada Kapten Roy yang sudah berhasil Galih tarik.
Rizar mulai mengendalikan pesawatnya dengan sekuat tenaga. Dia fokus, Rizar kemudian terdengar berbicara ke kantor pusat meminta izin untuk mengendalikan pesawat.
Sementara itu keadaan di dalam pesawat masih kacau, guncangan pesawat semakin keras. Semua penumpang sudah menangis dan pasrah jikalau ini adalah akhir dari kehidupan mereka.
"Ya Alloh selamatkan kami semua, Mas Rizar kamu dimana? Darra takut, maafkan Darra kalau Darra akan berakhir di pesawat ini," batin Darra dengan deraian airmata.
Pesawat kembali melewati awan hitam, membuat ketegangan seketika terjadi. Kru di kantor pusat yang mengawasi jalannya pesawat tampak khawatir dan cemas, semua orang sudah bersiap-siap jika kemungkinan terburuk akan terjadi.
Satu jam sudah Rizar berusaha mengendalikan pesawat itu, hingga akhirnya pesawat bisa melewati awan hitam dan suasana di dalam pesawat yang tadinya gelap kembali terang.
Rizar sudah tidak bisa melanjutkan perjalanannya lagi karena kondisi pesawat yang sudah tidak memungkinkan. Rizar berbicara ke kantor pusat, kalau dalam waktu tiga puluh menit, pesawat harus mendarat darurat di Hongkong Interntional Airport.
Kantor pusat menyetujuinya, setelah di konfirmasi semua kru yang berada di Hongkong Internasional Airport segera bersiap-siap menunggu kedatangan pesawat yang akan mendarat secara darurat.
"Kita akan mendarat darurat di Hongkong," seru Rizar.
Galih menganggukkan kepalanya, dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan sekuat tenaga Rizar mendaratkan pesawatnya.
"Ya Alloh, selamatkan kami semua. Banyak nyawa yang aku bawa, aku mohon selamatkan kami Ya Alloh. Bismillahirohmanirohim," batin Rizar.
Rizar menarik kendali, suara gesekan roda pesawat sangat nyaring dan membuat guncangan yang sangat keras.
"Ya Alloh, aku mohon berhentilah," batin Rizar.
Ajaib sekali, pesawat yang Rizar kendalikan mendarat dengan selamat. Galih menarik tubuh Kapten Roy yang sudah lemah dengan luka di wajahnya.
Semua penumpang membuka matanya termasuk para Pramugari yang semuanya meneteskan airmata, mereka semua menangis berjamaah saking terharunya.
"Ya Alloh Mel, kita selamat."
Darra dan Amel saling berpelukan dan semuanya tampak tersenyum dan bisa bernapas lega.
Rizar, Galih, dan Kapten Roy tampak terengah-engah saling pandang satu sama lain, hingga akhirnya mereka bertiga saling berjabat tangan dengan senyum penuh dengan haru. Rizar mengambil mikrofon....
"Para penumpang sekalian......."
Semua penumpang dan kru pesawat terdiam dan mendengarkan suara sang Kapten.
"Ra, kok itu kaya suara Mas Ri," seru Amel.
Darra tampak terdiam dan menajamkan pendengarannya.
"Disini Kapten Rizar yang berbicara, kita tidak berhasil tiba di China kali ini. Saya mohon maaf atas nama seluruh kru dan terima kasih telah memilih penerbangan xxx Airlines xxx...sampai jumpa."
Darra dan Amel saling pandang satu sama lain, Darra benar-benar terkejut. Apakah benar yang barusan bicara itu Rizar suaminya. Tiba-tiba bayangan mengenai Rizar muncul di otak Darra, mulai dari ponsel mahal Rizar, mobil mewah yang katanya milik Bosnya, bulan madu ke New Zealand, dan terakhir Rizar memberikan gaun mahal dari butik terkenal.
Airmata Darra kembali menetes, "Kenapa aku bisa sebodoh itu percaya dengan ucapan Mas Rizar? maksudnya apa dia sampai berbohong seperti itu?" batin Darra.
Berbeda dengan Eriska yang terlihat tersenyum mendengar suara Rizar.
"Jadi dia yang sudah bawa pesawatnya? ya ampun, aku bakalan peluk dia," batin Eriska dengan senyum-senyum sendiri.
Jeslin tampak terlihat mengerutkan keningnya melihat tingkah Eriska yang senyum-senyum sendiri.
Para Pramugari, mempersilakan semua penumpang untuk turun dan tidak lupa mereka meminta maaf atas insiden ini. Pihak maskapai berjanji, besok akan menyediakan pesawat baru untuk kembali membawa mereka ke tempat tujuan.
Tanpa di duga, semua penumpang yang kebanyakan artis dan ada wartawan juga mereka berkumpul di depan pesawat. Mereka tidak akan pergi sebelum bisa melihat siapa sosok Pilot yang sudah menyelamatkannya.
Darra hanya bisa diam saja menundukkan kepalanya, dia tidak siap melihat kenyataan yang sebenarnya.
"Zar, bagaimana ini? semua penumpang menunggu kamu," seru Galih.
"Sudah tidak apa-apa, lebih baik kita keluar kamu pantes di tunggu semua orang karena kamu sudah berhasil menyelamatkan nyawa mereka semua," sambung Kapten Roy.
Rizar tampak ragu-ragu, kejutan yang seharusnya dia susun dengan sangat baik harus gagal. Entah apa yang ada di otak Darra nantinya, apakah dia akan menerima Rizar dan memaafkannya atau malah sebaliknya Darra akan kecewa karena Rizar sudah menyembunyikan identitas yang sebenarnya selama ini.
"Ayo Rizar," ajak Galih.
Rizar pun bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan kokpit bersama Galih dan Kapten Roy. Para Pramugari sudah menunggu dan berjajar rapi menunggu ketiganya.
"Terima kasih Kapten Rizar," seru Malla.
"Anda adalah penyelamat kami," sambung Ajeng.
"Tidak, bukan aku yang menyelamatkan kalian tapi Alloh, aku hanya sebagai pelantaranya saja," sahut Rizar.
Semuanya pun keluar dari pesawat, membuat semua penumpang yang sudah menunggu menatap ke arah pintu keluar pesawat. Semua kru satu persatu-satu keluar dan berbaris.
"Untuk semuanya, maafkan saya karena saya tidak bisa mengendalikan pesawatnya dan tidak bisa membawa kalian semua ke tempat tujuan, sekali lagi saya atas nama pribadi meminta maaf," seru Kapten Roy membungkukkan badannya.
Semua penumpang tampak bertepuk tangan, mereka bukannya marah tapi mereka merasa bangga kepada Kapten Roy bahkan wajahnya terluka akibat kejadian ini. Kapten Roy akhirnya tidak bisa menahan airmatanya, ia terharu dengan tanggapan semua penumpang.
"Dan inilah, Pilot hebat yang sudah mendaratkan pesawatnya dengan sempurna. Kapten Rizar, keluarlah!" seru Kapten Roy.
Perlahan Rizar dan Galih pun keluar, Rizar memakai topinya dan menundukkan kepalanya.
"Ra, itu Mas Ri sama Mas Galih," seru Amel tidak percaya.
Rizar mengangkat kepalanya dan mencari keberadaan Darra, terlihat Darra sedang menatapnya dengan deraian airmata. Rizar bisa melihat ada kekecewaan di dalam sorot mata Darra.
"Bukannya itu pria yang malam itu bersama Darra?"
"Benarkan, pria itu seorang Pilot."
"Siapa ya dia? apa dia kekasihnya, Darra?"
Begitulah celetukkan-celetukkan yang keluar dari mulut para penumpang khususnya para wartawan yang memang akan haus berita.
Darra memilih berlari meninggalkan tempat itu...
"Ra, tunggu Ra!" teriak Rizar.
Rizar pun segera turun dan mengejar istrinya itu. Sedangkan Amel pun menatap ke arah Galih yang saat ini Galih pun sedang menatapnya.
✈️
✈️
✈️
✈️
✈️
Jangan nyinyir ya🙏🙏😁😁
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU