NovelToon NovelToon
CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Ning sopiah

Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.

Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan jalan Berdua

Langit Darunnajah sudah agak oren.

Ning Sopiah baru selesai setoran hafalan santriwati, masih pakai gamis coklat susu dan kerudung yang tadi pagi, tapi sudah ganti parfum yang lebih kalem. Di teras Ndalem, Vespa putih gading milik Gus Azam sudah dipanasin, bunyinya _ngeng... ngeng..._ halus.

Gus Azam sudah siap, pakai kemeja koko abu-abu, sarung dilipet jadi celana biar gak kesangkut, peci hitamnya diganti helm klasik putih. Kelihatan gagah banget, beda dari Gus yang biasanya cuma sarungan di masjid.

"Ning, jadi kan ke toko kitab?" teriak Gus Azam dari teras.

Sopiah keluar dari dalam dengan langkah kecil-kecil, agak gugup. Sejak nikah, ini pertama kalinya dia diajak keluar berdua naik motor, bukan naik mobil ndalem.

"Jadi Gus... tapi..." Sopiah lihat vespa itu, lihat jok belakang yang kecil.

Gus Azam ketawa, ngerti. "Tenang, vespanya pelan kok. Jalan pasar kan cuma 15 menit. Gus pengen beliin Ning kitab yang baru, yang untuk hadiah Syifa tadi, yang berprestasi tahsin itu. Sekalian beliin Qurrotul Uyun yang cetakan baru buat kita."

Sopiah ngangguk, lalu dengan hati-hati naik ke boncengan. Jaraknya masih satu jengkal. Tangannya pegang behel belakang vespa, kenceng banget.

Gus Azam lihat dari spion kecilnya, senyum. "Ning boleh pegangan ke Gus ya, hati-hati, Gus agak ngebut sedikit takut kemaleman di jalan, pasarnya tutup jam 5."

Deg.

Jantung Sopiah langsung _jedug jedug_ kayak bedug maghrib.

Tangan yang tadi pegang behel, pelan-pelan... dengan sangat pelan dan malu-malu, pindah ke ujung kemeja Gus Azam dulu, cuma nyubit kainnya.

Gus Azam manasin gas, vespa jalan pelan keluar gerbang pondok. Santri-santri yang lihat langsung heboh.

"Uwooo Ning Sopiah boncengan sama Gus Azam!"

Sopiah makin merah, nunduk di belakang punggung Gus Azam.

Baru 100 meter keluar pondok, jalan agak berlubang, vespa _jegluk_.

Sopiah kaget, refleks, tangannya langsung...

...melingkar di pinggang Gus Azam. Erat.

Hening.

Gus Azam yang tadinya fokus nyetir, langsung senyum lebar di balik helmnya.

Sopiah sadar apa yang dia lakukan, mau lepas lagi, tapi sudah terlanjur.

"Nah... gitu baru betul," kata Gus Azam pelan, tapi cukup keras biar kedengeran di balik suara vespa. "Di sinilah memang tempat tanganmu melingkar di pinggangku, Ning."

"Gus Azammmm!" Sopiah teriak kecil, tapi gak melepas. Malah makin erat karena angin sore mulai kencang. "Gus kenapa akhir-akhir ini makin gombal sih?"

Gus Azam ketawa, ketawa bahagia. "Bukan gombal, Ning. Itu doa. Biar tangan Ning gak dingin kena angin."

Sopiah gak jawab, dia cuma menyembunyikan wajahnya di punggung Gus Azam, biar gak kelihatan kalau dia senyum terus dari tadi. Untuk pertama kalinya, dia ngerasa jadi istri yang benar-benar dibonceng suaminya, bukan Ning yang diantar supir pondok.

Angin sawah sore itu, bau padi, suara vespa, dan detak jantung dua orang yang sama-sama deg-degan.

...****************...

Toko kitabnya kecil, tapi penuh. Bau kertas baru campur kayu jati. Kitab-kitab kuning bertumpuk sampai plafon.

"Ning, pilih, mau yang mana buat Syifa?" kata Gus Azam sambil bukain helm Sopiah pelan, seperti di film-film.

Sopiah masih agak linglung habis boncengan tadi. "Yang kecil aja Gus, yang matan Tajwidul Mubtadi biar dia semangat."

Pemilik toko, Pak Haji Ujang, kenal Gus Azam. "Wah Gus, sama Ning nya ya? Wah cocok pisan, kayak santri dan santriwati teladan."

Sopiah dan Gus Azam kompak nunduk malu.

Saat Sopiah lagi milih kitab di rak bawah, dia harus jongkok. Gamisnya agak kesulitan. Gus Azam dengan sigap jongkok juga di sebelahnya, nahanin gamis Sopiah biar gak kena debu, tanpa disuruh.

"Ning, ini bagus nih," kata Gus Azam sambil nunjuk kitab kecil bersampul pink, "Ada terjemah Indonesianya, cocok buat Syifa yang mungil ayu itu."

Sopiah lihat, "Iya Gus, ini aja! MasyaAllah cantik sampulnya."

Di kasir, Gus Azam bayar, terus dia ambil satu kitab lagi, cetakan baru Qurrotul Uyun yang sampulnya coklat elegan.

"Ini buat kita," bisik Gus Azam ke Sopiah. "Nanti malam kita lanjutin halaman 2 nya. Yang tadi pagi belum selesai."

Sopiah nyubit lengan Gus Azam pelan, "Gusss di sini jangan bahas itu ah!"

Pak Haji malah ketawa, "Halal, Ning, halal. Lanjutin di rumah ya ngajinya."

Keluar dari toko, langit sudah gelap. Bukan oren lagi, tapi abu-abu pekat.

"Gus, mendung..." kata Sopiah cemas.

"Wah iya, ayo cepet pulang, sebelum hujan."

Mereka buru-buru naik vespa lagi. Kali ini Sopiah gak perlu disuruh, langsung melingkar di pinggang Gus Azam, lebih erat dari berangkat. Gus Azam senyum, gas agak kenceng.

Baru 5 menit jalan, _BYURRR_.

Hujan turun deras banget, hujan sore yang besar-besar.

"Gus hujan!"

"Ada warung di depan, kita neduh dulu!"

Mereka menepi di sebuah warung kecil pinggir sawah, warung wedang ronde. Warungnya cuma diterangi lampu neon kuning temaram, anget banget di tengah hujan deras.

Vespa diparkir, mereka berdua duduk di bangku kayu panjang, basah kuyup bagian bawahnya. Kerudung Sopiah agak basah pinggirnya, Gus Azam langsung ambil tisu dari sakunya, ngelap pelan.

"Maaf ya Ning, Gus maksa ngebut jadi kehujanan..."

"Gak apa-apa Gus, malah... anget," kata Sopiah lirih.

Ibu warung datang, "Mau wedang ronde nya, Neng, Kang? Baru mateng."

"2 ya Bu, yang anget," kata Gus Azam.

Dua mangkok wedang ronde datang, masih ngebul, jahe nya wangi, ada kacang, kolang-kaling, dan bola ronde ketan yang kenyal.

Sopiah mau ambil sendok, tapi tangannya masih dingin agak gemeter habis kena hujan.

Gus Azam liat, tanpa banyak ngomong, dia ambil sendoknya, tiup pelan-pelan wedang nya biar gak terlalu panas.

"Ning, coba dulu, pasti anget," kata Gus Azam, menyodorkan sendok ke depan mulut Sopiah.

Sopiah kaget, matanya membulat. Di pondok, di depan santri, Gus Azam gak pernah begini. Ini pertama kalinya.

"Gus... di sini... malu..."

"Gak ada santri di sini, cuma hujan dan Ibu warung. Ayo, buka mulutnya, biar gak masuk angin. Nanti kalau Ning sakit, siapa yang ngajarin Syifa besok?"

Dengan pipi yang sudah gak bisa merah lagi saking merahnya, Sopiah pelan-pelan membuka mulutnya. Gus Azam menyuapi wedang ronde itu dengan hati-hati, penuh adab.

"Gimana? Manisnya pas?"

Sopiah mengangguk, matanya berkaca-kaca lagi, tapi kali ini karena hangatnya jahe dan hangatnya perhatian.

"Manis Gus... seperti yang bikin..." dia membalas godaan Gus Azam tadi pagi soal teh.

Gus Azam yang kali ini giliran kaget dan ketawa, "MasyaAllah, sekarang Ning yang gombal ya? Belajar dari siapa?"

"Dari Gus Azam," jawab Sopiah cepat, lalu mereka berdua ketawa bareng di warung kecil itu, diiringi suara hujan yang deras di genteng seng.

Ibu warung yang lihat dari jauh cuma senyum, "Alhamdulillah, pasangan muda yang sakinah..."

Hujan reda setelah 20 menit. Langit jadi bersih, ada pelangi tipis di atas sawah.

Gus Azam berdiri, "Ayo Ning, pulang, pelanginya sudah nunggu."

Perjalanan pulang kali ini pelan banget. Gak ngebut sama sekali. Sopiah meluk pinggang Gus Azam dengan lebih tenang, kepalanya sesekali bersandar di punggung Gus Azam, menikmati sisa bau jahe dan bau hujan.

Di gerbang Darunnajah, Ning Latifah dan Ning Ummah sudah nunggu sambil bawa handuk.

"Ya Allah kalian kehujanan! Tadi kata Pak Satpam udah pergi! Aku khawatir!"

Sopiah turun dari vespa, masih pegangan tangan Gus Azam biar gak jatuh.

Gus Azam menjawab santai, "Gak apa-apa, malah dapat rezeki wedang ronde dan pelangi."

Ning Latifah lihat kitab baru di kresek, langsung heboh, "Wah buat Syifa ya? Wah romantis pisan beli kitab sambil hujan-hujanan!"

Sopiah dan Gus Azam saling pandang, senyum malu-malu.

Malam itu, di Ndalem, dua kitab baru itu ditaruh di atas meja. Yang pink buat Syifa besok, yang coklat buat mereka berdua nanti malam setelah Isya.

Dan di luar, bekas roda vespa masih membekas di tanah basah, jadi saksi pertama kali Ning Sopiah berani meluk pinggang suaminya sendiri.

--- Bersambung ---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!