BERAWAL DARI SALAH KIRIM NOMOR, BERAKHIR DI PELAMINAN?!
Demi tes kesetiaan pacar sahabatnya, Dara (22) nekat kirim foto seksi sambil ngajak "kawin". Sayangnya, nomor yang dia goda itu BUKAN nomor pacar sahabatnya, tapi Antonio (32), Oom-nya Acha yang dingin, mapan, tapi... diam-diam sudah lama suka sama Dara!
Dara kabur ke pelosok desa, tapi Nio justru mengejar. Dara mencoba membatalkan, tapi Nio justru malah semakin serius.
Mampukah Dara menolak Om-om yang terlalu tampan, terlalu dewasa, dan terlalu bucin karena salah chat darinya ini?
Novel komedi tentang cinta yang beda usia 10 tahun. Yuk, gas dibaca. Biar tahu keseruan hidup Dara-Nio yang serba gedabak-gedebuk ini 🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ame_Rain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Kegalauan Dara
"Um, Bu, couple live nya harus sama cowok, ya?" tanya Dara.
Meski Nio tak pernah cemburu padanya—atau setidaknya itu yang Dara rasa, tetap saja dia khawatir suaminya tidak akan suka jika tahu dia bekerja dengan pria. Karena Dara yakin, ini bukan sekedar duet. Pasti akan ditambahkan scene-scene ala couple yang romantis dalam live itu, demi mendongkrak acara tersebut.
'Kalau lajang sama gadis, sih, enggak masalah. Lah gue kan udah punya laki,' batinnya.
"Enggak harus sebenarnya. Tapi kamu kan anggota baru, Dar. Dan Arkan itu Star Host kita disini, loh. Dia yang paling terkenal dan banyak peminatnya. Dan lagi, kalian berdua nampaknya cocok kalau disandingkan bersama. Jadi kenapa enggak?"
Dara jadi garuk-garuk tengkuk. Mampus lah dia ini.
Bu Manajer memanggil Arkan. Pria itu permisi dulu pada penontonnya, lalu menghampiri mereka.
"Arkan, ini ada anak baru. Jadi untuk sebulan ini, kamu dampingi dia. Dia masuk jam 08.00-17.00, kamu masuk jam 13.00-22.00. Jadi kalian punya beberapa jam waktu bareng nantinya."
Arkan mengangguk setuju. Lagipula dia tidak masalah membantu anggota baru yang mungkin belum terbiasa dengan pekerjaan sejenis ini. Tapi saat dia menoleh, matanya melebar. Dia merasa kenal dengan gadis itu—meskipun Dara terus menunduk.
"Loh, Dara?"
"Kalian saling kenal?" tanya Bu Manajer.
"Kami pernah satu sekolah dulu, waktu SMA. Iya kan, Dar?
Dara tak bisa mengelak lagi sekarang. Seorang Star Host disini saja menyapanya, masa dia yang anak baru pura-pura lupa. Tidak sopan sekali rasanya.
Dara pun akhirnya menatap pria itu.
"Hehe, iya Kak." katanya.
"Apa kabar?" Arkan menyodorkan tangan untuk bersalaman, "Lama enggak dengar kabar kamu."
Dara menerima uluran tangan itu.
"Baik, Kak. Kakak sendiri bagaimana?"
"Aku juga baik," Arkan tersenyum.
Bu manajer tersenyum. Melihat mereka yang saling mengenal, tampaknya tidak akan sulit lagi untuk memasangkan mereka kedepannya.
Arkan kemudian pamit untuk kembali menyapa penontonnya. Dia tidak bisa pergi lama-lama, bisa kabur penontonnya nanti.
"Dara," Bu Manajer kembali bicara, "Saya tahu kami sudah menikah, tapi di depan kamera kamu harus akting single, ya. Jangan bahas soal suami, biar penonton cowok tetap loyal sama kamu dan penonton cewek bisa nge-ship-in kamu sama Arkan." katanya.
Meski pernikahannya dengan Nio serba gedubrak-gedubruk, Dara memang tidak merahasiakan pernikahannya itu saat melamar pekerjaan. Takut jadi istri durhaka dia. Tapi kalau pekerjaan ini menuntutnya pura-pura single... bagaimana ini?
"Tapi, Bu..."
"Ah, suami kamu pasti ngerti. Lagipula ini kan cuma profesionalitas kerja, anggap aja kayak lagi main film. Kalau chemistry kamu sama Arkan bagus, pendapatan kamu juga makin bagus, loh." ujar sang manajer.
Dara hanya bisa tersenyum formalitas saja.
'Masalahnya suami gue enggak butuh-butuh banget sama duit ini, Bu. Gue yakin kalau dia tahu pekerjaan gue begini, dia pasti lebih milih gue jadi jelmaan kukang di atas kasur—tidur,' batinnya.
Karena hari ini dia baru menandatangani kontrak pekerjaan, jadi sekarang Dara diizinkan pulang dulu. Besok dia baru mulai bekerja.
Dara dan Nio sekarang sedang cuddle diatas kasur.
"Mas," panggil Dara.
"Iya, Sayangku." jawab Nio lembut.
Ser-ser-an dada Dara mendengar itu. Nio memang begitu, selalu memanggilnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Makanya Dara percaya bahwa Nio benar-benar mencintainya—meski tak tahu sejak kapan dan mengapa.
"Besok aku mulai kerja, ya." katanya.
Nia menghela napas pelan, semakin menarik istrinya dalam pelukan.
"Jam berapa kerjanya?"
"Jam 08.00-17.00," jawab Dara.
"Lama sekali itu, Sayang. Nanti kamu capek."
"Orang kantoran kan kerjanya gitu juga, Mas."
"Iya, tapi kan Mas enggak peduli sama yang lain. Mas peduli nya sama istri Mas, takut kamu kecapekan."
Ugh, bisa saja suaminya ini menggonjang-ganjing perasaan Dara. Jantung Dara jadi berdisko ria sekarang.
Apa ini karena efek perhatian yang Nio berikan, atau memang Dara mulai takluk oleh pesona suaminya?
'Masa iya gue secepet itu jatuh cinta? enggak-enggak, pasti ini cuma reaksi alami doang. Siapa sih yang enggak deg-degan kalau diperhatiin macam gini? iya, pasti gini.' batinnya.
Nio menatap istrinya yang diam saja.
"Kenapa?" tanyanya.
Dara menggeleng.
"Enggak apa-apa, Mas."
Nio semakin mengeratkan pelukannya pada Dara.
"Besok aku yang antar kamu kerja," bisiknya di puncak kepala Dara.
Dara tidak menolak, hanya mengangguk kecil saja.
"Jaga mata, jaga hati, jaga pikiran," nasihat Nio.
"Ih, Mas Nio bawel." ujar Dara, agak terkekeh.
Nio tersenyum mendengar suara istrinya.
"Yah, takut aja. Mas kan enggak tahu tempat kerja kamu gimana. Gimana kalau ternyata ada mantan pacar atau gebetan kamu disana?"
"Uhuk! uhuk!"
Dara sampai tersedak ludahnya sendiri mendengar itu. Loh, kok suaminya ini bisa tahu, sih???
***
Siapa yang satu tempat kerja sama mantan pacar atau mantan gebetan?
Gimana sih rasanya kalau gitu? wkwkwk.
Author jadi penasaran 🙈
Jangan lupa like, komen, subscribe, dan vote-nya, ya.
See you~