NovelToon NovelToon
Dendam 172

Dendam 172

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying di Tempat Kerja
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Aku melangkah ke ruangan tahanan pelaku perundungan Nirmala dengan langkah pelan. Bau pengap dan dingin menyergap hidungku. Di balik jeruji besi, tampak wajah-wajah kuyup dan lusuh anak-anak itu. Mata mereka cekung, rambut kusut, seolah semalam tidak tidur. Namun satu sosok langsung mencuri perhatianku.

Seorang anak perempuan meraung tanpa henti. Suaranya serak, tangisnya pecah. Dialah Riska.

Anak yang dulu paling sombong. Hanya karena kakeknya seorang jenderal dan ayahnya pengusaha besar, dia merasa dunia bisa diinjak sesuka hati. Dia berpikir kekuasaan adalah tameng abadi, bahwa tidak akan ada yang berani menyentuhnya. Hari ini, kenyataan menampar wajahnya tanpa ampun.

Ibunya tewas di sebuah hotel bintang lima. Foto-foto syur sang ibu bersama pria muda tersebar luas di media sosial. Tak ada lagi yang bisa disembunyikan. Riska kini tampak berantakan, jauh dari citra anggun dan pongah yang dulu sering ia pamerkan di sekolah.

“Nirmala akan kubunuh kamu,” jeritnya dengan suara parau.

“Nirmala akan kubunuh kamu,” ulangnya lagi, nyaris seperti orang kehilangan akal.

Aku hanya menggeleng pelan menyaksikan pemandangan itu. Andai saja dulu dia tidak pongah, tidak merasa berkuasa hingga tega membully seorang anak PSK, mungkin teror ini tidak pernah ada. Dan andai sejak awal negara bersikap adil kepada Nirmala, mungkin semua tragedi ini bisa dicegah.

Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku duduk di taman Markas Intelijen sambil menyantap nasi kotak. Udara pagi terasa segar, tapi ketegangan belum juga pergi. Daun-daun basah oleh embun, langit masih pucat.

“Sudah dua jam, tapi masih belum ada korban lagi,” ujar Zaki tiba-tiba dari sampingku.

Aku hampir tersedak. “Kenapa lu kayak jelangkung, selalu saja bikin gue kaget,” ketusku sambil menyuapkan nasi ke mulut.

Zaki nyengir tipis, lalu menatap lurus ke arah jalan. “Mudah-mudahan dengan ketemunya markas Nirmala, semua kasus ini berhenti. Gue lelah. Gue kangen anak gue,” katanya lirih.

Aku diam. Aku juga kangen anakku. Tapi di kepalaku ada pertanyaan lain yang mengganggu. Apakah Andika dan Ratna ada hubungannya dengan Nirmala? Pertanyaan itu berputar-putar tanpa jawaban.

Pukul tujuh lewat lima belas menit, aku dan Zaki dipanggil ke ruang komando. Kami berdiri, menepuk-nepuk sisa nasi di tangan, lalu melangkah cepat.

Pak Anton sudah ada di sana. Wajahnya tampak lebih segar dibanding semalam. Namun yang membuatku tidak nyaman adalah tatapan Pak Romi. Matanya menatapku tajam, seolah ingin menelanjangiku dengan kecurigaan.

Layar besar kembali menyala. Semua mata tertuju ke sana.

“Calon korban tinggal seratus enam puluh tujuh orang lagi. Di dalam kota ini ada seratus orang. Enam puluh orang masih berada di dalam negeri. Tujuh orang ada di luar negeri,” jelas Pak Anton dengan suara datar.

Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Jujur saja, aku mulai ragu. Apakah benar Nirmala pelakunya? Semua teror ini terlalu profesional. Membunuh dengan mobil yang dikendalikan jarak jauh bukan pekerjaan amatir. Itu metode pembunuh kelas dunia dengan teknologi canggih. Namun, semua bukti memang mengarah pada Nirmala.

“Sudah hampir tiga jam dan belum ada korban lagi. Sepertinya teror ini akan berakhir,” ucap Pak Nurdin mencoba memberi harapan.

“Sekarang yang harus kita lakukan adalah memberi keterangan kepada publik,” sambung Pak Haris dengan nada tegas. “Supaya kasus ini tidak simpang siur. Beberapa negara sudah melayangkan protes ke Menteri Keamanan karena opini netizen yang terlalu liar.”

Diam-diam aku membuka media sosial. Benar saja, semuanya gaduh. Teror ini jadi perbincangan utama. Publik mempertanyakan sikap pemerintah. Beberapa sekolah mengumumkan pembelajaran daring. Pintu tol keluar kota sejak dini hari dipadati kendaraan. Orang-orang ingin pergi dari kota yang kian mencekam.

Tiga belas orang mati dalam waktu kurang dari dua hari. Dan semua merasa ini belum benar-benar selesai.

Namun pikiranku tertahan pada satu hal. Sejak tiga benda asing itu hilang dari tubuhku, teror justru berhenti. Dadaku menghangat oleh kecurigaan yang tak berani kusebutkan. Dalam hati, aku bertanya pelan, apakah semua ini ada hubungannya dengan benda-benda itu?

Kami terus menatap layar besar di ruang komando. Data bergerak cepat, angka demi angka diperbarui. Langkah pertama yang diputuskan adalah mengamankan seratus lima puluh sembilan orang yang masuk daftar calon korban. Angka itu terdengar sederhana, tetapi kenyataannya jauh lebih rumit.

Seratus orang menolak diamankan. Mereka menolak dengan keras, sebagian bahkan marah. Mereka tidak mau ikut campur dalam masalah ini. Lebih parah lagi, mereka terang-terangan mengatakan tidak mau lagi mengurus anak-anak mereka. Rupanya, bagi mereka, harga diri dan nama besar jauh lebih penting daripada keselamatan anak sendiri. Mendengar itu, dadaku terasa sesak.

Pak Anton mengambil sikap tegas. “Tidak usah dipaksa. Catat semua penolakan mereka,” katanya singkat.

Lima puluh orang lainnya bersedia diamankan. Rata-rata mereka adalah jurnalis, pengacara, dan beberapa anggota polisi berpangkat rendah. Mereka sadar, mereka tidak punya cukup kekuatan untuk melindungi diri sendiri. Akhirnya, mereka dibawa ke Markas Intelijen dengan pengawalan ketat. Sembilan orang sisanya berada di luar negeri, dan pengamanan diserahkan kepada kerja sama internasional.

Selama dua jam berikutnya, aku menunggu dengan perasaan malas dan gelisah. Beberapa kali aku menghubungi Ratna dan Andika. Ponsel mereka tidak aktif. Keduanya kompak menghilang. Itu membuat kepalaku semakin penuh dengan kecurigaan yang belum berani kusimpulkan.

Tepat pukul sepuluh pagi, kami kembali berkumpul. Sudah lima jam tidak ada kabar korban baru. Perlahan, rasa percaya diri muncul. Seolah-olah badai itu akhirnya mereda, meski pelaku teror belum ditemukan.

Kami duduk melingkar lagi. Kali ini Pak Nurdin memimpin rapat. Suaranya tenang, tapi tegas.

“Sepertinya keadaan sudah kondusif. Hampir enam jam tidak ada korban lagi. Saya tahu kalian belum istirahat sama sekali selama tiga hari ini. Silakan pulang dulu. Kami beri waktu istirahat satu hari. Tapi ponsel harus aktif terus,” ujarnya.

Pengumuman itu terdengar seperti hadiah. Bajuku sudah sangat bau. Lebih dari itu, aku harus segera bicara dengan Ratna dan Andika tentang benda-benda asing yang sempat menempel di tubuhku.

Pak Haris kemudian menoleh ke arah Pak Anton. “Pak Anton, saya masih harus merepotkan Anda. Lakukan pengamanan di bandara, stasiun kereta, terminal bus, dan perbatasan kota.”

Pak Anton hanya tersenyum dan mengangguk.

“Dan sesuai arahan Bapak, pusat komando tetap di sini,” lanjut Pak Haris.

Pak Anton kembali mengangguk.

“Baik. Untuk para anggota, saya ucapkan terima kasih. Sebentar lagi kita akan mengumumkan kejadian ini untuk menenangkan masyarakat,” tutup Pak Nurdin.

Aku melirik jam. Pukul sepuluh lewat tiga puluh. Untuk pertama kalinya, aku merasa pembunuhan itu benar-benar berhenti.

Dalam perjalanan pulang, aku mengemudi dengan hati gelisah. Tiga buah kancing aneh kugenggam di tangan. “Siapa kamu, Nirmala? Dan apa hubunganmu dengan istri dan anakku?” gumamku pelan.

Tanpa terasa, aku sudah sampai di rumah. Saat hendak masuk ke halaman, aku melihat seorang remaja berhoodie keluar dari rumahku. Dari langkah dan kakinya, aku menebak dia perempuan. Seorang pengemudi ojek daring sudah menunggu, lalu mereka melaju pergi.

“Siapa dia?” gumamku, kali ini dengan jantung berdebar.

1
Nurr Tika
bikin penasaran thor
Nurr Tika
makin penasaran
Nurr Tika
sebanarnya meraka maunya pa
Nurr Tika
sebenarnya siapa mereka
Nurr Tika
apakah mereka terlibat akan teror itu
Intan Melani
iya kan si anak y di tolong kakek
Nurr Tika
lanjut,,,,,,
Nurr Tika
diantara mereka ada yg jd mata" siapa ya, lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,,
Nurr Tika
lanjut thor semakin seru
Fitur AI
Semangat ya pak , nanti jangan lupa mampir kenovel aku hehehe...🙏😊
Fitur AI
seharus nya bersukur punya cowo begini
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
benarkah nirmala msh hidup
Nurr Tika
lanjut thor
Intan Melani
aqkya pernah baca thor kayanya y si Nirmala di buang ke jurang sama 2orang cwo. di temuin sama kakek2 terus di obati terus di ajarin bela diri bwt balas dendam.
Nurr Tika
lebih banyak dong thor up nya
Nurr Tika
bikin penasaran thor lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,, apakah ini yg bls dendam pcaranya atau ibunya.
Nurr Tika
lanjut,,,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!