Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.
"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"
Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 17
Ayu yang sedang menyapu lantai bagian dalam kedai, meskipun gerakannya masih agak terbatas karena kakinya, langsung menghentikan aktivitasnya begitu mendengar pintu samping diketuk.
"Kami belum buka," ucap Ayu ketus saat melihat sosok Rangga berdiri di sana dengan wajah tanpa dosa.
Rangga melangkah masuk begitu saja, melewati Ayu seolah-olah dia adalah pemilik tempat itu. Ia menarik salah satu kursi kayu dan duduk dengan santai.
"Yang nanya buka siapa?" sahut Rangga dingin namun ada nada jenaka di dalamnya. "Saya ke sini mau sarapan. Saya lapar, belum makan dari semalam."
Ayu mendengus pelan, tangannya masih memegang sandaran kursi. "Mas Rangga lihat sendiri kan? Dapurnya saja belum ngepul, nasi juga baru dikukus. Nggak ada makanan yang siap. Jadi kalau mau sarapan, mending cari di bubur ayam depan gang saja."
Rangga mendongak, menatap Ayu tajam. "Kamu nggak lupakan sama kesepakatan kita? Setiap hari kamu harus masak untuk saya. Saya nggak minta menu lengkap Padang, telur dadar atau nasi goreng buatan kamu juga jadi. Yang penting perut saya terisi sebelum saya ke bengkel."
Ayu terdiam sejenak, menatap Rangga yang tampak keras kepala.
"Nggak ada rendang, nggak ada gulai. Cuma ada nasi hangat sama telur dadar kalau Mas mau nunggu," ujar Ayu akhirnya mengalah.
"Apa saja, Yu. Nasi pakai garam pun saya makan kalau kamu yang buatkan," sahut Rangga.
Ayu berbalik menuju dapur, meninggalkan Rangga yang masih duduk dengan tenang di ruang tengah. Di dapur, ia mulai menyalakan kompor. Suara desis minyak saat telur diceplok memenuhi ruangan, aroma gurihnya seketika merebak. Ayu dengan telaten menambahkan sesendok sambal merah sisa kemarin di atas telur yang masih panas.
Saat Ayu sedang menyiapkan piring, Nenek Tari muncul dari arah kamar belakang sambil merapikan jilbabnya. Ia mengendus aroma masakan yang tidak biasa untuk jam sepagi ini.
"Loh, Yu? Sudah masak telur?" tanya Nenek Tari heran. "Biasanya kan kamu masih rebus santan jam segini. Ada tamu ya di depan?"
Ayu sedikit tersentak, lalu mengangguk pelan sambil meletakkan piring di atas baki. "Iya, Nek. Ada Mas Rangga di depan. Katanya mau sarapan sebelum ke bengkel."
Nenek Tari tersenyum lebar, matanya berbinar jenaka. "Oalah, Den Rangga toh. Pagi-pagi benar ya sudah sampai sini. Ya sudah, cepat antarkan, kasihan kalau dia lapar."
Ayu membawa baki itu kembali ke ruang tengah. Begitu ia meletakkan piring nasi hangat dengan telur ceplok bersambal itu di depan Rangga, pria itu langsung merogoh kantong depan hoodie hitamnya.
Rangga mengeluarkan dua bungkus cokelat besar yang masih terbungkus rapi, sisa belanjanya semalam di supermarket.
"Ini buat kamu," ucap Rangga pelan sambil menggeser cokelat itu ke hadapan Ayu. "Kasih sama Nenek juga kalau dia mau."
Ayu menatap cokelat itu sejenak, lalu menatap Rangga yang kini sudah siap dengan sendok di tangannya. "Makasih, Mas. Nanti aku sampaikan ke Nenek."
Ayu baru saja hendak berbalik untuk kembali ke dapur saat suara Rangga menghentikan langkahnya.
"Makasih ya, calon istriku," ucap Rangga dengan nada yang sangat rendah namun mantap, diikuti dengan senyuman manis yang membuat matanya sedikit menyipit.
"apaan sih" jawab ayu dengan kesal.
Rangga yang melihat reaksi itu hanya terkekeh pelan sebelum mulai menyuap nasi buatannya dengan sangat lahap. Baginya, telur ceplok sambal buatan Ayu pagi ini terasa jauh lebih nikmat daripada menu sarapan di hotel berbintang mana pun.
Rangga menghabiskan suapan terakhirnya dengan sangat bersih, seolah tidak ingin menyisakan sebutir nasi pun dari masakan Ayu. Tepat saat itu, Nenek Tari kembali melintas dari arah dapur menuju ruang depan.
"Eh, Den Rangga. Sudah habis makannya? Enak ndak masakan Ayu?" sapa Nenek Tari sambil tersenyum ramah.
Rangga langsung berdiri dan menyalami tangan Nenek Tari dengan sopan. "Enak sekali, Nek. Masakan Ayu memang tidak pernah gagal. Makasih ya, Nek, sudah diizinkan sarapan di sini pagi-pagi."
"Iya, sama-sama Den. Sering-sering saja ke sini," jawab Nenek Tari yang dibalas Rangga dengan anggukan mantap.
Setelah Nenek Tari berlalu, Rangga kembali menoleh ke arah Ayu yang sedang membereskan piring kotornya. "Yu, nanti siang kamu antar makan siang ke bengkel saya ya."
Ayu langsung menghentikan gerakannya dan mendongak dengan tatapan tidak setuju. "Nggak mau ah. Mas saja yang datang ke sini kalau mau makan. Mas kan punya mobil, gampang kalau mau mampir."
Rangga menggelengkan kepala, ia justru menolak mentah-mentah usulan Ayu. Ia melipat tangannya di dada, memberikan tatapan yang seolah-olah sedang menegosiasikan kontrak bisnis besar.
"Saya sibuk, Yu. Hari ini ada banyak mobil masuk dan ada pertemuan dengan supplier alat berat. Saya nggak sempat kalau harus bolak-balik ke sini," alasan Rangga, meskipun sebenarnya ia hanya ingin Ayu melihat tempat usahanya sekarang.
"Ya sudah, kalau Mas sibuk, nggak usah makan siang sekalian," cetus Ayu ketus.
Rangga melangkah satu langkah lebih dekat, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Kamu harus mau biar utangnya cepat lunas. Kan kesepakatannya kamu melayani kebutuhan makan saya sampai saya puas. Mengantar itu bagian dari layanan."
Ayu hendak memprotes, namun Rangga memotongnya lebih cepat dengan kalimat yang membuat napas Ayu tertahan.
"Tapi... kalau kamu mau utangnya cepat lunas tanpa perlu repot-repot masak dan antar tiap hari, ya tinggal kamu terima saja tawaran saya yang kemarin."
Ayu terdiam, ia tahu persis tawaran mana yang dimaksud Rangga, menjadi calon istrinya.
Rangga tersenyum penuh kemenangan melihat Ayu yang kembali bungkam dengan wajah yang mulai bersemu merah. Ia meraih kunci mobilnya di atas meja.
"Saya tunggu jam satu siang. Jangan telat, atau bunganya saya tambah," ucap Rangga sambil mengedipkan sebelah matanya sebelum melangkah pergi meninggalkan kedai.
Begitu suara mesin mobil Rangga menjauh dan benar-benar hilang dari pendengaran, pertahanan Ayu runtuh. Ia menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal, meskipun rasa nyeri sedikit menjalar di pergelangan kakinya yang belum sembuh total.
"Dasar cowok menyebalkan! Diktator! Sok kuasa!" gerutu Ayu sambil membanting lap kain ke atas meja dengan gemas.
Nenek Tari yang mendengar omelan cucunya dari arah dapur hanya melongokkan kepala sambil menahan tawa. "Ayu, kenapa itu meja dimarahi? Meja nggak punya salah, Yu."
"Nenek lihat sendiri kan? Mas Rangga itu makin tua makin nggak jelas kelakuannya, Nek! Masa Ayu disuruh antar makanan ke bengkelnya? Memangnya aku tukang ojek pengkolan apa?" adu Ayu dengan wajah cemberut maksimal.
"Ya sudah, kalau nggak mau antar, diterima saja tawaran jadi istrinya. Kan dia bilang tadi, utangnya langsung lunas," goda Nenek Tari sambil lalu membawa nampan berisi gelas kosong.
Ayu membelalakkan matanya. "Nenek! Kok malah belain dia sih? Dia itu cuma mau ngerjain Ayu, Nek. Pasti dia mau pamer di depan anak buahnya kalau dia bisa nyuruh-nyuruh aku."
Ayu kembali merapikan meja dengan gerakan kasar, masih terus mengomel dalam hati. "Sialan kamu, Rangga. Awas saja ya. Nanti makan siangnya aku kasih sambal yang paling pedas biar mulut kamu nggak bisa ngomong sembarangan lagi!"