arif dan Erika sudah menikah selama 3 tahun. Namun, Erika harus melepaskan pernikahan dan orang yang sangat dia cintai karena arif lebih memilih sepupunya, Lanni. Arif Wistan berhutang budi pada Lanni Baswara karena telah menyelamatkan nyawanya hingga gadis itu jatuh koma selama 3 tahun. Dibalik sikap lemah lembutnya, tidak ada yang tahu apa yang telah direncanakan Lanni selama ini, kecuali Erika. Erika bertekad akan membalaskan dendamnya pada keduanya karena telah menghancurkan hidupnya. Ada apakah sebenarnya diantara mereka bertiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMBILAN
Erika tersenyum dan mengoreksinya, "Mantan istri."
Meskipun tampak tenang, Wisnu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Mantan istri?"
Erika mengulurkan tangannya. "Tuan Dikara, aku Ines. Senang berjumpa denganmu untuk pertama kalinya. Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik."
Meskipun dia sudah bertemu dengannya beberapa kali sebagai Nyonya Wistam, tetapi ini pertama kalinya dia bertemu dengannya sebagai Ines.
Wisnu menjabat tangannya, tetapi senyum di wajahnya masih tampak ragu. "Nona Ines, kenapa tiba-tiba bercerai?"
Cindy langsung merasa darahnya mendidih dan berkata, "Tuan Wistam adalah pria yang sangat serakali. Nona Ines..."
"Cindy..." Erika menyela dan menatapnya agar membuat dia berhenti membahas masalah pribadi.
Kemudian, dia berbalik melihat Wisnu dan berkata, "Tuan Dikara, aku tahu betapa pentingnya kasus ini bagi Grup Dikara. Oleh karena itu, aku tidak akan bermain-main dengannya. Kau mungkin tidak percaya dengan istri Tuan Wistam, Erika, tetapi kau tidak seharusnya meragukan Ines. Aku tidak punya alasan untuk menghancurkan reputasiku."
Wisnu sedikit menyipitkan matanya. Namun, dia segera terkekeh.
"Mengenai kasus ini, Gardan memiliki Vinno Satou di sisinya. Aku yakin tidak ada yang bisa membantuku untuk menang selain Nona Ines."
Vinno adalah seorang pengacara elit yang tidak pernah kalah di setiap kasusnya. Menyebut namanya saja akan menimbulkan ketakutan diantara pengacara lain. Selain itu, dia dan Gardan adalah teman dari kecil.
Beberapa orang bilang bahwa Vinno memiliki kemampuan sebagus Ines. Jadi, orang-orang tertarik melihat Vinno dan Ines akan berhadapan di pengadilan
Itulah sebabnya Wisnu melakukan semua yang dia bisa untuk membuat Ines mewakilinya di pengadilan.
Namun sekarang...
Dia dikejutkan oleh hal yang tidak terduga, tetapi itu membuat semuanya menjadi semakin menarik.
Cindy mengangguk dengan terkekeh. "Betul sekali, Tuan Dikara! Tidak ada gunanya mencari pengacara lain. Vinno adalah pengacara yang brilian. Oleh karena itu, selain Nona Ines, pengacara biasa tidak akan mampu melawannya. Jadi, Ines tidak punya alasan memata-mataimu untuk Tuan Wistan, bukan?"
Wisnu sedikit mengangguk dan tampak setuju dengan apa yang dikatakan Cindy. Namun, dia tampak tidak terburu-buru untuk mendiskusikan tentang bisnis. "Apa yang kau katakan masuk akal juga. Haruskah kita makan siang terlebih dahulu?"
Dia memanggil pelayan untuk membawa masuk makanannya. Lalu, dia dengan sopan memperkenalkan makanan dan juga wine kepada mereka.
Erika tidak menolak keramah-tamahannya dan mengambil alat makan. "Jika aku tahu kau seramah ini, dari dulu aku pasti akan meminta untuk bertemu denganmu."
Wisnu tersenyum. "Sebelumnya, aku selalu melihatmu bersama dengan Gardan dan tidak pernah punya kesempatan untuk bicara denganmu. Kau dan Gardan tampak seperti pasangan yang saling mencintai. Kenapa tiba-tiba bercerai?"
Lalu, Wisnu mengangkat segelas wine dan tersenyum. "Nona Ines, apa kau tidak ingin minum wine?"
"Tidak, wine tidak baik untuk kesehatan. Aku dengar kau punya masalah pencernaan. Mari kita nikmati makanannya saja."
Wisnu tersenyum dan menyiratkan sesuatu. "Aku tidak menyangka Nona Ines begitu 'perhatian' padaku dan tahu tentang masalah pencernaanku."
Erika berhenti makan sejenak dan tersenyum seperti biasa. Kemudian, dia melanjutkan makannya.
Setelah itu, dia tidak mengatakan apapun dan hanya fokus memakan makanannya. Dia makan dengan anggun dan tidak terlalu cepat maupun lambat.
Sementara itu, Wisnu makan dengan perlahan seolah-olah dirinya adalah seorang bangsawan.
Di sisi lain, Cindy sedang tidak mood untuk menikmati makanan.
Dia melihat sekilas ke arah Wisnu dari sudut matanya dan mulai khawatir. Kelihatannya, Wisnu masih belum percaya dengan kami.
Setelah Erika meletakkan alat makannya, Wisnu akhirnya melihat ke arahnya. "Aku cukup terkejut dengan pertemuan pertama kita."
Erika tersenyum, "Tidak masalah. Akan ada lebih banyak kejutan di masa depan."
Wisnu menaikkan alisnya, dan matanya berkilat dengan tertarik. "Aku menunggunya."
Tiba-tiba, Cindy berdeham. "Sepertinya makan malam kita hampir selesai. Bagaimana jika sekarang kita mendiskusikan kasusnya?"
Erika melihat Wisnu dengan tenang. "Aku sudah tahu secara spesifik tentang kasus ini dan aku yakin kalau kita bisa menang. Aku juga senang dengan biaya yang kau tawarkan, tetapi aku punya syarat tambahan."