NovelToon NovelToon
TERJERAT CINTA PAK KADES

TERJERAT CINTA PAK KADES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Beda Usia
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: julieta

Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...

Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN KEDUA

Pagi ini Vallery bangun pagi dengan suasana yang berbeda. Kalau biasanya saat masih di rumah, Vallery bangun pagi tidak ada yang spesial. 

Ya paginya begitu-begitu saja. Begitu bangun, sholat, setelahnya sarapan dan langsung siap-siap untuk kerja. Berbeda dengan saat ini, Vallery dibangunkan oleh suara Kokok ayam yang saling bersautan.

Suara adzan subuh dari surau yang tak jauh dari rumah neneknya juga mengambil bagian untuk membangunkan Vallery pagi ini.

Setelah membersihkan diri dikamar mandi dan sholat, Vallery yang mencium wanginya masakan dari arah dapur pun segera keluar dari dalam kamarnya.

Ya inilah yang sangat dirindukannya. Bau asap dapur tradisional milik neneknya bercampur dengan  bau masakan lezat yang nenek Gendhis buat.

Meski sudah ada kompor gas, untuk memasak nenek Gendhis masih menggunakan Pawon (dapur dengan  tungku dari tanah liat dan kayu sebagai bahan bakarnya) untuk memasak dan hanya menggunakan kompor gas untuk merebus air minum atau memasak sesuatu dimalam hari atau hanya dipergunakan untuk menghangatkan makanan yang telah dimasak pagi hari karena lebih praktis dan tak membuat tubuh menjadi bau asap dan kotor.

Tak ingin  menganggu neneknya memasak, Vallery memilih untuk menyapu lantai rumah dan halaman, hal yang biasanya buliknya kerjakan dipagi hari, tapi karena sekarang buliknya tak ada di rumah dan hanya dirinya yang menemani sang nenek, tak ingin menjadi beban, Vallery pun mengambil alih tugas tersebut, itung-itung ia membantu meringankan pekerjaan nenek Gendhis.

Selesai menyapu rumah, Vallery pun segera pergi ke halaman depan rumahnya untuk menyapu pekarangan rumah yang cukup luas tersebut.

Setakah semuanya selesai, Vallery pun berdiri didepan halaman rumah neneknya ambil meregangkan kedua tangannya keatas.

Vallery mengisi penuh paru-paru nya dengan udara pedeaaan yang masih bersih dan segar sepuasnya.

"Udara disini benar-benar segar,membuat dadaku terasa sejuk", gumannya sambil mengamati lalu lalang para penduduk desa yang baru turun dari surau atau masjid dan juga para warga yang hendak pergi ke ladang atau sawah mereka.

Sebagai bentuk kesopanan, Vallery akan tersenyum ketika disapa oleh warga desa yang melintas dan berpapasan dengannya tanpa tahu senyuman mautnya itu membuat beberapa warga yang naik motor hendak kesawah terjatuh akibat terpesona oleh kecantikannya.

Dirga yang kebetulan batu turun dari masjid setelah sholat subuh dan melihat cucu nenek Gendhis yang cantik itu tersenyum ramah kepada semua orang, merasa panas hatinya karena sebagian besar yang menyapa Valley adalah bapak-bapak dan pemuda desa yang hendak berangkat ke sekolah atau bekerja, melihat ada anak sekolahan yang nyungsep ke selokan bersama motornya akibat terpesona oleh kecantikan Vallery, Dirgapun sudah tak tahan lagi dan segera memacu motornya, berhenti tepat didepan Vallery yang masih belum sadar jika pesonanya sangat membahayakan keselamatan banyak orang.

Vallery yang melihat seorang pria yang semalam ikut mengantarnya yang ia tahu dari sang nenek kalau pria itu adalah kepala desa di Desa Maju Bersama dimana neneknya tinggal pun segera mengangguk dan menyapa dengan sopan. “Selamat pagi mas kades”.

Bukannya menjawab, Dirga malah melotot tajam kearahnya. Apalagi setelah ia melihat kacamata milik Vallery yang berwana merah darah yang terpampang jelas dibalik kaos putih yang dikenakannya, membuat hatinya semakin terbakar cemburu menyadari jika banyak warga desa yang tadi lewat tampaknya sudah melihat aset berharga milik Vallery yang tersembunyi itu.

“Sebaiknya kamu masuk dan membantu nenekmu memasak didapur daripada berdiri disini dan membahayakan warga”, ucap Dirga tajam.

Vallery yang dimarahi tanpa tahu kesalahannya hanya terdiam sambil membatin dalam hati, "Kenapa pak kades ini, pagi-pagi susah memarahi orang? Apa dia salah minum obat ya? Membahayakan warga, emang aku ngelakuin apa hingga membahayakan warga".

Ia terus mengomel dalam hati karena tiba-tiba dimarahi oleh Dirga padahal Vallery meraaa tidak melakukan kesalahan apapun.

Melihat Vallery masih terdiam di tempatnya, Dirga kembali melotot, "Kenapa masih tetap diam disitu, cepat masuk!", ucapnya dengan nada sedikit tinggi.

Kembali dimarahi, Vallery hanya bisa prengat-prengut dengan bibir mengerucut, ingin membalas ucapan Dirga tapi tak berani setelah melihat tatapan membunuh yang diarahkan kepadanya.

Melihat Vallery berjalan masuk kedalam rumah, hati Dirga merasa lega tapi hanya sementara karena tak sengaja kedua netranya menatap kearah celana training ketat warna biru muda yang Vallery kenakan, dimana segitiga merah sewarna kacamatanya tadi tercetak jelas disana membuathati Dirga semakin panas dan kepalanya pun tiba-tiba nyut-nyutan.

“Yaa Allah, cobaan apa lagi ini”, gumannya sambil meraup wajahnya dengan frustasi sebelum ia segera melanjukan motor nya kearah jalan pulang dengan kencang.

Didapur, nenek Gendhis yang melihat cucu kesayangannya masuk kedalam rumah sambil prengat-prengut menghentikan kegiatannya.

“Kamu kenapa to nduk, pagi-pagi wajahnya sudah ditekuk seperti itu. Nggak baik, bikin rejeki pergi jauh kalau wajahnya kaya gitu”, kritik nenek Gendhis.

Vallery yang masih kesal di marahi oleh Dirga tanpa tahu salahnya hanya bisa mengeluh, “Itu loh nek, mas kades. Aku tadi hanya berdiri didepan rumah nggak ngelakuin apa-apa tiba-tiba dimarahi. Siapa juga yang nggak kesel”, ucap Vallery sambil mencomot tempe mendoan hangat di atas piring didepannya.

Nenek Gendhis yang melihat kemarahan cucunya malah tersenyum geli.

“Marah boleh tapi mendoan diatas piring itu jangan terus dimakan, itu buat lauk nasi pecel pagi ini”, tegur nenek Gendhis.

Bukannya menghentikan  tangannya, Vallery semakin mempercepat kunyahannya dan malah mengambil satu tempe mendoan lagi dan segera memasukkannya kedalam mulut dengan cepat seolah takut ada yang merebutnya sambil terus mengomel akibat dimarahi Dirga, membuat nenek Gendhis terkekeh pelan atas tingkah laku absurd cucu perempuannya itu.

“Mungkin mas kades itu tak memarahi mu, hanya mengingatkanmu saja karena depan rumah nenek itu kan tikungan, kalau pagi kendaraan yang lalu lalang cukup banyak dan takutnya kamu yang berdiri didepan ketabrak jadi ia menyuruhmu masuk membantu nenek masak. Hanya saja wajah mas kades itu datar dan cara bicaranya juga tak ada manis-manisnya jadi maklumi saja”, jelas nenek Gendhis, membuat Vallery hanya bisa menggaruk hidungnya dengan telunjuk.

“Apa iya aku yang salah denger tadi”, Vallery berguman pelan, meragukan pendengarannya yang biasanya sangat tajam itu.

Sementara itu dirumah bergaya minimalis yang sangat mewah karena paling mencolok dan satu-satunya di Desa Maju Bersama, seorang pria berusia tiga puluh tiga tahun tengah mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang mengalir dari shower.

“Gila! Sejak bertemu dengan gadis kecil itu, ular pitonku terus bangun dan sulit untuk dikendalikan, seolah ingin menerjang keluar dengan ganas”, gerutu Dirga sambil menggerakkan tangannya mencoba bermain solo sambil membayangkan pemandangan indah yang menyambutnya setelah turun dari masjid tadi.

Begitu selesai menuntaskan hasratnya, Dirga segera keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian karena pagi ini ia ada agenda rapat di kecamatan dengan agenda penyaluran dana bantuan pembangunan infrastruktur desa yang akan diterima oleh Desa Maju Bersama.

Karena waktunya cukup lama dihabiskan didalam kamar mandi akibat godaan bidadari ibukota yang baru tiba di Desa Maju Bersama, Dirga tak sempat sarapan dan langsung melajukan motor maticnya menuju kecamatan karena wakil dan sekretaris desa sudah tiba disana lima menit yang lalu.

1
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Fadilah Fadilah
lanjutkan cerita nya
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Fadilah Fadilah
lanjutkan cerita nya
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Rian Moontero
Mampiiirrr😍👍👍
Fadilah Fadilah
lanjutkan cerita nya 🙏🙏🙏
Fadilah Fadilah
lanjutkan sampai habis cerita ini jan🙏🙏🙏
Fadilah Fadilah
lanjutkan
PengGeng EN SifHa
BERSAMBUNG...


TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️

SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA
PengGeng EN SifHa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Fadilah Fadilah
lanjutkan
PengGeng EN SifHa
walah walah walah walah...dunia dirga benar2 sangat seru dengan mereka yg mempunyai keinginan yg berbeda² demi sebuah VALIDASI
PengGeng EN SifHa
tampah...tledok...kalau ditempatku namane
Fadilah Fadilah
lanjutkan
PengGeng EN SifHa
Tatapanmu bagaikan mata si elang🦅🦅🦅 yang siap menerkam ga🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!