Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.
Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.
Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah itu...
Di gudang. Ada barang-barang peninggalan Luna yang harus dibereskan.
Permintaan itu terasa seperti sebuah jebakan atau sebuah ujian, Queenora tidak yakin yang mana.
Setelah seminggu penuh kewaspadaan terhadap Estrel, setelah malam-malam panjang merawat Elios, dan setelah secercah kehangatan yang baru mulai tumbuh di antara mereka, Darian melemparkan nama Luna kembali ke tengah-tengah mereka seperti sebuah granat.
Gudang.
Tempat di mana kenangan disimpan untuk membusuk atau diabadikan. Dan Darian ingin ia, si ‘wadah sementara’, untuk menyentuh relikui suci itu.
“Saya?” hanya itu yang berhasil keluar dari bibir Queenora, suaranya lebih terdengar seperti embusan napas.
“Ya, kau,” jawab Darian, tidak menatapnya. Ia kembali fokus pada makanannya, seolah baru saja meminta Queenora untuk mengambilkan garam.
“Mama akan menemanimu besok pagi. Aku hanya… aku tidak bisa melakukannya sendiri.”
Pengakuan terakhir itu diucapkan begitu pelan, nyaris tertelan oleh denting sendoknya, tetapi Queenora mendengarnya dengan jelas. Itu adalah sebuah retakan kecil di baju zirahnya, sebuah pengakuan kerentanan yang lebih intim daripada percakapan mereka semalam suntuk di kamar Elios. Ia tidak sedang dihukum. Ia sedang diminta tolong.
.
.
.
.
Keesokan paginya, udara terasa berat dengan embun dan hal-hal yang tak terucapkan.
Adreine menunggunya di depan sebuah pintu kayu tebal di ujung koridor lantai bawah. Ia tersenyum lembut pada Queenora, senyum yang sama yang selalu berhasil menenangkan badai di dalam diri gadis itu.
“Sudah siap, Nak?” tanyanya.
Queenora mengangguk, meremas jemarinya yang dingin.
“Saya tidak yakin apa yang harus saya lakukan, Nyonya.”
“Kita hanya akan memilah. Apa yang mau disimpan, apa yang bisa disumbangkan,” jelas Adreine sambil membuka pintu yang berderit pelan.
“Darian sudah lama menundanya. Mungkin… mungkin kehadiranmu memberinya sedikit keberanian.”
Aroma kamper dan debu yang terperangkap waktu langsung menyergap mereka. Gudang itu tidak gelap, sebuah jendela kecil di bagian atas membiarkan seberkas cahaya pagi masuk, menerangi partikel-partikel debu yang menari-nari di udara seperti kunang-kunang hantu.
Perabotan-perabotan ditutupi kain putih, siluetnya tampak seperti nisan-nisan dalam sebuah pemakaman pribadi. Di sudut-sudut ruangan, tumpukan kotak kardus berbagai ukuran berdiri tegak, dilabeli dengan tulisan tangan yang rapi dan elegan. ‘Buku-Buku Luna’, ‘Pakaian Musim Dingin Luna’, ‘Kenangan Universitas’.
“Dari mana kita mulai?” bisik Queenora, merasa seperti seorang penyusup di tanah suci.
Adreine menunjuk tumpukan kotak yang paling kecil.
"Kita mulai dari yang paling mudah. Barang-barang pribadinya.”
Mereka bekerja dalam keheningan yang nyaman pada awalnya. Queenora membuka kotak pertama, isinya adalah koleksi syal sutra yang indah, masing-masing masih menyisakan jejak samar parfum lili yang kini ia kenali sebagai aroma khas Estrel. Ironis.
“Luna suka sekali syal,” ucap Adreine pelan, tangannya mengelus sehelai kain berwarna biru laut.
“Ibunya selalu membelikannya. Dia bilang, leher seorang wanita harus selalu terlihat anggun.”
Queenora hanya tersenyum tipis. Ia bisa membayangkan tekanan untuk menjadi sempurna di setiap helaan napas. Kotak berikutnya berisi pernak-pernik, kotak musik porselen, bola-bola salju dari berbagai negara, dan bingkai-bingkai foto perak yang kosong.
“Dia selalu bilang akan memasang fotonya dengan Darian di bingkai ini setelah mereka punya anak,” kata Adreine, suaranya sedikit bergetar.
“Tapi sepertinya tidak pernah terjadi....”
Di dasar kotak terakhir, terselip sebuah kotak kayu berukir yang lebih kecil, terkunci dengan gembok kuningan mungil.
“Apa ini?” tanya Queenora, mengangkatnya dengan hati-hati.
Adreine menatap kotak itu dengan tatapan sedih yang familier.
“Oh… itu kotak rahasianya. Kuncinya ada di sini.” Ia merogoh saku blusnya dan mengeluarkan sebuah kunci kecil yang sudah menghitam.
“Dia memberikannya padaku beberapa bulan sebelum meninggal. Katanya, kalau terjadi apa-apa, aku harus tahu isinya.”
Napas Queenora tercekat.
“Apakah… Nyonya pernah membukanya?”
Adreine menggeleng.
“Aku tidak pernah sanggup. Tapi mungkin sekarang waktunya. Mungkin kamu yang harus membukanya.”
Dengan tangan gemetar, Queenora memasukkan kunci itu ke lubang gembok. Terdengar bunyi ‘klik’ yang memecah keheningan. Ia mengangkat tutupnya perlahan. Di dalamnya tidak ada perhiasan atau benda berharga. Hanya ada tumpukan surat yang diikat pita satin dan sebuah buku bersampul kulit berwarna merah marun. Sebuah jurnal.
Queenora menatap Nyonya Adreine, meminta izin tanpa suara. Wanita tua itu mengangguk.
“Bacalah sedikit,” bisiknya.
“Supaya kita tahu apa yang harus kita lakukan dengan semua ini.”
Queenora mengambil jurnal itu. Halamannya terasa rapuh di tangannya. Ia membukanya secara acak ke sebuah halaman di bagian tengah. Tulisan tangan Luna begitu indah, miring dan berirama, tetapi kata-katanya melukiskan gambar yang berbeda.
15 Juni.
Hari ini aku sangat bahagia. Darian menghadiahiku sebuah kalung berlian hari ini. Untuk merayakan ulang tahun pernikahan kami yang kedua. Ibuku menelepon dan berkata aku adalah wanita paling beruntung di dunia.... Aku mengucapkan terima kasih pada Darian. Tapi. ...dia hanya tersenyum, senyum bisnis yang selalu ia pasang untuk rekan bisnisnya. Malamnya, kami makan malam di restoran paling mahal di kota. Dia bertanya tentang hariku, aku bertanya tentang pekerjaannya. Rasanya seperti memerankan sebuah adegan dalam drama yang naskahnya sudah kami hafal di luar kepala. Dia tidak pernah menyentuh tanganku. Aku tidur di ranjang yang dingin, dengan kalung berlian yang terasa seperti pemberat di leherku. Aku tidak beruntung. Aku hanya properti yang terawat baik.
Queenora menutup matanya sejenak. Rasa cemburu buta yang pernah menggerogotinya perlahan menguap, digantikan oleh gelombang empati yang menyakitkan. Ia membuka halaman lain.
3 September.
Sepertinya aku berjodoh dengan gadis ini, aku melihatnya lagi hari ini di toko buku. Gadis yang sering dibicarakan Arya di telepon dengan Darian. Namanya Queenora, kalau tidak salah. Mereka menertawakannya, menyebutnya ‘gadis kampung yang naif’. Tapi aku melihat matanya. Ada semacam kerapuhan di sana, sama seperti yang kurasakan. Aku ingin memperingatkannya, menyuruhnya untuk menjauh dari lingkaran pertemanan mereka yang kejam. Tapi aku tidak punya keberanian. Ibuku akan bilang aku mencampuri urusan yang bukan urusanku. Darian akan bilang aku terlalu dramatis. Jadi aku hanya diam, seperti biasa.
Jurnal itu terlepas dari genggaman Queenora, jatuh ke pangkuannya dengan bunyi pelan. Napasnya tersengal-sengal. Luna… tahu namanya? Luna melihatnya? Luna kenal kakaknya ? Luna ingin menolongnya? Wanita yang ia anggap sebagai saingan tak terlihat, hantu kesempurnaan, ternyata adalah sesama tahanan yang melihatnya dari balik jeruji emasnya sendiri.
“Nak? Kamu tidak apa-apa?” Suara Adreine terdengar cemas.
Queenora mengangkat kepalanya, air mata menggenang di pelupuk matanya.
“Nyonya .. Nyonya Luna… dia orang yang baik, Nyonya. Dia hanya… kesepian.”
Adreine meraih tangan Queenora dan meremasnya.
“Aku tahu, Sayang. Aku tahu.”
Setelah beberapa saat, Nyonya Adreine menghela napas.
“Sudah cukup yang sedih-sedih. Ayo kita bereskan kotak yang itu,” katanya, menunjuk sebuah kotak besar yang bertuliskan ‘Kenangan SMA & Universitas’.
“Mungkin ini isinya kenangan masa mudanya yang mungkin lebih bahagia.”
Queenora setuju, meletakkan jurnal itu kembali ke dalam kotaknya dengan penuh hormat. Ia butuh pengalihan dari kesedihan yang baru saja ia temukan.
Ia membuka kotak besar itu. Isinya adalah tumpukan buku tahunan, ijazah, dan beberapa album foto tebal. Ia mengambil salah satu album secara acak dan mulai membalik halamannya.
Foto-foto itu menunjukkan versi Darian yang belum pernah ia lihat. Darian yang tertawa lepas, Darian dengan rambut berantakan, Darian yang merangkul teman-temannya dengan gaya slengean. Ada foto-foto pesta, liburan, dan acara olahraga sekolah. Queenora tersenyum kecil. Pria beku yang ia kenal ternyata pernah menjadi seorang pemuda yang hangat.
Ia terus membalik halaman, matanya menyapu wajah-wajah asing yang bahagia. Lalu, ia berhenti. Di sebuah halaman, tertempel foto yang sedikit pudar. Sekelompok pemuda berpose di depan sebuah mobil sport, bir di tangan mereka, senyum arogan terpasang di wajah mereka. Darian ada di tengah, tampak sedikit mabuk tapi bahagia.
Queenora merasakan darahnya mulai mendingin. Matanya terpaku pada dua wajah di sisi Darian.
Satu wajah ia kenali dengan kebencian yang membakar isi perutnya. Wajah kakaknya, Arya.
Dan yang satu lagi…
Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Wajah di sebelah Arya. Pria dengan seringai kejam dan mata predator. Pria yang memegangi tangannya malam itu. Pria yang tawa seraknya masih menghantui mimpi buruknya.
Dunia Queenora miring. Udara di gudang yang pengap itu tiba-tiba menipis, mencekik paru-parunya. Foto itu terasa membakar jari-jarinya. Tangannya mulai gemetar hebat, dan album foto tebal itu terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk yang memekakkan telinga.
“Queenora?” Suara Adreine terdengar seperti dari kejauhan, penuh kekhawatiran.
“Kamu kenapa, Nak? Kamu pucat sekali.”