Dia cinta pertama mu, kamu mencintai nya sepenuh hati tapi dia tidak mencintai mu? Selama 2 tahun kamu menjadi istrinya demi membayar hutang dan tidak dianggap? Lagi-lagi menikah karena kontrak?
Cukup! Aku ingin menyudahi semuanya. Begitulah kata Latisha Anindita seorang asisten manager di sebuah perusahaan Fashion ternama di ibu kota yang menikah dengan Raymond Argantara Presdir Argantara grup. Pria dingin yang pernah dia temui.
"Kak, aku mau cerai!"
"Cerai?Jangan mimpi! Bisa apa kamu tanpaku?"
Ketika meminta cerai, pria itu malah tak mau melepaskan nya dan mengikatnya dengan berbagai cara seolah ia adalah tahanan. Lalu kenapa dulu dia mengabaikan nya?
Apakah mereka akan bercerai? Ataukah cinta malah mereka malah semakin kuat?
Temukan jawaban nya di novel ini!
Area 18+
sumber gambar : pinterest
Update setiap hari,bila tidak ada halangan ❤️🙏 pukul 09.00 kalau ada chapter lebih, up sore pukul 2 siang
Mohon maaf bila ada typo dalam penulisan ataupun bahasa yang kurang tertata🙏😊 author juga manusia yang punya banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Keluarga?
...***...
Gadis itu menarik kakaknya ke tempat yang sepi dan jauh dari keramaian.
"Mau apa kakak kesini?" tanya Tisha dengan nada suara yang tajam
"Apa begini kamu bersikap pada kakak mu yang baru saja kamu temui setelah dua tahun lamanya? Tisha, kamu sombong sekali ya mentang-mentang sudah jadi istri orang kaya" Arya berkacak pinggang.
Apa ini yang namanya seorang kakak? apa ini yang namanya keluarga?. Tisha menatap kakak nya itu dengan mata yang sedih
"Kakak mau apa kesini? ini tempat kerjaku" tanya Tisha cemas melihat kesana kemari
"Kamu seperti nya tidak senang aku datang kemari? Kamu bersikap seolah-olah aku akan mengganggumu jika aku datang kemari?" tanya Arya sinis
"Iya, aku tau kakak bisa menggangguku di tempat kerja. Karena kakak selalu mengacau dimana pun aku berada" jelas Tisha kesal
"Sombong sekali ya kamu? Woy! aku ini kakak kamu!" Arya mendorong-dorong kening Tisha, seolah merendahkannya.
Tisha menepis tangan Arya yang mendorong-dorong kening Tisha dengan kesal.
"Hentikan ini kak! aku tanya intinya saja, mau apa kakak datang kemari?" tanya Tisha
Apa kakak datang kemari karena melihat konferensi pers di televisi? Jika itu benar, maka..
"Tentu saja karena aku merindukan adikku" jawab Arya tanpa perasaan, ia hanya tersenyum nakal.
"Rindu? Haha.. lucu sekali, kakak yang meninggalkan ku sendirian selama hampir tiga tahun lamanya, tiba-tiba datang kemari dan bilang rindu padaku?" Tisha memekik kecil
"Aku serius, aku rindu padamu adikku. Dan ibu juga merindukanmu" Arya memegang tangan Tisha
"Ibu juga disini?" tanya Tisha sedih
"Iya, kami sampai meminjam uang kesana kemari untuk bertemu denganmu. Kami juga tidak punya tempat tinggal" jelas Arya sambil tersenyum manis pada adiknya itu.
"Kenapa kakak mengatakan ini semua padaku?" tanya nya bingung
Bukankah aku sudah dilupakan oleh kalian? lalu kenapa kalian mengadu semua kesulitan kalian padaku?
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? tentu saja karena kita keluarga, kamu juga harus tau kesulitan keluarga kamu. Kakak dan ibu adalah keluarga mu yang tersisa, kamu harus memperlakukan kami dengan baik. Nah sekarang kami tidak punya tempat tinggal dan uang, kamu kan sudah jadi istri orang kaya, pasti mudah kan meminta itu dari suamimu?"
"Apa??! jadi ini tujuan kalian datang menemui ku? kalian ingin tempat tinggal dan uang?" tanya Tisha tercengang mendengar ocehan kakaknya tentang masalah ibu dan kakaknya. Tiba-tiba saja dia datang setelah hampir tiga tahun pada Tisha, seperti sedang memalak adiknya saja.
Tisha tersenyum pahit, ia memandang kakaknya dengan penuh kemarahan. Matanya berkaca-kaca melihat ke arah kakaknya, menahan air matanya untuk jatuh. Orang yang ia sebut keluarga, apa itu hanya nama depan nya saja? yang hanya memanfaatkan dirinya saja?
"Sudah sudah jangan menatapku begitu! kamu gak kasihan sama ibu? dia nunggu kamu di depan perusahaan ini, kami tidak punya tempat tinggal dan uang. Bagaimana kami bisa hidup? kamu sih enak sudah punya suami kaya" Arya menyindir Tisha
Gadis itu diam membeku dengan mata berkaca-kaca, sungguh kakak dan ibunya itu benar-benar luar biasa. Membuatnya kecewa dan sakit hati berkali-kali. Dengan mudahnya Arya mengatakan bahwa hidup Tisha enak karena sudah punya suami kaya? Hah! karena siapa Tisha harus menikah dengan Raymond? jika bukan karena ibu dan kedua kakaknya yang berhutang?
Karena siapa Tisha harus melupakan mimpinya sebagai desainer? jika bukan karena ibu dan kakaknya. Tisha dikejar kejar rentenir karena terlilit banyak hutang yang bahkan uangnya tidak pernah ia pakai dan ia tidak tahu menahu.
Keluarga yang dia miliki adalah penyebab penderitaan nya. Di satu sisi Tisha merasa bersyukur karena menikah dengan Raymond, tapi disisi lain Tisha tidak menyukai pernikahan kontrak mereka dan bagaimana cara mereka menikah.
Lalu dengan mudahnya Arya mengatakan kalau hidup Tisha itu enak? Tisha kesal bercampur sedih saat mendengar kakak nya bicara seperti itu. Ia bertanya-tanya dalam hatinya, apakah semua kakak dan seorang ibu memang seperti ini sikapnya pada putri mereka?
"Kakak, pergilah dari sini! aku sibuk" ucap Tisha mengusir kakaknya itu
"Apa? jadi kamu akan seperti ini? kami datang kemari karena kamu! demi kamu!" Arya memegang tangan Tisha seraya memohon pada adiknya itu
"Demi aku atau demi uangku?!" tanya Tisha dengan suara yang mulai meninggi
"Kalau kamu tidak memberikan kami tempat tinggal dan uang, aku akan masuk ke dalam dan menemui suami kamu itu" ancam Arya
"Kenapa kakak dan ibu selalu melakukan ini padaku? apa kalian tidak suka aku bahagia? aku ini adik kakak, aku juga anak ibu, kenapa kalian selalu saja seperti ini? aku pikir kalian sudah berubah dan merenungkan kesalahan kalian!" Tisha meledak dan marah pada kakaknya itu
"Kenapa pada keluarga mu sendiri kamu sangat pelit?!" Arya marah lalu memukul adiknya itu hingga Tisha terhempas ke lantai.
BUGH
Orang-orang yang lewat disana melihat ke arah Tisha dan Arya. Bahkan ada seorang satpam juga yang menghampiri Tisha, mengira ada keributan disana.
"Tisha.. maaf aku tidak sengaja.." Arya terlihat menarik bersalah sudah mendorong adiknya itu
Tidak! tidak ada keluarga yang seperti ini. Tisha memegang pipinya yang di pukul oleh Arya.
"Bu Latisha, apa anda baik-baik saja?" tanya satpam cemas, sambil membantu Tisha berdiri.
"Saya baik-baik saja pak" jawab Tisha
"Astagfirullah.. Bu Tisha pipi nya lebam, bibir Bu Tisha juga berdarah" ucap Pak satpam melihat ke arah wajah Tisha yang terluka.
"Tisha.. kakak gak sengaja" kata Arya
Aduh gimana nih? kalau si Tisha marah, dimana aku sama ibu akan tinggal? gimana kita akan dapat uang?. Arya kebingungan melihat adiknya yang marah
"Pak satpam, tolong usir dia dari sini!" seru Tisha sambil menatap tajam kakaknya itu
Aku lelah jadi orang baik, aku tidak mau jadi
lemah lagi.
Arya terperangah, ia tak menyangka kalau adiknya berani mengusirnya. Pak Satpam segera menarik kedua tangan Arya, untuk mengusirnya.
"Latisha! kamu sangat kejam! bagaimana bisa kamu melakukan hal ini pada kakak mu satu satunya?!" tanya Arya marah
"Pergi dari sini pak" kata Tisha kesal
"Tisha! aku tidak mau pergi! hey satpam busuk, lepaskan aku!" teriak Arya marah
"Ayo pak ikut saya, kalau bapak terus membuat keributan disini, saya akan bawa bapak ke pihak yang berwajib " ancam satpam pada Arya
"Pergi dari sini pak, atau aku akan melaporkan mu karena sudah memukulku!"
"Cih! merasa hebat kamu ya! sombong sekali kamu hah?!" Arya membentak adiknya itu. Tisha tak peduli, ia hanya diam saja dan memalingkan wajahnya.
Arya terus menggerutu, ia ditarik oleh satpam itu keluar dari kantor. Setelah yakin kalau Arya sudah pergi, Tisha meminta agar pak satpam itu merahasiakan kejadian yang ia lihat disana.
Tisha masuk ke dalam kantor, niatnya untuk makan siang di kantin tidak jadi ia lakukan. Tisha pergi ke toilet wanita untuk membersihkan luka di wajahnya.
"Ayo Tisha! kamu kuat! apa yang kamu lakukan itu sudah benar?" Tisha bercermin, ia melihat pipi sebelah kirinya lebam dan bibirnya juga memar. Tisha menangis sambil mengobati lukanya, dan menutupi lukanya.
Jam makan siang pun berakhir, Tisha kembali ke ruangan Presdir dengan memakai masker di mulutnya, dan memakai kacamata hitam.
"Kamu kenapa?" tanya Ray yang sedang duduk di meja
"Kenapa apanya?" tanya Tisha sambil duduk di mejanya
"Kenapa pakai masker dan kacamata? apa kamu seorang tunanetra?" tanya Ray sambil tersenyum tipis
"Apa?!" Tisha kesal
"Aku hanya bercanda, habisnya kamu aneh aneh saja " Ray tertawa kecil "Lalu kenapa kamu pakai itu?"
"Aku sedang flu" jawab Tisha cepat
"Apa flu juga harus sampai memakai kacamata? atau flu nya ada di mata?" tanya Ray penasaran
Kenapa dia aneh sekali?. Ray melihat Tisha dengan heran
"I..ini karena aku sedang sakit mata, kalau aku buka kacamata nya nanti kakak bisa tertular"
"Oh jadi kamu sakit mata juga ya? ya sudah, mana dokumen yang harus aku tandatangani itu. Bawa kemari!"
"Iya kak siap"
Tisha membawa dokumen yang sudah di print, pada Ray yang sedang duduk di mejanya. Ray menatap Tisha dengan penasaran. Lalu ia pun membuka maskeran dan kacamata Tisha dengan paksa.
"Ah! aku kan sudah bilang kalau aku sedang sakit mata!" Tisha segera menutupi wajahnya dengan kedua tangannya
"Sini aku lihat!"
"Tidak, nanti kakak tertular!" Tisha kekeh tak mau membuka tangan yang menutupi wajahnya itu
"Buka tanganmu atau mau aku paksa?!" ancamnya
"Tidak mau" jawab Tisha
Bagaimana ini kalau dia melihatnya, akan langsung ketahuan?
"Latisha Anindita!" Ray terpaksa menarik kedua tangan Tisha dengan paksa, meski wanita itu bersikeras menutupinya. Kini wajah Tisha yang membiru, bibir memar dan mata lebam itu terlihat jelas oleh Ray.
"Hey, kamu kenapa? Apa ada yang memukulmu?" tanya Ray cemas melihat wajah istri nya itu.
"Aku.." Tisha bingung
"Jangan bilang ini flu dan sakit mata, karena aku tidak percaya. Sebaiknya kamu jujur, atau aku cari tau sendiri"
...---***---...
hanya karena authornya wanita jadi semua kelakuan menjijikan tisha mereka bela dan benarkan
lihat saat tisha melakukan kesalahan2 bahkan kesalahan paling menjijikan sekalipun semudah itu dimaafkan dan kalian buat ray karakter bodoh dan tidak tegas semudah itu menerima semua kelakuan tisha
bandingkan
saat kalian buat ray yang melakukan kesalahan, kalian buat dia menderita, menyesal, mengemis maaf, berjuang kayak orang bodoh, dan kalian buat karakter tisha tegas pergi dan tidak mudah memaafkan
ini yang kalian anggap adil, ini adalah hasil pemikiran egois kalian sebagai wanita dan kalian tuangkan kedalam novel maka jadi lah novel munafik
dan satu lagi kemunafikan wanita yang tidak pernah hilang
*kalian melaknat pelakor tapi kalian begitu memuja pebinor bahkan begitu spesialnya sosok ini hingga bisa merasakan tubuh iatri orang
renungkanlah