NovelToon NovelToon
JANDA-JANDA UNDERCOVER

JANDA-JANDA UNDERCOVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Arsila

siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.

​Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gangguan di Tengah Malam dan Panggilan dari Masa Lalu

​Bulan kesepuluh di Apartemen Puri Kencana dimulai dengan kedamaian yang hampir membuat mereka lupa pada identitas asli mereka. Jakarta sedang diguyur hujan lebat malam itu. Suara rintik air yang menghantam atap seng balkon menciptakan simfoni yang menenangkan. Di unit 301, aroma teh melati dan kue balok hangat buatan Siska memenuhi ruangan.

​Raka duduk di sofa panjang bersama Bella. Mereka tidak sedang membedah peta taktis; mereka sedang berdebat sengit tentang akhir cerita sebuah drama komedi romantis yang mereka tonton di televisi. Raka, yang dulu tangannya hanya mengenal dinginnya baja pistol, kini tampak luwes memegang toples kerupuk.

​"Gue bilang juga apa, Bel. Si cowok itu pasti bakal balik lagi. Nggak mungkin dia ninggalin ceweknya cuma gara-gara masalah warisan," ujar Raka sambil mengunyah kerupuknya pelan.

​Bella memutar bola matanya, menyandarkan kepala di bahu Raka sebuah posisi yang sudah menjadi kebiasaan baru dalam dua bulan terakhir. "Lo terlalu optimistis, Ka. Di dunia nyata, orang bakal milih uang daripada cinta. Itu logis."

​Di sudut ruangan, Maya sedang asyik dengan ponselnya, melakukan live streaming malam bertajuk "Deep Talk Bersama Janda Glowing". Ia sedang memamerkan daster katun jepang motif awan yang ia klaim bisa meningkatkan kualitas tidur hingga 200%.

​"Iya, Kakak-kakak... jadi kalau mau hati tenang, daster harus nyaman dulu. Jangan daster yang kaku kayak hubungan kamu sama mantan..." Maya tertawa genit ke arah kamera, mengabaikan tatapan "apa sih" dari Siska yang sedang sibuk merajut celemek baru.

​Tiba-tiba, kedamaian itu pecah. Bukan oleh suara ledakan, melainkan oleh sebuah nada dering yang sudah hampir satu tahun tidak pernah terdengar.

​Tit-tit-tit. Tit-tit-tit. Tit-tit-tit.

​Suara itu berasal dari brankas kecil di kamar Bella yang tersembunyi di balik lemari baju. Ketiganya Bella, Raka, dan Siska langsung membeku. Maya pun menghentikan siarannya secara mendadak.

​"Itu... telepon satelit agensi?" bisik Siska. Wajahnya yang tadi hangat berubah menjadi pucat pasi.

​Bella berdiri dengan gerakan refleks yang sangat cepat. Ia menuju kamarnya, diikuti oleh Raka. Dari dalam brankas, Bella mengeluarkan sebuah perangkat genggam berwarna hitam dengan antena tebal. Layarnya berkedip merah dengan tulisan:

"OVERRIDE: MASTER TAILOR".

​Bella menekan tombol terima dan menyalakan speaker.

​"Bella... Raka... apakah kalian mendengar saya?" Suara itu serak, penuh deru angin dan suara tembakan di latar belakang. Itu adalah suara Master Tailor, satu-satunya orang yang mereka percayai untuk memegang kendali agensi yang kini sudah bergerak di bawah tanah.

​"Kami mendengar, Master. Apa yang terjadi? Kami pikir semuanya sudah bersih," sahut Bella, suaranya kembali ke nada dingin yang taktis.

​"Saya salah... kita semua salah," suara Master Tailor tersengal-sengal. "Proyek The Void Thread ternyata bukan hanya tentang tekstil. Seseorang telah mengaktifkan satelit pemancar gelombang di Gurun Gobi. Mereka tidak lagi mengendalikan tubuh manusia, tapi mereka menghapus memori jangka pendek siapa pun yang berada di radius jangkauan satelit. Seluruh kota di perbatasan China dan Mongolia kini sedang mengalami amnesia massal. Kekacauan total terjadi di sana."

​Raka mengepalkan tangannya. "Siapa pelakunya? Silvia sudah ditangkap, Nyonya Besar sudah hilang."

​"The Ghost. Dia adalah desainer yang selama ini tidak pernah muncul di data mana pun. Dia adalah orang yang sebenarnya menciptakan teknologi The Deep Fake. Dan dia sekarang sedang menuju Singapura untuk mengaktifkan pemancar kedua. Jika Singapura kena, seluruh pusat data finansial Asia akan lumpuh karena orang-orang lupa password dan identitas mereka. Dunia akan kiamat secara ekonomi!"

​"Waktu kalian hanya dua belas jam sebelum pesawat pribadi agensi menjemput kalian di Halim," lanjut Master Tailor sebelum sambungan itu terputus dengan suara statis yang tajam.

​Hening sejenak menyelimuti unit 301.

​Maya menatap dasternya yang bermotif awan. "Jadi... nggak ada tidur cantik malam ini?"

​Siska menghela napas panjang, lalu berjalan ke arah kompornya. Ia mematikan api, menutup panci kue baloknya, dan menatap teman-temannya. "Gue bakal siapin perbekalan nutrisi instan. Raka, Bella... kalian urus persenjataan."

​Raka menoleh ke arah Bella. Ada keraguan di matanya keraguan tentang kehidupan damai yang baru saja mereka nikmati. "Bel, kita baru aja mulai ngerasa normal."

​Bella memegang tangan Raka, meremasnya kuat. "Justru karena kita tahu gimana rasanya hidup normal, kita harus mastiin orang lain nggak kehilangan itu, Ka. Kalau dunia lupa identitasnya, semuanya berakhir."

​Dua jam berikutnya adalah sebuah koreografi efisiensi yang luar biasa. Tidak ada lagi tawa. Lantai tiga berubah menjadi bengkel militer.

​Bella membongkar lantai parket di bawah tempat tidurnya, mengeluarkan payung titanium legendarisnya yang kini sudah ditingkatkan dengan sensor pendeteksi frekuensi satelit. Siska mengemas berbagai bubuk kimia ke dalam botol-botol kecil yang disamarkan sebagai botol saus sambal.

​Raka, di unitnya, mengeluarkan sebuah koper perak panjang dari balik dinding kamar mandi. Di dalamnya terdapat senapan runduk (sniper) modular dan perangkat peretasan tingkat lanjut yang mampu menembus enkripsi militer.

​Sementara itu, Maya sedang sibuk di depan lemari khusus dasternya. "Oke, kalau misinya di Singapura, udaranya lembap tapi gedungnya dingin. Gue butuh The Neon Shadow 3.0. Katun teknis, antipeluru, dan bisa berubah jadi mode transparan kalau kena sinar laser."

​Maya melipat dasternya dengan kecepatan luar biasa. Di balik sikapnya yang sering terlihat konyol, Maya tahu bahwa perannya sebagai pengalih perhatian dan ahli infiltrasi sosial sangat krusial.

​Pukul satu dini hari. Sebuah mobil box hitam bertuliskan "Katering Sejahtera" berhenti di depan lobby. Ini adalah kendaraan penjemputan mereka. Bang Jago, si tukang galon, yang ternyata adalah agen pendukung tingkat rendah yang ditugaskan Master Tailor untuk mengawasi Puri Kencana, keluar dari mobil tersebut.

​"Mobil sudah siap, Komandan," ujar Bang Jago sambil memberikan hormat pada Raka dan Bella.

​Di dalam jet pribadi yang melaju menembus badai menuju Singapura, suasana sangat sunyi. Raka sedang sibuk meretas satelit cuaca untuk mencari jejak panas dari pemancar The Ghost.

​"Dapet," ujar Raka. "Dia bersembunyi di puncak sebuah gedung pencakar langit baru di Marina South. Gedung itu belum diresmikan, tapi energinya sudah menyala maksimal. Dia menyamar sebagai pameran instalasi seni tekstil modern."

​Siska sedang mengasah sutilnya menggunakan batu asah keramik. "Jadi rencananya gimana?"

​Bella membentangkan peta digital gedung tersebut. "Gue dan Raka bakal masuk lewat jalur helipad. Kita harus memutus kabel serat optik utama yang menyambung ke antena satelit. Siska, lo masuk lewat jalur dapur VIP. Ada laporan bahwa The Ghost menggunakan gas aerosol untuk membantu transmisi memori. Lo harus netralisir itu pakai senyawa penetral."

​"Dan aku?" tanya Maya.

​"Maya, lo bakal masuk lewat pintu depan sebagai tamu kehormatan dari Jakarta. Lo harus cari posisi konsol manualnya. The Ghost pasti punya remot kontrol darurat yang dia simpen di dekat tubuhnya. Lo harus curi itu tanpa dia sadar," Bella menatap Maya dengan serius.

​Maya tersenyum licik, memperbaiki letak wig peraknya. "Mencuri barang dari cowok yang lagi sombong? Itu hobi aku, Bel."

​Singapura menyambut mereka dengan kemewahan yang dingin. Tim mendarat di pangkalan udara rahasia dan langsung menuju pusat kota.

​Gedung tersebut bernama "The Weave Tower". Sesuai namanya, bangunan itu terbungkus oleh jaring-jaring baja yang menyerupai tenunan kain. Di lantai paling atas, cahaya ungu terpancar ke langit, menciptakan visual yang indah namun mematikan.

​"Operasi dimulai sekarang," perintah Bella.

​Siska menyelinap ke ruang ventilasi bawah. Ia menemukan tangki-tangki besar berisi gas bening. "Bel, gasnya sudah mulai dilepaskan! Baunya kayak lavender tapi ada sedikit aroma logam."

​"Siska, semprotkan penetralnya sekarang!"

​Siska membuka botol "Saus Rahasia"-nya yang berisi cairan katalis. PSSSSHTTT! Reaksi kimia terjadi di dalam saluran ventilasi. Gas ungu yang keluar dari gedung itu perlahan berubah menjadi uap air biasa.

​Sementara itu, Maya melenggang masuk ke aula utama dengan gaun daster neonnya yang berkilau. Di sana, seorang pria kurus dengan setelan jas putih perak sedang berdiri di depan layar besar. Wajahnya tertutup masker kain yang sangat halus hingga menyerupai kulit manusia. Itulah The Ghost.

​"Selamat malam, Tuan yang Tampan," suara Maya menggema di aula yang kosong. "Desain gedung ini... sangat emosional ya."

​The Ghost menoleh. Suaranya terdengar seperti bisikan angin. "Kamu... aku kenal frekuensi detak jantungmu. Salah satu janda yang menghancurkan karya Silvia. Kenapa kamu ke sini? Untuk memberikan memorimu padaku?"

​Maya berjalan mendekat, tangannya diam-diam meraba gelang mutiaranya. "Aku ke sini cuma mau bilang... jahitan di jas kamu ada yang lepas di bagian belakang."

​The Ghost secara insting menoleh ke belakang. Di saat itulah, Maya melempar mutiara magnetiknya ke arah jam tangan The Ghost yang merupakan pusat kendali. ZAP!

​"Sekarang, Raka! Bella!" teriak Maya.

​Di atap gedung, Bella dan Raka melompat dari kegelapan. Bella mengayunkan payungnya untuk memotong kabel baja utama, sementara Raka melepaskan tembakan presisi ke arah unit pendingin antena.

​BOOOOOOOOMMM!

​Ledakan energi statis melempar mereka semua ke lantai. Cahaya ungu di langit padam seketika. Antena raksasa itu runtuh dan tergantung lemas di sisi gedung.

​Subuh mulai menyingsing di Singapura. The Ghost berhasil melarikan diri lewat jalur rahasia sebelum Bella sempat menangkapnya, meninggalkan masker kainnya yang robek di lantai.

​"Dia lepas," gerutu Bella sambil menatap masker itu.

​"Tapi rencananya hancur," sahut Raka sambil merangkul bahu Bella yang gemetar karena adrenalin. "Pusat data aman. Orang-orang di Gobi bakal mulai dapet memorinya lagi secara bertahap."

​Mereka berempat berdiri di balkon gedung, menatap matahari terbit di atas Marina Bay Sands.

​"Jadi... kita pulang?" tanya Siska.

​"Pulang," jawab Bella. "Gue mau lanjutin debat drama Korea kita kemarin, Raka. Gue masih nggak setuju kalau mereka balik lagi."

​Maya tertawa, mengambil ponselnya dan menyalakan kembali live streaming-nya. "Halo Kakak-kakak! Maaf tadi sinyalnya putus karena aku lagi di 'atas langit'. Pokoknya daster awan ini terbukti kuat banget, bahkan dipake di Singapura pun tetep adem!"

​Siska menggelengkan kepala. "Gue mau masak sop iga buat kita semua begitu sampai di apartemen. Kita butuh kalori."

​Di dalam pesawat dalam perjalanan pulang, Raka dan Bella kembali duduk berdampingan. Raka menggenggam tangan Bella. Kehidupan damai yang sempat terganggu tadi kini terasa lebih berharga dari sebelumnya. Mereka sadar, panggilan misi akan selalu datang, tapi selama mereka punya "rumah" untuk kembali, tidak ada benang yang terlalu kuat untuk mereka putuskan.

1
yumin kwan
ish.... kak author keren bingitz.....
semangat kakak 💪
yumin kwan
ide ceritanya unik, lain daripada yang lain. kocak, sangat menghibur....
Talita Rafifah artanti
bagus ceritanya, menghibur, menarik untuk dibaca
yumin kwan
jadi... bakal tamat nih??!
Ayu Arsila: gak kokk... amann. 🤭
total 1 replies
yumin kwan
baru nemu, langsung marathon....
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣
yumin kwan
astaga.... kok bisa kepikiran ide begini.... salut....
yumin kwan
astaga.... seru bgt ini 3 janda.... 😄
yumin kwan
kayaknya kocak ini cerita..... save ah...
Marley
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!