NovelToon NovelToon
Dinikahi Duda Perjaka

Dinikahi Duda Perjaka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Cinta setelah menikah / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Amalia

Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gagal menikah

“Pengantin cowoknya kabur.”

“Pengantin cowoknya kabur.”

Suara itu membuat para tamu undangan menjadi panik. Apalagi keluarga dari pengantin perempuan.

Hingga Lia, sebagai Ibu hajat sampai tidak sadarkan diri.

Sedangkan Pengantin perempuannya, ia terduduk kaku dengan pandangan mata yang kosong.

“Bagaimana ini, Pak. Saya harus ke tempat lain,” ucap Pak penghulu pada Pak hajat, Budi namanya. Yang memang Pak penghulu sudah menunggu kedatangan Pengantin pria dari satu jam yang lalu.

“Tunggu setengah jam lagi, bisa?” tanya Pak Budi.

“Buat apa, Pak? Bukannya Pengantin prianya kabur?” tanya Pak penghulu lirih. Ada rasa tidak enak disana.

“Tunggu saja dulu. Nanti saya akan cari jalan keluar dan Bapak tenang saja, nanti saya kasih tip dua kali lipat,” ucap Budi.

“Em- ya- ya sudah. Setengah jam ya, Pak?” Pak penghulu memastikan.

Budi menganggukan kepalanya.

Budi langsung menemui sang istri, yang kini sudah sadar. Namun tubuhnya begitu lemas, air matanya luruh, mulutnya bungkam.

“Bu … Ayah mau bicara,” ucapnya.

Bu hajat melirik sebentar, lalu menganggukan kepalanya.

Saudara yang tadi menemani, bahkan membantu menyadarkan Lia, undur diri.

Kini di ruangan itu, hanya ada Lia dan Budi.

“Hiks … hiks … nasib anak kita bagaimana, Yah? Ibu gak mau anak kita menjadi bahan omongan orang-orang,” ucap Lia dengan isak tangisnya.

“Ibu tenang, Ayah punya jalan keluarnya.”

“Apa itu?”

“Kita cari saja orang yang mau menikahi Zara,” ucapnya.

“Ibu gak setuju, jika begitu caranya.”

“Lalu mau Ibu bagaimana? Dari pada Zara jadi bahan omongan orang-orang dan pikirkan keluarga kita juga.”

“Cari cara yang lain.”

“Gak ada cara lain, Bu.” Budi menjawab.

“Tapi Ibu gak mau asal-asalan menikahkan Zara dengan pria yang gak jelas. Apalagi pria yang tidak Zara cintai,” kata Lia.

Budi berdecak.

“Ibu gak mau Zara merasakan hancur dua kali, Yah.” Lia menegaskan kekhawatirannya.

“Kita kenal Danish, Zara cinta lelaki itu. Tapi apa yang dia perbuat dia pada kita? Dia mempermalukan kita, Bu. Tidak hanya dia, keluarganya pun sama.” Budi menjeda ucapannya sebentar. Ia menarik napas dalam, lalu mengeluarkannya dengan kasar.

“Jika si Danish itu kabur, setidaknya ada perwakilan dari keluarganya untuk memberi tahu, sekaligus meminta maaf pada kita. Namun apa? Tidak ada satu pun keluarga dari lelaki itu untuk melakukannya,” sambungnya.

“Bahkan, kita sudah menunggunya satu jam. Jika kita tidak menyuruh orang untuk menjemputnya, mana kita tahu, kalo si Danish kabur?!” Lanjutnya.

Lia terdiam, air matanya kembali luruh.

Pak hajat berdiri di depan jendela, ia menghadap pada pelaminan yang sudah di dekor dengan sebegitu indahnya.

Hatinya teramat sakit. Anak satu-satunya mengalami hal yang tidak pernah terbayangkan sama sekali.

Yang seharusnya hari ini adalah hari bahagia, tapi nyatanya, hari ini adalah hari terburuknya.

“Ayah cuma dikasih waktu setengah jam oleh Pak penghulu. Ayah tidak punya banyak waktu,” ucapnya lirih. Budi pun tampak putus asa.

“Lelaki mana yang akan Ayah nikahkan dengan putri kita?”

“Anak Kades itu. Bukannya dia naksir Zara?” tanyanya.

“J-jangan, Yah. Zara tidak suka dengannya,” kata Lia.

“Untuk sekarang, tidak penting suka atau tidaknya. Setidaknya, Zara menikah dulu.”

Lia terdiam.

“Ayah jangan dulu mengambil keputusan, coba Ayah tanya Zara lebih dulu.”

Budi menuruti apa kata sang istri. Ia pergi ke kamar lain, dimana Zara berada.

Saat Pak hajat masuk, di sana Zara sedang menangis dalam pelukan MUA-nya.

“Tinggalkan kami berdua,” kata Budi. Dimana di kamar itu ada MUA dan sepupu Zara.

Setelah mereka pergi, Budi duduk di sisi ranjang seraya menghadap pada Zara.

Zara mengambil tisu, ia mengelap sisa air matanya. Saat ini ia tidak peduli dengan riasan di wajahnya.

Budi mendekat pada Zara, ia merangkul tubuh putrinya itu. Hingga Zara tidak bisa untuk berpura-pura kuat lagi, di depan sang Ayah ia menumpahkan tangisnya.

“Ayah …” Zara memeluk sang Ayah, wajahnya ia tenggelamkan pada dada Ayahnya.

“Sabar, Nak.” Budi mengusap punggung sang anak.

“Zara harus gimana, Yah? Zara malu, hati Zara juga sakit.”

Pak hajat tidak bicara. Namun tangannya terus mengusap punggung Zara.

“Ayah sudah memikirkan jalan keluarnya,” ucap Budi satu menit kemudian.

Zara mendongak, ia menatap wajah sang Ayah.

“Jalan keluar?” tanya Zara.

“Iya.”

Zara melerai pelukannya. “Apa?” tanyanya lagi.

“Menikahlah dengan anak Pak Kades itu. Bukannya dia suka padamu?”

“Aku gak mau, Yah.” Zara menolaknya.

“Jangan menolak. Ini keputusan Ayah, daripada keluarga ini menanggung malu. Lebih baik kamu menikah dengannya.”

“Tapi aku gak mau, Yah …” Dengan keras Zara menolaknya.

Budi menghela napas. “Dengarkan Ayah, Zara. Bukan Ayah tidak tahu perasaan kamu, bukan Ayah jahat sama kamu, tapi ini demi keluarga kita, demi kehormatan dan martabat keluarga kita. Mau tidak mau, Ayah sudah putuskan jika kamu akan Ayah nikahkan dengan anak Pak Kades.”

Mendengar itu, Zara kembali menangis.

Sudahlah ia kecewa dengan Danish, lalu sekarang ia dikecewakan oleh sang Ayah.

Ayahnya memilih kehormatan dan martabat keluarga, dibandingkan dengan perasaan dan kebahagiaan dirinya.

Jujur saja, Zara lebih memilih menanggung malu, ketimbang harus menikah anak Pak Kades yang—

“Ayah tidak punya banyak waktu. Ayah mau ke rumah Amir dulu,” ucap Budi. Ia pun berbalik badan, untuk keluar dari kamar Zara. Namun—

“Ayah … aku rela menanggung malu, dengan gagalnya pernikahan ini.”

“Maksud kamu?” Budi kembali berbalik badan.

“A- aku … aku lebih baik gagal menikah dan tidak menikah dengan anak Pak Kades.” Zara bicara dengan kepala menunduk.

“Tidak! Ayah tidak memberikan pilihan itu. Kamu akan menikah dengan Amir, titik. Benerin riasan wajah kamu, Ayah mau ke rumah Amir dulu.” Setelah bicara seperti itu, Budi pun keluar dari kamar. Lalu ia pun memberi tahu MUA untuk merias Zara lagi.

***

“Amir … Amir …” Budi memanggil seraya mengetuk pintu rumah itu, yang tidak tertutup rapat.

“Amir …” panggil Budi lagi.

Merasa waktunya terbuang, Budi pun memutuskan untuk masuk saja. Toh pintu rumah itu terbuka dan Budi mengira jika Amir sedang berada di dapur.

Tetapi, saat ia masuk ke dalam rumah, ia mendengar suara yang— menggelikan.

“Iya seperti itu.”

“Bagaimana?”

“Enak sekali,” jawabnya disertai lenguhan.

“Cepetin, aku mau sampai.”

Pembicaraan itu membuat Budi merasa mual, tentu dengan perasaan kesal juga.

Budi pun memutuskan untuk pergi dari rumah itu, daripada ia terus mendengar suara-suara yang membuatnya berdosa.

Budi pergi dengan kebingungan. Namun disisi lain, Budi pun merasa lega dan kecewa.

Lega karena ia tahu jika Amir bukan orang yang tepat untuk anaknya, tapi ia juga kecewa karena harus mencari pria lain lagi untuk menikahi anaknya. Sedangkan waktu terus berjalan dan saat ini tersisa sepuluh menit lagi.

***

Di rumah itu, bisik-bisik tetangga mulai terdengar.

Ada yang mengasihani tentang gagalnya pernikahan ini, ada juga yang mencibir dan menyalahkan Zara.

“Pantas aja si Danish kabur, memangnya siapa yang mau punya istri kaya si Zara. Dia itu urakan, jadi wanita gak ada anggun anggunnya sama sekali.”

“Gak dapat si Danis, Amir pun jadi.”

“Amir? Amir anak Pak Kades?”

“Iya.”

“Kok bisa sih? Emang Amir-nya mau?” tanyanya dengan senyum remeh-nya.

“Gak tau gue. Tapi tadi gue denger Om gue ngomong gitu sama si Zara.”

“Hahahaha … Amir mana mau. Zara itu bukan tipe-nya.”

“Ada apa Om?” tanya Lea pada Budi. Melihat Om-nya itu datang dengan wajah memerah.

Budi tidak menjawab, ia terus berjalan masuk ke dalam rumah.

“Bagaimana Pak Budi? Waktunya tinggal dua menit lagi. Saya tidak mungkin mengulur waktu lagi,” kata Pak penghulu.

“Saya minta diundur sepuluh menit lagi, Pak.”

“Sudah saya katakan. Saya tidak bisa menunggu lagi, Pak. Ya sudah kalo begitu, saya pamit undur diri saja.”

“Pak …”

“Maaf, Pak Budi. Saya tidak bisa.” Pak penghulu pun beranjak dari duduknya.

Nampak wajah Budi begitu kusut, ia bingung harus bagaimana lagi. Tentunya ia sudah menawarkan pada tiga lelaki, tapi ketiganya menolak. Mereka tidak mau menikah dengan Zara, meski sudah di iming-iming kemewahan oleh Budi.

Apalagi Budi terus diteror oleh sang Ibu dan Kakak-kakaknya, untuk tetap menikahkan Zara.

“Tunggu sebentar, Pak penghulu.”

“Iya, Mas?” Pak penghulu menoleh pada sumber suara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!