Keina di usir dari rumah keluarga tiri karena diketahui telah berselingkuh dari Leo, kekasih Kara, anak kandung di keluarga angkat Kei.
Namun siapa sangka di tengah jalan malah bertemu dengan pria mabuk dan diperkosa hingga hamil.
Kehidupan penuh beban sebenarnya dimulai. Melahirkan tiga anak sekaligus bukan lah hal mudah di saat kondisi ekonomi kritis baginya. Tapi semua terbayar ketika ia mengetahui ketiga anak-anaknya cerdas dan bertalenta.
Anna, pandai melukis. Alice, pandai menulis karangan karya. Dan Andre, dia pandai berakting.
Siapa sangka pada suatu kebetulan ia bertemu dengan seorang pria, yang diklaim sebagai ayah dari anak-anaknya. Jeremy, CEO perusahaan yang bergerak dalam industri perfilman. Tempat anaknya, Andre akan melakukan syuting film pertamanya bersama Kei.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OO SWEETIE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Bersama Triplent
Kei menggaruk tengkuk. Di dalam pikiran, ia berkata. Apakah ia harus menampung pria ini semalamaan atau malah mengusirnya dengan cara teramat lembut.
Kei merasa berat hati dan canggung membayangkan bagaimana seorang pria malah menginap di rumahnya.
Walau tidak melakukan apapun seperti ucapan bibi Gin, tetapi ia takut warga sekitar malah mengatakan sesuatu buruk kepadanya.
Apalagi dengan status sebagai seorang aktor baru yang baru memunculkan batang hidungnya di layar televisi satu negara ini, tetap saja warga sekitar seolah tidak menerima keberadaannya.
Ada yang mengatakan…
"Aku yakin dia tidak bekerja. Berdekatan dengan sutradara sungguh menyulitkan apalagi membuat seorang CEO menjadi aktor–beradu akting, lagi. Ibu-ibu, aku kira aktor baru itu menggoda sutradara dan CEO-nya sekaligus supaya mendapat peran utama."
"Ih, iya ya?" saut ibu-ibu lain dengan memandang jijik Kei.
"Ternyata tidak disangka…"
"Maka dari itu ibu-ibu. Tampang sama sekali tidak menentukan orang lain baik atau malah jadi wanita murahan diluaran sana."
Kei, masih ingat pada masa itu ia membeli sayur di warung dekat rumahnya di hari libur beberapa waktu lalu.
Ia bahkan mendengar secara jelas perbincangan ketiga ibu-ibu yang berada di tempat yang sama dengannya.
Dimana malah menggosipinya… Sngguh, Kei tidak mengerti bagaimana ia bekerja keras bermodal hoki yang dimiliki, malah disangka menggoda dua orang yang adalah saudara tersebut.
Wanita itu hanya mampu terdiam, meneguk saliva-meredakan semua keluh kesah di dalam hati.
Tetapi apakah hal serupa akan terjadi jika melihat Jeremy menginap di rumah Kei?
Membayangkannya saja sudah membuat tubuh Kei bergetar dan segera menggeleng! Siapapun tidak ingin dirinya menjadi pusat perhatian dalam tanda kurung untuk hal jelek.
Sedang kejadian dirinya berteriak seperti orang gila, masih membekas dalam ingatannya itu. Ia merasa malu! Dipandang orang sebagai orang tidak punya moral sama sekali… Kei merasa seperti tidak memiliki muka untuk sekedar berhadapan dengan mereka.
Kembali pada masa sekarang.
Kei menatap dua putri dan satu putranya itu dengan bingung.
Anna, Alice dan Andre tampak berharap besar pada Kei selaku ibu yang bisa mengizinkan. Kei memiliki kuasa di dalam rumah ini, dan melalui Kei, siapapun bisa masuk ke rumah ini hanya dengan melihat Kei menganggukkan kepala.
Tetapi hingga kini keinginan mereka itu sama sekali tidak diopen bunda mereka sendiri.
"Bunda…" lirih Andre, putra bungsu Kei dengan meminta belas kasihan. "Izinkanlah."
Kei masih mengatupkan bibir atas dan bawahnya sembari berpikir hal terbaik.
"Anna janji pun, kalau ayah di sini, Anna langsung tidur."
"Alice juga bunda!"
"Andre pun…"
Tetap tidak ada respon.
Hingga mereka menghela napas, seolah menyerah dengan keinginan mereka.
"Kalau begitu, boleh," Kei mengizinkan.
Sontak triplent Kei terkejut dengan posisi mata membulat sungguh lebar. Dan didetik kelima, mereka sama-sama berteriak girang, "Horeeee!!" mereka memeluk ayah mereka dengan penuh kebahagiaan.
Kei memandang dari jarak tiga meter, menggeleng kepala dengan tidak percaya betapa senangnya triplent-nya itu mendapati Jeremy berada di sini, di rumah ini. Kei merasakan anak-anaknya itu baru mendapatkan hadiah teramat besar hingga bahagianya seperti itu.
Bibi di samping Kei kembali mendekat dan berbisik, "Kan sudah Bibi bilang, Kei. Mereka kenal siapa ayahnya."
Kei tidak merespon dengan satu katapun ucapan sang bibi.
Setelah kurang dari tiga menit melihat kebahagiaan triplent-nya itu, Kei kini perlu memikirkan dimana menempatkan lelaki bertubuh hampir menginjak dua meter ini tidur.
"Ayah nanti tidur bareng Anna, ya," ucap Anna mengalihkan pandangan Kei yang tengah berpikir itu.
"Tidak, bareng Alice ya, ayah," saut Alice tidak terima.
"Tidak! Bareng Andre aja!"
Begitupun dengan Andre yang sepertinya sudah mengakui bagaimana anak kecil itu begitu merasakan kalau Jeremy adalah ayahnya.
Namun karena bundanya mengatakan kalau wajah orang ada banyak dan pastinya hanya suatu kebetulan ada kemiripan maka selama ini ia hanya tutup mulut dan menatap dari jauh sembari membayangkan bagaimana rasanya jika Jeremy menjadi ayahnya dan bersentuhan dengan pria itu sebagai ayah dan anak.
Kei lagi-lagi terdiam saat triplent-nya tersebut malah saling beradu ingin Jeremy menjadi teman tidurnya malam hari ini.
Apalagi dengan lelaki itu hanya terdiam memperlihatkan senyum seakan kini berperan sebagai seorang pria tak punya pikiran hanya mengikut saja, membuat keadaan sekarang tampak sangat genting dan perlu banyak pasokan pemikir cepat.
"Kei…" seru Bibi yang masih di samping Kei. "Beritahu keputusanmu," ucap Bibi akhirnya kembali menyadarkan Kei dari pemikiran yang terasa buntunya itu.
Kei membesarkan suaranya hingga perdebatan berhenti antar saudara itu.
"Ayah kalian akan tidur di kamar kalian. Bunda akan buat kasur kalian di lantai saja. Supaya bisa tidur saling berpelukan seperti keinginan kalian," keputusan Kei.
Senyuman terbentuk begitu lebarnya, Triplent Kei mendadak tersenyum lebar, "Terima kasih bunda," ucap mereka secara bersama-sama.
Kei ke kamar, diikuti Jeremy yang katanya hendak membantunya.
Jeremy, merasa terpukau dengan apa yang dilihatnya. Karya-karya yang dipajang di dinding--lukisan abstrak Anna yang tidak diketahui Jeremy siapa pembuatnya.
Di saat Kei sedang berusaha melepas kasur dari ranjang, Jeremy masih berdiri seperti orang bodoh menurut Kei.
"Apa kamu masuk kemari hanya untuk berdiri saja di sana?" tanya Kei merasa jengkel.
Sontak Jeremy mendekati Kei. "Mh, maaf. Aku tidak terlalu memperhatikan."
Kei tidak membalas, dia berusaha melepas satu persatu kasur dan sudah ada satu yang dibaringkannya di atas lantai berkeramik.
Jeremy melihatnya, dan mulai memperaktekkan.
Pria itu berusaha membuka, dan sudah ada satu terlepas dan diletakkan di atas lantai.
Kini satu lagi, Kei dan Jeremy melakukannya secara bersama-sama.
Saling menatap… Sungguh, sangat memalukan bagi Kei karena Kei merasa leher pakaiannya sedikit terbuka hingga bisa dipastikan bahwa Jeremy tengah memandang belahan dada miliknya dengan takjup.
Namun di mata Jeremy, lelaki itu tidak melihat hal lebih dari sekedar menatap wajah Kei sekali-kali tak sengaja melihat leher juga pakaian Kei yang turun dan dia tidak macam-macam berpikir.
Keduanya hanya terjerat dalam keheningan tanpa satupun yang berani berkata termasuk Kei yang merasa risih.
Setelah semuanya siap, triplent Kei dan Jeremy tidur dihadapan Kei yang berdiri di ambang pintu.
"Bunda tidak tidur bareng kami?" tanya Andre dengan polosnya pada bundanya itu.
Bersambung…
kaya gk masuk akal ..