Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!
Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18.Di taman
Suara deru mesin mobil sport hitam milik Damar membelah keheningan malam Kota Medan. Di dalam kabin yang tenang, aroma kulit jok mobil yang khas bercampur dengan wangi parfum lembut milik Naya. Naya duduk bersandar santai, sesekali mengetukkan jarinya di atas paha mengikuti irama lagu pop di radio.
Sementara itu, Damar fokus mengemudi dengan satu tangan di kemudi. Sesekali mata tajamnya melirik ke arah Naya lewat kaca spion tengah. Sikap Naya yang malam ini tidak langsung mencecar atau menggodanya dengan kata "PDKT" justru membuat Damar merasa sedikit canggung. Keheningan di antara mereka terasa berbeda—bukan hening yang dingin mencekam, melainkan hening yang dipenuhi desiran aneh yang tak terucapkan.
Mobil akhirnya berhenti di pinggir jalan raya yang ramai, tepat di depan kedai martabak langganan yang dipenuhi kepulan asap harum mentega dan adonan goreng.
"Wah, ramai banget, Mas!" seru Naya bersemangat, memajukan tubuhnya menatap antrean orang di depan kedai.
Damar mematikan mesin mobil, lalu menoleh pada istrinya. "Kamu tunggu di sini saja. Udara di luar agak dingin. Saya yang belikan."
Naya menaikkan sebelah alisnya, agak terkejut. "Eh? Mas Kulkas mau turun sendiri ke kedai pinggir jalan gitu? Nanti jas mewahnya kena asap mentega loh!"
"Saya tidak sekerdil itu, Naya," sahut Damar kaku, berusaha menutupi perhatian kecilnya. "Sebutkan saja pesanan kamu."
"Martabak telur spesial daging sapi, kuah cukanya yang pedas, sama acar bawangnya dibanyakin ya, Mas!" sahut Naya dengan binar mata polos yang sangat jernih.
Damar menatap mata bulat itu selama beberapa detik. Ada rasa hangat yang merayap perlahan di dadanya melihat kepolosan Naya yang begitu nyata tanpa pura-pura. Tanpa sadar, jemari tegap Damar terulur, merapikan beberapa helai rambut Naya yang berantakan di dekat keningnya, menyelipkannya secara perlahan ke belakang telinga cewek itu.
Sret...
Sentuhan kulit jari Damar yang hangat dan sedikit kasar di pinggir telinganya membuat tubuh Naya mendadak membeku. Gerakan tangan Damar begitu lembut, sangat bertolak belakang dengan raut wajahnya yang selalu terpasang datar.
Mata mereka beradu di dalam remang cahaya lampu kabin. Tidak ada gurauan savage dari bibir Naya, dan tidak ada alasan 'formalitas kontrak' dari mulut Damar. Hanya tatapan dalam yang membuat degupan jantung mereka sama-sama terakselerasi tanpa izin.
Damar yang mendadak sadar akan tindakannya langsung menarik tangannya kembali dengan gerakan teratur, lalu berdeham pelan demi menguasai diri.
"Tunggu di sini," ujar Damar kaku dengan suara beratnya yang sedikit serak, lalu buru-buru keluar dari mobil sebelum rasa hangat di pipinya terlihat oleh Naya.
Naya menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi, menyentuh pinggir telinganya yang masih terasa hangat. Pipi mulusnya merona merah. Duh, Naya... kok jantung lu merdeka banget sih deg-degannya? Ingat, dia cuma suami kontrak empat bulan lagi! Tapi... kok sentuhannya tadi lembut banget ya? batin Naya linglung, kehilangan kata-kata savage-nya untuk pertama kali.
Lima belas menit kemudian, Damar kembali membawa dua kotak martabak yang masih hangat dan beraroma gurih menyengat. Pria itu tidak langsung membawa mobil pulang ke mansion, melainkan memutarkan kemudinya menuju sebuah taman kota yang agak sepi, dihiasi lampu-lampu taman berwarna kuning hangat dan deretan bangku kayu di bawah pohon rindang.
"Loh, Mas? Kok berhenti di sini?" tanya Naya heran saat mobil terparkir di tepi taman.
"Makan di dalam mobil nanti aromanya menempel di jok," kilih Damar beralasan, padahal ia hanya ingin mengulur waktu agar bisa menghabiskan malam lebih lama bersama Naya. "Kita makan di bangku taman saja."
Mereka berdua turun dari mobil. Angin malam yang agak berembus dingin menyapa kulit. Naya refleks mengusap kedua lengannya yang hanya terbalut kaus tipis.
Melihat hal itu, Damar tidak mengomel atau memberi teguran kaku. Pria itu secara alami melepas jas hitam mewahnya, melangkah mendekati Naya dari belakang, lalu menyampirkan jas hangat beraroma parfum mewahnya ke atas bahu Naya.
Naya tertegun, memandangi jas besar yang kini membungkus tubuhnya. "Mas... nanti Mas dingin loh, cuma paka kemeja doang."
"Saya sudah terbiasa dengan udara dingin," jawab Damar tenang, berjalan mendahului Naya menuju salah satu bangku kayu di bawah sorotan lampu taman.
Mereka duduk bersisian di atas bangku kayu tersebut. Jarak di antara mereka hanya tersisa sejangkal. Naya dengan lincahnya membuka kotak martabak, mengambil sepotong martabak telur yang masih mengepul, lalu mencelupkannya ke dalam wadah plastik berisi kuah cuka pedas.
"Hmm! Enak banget, Mas! Gurih, renyah, kuahnya pas!" puji Naya seraya mengunyah dengan sangat lahap.
Damar memperhatikan Naya dari samping. Pemandangan seorang gadis bergaun santai memakai jas besarnya, duduk di bangku taman sambil makan dengan sangat gembira, membuat lelah pekerjaan kantor yang menumpuk di kepala Damar sirnah seketika.
"Kamu tidak mau coba?" tawar Naya, menyodorkan sepotong martabak hangat ke arah Damar.
Damar menatap potongan martabak itu, lalu menatap Naya. Pria itu sebenarnya tidak terlalu menyukai makanan berminyak di malam hari, namun melihat binar mata Naya yang penuh harap, Damar akhirnya memajukan tubuhnya dan menerima suapan itu langsung dari tangan Naya.
Bibir Damar sempat menyentuh sedikit ujung jemari Naya saat mengambil gigitan pertama.
DEG.
Sensasi sentuhan kecil itu mengirimkan aliran listrik halus yang membuat mereka berdua sama-sama menahan napas sejenak. Damar mengunyah perlahan, menikmati rasa gurih yang meledak di mulutnya, sementara Naya buru-buru menarik tangannya kembali dan berpura-pura sibuk mengambil wadah kuah cuka.
"Bagaimana, Mas? Enak kan?" tanya Naya dengan suara pelan, agak canggung.
"Lumayan," sahut Damar singkat, merapikan kemejanya. Namun matanya tidak bisa berbohong—pria itu menatap Naya dengan kelembutan yang teramat dalam. "Terima kasih."
Suasana di antara mereka mendadak berubah menjadi sangat intim dan syahdu. Angin malam berembus menggoyahkan dedaunan di atas mereka, membawa beberapa helai daun kering gugur perlahan.
Salah satu helai daun kering kecil mendarat lembut dan tersangkut di atas rambut hitam terurai milik Naya.
Damar memiringkan tubuhnya mendekati Naya. "Ada daun di rambut kamu."
Naya hendak menyentuh rambutnya sendiri. "Eh? Di mana—"
"Jangan bergerak," bisik Damar halus.
Suara berat dan posisi tubuh Damar yang mendadak sangat dekat membuat Naya terhipnotis untuk mematung di tempat. Tangan tegap Damar terulur sangat perlahan, jemarinya yang hangat menyelusup ke dalam helai-helai rambut Naya, mengambil daun kering itu dengan sangat hati-hati.
Namun setelah daun itu terkepal di tangannya, Damar tidak langsung menarik tangannya kembali. Ibu jarinya justru tertahan di pipi mulus Naya, mengelusnya dengan sangat lembut dan penuh perasaan.
Tatapan mata cokelat gelap milik Damar terkunci lurus pada manik mata bulat Naya. Di bawah temaram lampu taman, jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. Napas hangat mereka berembus berpadu di dalam dinginnya malam.
Naya merasakan dadanya bergemuruh hebat. Tidak ada kalimat godaan yang keluar dari mulutnya. Untuk pertama kalinya, cewek yang selalu savage dan ceplas-ceplos ini benar-benar terdiam, terpesona oleh kedalaman tatapan suaminya. Ada rasa memiliki yang begitu kuat, namun terbungkus rapi oleh keraguan dan gengsi di antara mereka berdua.
"Kamu... kenapa selalu memandang saya seperti itu, Naya?" bisik Damar sangat pelan, suaranya terdengar begitu seksi dan serak di tengah heningnya malam.
Naya menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba mencari kembali suaranya yang sempat hilang. "M-memangnya... saya memandang Mas gimana?"
Damar menyunggingkan senyuman yang sangat tipis namun begitu manis—sebuah senyuman tulus tanpa kepura-puraan. tangannya yang berada di pipi Naya bergerak perlahan merapikan helai rambut di dekat leher istrinya, sebelum akhirnya ditarik kembali secara perlahan.
"Seperti kamu sedang mencoba membaca pikiran saya," sahut Damar pelan, lalu menegakkan kembali posisi duduknya dan menatap lurus ke depan.
Naya mengembuskan napas panjang yang sempat tertahan di dadanya. Pipi dan lehernya terasa sangat hangat. Cewek itu menunduk, memandangi kotak martabak di pangkuannya sambil tersenyum tipis tanpa sadar.
Malam itu, di atas bangku taman yang sederhana, tidak ada pengakuan cinta yang terucap. Tidak ada kata-kata manis yang mengobral perasaan. Namun, dalam setiap sentuhan lembut dan tatapan mata yang tertahan, benih-benih rasa di antara sang CEO gengsian dan sang istri savage itu tumbuh makin dalam dan makin tak terelakkan.
Ketika mereka tiba kembali di kamar utama mansion Diksara menjelang tengah malam, suasana canggung yang mendebarkan itu masih terasa menyelimuti udara.
Naya yang sudah berganti pakaian piyama berjalan mendekati tempat tidur. Seperti biasa, guling pembatas berenda masih terbentang kaku di tengah kasur king-size.
Damar yang baru keluar dari ruang ganti dengan kaus santai dan celana kain menatap guling pembatas itu. Pria itu melangkah mendekat, lalu mendudukkan tubuhnya di tepi kasur.
Naya merebahkan tubuhnya di sisinya, menepuk guling pembatas itu pelan. Namun kali ini, Naya tidak mengucapkan kalimat ejekan soal denda lima ratus juta atau kompensasi dua miliar. Cewek itu hanya melirik Damar dari balik selimutnya.
"Mas Kulkas..." panggil Naya pelan.
Damar menoleh, menatap samping wajah istrinya. "Ya?"
"Makasih ya buat martabaknya... dan buat jasnya tadi," ujar Naya tulus dengan suara halus.
Damar tertegun sejenak. Sudut bibirnya terangkat tipis. Pria itu menarik selimutnya sendiri, lalu berbaring membelakangi guling pembatas.
"Sama-sama. Tidurlah, Naya," sahut Damar lembut dari seberang guling.
Naya memejamkan matanya sambil memeluk guling tersebut. Di dalam kegelapan kamar yang tenang, kedua insan itu sama-sama membiarkan detak jantung mereka yang masih berdebar pelan menuntun mereka menuju tidur yang lelap, membiarkan alur slow burn ini terus berjalan dengan caranya sendiri yang mendebarkan.
_Bersambung