Follow IG : renitaria7796
Aran Odelia Courtney seorang raja berkuasa yang menyukai gadis bernama Sara Helowit. Raja menginginkan Sara menjadi selir keempat puluh satu. Namun sayangnya Sara sudah memiliki seorang kekasih.
Bagaimana Aran akan menaklukkan Sara? Lalu mampukah sang kekasih menyelamatkan Sara dari belenggu Aran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengandung
"Maafkan aku karena kita harus berada di istana dingin ini," kata Sera.
"Kamu bicara apa, sih? Kami senang setidaknya kita akan aman di sini," kata Esme.
"Benar. Di sini tidak ada pengawal atau pelayan lain. Kita bebas di sini," kata Lily.
"Lalu, untuk makan bagaimana? Apa di sini ada bahan makanan?" tanya Sera.
Jika istana bagian selatan dilupakan, berarti tidak ada apa-apa di dalam istana itu. Saat pindah, keadaan istana sungguh sangat memprihatikan. Esme dan Lily harus bekerja keras untuk merapikan kamar agar layak untuk ditiduri.
Setiap enam bulan sekali istana tidak terpakai itu dibersihkan. Nasib tidak beruntung di dapat Sera saat pindah karena belum waktunya pelayan istana membersihkan istana itu.
"Pasti ada petugas yang akan mengantarkan kita makanan. Putri jangan khawatir," ucap Esme.
"Aku terbiasa kelaparan dan hanya makan sepotong roti. Aku sangat tidak enak kepada kalian."
"Sudahlah, jangan bahas masalah perut. Lebih baik kita nikmati waktu santai ini," balas Lily.
Terdengar suara riuh di luar kamar. Esme dan Lily pergi keluar untuk memeriksanya. Beberapa orang pelayan datang dengan membawa bahan makanan serta selimut tebal.
"Ini bahan makanan untuk kalian selama tiga hari," ucap pelayan wanita dengan menurunkan keranjang yang ia bawa.
Enam buah roti gandum dan enam buah apel serta beberapa sayur yang menjadi bahan makanan mereka selama tiga hari.
"Apa kalian bercanda memberi kami makanan sedikit seperti ini?" protes Lily.
"Apa ini masih kurang? kalian ini rakus atau apa?!"
"Kamu hanya pelayan, jangan membentak kami!" kata Lily geram.
"Kamu juga pelayan! Ambil makanan dan selimut kalian. Istana utama hanya memberikan kalian jatah ini. Kami tidak bisa berbuat apa-apa," sahut pelayan wanita satunya.
Kedua wanita pelayan itu pergi setelah melaksanakan perintah istana. Esme dan Lily terpaksa mengambil jatah makan yang seadanya, lalu membawanya ke kamar.
"Hanya ini makanan yang diberikan," kata Esme.
"Itu sudah cukup. Kita bagi rata saja," ucap Sara.
"Mereka memberi kita makanan ini untuk tiga hari. Itu artinya tidak ada makan siang untuk kita, dan aku rasa makanan ini tidak cukup untuk tiga hari ke depan selama berada di istana dingin," tutur Lily.
"Justru itu, kita harus berhemat. Anggap saja kita sedang latihan menurunkan berat badan."
Sara tertawa mendengar lelucon Esme. "Kamu benar, Esme."
...****************...
Istana bagian selatan itu memang dingin. Perapian yang dibuat Esme dan Lily tidak dapat menghentikan rasa dingin yang menyusuk. Tadi sore kedua dayang Sara hanya mendapat sedikit ranting pohon di sekitar area istana.
"Besok aku akan mencari ranting pohon yang banyak," kata Lily.
"Kita harus mencari kayu. Aku akan mencoba meminta tukang kayu istana untuk memberikan kita kayu api secara diam-diam," sahut Esme.
Sara biasa saja dengan hawa dingin menusuk itu. Dalam hatinya terasa panas dan otaknya berpikir mengenai Elios. Sang raja tengah berburu pemberontak dan kekasihnya telah menjadi seorang pengkhianat. Sara berharap bukan kelompok kekasihnya yang diburu.
"Tuan Putri, pakailah selimut. Tubuhmu akan kedinginan," kata Lily.
"Aku akan memakainya nanti."
"Sudah malam, Putri. Sudah waktunya untuk tidur," kata Esme.
Sara menjauh dari kusen jendela. Ia naik ke atas tempat tidur dan merebahkan kepalanya di bantal. Esme menyelimuti selir malang itu.
"Tidurlah, Putri."
Sara mengangguk, lalu memejamkan matanya. Esme dan Lily ikut merebahkan diri di kasur bawah setelah Sara tidur.
Pagi harinya Sara merasakan perutnya yang tidak mengenakkan. Ia memuntahkan roti serta apel yang baru saja masuk ke dalam perut.
"Pasti kamu masuk angin," kata Esme.
"Minum dulu, Putri," ucap Lily seraya memberi segelas air kepada Sara.
"Lily, coba kamu panggil dokter untuk memeriksa Sara," kata Esme.
"Tidak perlu. Nanti juga aku akan sembuh. Aku ingin istirahat saja."
"Lebih baik istirahat dulu. Aku akan pergi ke tukang kayu untuk meminta kayu api untuk nanti malam," kata Lily.
"Pergilah," sahut Esme.
Sara merasakan tubuhnya tidak mengenakkan. Kepalanya terasa berat dan sekarang ia hanya ingin tidur saja.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Esme.
"Tubuhku meriang. Tolong naikkan selimutnya."
Esme menyelimuti Sara sampai ke leher. "Kamu tunggu dulu di sini. Aku akan kembali secepatnya."
Esme keluar dari kamar meninggalkan Sara seorang diri. Esme berlari menuju dapur istana mencari sebuah panci perak, lalu mengisi air dari keran.
"Aku menumpang merebus air ini di tempat penempahan saja."
Esme keluar dengan membawa panci berisi air menuju bagian penempahan senjata istana. Di sana ada beberapa pengrajin yang semuanya, adalah pria berotot.
"Bisakah aku menumpang merebus air ini?" tanya Esme.
"Memangnya di istana tidak ada api?" tanya salah seorang pengrajin.
"Kami diasingkan di istana selatan," jawab Esme.
"Sungguh kasihan. Biar aku panaskan airnya untuk kalian."
Untunglah di dunia ini masih ada orang baik hati. Lily mendapat beberapa balok kayu dan Esme dapat pulang dengan membawa arang dan air panas yang diantar oleh pengrajin.
"Aku akan mengompres kepalamu. Sepertinya kamu demam," kata Esme.
"Apa kita perlu panggil dokter? Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja," sahut Lily.
"Sepertinya begitu. Kamu panggil saja dokter istana."
Lily mengangguk, lalu keluar dari dalam kamar. Beberapa saat dayang itu kembali dengan membawa dokter Ophelia.
"Apa yang terjadi?" tanya dokter.
"Sepertinya selir Sara sakit parah," jawab Esme.
"Biar aku periksa." Ophelia memeriksa dengan seksama. Tangan, mata, lalu perut ia periksa. "Apa Putri tidak datang tamu bulanan?"
"Tuan Putri belum datang tamu bulanan untuk bulan ini," jawab Esme.
Jelas dayang-dayang dari semua ratu atau pelayan dari anggota bangsawan tahu masalah pribadi majikannya. Itu karena merekalah yang menyiapkan segalanya.
Dokter Ophelia tersenyum, "Selamat Putri, Anda hamil. Kekaisaran Whiteland mendapat penerus lagi."
Sara tersentak, "Ha-hamil?"
"Benar, Putri."
"Wah! Selamat, Tuan Putri," ucap Esme dan Lily.
Sara menelan saliva dan masih tidak percaya apa yang dokter barusan katakan. Mungkinkah ini kemalangan yang akan membawa ke jurang lebih dalam?
"Kumohon untuk tidak memberitahu siapa pun," pinta Sara.
"Kenapa?" tanya ketiganya.
"Ratu Izzy baru saja kehilangan anaknya."
Esme dan Lily berlutut di depan dokter. "Dokter, jangan bagi tahu siapa pun. Tunggu saja kepulangan raja Aran ke istana."
"Apa yang kalian lakukan? Ayo, bangun. Aku berjanji tidak akan mengatakan apa pun."
"Terima kasih, Dokter Ophelia."
Selesai melakukan pemeriksaan dan memberi obat untuk Sara, dokter Ophelia diantar pulang oleh Lily ke tempatnya.
"Terima kasih, Dok," ucap Lily.
"Sama-sama."
Lily kembali berjalan menuju istana bagian selatan. Dayang itu tidak tahu jika ada yang melihatnya datang menjemput dan mengantar sang dokter ke istana selatan.
"Apa selir Sara sakit?"
Bersambung
Krn istana bukan cuma rumah utk suami, istri dan anak, tp ada bnyk kehidupan didalamnya yg saling menjatuhkan utk bertahan hidup
Jessica juga yg jadi penyebab kematian ibunya sara