NovelToon NovelToon
PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

Status: tamat
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Berlian zahhara

Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Setelah Badai, Kita Duduk

Hujan turun sejak subuh.

Bukan hujan deras yang menggebrak, melainkan hujan yang jatuh perlahan dan konsisten—seperti dunia yang akhirnya mengizinkan dirinya menangis. Vila di perbukitan terasa lebih kecil hari ini, seolah dindingnya ikut menunduk di bawah beban beberapa minggu terakhir.

Carmela terbangun lebih dulu.

Ia duduk di tepi ranjang, menyelimuti bahunya sendiri, mendengarkan napas Matteo yang teratur di belakangnya. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia tidak bangun karena suara langkah, notifikasi, atau mimpi buruk. Ia bangun karena diam—dan diam itu terasa asing.

Ia berjalan ke jendela. Kabut menutup lembah, pepohonan tampak seperti bayangan. Dunia tidak meminta apa pun pagi ini.

Dan itu membuatnya bingung.

Matteo bangun saat aroma kopi memenuhi ruangan.

Ia berdiri di ambang pintu dapur, menyandarkan bahu ke kusen, memperhatikan Carmela menuang air panas dengan gerakan pelan. Rambutnya dibiarkan terurai, wajahnya tanpa rias, matanya menyimpan lelah yang tidak ia sembunyikan.

“Kau tidak tidur lagi?” tanya Matteo.

“Tidur,” jawab Carmela. “Hanya… ringan.”

Matteo mengangguk. Ia mengerti. Ada jenis kelelahan yang tidak disembuhkan tidur—hanya waktu dan keputusan.

Mereka duduk berhadapan, cangkir hangat di tangan. Tidak ada agenda. Tidak ada peta. Tidak ada layar menyala.

Carmela menatap uap kopi. “Aku membaca semuanya.”

“Semua apa?”

“Komentar. Pesan. Artikel lanjutan.” Ia mengangkat bahu kecil. “Ada yang menyebutku berani. Ada yang menyebutku bodoh. Ada yang bilang aku dimanfaatkan. Ada yang bilang aku memanfaatkan.”

Matteo tidak langsung menjawab. “Dan kau?”

Carmela berpikir sejenak. “Aku lelah menjelaskan.”

Itu pengakuan yang jujur—dan berat.

Siang datang tanpa kunjungan. Ricardo mengirim pesan singkat: aman untuk hari ini. Dua kata yang terasa seperti hadiah.

Carmela duduk di lantai ruang tamu, menyusun kembali barang-barang kecil—buku catatan, foto lama, pakaian sederhana. Ia menemukan kertas yang pernah ia tulis di San Raffaele:

Jika aku harus lari lagi, aku akan tahu caranya.

Jika aku harus bertahan, aku tidak akan menunggu diselamatkan.

Ia tersenyum tipis. Kertas itu terasa seperti suara dari kehidupan lain.

Matteo memperhatikannya dari jauh. “Kau tidak perlu membuktikan apa pun lagi.”

Carmela menatapnya. “Aku tahu. Tapi aku perlu menentukan.”

“Menentukan apa?”

“Bentuk hidupku setelah ini.”

Mereka berjalan di bawah hujan gerimis, tanpa payung, menyusuri jalan setapak di belakang vila. Tanah lembap, udara bersih. Setiap langkah terasa nyata—tidak tergesa, tidak dikejar.

“Aku memikirkan ibuku,” kata Carmela tiba-tiba. “Jika dia hidup, mungkin dia akan bilang aku keras kepala.”

Matteo tersenyum kecil. “Aku sering diberi label yang sama.”

“Bedanya,” lanjut Carmela, “kau dibesarkan untuk percaya bahwa keras kepala adalah kekuatan.”

Matteo berhenti berjalan. Menoleh. “Dan kau?”

“Aku dibesarkan untuk percaya bahwa diam adalah cara bertahan.” Carmela menghela napas. “Aku belajar terlambat bahwa diam juga bisa mematikan.”

Matteo meraih tangannya. Tidak erat. Cukup untuk hadir.

Sore menjelang, mereka kembali ke vila. Matteo menerima satu panggilan—singkat, tertutup. Ia menutup telepon, wajahnya serius tapi tenang.

“Lorenzo menarik diri sementara,” katanya. “Dia kehilangan pijakan. Tapi dia belum selesai.”

Carmela mengangguk. “Tidak ada ‘selesai’ yang bersih untuk orang seperti dia.”

Matteo menatapnya lama. “Dan untuk kita?”

Pertanyaan itu tidak menuntut jawaban cepat.

Carmela duduk di sofa, menepuk tempat di sampingnya. Matteo duduk. Jarak mereka rapat, tapi tidak melebur.

“Aku mencintaimu,” kata Carmela pelan. “Itu tidak berubah.”

Matteo menelan napas. “Aku juga.”

“Tapi cinta tidak boleh lagi menjadi alasan untuk mengorbankan diri diam-diam,” lanjut Carmela. “Bukan aku. Bukan kau.”

Matteo mengangguk. “Aku belajar itu… terlambat.”

“Tidak,” Carmela menggeleng. “Kita belajar saat kita siap membayar harganya.”

Malam turun. Listrik padam sebentar—lilin dinyalakan. Cahaya kecil, hangat. Mereka duduk di lantai, bersandar pada sofa, berbagi keheningan yang tidak canggung.

Matteo membuka pembalut luka lamanya. Carmela membersihkannya dengan hati-hati, gerakan lambat. Tidak ada kata-kata besar. Hanya perhatian.

“Jika suatu hari kau ingin pergi,” kata Matteo tiba-tiba, “aku tidak akan menahan.”

Carmela berhenti sejenak. Menatapnya. “Dan jika suatu hari kau ingin tinggal?”

Matteo tersenyum samar. “Aku akan bertanya. Bukan memutuskan.”

Carmela menyentuh pipinya. “Itu cukup.”

Mereka berciuman—tenang, lama, tanpa tergesa. Ciuman yang tidak meminta apa-apa selain kehadiran. Setelahnya, mereka berpelukan, dahi bertemu dahi, bernapas bersama.

Sebelum tidur, Carmela menulis satu paragraf lagi di buku catatannya:

Aku tidak ingin hidup yang aman jika itu berarti sunyi.

Aku ingin hidup yang jujur, meski berisiko.

Ia menutup buku itu dan mematikannya.

Matteo memeluknya dari belakang. “Besok kita buat rencana kecil,” katanya. “Bukan pelarian. Bukan perang.”

“Rencana apa?” tanya Carmela mengantuk.

“Rencana hidup,” jawab Matteo. “Satu hari pada satu waktu.”

Carmela tersenyum. Untuk pertama kalinya, senyum itu tidak dibayangi ketakutan.

Pagi esoknya akan datang. Masalah belum selesai. Dunia belum jinak. Tapi malam ini, mereka memilih duduk—dan itu adalah keberanian yang lain.

1
Bibilung 123
sangat luar biasa ceritanya tidak bertele tele tp pasti
adinda berlian zahhara: terimakasih masukannya, author sekarang sedang merevisi cerita supaya menjadi bab yang panjang🙏🙏
total 1 replies
putrie_07
hy thorrr aq suka bacanya, bgussss
adinda berlian zahhara: makasih banyak❤️❤️
kalo ada kritik dan saran boleh banget Kaka 🫰
total 1 replies
putrie_07
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!