Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Erina dan Gio
Sudah beberapa hari sejak berita perselingkuhan Adrian tersebar ke publik, dan sekarang berita itu masih menjadi topik hangat di berbagai acara TV bahkan instagram.
Banyak influencer yang memberikan pendapat terkait berita ini, ada yang mengatakan bahwa Adrian sudah keterlaluan, namun ada juga mengatakan bahwa berita itu hanya palsu.
Karir Adrian juga dipertaruhkan. Kini Ia mendapat banyak pertanyaan dari publik dan kenalannya, bahkan beberapa agensi sudah memutus kontrak dengan dirinya pasca berita itu.
Di sisi lain, Arini kini masih di kejar-kejar oleh para wartawan. Bahkan meski ia sudah pindah apartemen, para wartawan itu bagai intel. Mereka mencari keberadaan Arini di manapun untuk mendapatkan jawaban dari wanita itu terkait masalah dirinya dengan Adrian.
Akhir-akhir ini keduanya sedang menjadi topik hangat di kalangan orang-orang, bahkan kini di kampus Erina. Hampir seminggu ini ia selalu mendengar topik antara kedua sepasang suami istri itu dari mulut ke mulut. Entah itu di kelas, kantin atau bahkan saat di lorong.
Kini Erina, Ema, dan juga Rena sedang berada di kantin. Sambil menunggu kelas berikutnya mereka memutuskan untuk sarapan bersama disana untuk mengisi perut sejenak.
Ema masih fokus pada layar ponselnya, ia menggulir beranda berita, melihat deretan berita yang sedang menjadi topik hangat dalam beberapa hari ini.
"Gila, ini lagi musim perselingkuhan ya?" ucap Ema.
Ucapannya menarik atensi kedua gadis yang duduk dihadapannya. Erina menoleh dengan raut wajah yang sedikit berubah.
"Iya sih, kemarin si Juleha, sekarang Adrian! Wow, benar-benar di luar prediksi," timpal Rena.
Erina hanya terdiam. Ia sudah muak mendengar nama itu kembali menyapa pendengarannya. Sejak Adrian memintanya untuk menjaga jarak sejak pertemuan di cafe itu, semuanya benar-benar berantakan.
Perselingkuhan mereka terungkap di publik, dan kini nama Adrian yang sebelumnya diagung-agungkan oleh publik seketika menjadi bahan cacian dalam sekejap.
Saat ini, publik masih tidak ada yang tahu mengenai identitas dirinya yang adalah selingkuhan dari Adrian. Foto-foto itu menunjukkan dirinya, namun tidak terlalu jelas, hanya wajah Adrian yang terpampang jelas dalam beberapa foto yang beredar.
"Gua penasaran, kira-kira siapa wanita yang jadi selingkuhan Adrian, kok dia bisa ngga punya urat malu ya?" ucap Rena.
Erina yang sedang meneguk tehnya seketika tersedak. Rena yang ada disampingnya sontak menepuk pundak gadis itu agar batuknya mereda.
"Ya Allah, Na! Kalau minum pelan-pelan dong," ucap Rena khawatir.
Erina tersenyum, "It's okay, udah ngga kayak tadi kok!"
Rena dan Ema tertawa melihat tingkah temannya itu. Mereka masih kembali membicarakan topik hangat itu, tentu saja Adrian dan Arini! Mereka mulai berspekulasi mengenai kemungkinan siapa yang menjadi selingkuhan Adrian dan hal-hal lainnya.
Erina hanya mendengarkan. Ia tak mau ikut membahas topik itu. Kini dalam benaknya rasa takut menyelimuti, bagaimana jika sewaktu-waktu seseorang bisa saja membocorkan identitasnya ke publik.
"Semoga saja, hal itu tidak terjadi," batin Erina.
Beberapa menit berlalu. Kini jam menunjukkan pukul 09.45, sekitar 5 menit lagi kelas akan di mulai. Erina, Ema, dan Rena segera membereskan barang-barang mereka dan beranjak pergi meninggalkan kantin menuju gedung fakultas mereka.
Lorong kampus pagi itu cukup ramai. Beberapa mahasiswa terlihat terburu-buru, sebagian lain masih asyik berbincang.
Sesampainya di kelas, mereka langsung menempati kursi masing-masing. Suasana perlahan menjadi lebih tenang saat dosen sudah datang dan mulai menjelaskan materi.
Erina mencoba memusatkan perhatian ke papan tulis, meski pikirannya terkadang masih kacau oleh berbagai kemungkinan buruk yang berputar di kepalanya.
Di luar kelas, dari kejauhan, seorang pria berdiri bersandar di dinding lorong. Tatapannya menembus kaca jendela kelas, memperhatikan suasana di dalam dengan saksama. Itu adalah Gio.
Ia mengamati satu per satu mahasiswa yang duduk di sana. Wajah-wajah asing, beberapa ia kenal, sebagian besar tidak. Hingga akhirnya, pandangannya berhenti pada seorang gadis di barisan tengah dekat jendela. Itu Erina.
Gio sedikit menyipitkan mata, memastikan apa yang ia lihat. Gadis itu persis seperti yang diceritakan Arini beberapa waktu lalu di kediaman Tante Grace. Gadis yang ditemuinya secara tidak sengaja di perpustakaan.
Beberapa menit setelah kelas dimulai, pintu belakang kelas terbuka perlahan. Seorang pria melangkah masuk dengan sikap tenang, seolah terlambat adalah hal biasa. Ia mengenakan jaket kampus dan membawa tas selempang sederhana, cukup meyakinkan untuk disebut mahasiswa.
Gio dengan langkah santai menyusuri deretan kursi di bagian belakang. Ia lalu menarik sebuah kursi kosong di samping Erina dan duduk disana.
Erina yang awalnya fokus mencatat sempat terdiam sejenak saat menyadari ada seseorang yang baru saja mengambil kursi di sebelahnya.
Ia menoleh sekilas. Seorang pria asing. Wajahnya tampak asing baginya, ia seperti belum pernah melihat pria ini di kelas sebelumnya. Tak mau memusingkan, ia pun kembali fokus mendengarkan penjelasan dosen.
Gio membuka buku catatan kosong dan mengambil pulpen. Ia mengikuti kelas layaknya mahasiswa sungguhan. Menulis poin-poin penting, sesekali menatap papan tulis, bahkan mengangguk kecil seolah memahami penjelasan dosen. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Erina dengan jelas.
Erina merasa sedikit terganggu, meski pria itu terlihat tenang dan fokus ke depan, seolah-olah dia memperhatikan dirinya dalam diam.
Kelas pun berlalu dengan cepat. Begitu kelas selesai, tanpa menunggu Ema dan Rena, Erina memutuskan untuk keluar lebih dulu. Ia ingin pulang lebih cepat, segera meninggalkan kampus itu dan kembali ke kediamannya.
Ia melangkah cepat menyusuri lorong. Menjelang siang, lorong mulai sepi tidak seperti sebelumnya saat pagi. Hanya sedikit orang yang terlihat disana.
Erina melihat sekelilingnya, dari kejauhan samar-samar ia mendengar suara langkah kaki dibelakangnya. Ia ingin menoleh, namun Ia tak berani untuk melirik.
"Tenang, Erina,"
"Kamu hanya perlu pulang sekarang, ya segera pulang!"
Erina mempercepat langkahnya kembali, namun suara langkah kaki dibelakangnya juga seolah mengikuti ritme kakinya. Ia merasa seperti sedang dibuntuti oleh seseorang.
"Hey, tunggu!"
Tiba-tiba suara seseorang terdengar, menarik atensinya. Erina berhenti, ia lalu berbalik. Begitu dirinya berbalik, ia menemukan pria yang duduk disampingnya tadi kini sudah ada dibelakangnya.
"I-iya? Ada apa ya?" tanya Erina.
Gio menyerahkan sebuah pulpen bewarna biru muda dengan nama milik gadis itu kepadanya.
"Tadi, pulpen lo jatuh, ini gua balikin." ucap Gio.
Erina menjadi kikuk. Ia meraih cepat pulpen itu sambil tersenyum kaku, "O-oh ya, makasih!"
"Nama lo siapa?" tanya Gio, tanpa basa-basi. Ia memang penasaran dengan gadis ini.
"Nama gue, Erina,"
Ia hanya menjawab singkat. Gadis itu pun berbalik dan kembali melangkah dengan cepat untuk menjauh. Ia kembali mengingat-ingat, sepertinya ia tidak merasa menjatuhkan benda itu, bagaimana pulpennya tadi bisa ada di tangan pria itu? Sungguh aneh!