Warning!!! Terdapat banyak kata umpatan dan hinaan dalam cerita novel ini. Bagi kalian yang berhati lembut dan nggak tegaan, silahkan melipir. Ini bukan novel yang cocok untuk kalian baca.
——————
Namanya Arjuna Zaid Abdullah Al-Fatih. Ia merupakan pewaris Al-Fatih Group, perusahaan raksasa asal Timur Tengah yang mendunia. Akan tetapi bagi keluarga Adipura, Arjuna hanyalah sampah yang dipungut oleh Natasha Adipura.
Kotor, hina dan menjijikan.
Arjuna menerima diperlakukan sebagai suami dan menantu yang tak berguna dalam keluarga itu. Namun Arjuna mulai memperlihatkan kuasanya di saat ada yang mengusik Natasha.
-------
Kisah ini hanya fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan peristiwa, itu hanya kebetulan semata.
Selamat membaca ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penegasan Natasha
Happy reading ....
*
Arjuna keluar dari kamar setelah tugas yang diberikan Natasha selesai ia kerjakan. Terlihat Adipura menghampiri Natasha yang masih menikmati suapan terakhirnya.
"Mengapa kau makan di jam segini? Apa tadi siang kau tidak makan?" tanya Adipura yang baru datang dari kantor. Terlihat dibelakangnya Inge berjalan cepat menghampiri, lalu menawarkan teh. Tak lama, Kania dan Joshua datang dari arah ruangan depan.
Arjuna menghampiri dan merapikan bekas makan Natasha. Sebelum meninggalkan ruang makan, Arjuna mengisi gelas Natasha yang kosong.
"Pa, sudah dengar berita hari ini?" tanya Kania.
"Berita apa?" Adipura balik bertanya dengan ekspresinya yang datar.
"Pernyataan putri Tuan Jaya Diningrat-Melani yang mengaku telah dijadikan budak s*k* oleh tuan muda itu," ujar Kania.
"Tuan muda yang mana? Apa maksudmu Tuan Muda Al-Fatih?" Kania mengangguk cepat.
"Itu tidak mungkin. Aku yakin Jaya menggunakan putrinya untuk menjebak tuan muda. Perusahaannya baru saja mendapat investasi dari Al-Fatih, dan dia inginkan lebih. Heh, dasar licik," geram Adipura.
"Kau sendiri serakah. Tua bangka tidak tahu diri," batin Joshua menimpali.
"Bisa saja itu benar. Dari gelagatnya saja sudah seperti maniak," decih Natasha sekenanya.
Arjuna menoleh pada Natasha yang kebetulan juga melirik padanya. Ada desiran tak biasa yang dirasakan Arjuna. "Maniak? Kita lihat saja nanti," batin Arjuna sambil mengulumkan senyuman.
"Apa? Apa yang lucu? Kenapa kau selalu saja memperlihatkan wajah bodohmu itu padaku?" Natasha mengambil gelas air itu dan meminumnya.
"Ceraikan dia, Tasha! Mau sampai kapan? Jangan bilang nanti kau menyesal setelah putri Jaya lebih dulu mendapatkan tuan muda itu. Kau jadi bodoh setelah menikahi sampah ini," decih Adipura.
"Kami tidak akan bercerai, Ayah Mertua," sahut Arjuna.
"Papa dengar sendiri, kan? Jadi berhentilah menggangguku dengan pertanyaan itu. Mengapa kau tidak meminta Kania yang menikahi orang aneh itu, hmm?" tanya Natasha sembari menyipitkan ujung matanya.
"Iya, Pa. Aku saja," timpal Kania.
"Benar, Sayang. Kenapa bukan Kania saja? Kau justru ingin mendekatkan Tasha yang jelas-jelas sudah menikah. Kurasa kali ini kau tidak adil pada Kania," ujar Inge dengan nada lemah di ujung kalimat.
Natasha ingin sekali terbahak. Setelah apa yang Kania dan Joshua dapatkan selama ini, dengan tidak tahu dirinya wanita itu mengatakan bahwa ayahnya tidak adil. Kalau pun ada yang harus berkata seperti itu, Natasha lah orangnya.
Natasha pun beranjak dari duduknya sambil berkata, "Itu karena aku putri di rumah ini. Apa untungnya bagi papa menikahkan Kania dengan Tuan Muda itu? Perusahaan itu milikku. Ada saham mendiang ibu dan kakek yang diperuntukkan bagiku. Jadi jangan bermimpi bisa mengambilnya dariku. Sampai di sini kalian paham? Mulai sekarang bersikaplah layaknya orang yang menumpang. Tahu dirilah sedikit. Aku muak dengan sikap kalian," decih Natasha.
Ucapan Natasha membuat Kania dan ibunya merasa sangat tertohok. Begitu juga dengan Adipura. Sedangkan Joshua hanya bisa menahan amarah di dalam dada.
Natasha melenggang meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Arjuna melangkah ke dapur.
"Sayang, apa kau tidak merasa akhir-akhir ini sikap Tasha sangat arogan? Sebelumnya dia tidak seperti itu," ujar Inge pada Adipura dengan nada yang sangat lembut.
"Menikahi sampah saja membuat dia besar kepala. Apalagi kalau menikah dengan seorang tuan muda. Bisa-bisa kepala papa juga diinjaknya," gerutu Joshua pelan.
"Kau benar, Kak. Dia sama sekali tidak menghargai mama. Heh, yang kudengar dari pelayan, mendiang ibunya sangat lembut. Kurasa mereka mengada-ngada. Kalau benar, pastilah ada sedikit menurun pada Tasha," decih Kania.
Inge dan kedua anaknya terperanjat dengan gebrakan meja yang dilakukan Adipura. Belum sempat Inge bicara, Adipura sudah mendahuluinya.
"Jangan pernah membicarakan mendiang Ayunda di rumah ini. Sekali lagi kudengar kalian membicarakannya, angkat kaki dari rumahku!" tegas Adipura yang langsung membuat wajah ketiganya memucat.
"Arjuna!" lengkingan suara Natasha terdengar dari lantai atas. Ujung mata Adipura menangkap gerakan Arjuna yang bergegas menuju ke kamar Natasha. Adipura menghela nafas dan beranjak dari duduknya. Ayah Natasha itu sudah kehilangan selera makannya.
"Sayang, mau kubuatkan teh?" tawar Inge yang berlari kecil menghampiri Adipura.
"Bawa ke ruang kerjaku," sahut Adipura datar tanpa menoleh.
"Baik," sahut Inge singkat.
Inge kembali pada kedua anaknya yang masih terduduk di ruang makan. Wajahnya yang muram membuat Joshua berusaha menghhiburnya, "Tenanglah, Ma. Meskipun kita tidak bisa memiliki Adipura Land, Mama bisa tenang karena rencana kita berjalan lancar."
"Kau benar. Setelah semua selesai, kita akan pergi tanpa harus menunggu diusir dua kali," geram Inge.
"Haiss, apa-apaan Melani ini. Dasar bodoh," umpat Kania tiba-tiba. Inge dan Joshua yang merasa heran langsung bertanya, "Ada apa?"
"Lihatlah, Kak. Melani membuat klarifikasi mengenai pernyataannya. Sekarang dia mengakui kalau dirinya telah terobsesi pada tuan muda itu sehingga membuatnya hilang akal dan bicara bohong pada media. Apa maksudnya ini? Bukan begini kesepakatannya," gerutu Kania.
"Telpon dia. Kita akan bertemu di club," titah Joshua. Dengan raut wajah kesal Kania pun menghubungi Melani dan meminta bertemu nanti malam.
Joshua juga membaca berita yang kembali membuat gempar itu. Terlihat jelas ada raut kecewa di wajahnya. Joshua terfokuskan pada jari-jarinya yang yang bergerak pada layar ponsel hingga tidak memperdulikan Arjuna yang mengambil minuman soda dari dalam lemari pendingin.
Arjuna membawa nampan berisi satu botol minuman soda dan sebuah gelas yang sudah berisi beberapa kotak es batu. Mungkin karena mood-nya berubah, Natasha meminta minuman itu. Padahal Natasha sangat jarang bahkan menghindari untuk meminumnya.
Arjuna meletakkan nampan itu di meja kerja Natasha. Dari suara gemericik air yang samar terdengar, bisa dipastikan Natasha berada di kamar mandi. Arjuna pun menuangkan minuman soda itu ke dalam gelas highball yang diperuntukkan bagi Natasha.
Sesaat Arjuna terdiam, lalu merogoh sakunya. Arjuna berdehem pelan, dan mengeluarkan botol kecil berisi cairan yang sebelumnya sudah ia keluarkan dari dalam kotak itu. Tangannya gemetar ketika melihat tetes demi tetes cairan dari pipet kaca itu bercampur dengan minuman Natasha.
Arjuna langsung menoleh ketika terdengar pintu kamar mandi dibuka Natasha. Tubuhnya mematung seperti seseorang yang ditodong senjata.
"Apa yang baru saja kau lakuakan?" selidik Natasha dengan tatapan yang tajam.
"A-aku ...." Arjuna merasakan lidahnya tiba-tiba menjadi kelu.