Kalila gadis yang terlahir cantik dan lugu. Ia memutuskan untuk mengubah dan tidak memikirkan penampilan lagi sejak ia mengalami patah hati pada saat SMP. Kisah cinta pertama yang membawa dampak keterpurukan dalam hidupnya.
Suatu hari Kalila bertemu dengan seorang pria yang merupakan guru baru di sekolahnya. Ia tidak menyangka luka lama yang dipendamnya kembali bangkit hingga menyisakan rasa sakit.
Mungkinkah Kalila mampu kembali melewati hari-harinya seperti dulu? Ataukah rasa sakit itu akan terus membelenggu hidupnya?
Follow IG Author yuk
@Septriani_wulan15
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septriani wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Taman
Bab 23 Taman
Selama perjalanan Akbar terus menggenggam tangan Kalila. Keduanya saling tersenyum malu-malu dan masih belum bisa percaya kalau mereka sudah memiliki hubungan. Seperti yang di katakan Akbar, mereka pun ke taman kota Akbar memakirkan motornya. Kalila menyerahkan helm pada Akbar sambil menatap dan melempar senyuman.
Setelah menyimpan helm, perlahan keduanya berjalan pelan menyusuri taman yang sore itu sangat ramai. Keduanya masih malu-malu dan tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
“Kalila, awas!” Akbar menarik tangan Kalila ke sampingnya dan akhirnya bola kaki yang melayang itu pun mengenai Akbar.
“Kak, maaf!” ucap seorang anak laki-laki sambil menundukkan kepala dan mengambil bola yang berada di kaki Akbar. Akbar hanya tersenyum mengangguk menjawab kata maaf dari anak laki-laki yang tidak sengaja menendang bola tadi.
“Kak, enggak apa-apa?” tanya Kalila cemas. Akbar menggelengkan kepalanya dan tersenyum membuat Hati Kalila berdebar melihatnya. Keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju kursi taman yang cukup jauh di depan. Perlahan Akbar mendekatkan tangannya ke samping tangan Kalila. Saat hendak mengenggam tangan Kalila, dengan cepat Kalila mendorong tubuh Akbar hingga dia melangkah jauh dari Kalila dan hampir saja jatuh.
“Lila! Kamu ngapain di sini?” tanya Hesti yang sedang olahraga sore bersama Andri.
“Terus ngapain kamu masih pake seragam? Hayo kamu sama siapa?” tanya Andri sambil melihat sekitar. Saat hendak melirik ke arah Akbar berada, dengan cepat Kalila menarik kedua tangan sahabatnya berjalan maju ke arah depan membelakangi Akbar yang sejak tadi bersembunyi di balik pohon besar yang ada di taman.
‘Oh Tuhan ... hampir saja. Kak Akbar, maafkan aku!’ gumam Kalila yang belum sadar masih menarik tangan kedua sahabatnya.
“La, mau kemana sih?” tanya Hesti yang seketika menghentikan langkah Kalila.”
“Gue laper, sengaja ke sini mau jajan,” ucap Kalila melepas tangan keduanya dan berjalan ke arah tempat mangkal banyak tukang dagang. Hesti dan Andri saling menatapi dan terpaksa mengikuti Kalila.
Kalila pun menuju ke tempat yang menjual es campur dan duduk di sana.
“Mas, pesen es campur satu ya!” ucap Kalila sambil terus menatap lurus temaot tadi dia dan Akbar berada.
“Katanya lo laper, kok makan es campur?” tanya Andri yang ikut duduk disusul Hesti yang ada di belakangnya.
”Gue kepanasan, kayanya enak makan es campur,” jawab Kalila sambil tertawa yang terpaksa. Melihat itu Hesti dan Andri semankin merasa aneh dengan tingkah laku Kalila saat itu.
“La, kok lo masih pake seragam sih? Emang tadi lo enggak pulang dulu?” tanya Hesti sambil menikmati es kelapa muda yang baru saja datang. Kalila terus memasukkan es campur ke dalam mulutnya sambil memikirkan alasan apa yang masuk akal untuk dia ucapkan di depan kedua sahabatnya.
“Ah ... tadi gue habis dari perpustakaan daerah, terus sengaja pulangnya mampir ke sini mau jajan.” sebenarnya alasan Kalila kurang masuk diakal, tapi kedua sahabatnya malah mengangguk sambil menikmati pesanan mereka, membuat Kalila mengerutkan kening melihat keduanya. Tapi Kalila bersyukur bahwa teman-temannya tidak menyadari apa yang dia katakan tadi.
Di sisi lain Akbar duduk di bangku taman sambil memaksai masker yang selalu dia bawa di sakunya.Akbar melihat keberadaan Kalila dari kejauhan, sedangan Kalila sejak tadi tidak menemukam keberadaannya. Jujur hal ini membuat keduanya cukup kaget dan mereka tidak pernah berpikir kalau di taman itu akan bertemu dengan seseorang yang keduanya kenal.
Akbar mengambil ponselnya di saku dan mengirimkan pesan singkat pada Kalila.
Akbar :“La, Kakak tunggu kamu di parkiran motor ya!” merasakan getaran ponsel, Kalila dengan cepat mengambil ponselnya di dalam tas ranselnya.
“La, mau pulang sekarang enggak? Udah sore, pulang yuk!” ajak Hesti dan Kalila menganggu tersenyum sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Kebetulan sore itu Andri membawa mobil sedan milik ayahnya. Kalila pun naik ke dalam mobil dan melupakan Akbar yang menunggu dirinya di parkiran motor.
“Kalian deg-degan enggak sih mau menghadapi ujian?” tanya Hesti yang duduk di samping kemudi.
“Ya, kalau enggak deg-degan lo enggak akan hidup, Hes,” canda Ferdi membuat mereka tertawa.
“Gila lo! Maksud gue bukan itu Bambang!”
“Lo jangan bawa-bawa nama uyut gue, dia samperin lo 'tar malam tahu rasa!” ucap Andri yang berusaha menakutinya dan langsung mendapat cubitan di perutnya membuat si empunya kesakitan.
Tidak butuh waktu lama, Kalila sampai di rumahnya. Andri hanya mengantarkan Kalila sampai gerbang rumahnya dan setelah itu melajukan mobilnya. Kalila melambaikan dan langsung masuk ke dalam rumah. Sampai di kamar, Kalila baru ingat kalau tadi Akbar menunggunya di parkiran taman kota. Dengan cepat Kalila mengambil ponselnya dan langsung mencari nama Akbar di kontak dan menelepon dirinya.
Tidak menunggu lama, Akhirnya Akbar menjawab telepon dari Kalila.
Kalila :“Kak, maaf! Tadi aku pulang bersama Andri dan Hesti. Kakak sekarang di mana?”
Akbar :“Iya enggak apa-apa. Tadi aku juga langsung pulang kok.” Akbar berbohong pada Kalila, karena dia tidak mau membuat wanita yang disukainya merasa bersalah. Sebenarnya Akbar cukup lama menunggu Kalila sambil memainkan ponselnya, sampai akhirnya dia menyadari Kalau Kalila sudah tidak ada di taman itu, setelah dia mengelilingi taman menggunakan motornya bebek ya.
Kalila :“Kakak di mana sekarang?”
Akbar :“Ini sebentar lagi sampai rumah.” mendengar kata rumah seketika Kalila mengingat perkataan Sarah saat mereka yang berada di ruang guru.
Kalila :“Rumah siapa?” Akbar merasa heran dengan pertanyaan Kalila. Dia terlebih dahulu memakirkan motornya depan rumah dan duduk di kursi depan rumahnya.
Akbar :“Ya rumah aku dong, emang aku punya rumah berapa?” ucap Akbar sedikit tertawa.
Kalila :“Benar rumah kamu?” demi kekasihnya percaya padanya, Akbar mengubah layanan teleponnya menjadi vidio call. Awalnya Kalila ragu untuk mengangkatnya, tapi akhirnya dia pun mengusap layar ponselnya dan mereka pun saling tersenyum.
Akbar :“Ini rumah aku. Kenapa kamu menanyakan seperti tadi?”
Kalila :“Emmm ... ya kali aja ke rumah Sarah,” ucap Kalila sambil mengalihkan pandangannya. Akbar mengerutkan keningnya dengan maksud Kalila, tapi akhirnya dia sadar dan tertawa dengan pernyataan Kalila tadi.
Akbar :“Oh itu ... di rumah Sarah ada pertemuan remaja RW. Sebagai mantan ketua remaja taruna, aku membantu anak-anak remaja karang taruna untuk membicarakan program RW dan berkumpul di rumah Sarah. Sarah itu temanku sejak kecil dan rumah kami pun masih dilingkungan yang sama.” Kalila hanya mengangguk menahan senyumannya. Kalila cukup senang, selama ini yang dia pikirkan ternyata salah. Kini dia merasa tenang.
Kalila :“Oh ... Ya sudah, aku mau mandi dulu ya Kak, gerah!” Akbar mengangguk dan mereka pun menyudahi teleponnya.
Saat Telepon dimatikan, seketika Kalila melompat kegirangan. Dia masih tidak percaya, Akhirnya cintanya untuk Akbar bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan.
~Bersambung~
Besok sudah hari senin, jangan lupa Vote yaaaa ...
Terima Kasih
Aku Padamu 🥰🥰