Karakter sesuai judul, jadi jangan di judge lagi ya Readers ...
Marissa, 19 tahun. Gadis berwajah cantik dengan tubuh yang seksi dan nyaris sempurna.
Ia tergila-gila pada seorang duda berusia 39 tahun, Marcello Alexander. Seorang Owner sekaligus CEO dari Antariksa Group, perusahaan besar yang bergerak dalam bidang Otomotif.
Namun, sayangnya kisah cinta Marissa harus pupus tatkala ia mengetahui bahwa Marcello adalah seseorang yang pernah menjadi bagian dari dirinya.
Penasaran gak sih? Yukk ... ikuti cerita cinta mereka 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Keesokan paginya.
"Dimana Icha?" tanya Marcello kepada Pelayan yang sedang menyiapkan sarapan paginya.
"Nona Marissa masih tidur, Tuan," sahut Pelayan itu.
Marcello mengerutkan kedua alisnya, "Benarkah? Jam segini Icha masih tidur? Apa dia baik-baik saja?" Marcello cemas, ia segera bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkah meninggalkan meja makan.
"Tuan Marcello, sebaiknya Tuan lanjutkan saja sarapan Anda. Biar saya yang memanggil Nona Marissa," ucap Pelayan itu sembari menghampiri Marcello.
"Tidak usah, biar aku saja!" tolak Marcello sembari meneruskan langkahnya menuju kamar Marissa.
Didalam kamar Marissa,
Gadis itu sudah bangun sejak pagi-pagi buta. Namun, hari ini dia malas melakukan apa-apa, termasuk pergi kuliah. Marisa duduk diatas tempat tidur sambil memeluk lututnya. Tatapannya kosong menerawang dengan wajah datar, tanpa ekspresi apapun.
Akhirnya Marcello tiba didepan kamar Marissa. Marcello mengetuk pintu kamar sembari memanggil nama Gadis itu.
"Cha, kamu didalam?!" panggil Marcello
Marissa sontak menoleh kearah pintu kemudian bergegas masuk kedalam selimutnya. Kini hanya tinggal kepalanya yang terlihat sedangkan seluruh tubuhnya tertutup oleh selimut itu.
Ceklek ...
Perlahan Marcello masuk dan memperhatikan suasana didalam
ruangan itu. Ruangan itu cukup tenang dan aman, tidak ada barang yang tergeletak di sembarang tempat. Semua barang masih berjejer rapi pada tempatnya.
"Cha, apa kamu sakit?!" tanya Marcello.
Ia menghampiri Marissa yang berbaring membelakangi dirinya kemudian duduk disamping punggung Gadis itu. Marcello sempat meraba kening Marissa dan tersenyum setelah mengetahui bahwa Marissa baik-baik saja.
"Aku tidak apa-apa, Dad! Aku cuma malas ngapa-ngapain. Malas bangun, malas mandi, malas sarapan, malas kuliah, pokoknya semua malas," sahut Marissa tanpa menoleh kepada Marcello.
"Menengok Daddymu yang tampan inipun kamu malas?" tanya Marcello sambil terkekeh setelah mendengar penuturan Anak Gadisnya itu.
"Termasuk itu," sahut Marissa.
"Oh, ayolah! Icha sayang ... jangan seperti itu. Tidak baik untuk seorang anak Gadis bermalas-malasan." Marcello mengelus pundak Marissa kemudian meraih tangan gadis itu dan membangunkan tubuhnya.
"Ayo! Temani Daddy sarapan!" ajak Marcello.
"Aku tidak mau, Dad. Daddy sarapan saja sendiri. Aku mau rebahan lagi!" tolak Marissa.
Marissa melepaskan tangannya dari genggaman Marcello dan ingin kembali ke posisinya semula. Namun,
"Ehem!"
Sarrah berdiri didepan pintu kamar Marissa yang terbuka lebar. Ia memasang wajah malas ketika melihat Marcello berada dikamar Gadis itu.
"Sarrah? Kamu sudah lama berada disini, Sayang?" tanya Marcello sambil tersenyum hangat menatap Kekasihnya.
"Baru saja," sahut Sarrah dengan tangan yang menyilang di dadanya.
"Oh ya, Marissa! Kekasihmu sedang menunggu di depan. Ternyata dia sangat romantis, ya? Pagi-pagi begini sudah membawakan bunga untukmu," sambung Sarrah sambil menatap Marissa dengan wajah malas.
"Kekasih?!" pekik Marcello dan Marissa secara bersamaan.
"Iya, Dosen itu! Bukankah dia kekasihmu, Marissa?!" ucap Sarrah.
Seketika aura wajah Marcello berubah. Ia kembali meradang setelah mengetahui bahwa Dosen itu sudah berada didepan menunggu Marissa.
"Kurang ajar! Sepertinya Dosen sok tampan itu perlu dikasih pelajaran!" kesal Marcello. Marcello melangkah dengan cepat meninggalkan kamar Marissa.
"Gawat!!!"
Marissa bergegas bangkit kemudian berlari kecil menyusul Marcello yang sudah menghilang dari pandangannya.
"Hhhh!" seru Marissa ketika melewati Sarrah yang tersenyum sinis kepadanya.
Sambil berlari kecil, Marissa melangkah menuju halaman depan Mansion. Ia tidak ingin terjadi kesalahan pahaman antara Fattan dan Daddy nya. Saking takutnya, Marissa bahkan tidak sadar bahwa dirinya hanya menggunakan tank top serta hot pants kesayangannya.
Tubuh seksinya begitu terlihat jelas. Bahkan dua aset kembarnya yang melebihi ukuran standar ikut menampakkan keindahannya.
"Aduh, semoga tidak terjadi apa-apa kepada Pak Fattan!" gumam Marissa dengan wajah cemas.
"Sedang apa kamu disini, ha?!" kesal Marcello sembari menghampiri Fattan yang sedang berdiri didepan gerbang Mansionnya.
Fattan tersenyum menyambut kedatangan Tuan Marcello yang mendekat kepadanya, "Tuan Marcello, saya hanya ingin minta maaf kepada Anda atas kesalahan saya kemarin, karena sudah berani mengantarkan Marissa pulang tanpa izin dari Anda," ucap Fattan.
"Hah, omong kosong!" sahut Marcello, masih dengan tatapan kesal menatap Lelaki itu.
"Dad, Daddy! Sudahlah,"
Dengan napas terengah-engah, Marissa menghampiri Marcello kemudian memeluk lengan lelaki itu.
"Dad, sebaiknya Daddy masuk. Kasihan Sarrah sendirian didalam," bujuk Marissa.
"Heh, kamu jangan mencoba mengalihkan pembicaraan ku dengan lelaki ini, ya!" sahut Marcello sembari menoleh kepada Marissa.
Mata Marcello terbelalak ketika menyaksikan penampilan Marissa yang begitu seksi. Fattan bahkan tidak bisa mengedipkan matanya ketika melihat keseksian tubuh Gadis itu.
"Marissa!!!" pekik Marcello.
Marcello bergegas melepaskan jas yang sedang ia kenakan. Kemudian dengan cepat ia pasangkan jas itu kepada Marissa untuk menutupi tubuh Gadis itu.
"Sekarang kamu masuk!" titah Marcello sembari menuntun Marissa masuk kedalam Mansion.
"Tapi, Dad! Pak Fattan?!"
"Sudah, jangan pedulikan dia!" sahut Marcello
Setelah mengantarkan Marissa kembali masuk kedalam Mansion, Marcello kembali menemui Fattan. Marissa hanya bisa memperhatikan perdebatan antara Daddy dengan Fattan dari kejauhan.
Setelah beberapa saat, perdebatan itupun usai. Fattan masuk kedalam mobilnya kemudian segera melaju meninggalkan Marcello yang masih berdiri di depan Mansion dengan beberapa keamanan yang berjaga-jaga dibelakangnya.
...***...