NovelToon NovelToon
Gadis Galak Milik Tuan Muda

Gadis Galak Milik Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Transmigrasi
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yusriani Yusuf

Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.

Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.

Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arena menembak

Sementara itu, di ruang pantau yang terletak di lantai atas gedung kompetisi, suasana terasa jauh lebih formal. Adrian tampak sedang berbincang santai dengan seorang pria berpostur tegap yang mengenakan seragam militer lengkap dengan atribut bintang di pundaknya.

Pria itu adalah Jenderal Arya, sosok yang memecahkan rekor sebagai jenderal termuda dalam sejarah Kekaisaran.

“Jenderal Arya, rumor tentang Anda ternyata bukan sekedar cerita saja yah? Wibawa Anda benar-benar luar biasa,” puji Adrian menyunggingkan senyum sopannya.

Jenderal Arya tersenyum tipis, menggeleng kecil. “Anda terlalu menyanjung, Tuan Muda Adrian.”

“Sama sekali tidak. Kemarin ayah dan paman saya sempat menelepon. Mereka sangat kagum dengan proposal strategi yang Anda ajukan di rapat Kekaisaran kemarin. Pihak keluarga kami juga sudah berkomitmen untuk mendukung penuh proyek baru Anda.”

“Tentu saya sangat menghargai dukungan dari keluarga Anda. Saya akan memastikan proyek ini berjalan lancar.”

“Kalau begitu saya permisi dulu. Masih ada urusan luar yang harus saya urus.”

“Silakan tuan mari saya antar.”

Baru saja Adrian berbalik hendak melangkah menuju pintu, seorang perwira muda masuk dengan terburu-buru dan memberi hormat.

“Lapor Jenderal. Seluruh peserta seleksi menembak gelombang pertama sudah memasuki arena. Pertandingan akan segera dimulai.”

“Bagus. Aktifkan semua kamera pemantau dan tampilkan di layar utama,” perintah Jenderal Arya tegas.

“Siap, Jenderal!”

Adrian awalnya tetap melangkah pergi, namun kalimat Jenderal Arya berikutnya membuat gerakannya tertahan.

“Hari ini ada banyak mahasiswa bertalenta dari berbagai penjuru daerah yang ikut serta. Saya pribadi ingin menyaring beberapa orang terbaik untuk dimasukkan ke dalam divisi khusus Kekaisaran. Anda yakin tidak tertarik untuk menonton sebentar, Tuan Muda?”

“Saya agak sibuk. Mungkin lain ka…”

Kalimat Adrian terputus di udara. Matanya secara tidak sengaja menangkap seseorang yang baru saja muncul di layar monitor utama berukuran raksasa di depan mereka. Di sana, di sudut lapangan tembak nomor empat, terlihat seorang gadis berambut pendek yang sangat ia kenali. Gadis itu berdiri dengan santai di samping Adit.

Langkah kaki Adrian mendadak terpaku di lantai.

Jenderal Arya yang menyadari perubahan sikap tamunya ikut menoleh. “Tuan Muda Adrian? Ada masalah?”

Adrian menatap layar itu selama beberapa detik tanpa berkedip, sebelum akhirnya sebuah senyuman aneh terukir di sudut bibirnya.

“Dipikir-pikir lagi, urusan saya di luar tidak terlalu mendesak. Saya rasa menonton sebentar bukan ide yang buruk.”

Jenderal Arya mengangguk formal, lalu memberi isyarat agar Adrian duduk di kursi VIP.

“Tentu silakan.”

Adrian tidak duduk. Dia malah melangkah lebih dekat ke arah meja operator dan menunjuk layar monitor nomor empat.

“Gadis berambut pendek di sebelah sana apa dia juga salah satu peserta yang Anda undang?”

Petugas operator dengan sigap mengetikkan sesuatu di papan ketik untuk memeriksa basis data peserta. “Bukan, Tuan Muda. Nama gadis itu tidak terdaftar sebagai peserta resmi. Dia hanya datang sebagai pendamping untuk peserta di sebelahnya, atas nama Adit Pramudia.”

“Kalau begitu, tolong buka berkas milik Adit.” Perintah Jenderal Arya.

“Dimengerti.”

Dalam hitungan detik, seluruh riwayat hidup dan rekam jejak akademis Adit terpampang di layar. Jenderal Arya mendekat membaca data tersebut dengan saksama.

“Anak laki-laki ini memang punya potensi besar dia juga salah satu kandidat yang saya sarankan dan saya yakin diberikan bisa lolos dalam seleksi ini. Tapi yang saya perhatikan orang yang bersamanya itu…”

Jenderal Arya menggantung kalimatnya, matanya menyipit menatap sosok Ana di layar.

Adrian melirik sang jenderal dari sudut matanya. “Kenapa dengan dia?” Tanyanya.

“Kamera di area lapangan tembak itu sengaja disamarkan di sela-sela dekorasi dinding, dan resolusinya sengaja diturunkan agar tidak mencolok. Tapi lihatlah gadis itu langsung tahu di mana letak lensa kamera sejak pertama kali dia masuk.”

Jenderal Arya menunjuk tangannya ke arah layar yang menampilkan wajah Ana dari depan. Di layar itu, Ana tampak menatap lurus ke arah kamera tersembunyi sambil menyunggingkan senyuman tipis yang terkesan dingin, seolah-olah dia sedang menantang siapa pun yang sedang mengawasinya dari balik monitor.

“Naluri kewaspadaan yang tajam. Perhatikan juga cara dia memosisikan kakinya saat berdiri dan bagaimana pundaknya tetap stabil. Itu bukan postur orang biasa,” analisis Jenderal Arya dengan nada serius.

Adrian hanya diam, menikmati kebingungan sang jenderal.

Jenderal Arya menyilangkan kedua tangannya di depan dada, tatapannya makin dalam.

“Hanya ada satu latar belakang yang bisa membentuk pembawaan seperti itu pada seorang gadis muda.”

Adrian menaikkan sebelah alisnya. “Oh ya? Apa itu?”

Jenderal Arya menoleh, menatap Adrian dengan pandangan menyelidik. “Militer.”

Adrian tertawa kecil, suara tawa yang terdengar renyah namun penuh arti. “Analisis Anda memang tidak pernah meleset Jenderal.

Dia memang lahir dan dibesarkan di tengah keluarga militer garis keras.”

Mendengar hal itu, Jenderal Arya tampak sedikit terkejut. “Jadi Anda sudah mengenal dia sebelumnya, Tuan Muda?”

Adrian tidak langsung menjawab. Matanya kembali terkunci pada sosok Ana di layar monitor yang kini sedang membantu Adit menyesuaikan pelindung telinganya.

“Saya dan dia itu…” Adrian menjeda kalimatnya sejenak senyumnya makin melebar namun tersirat kilatan emosi yang sulit diartikan.

“Saya punya hubungan yang bisa dibilang cukup rumit.”

Jenderal Arya hanya diam, bergantian menatap Adrian dan layar monitor dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.

Suasana di arena bawah sedikit tegang, Adit sudah berdiri tegak di jalur menembaknya. Kedua tangannya mencengkeram gagang pistol dengan tegas, mengarahkannya lurus ke papan sasaran yang berada beberapa puluh meter di depannya. Pria itu menarik napas panjang menahan emosinya, lalu menarik pelatuknya tanpa ragu.

Dor!

Peluru melesat cepat dan melubangi papan target tepat di lingkaran angka sembilan.

“Lumayan. Angka sembilan,” komentar Ana yang berdiri di batas garis aman di belakangnya.

Adit menoleh sekilas dengan senyum bangga yang mulai terbit di wajahnya. Namun, Ana sama sekali tidak membalas senyuman itu. Tatapan matanya tetap lurus menilai papan target di depan mereka.

“Bahu kananmu terlalu naik saat peluru keluar. Rileksin lengan kirimu jangan ditahan kaku. Badanmu jangan terlalu tegang kalau gak mau akurasinya geser di tembakan berikutnya.”

1
Syifaa
Jangan lupa komen
yuyusss
greget
yuyusss
😍
yuyusss
uhuyy
yuyusss
lanjuttt
Syifaa
Makin seru nggak
imran
Lanjut kak
imran
Baguss banget
Syifaa
Lanjut nggak
Putri Sajak
kak yuk like punya kuh🤭
imran
Bagus
imran
Lanjut
Syifaa
Maaf yah guys kadang nggak update
Syifaa
Gimana guys lanjut nggak
Syifaa
Nah gimana kelanjutannya suka nggak
Syifaa
Jangan lupa komen yah
Syifaa
Maaf yah guys akhir-akhir ini lagi sibuk banget
imran
Baru update yah
imran
Lanjut kak penasaran banget kelanjutannya
Syifaa
Maksih yah komennya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!