Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Senyap yang Mematikan
Pagi datang tanpa matahari.
Langit kelabu menggantung rendah di atas kota, seolah dunia menahan napas. Carmela berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap bayangan dirinya yang tampak lebih tenang dari perasaannya sendiri.
Lingkaran tipis di bawah mata, bahu yang sedikit lebih tegang—tapi matanya… tidak lagi kosong.
Ada api di sana.
Ia menyentuh kalung kecil di lehernya, benda sederhana yang Matteo berikan semalam. Tidak mahal, tidak mencolok. Tapi beratnya terasa seperti janji.
Di luar kamar, Matteo berbicara pelan dengan seseorang di telepon. Suaranya rendah, terkontrol—nada yang hanya ia gunakan saat sedang menghitung korban tanpa darah.
“Tidak. Jangan sentuh dia,” katanya.
Jeda.
“Sentuh alurnya.”
Carmela keluar dari kamar mandi tepat saat Matteo menutup panggilan. Tatapan mereka bertemu. Matteo langsung membaca raut wajahnya.
“Kamu dengar,” katanya.
“Aku selalu dengar,” jawab Carmela. “Kali ini aku ingin mengerti.”
Matteo menghela napas, lalu mengangguk. Ia menarik kursi dan duduk berhadapan dengannya. “Baik. Tidak ada lagi setengah kebenaran.”
Ia membuka tablet dan memutar satu nama di layar.
Dario Vescari.
“Dia tidak ingin menjatuhkanku,” lanjut Matteo. “Dia ingin mengambil alih tanpa perang. Caranya: membuatku terlihat rapuh karena emosi.”
“Karena aku,” kata Carmela tenang.
“Karena kita,” koreksi Matteo. “Dan dia sabar. Itu yang membuatnya berbahaya.”
Carmela menatap nama itu lama. “Apa langkahnya?”
“Bukan serangan,” jawab Matteo. “Undangan.”
Undangan itu datang siang hari—formal, bersih, hampir elegan. Gala amal untuk restorasi gedung bersejarah. Lokasi netral. Waktu sempurna.
Perang selalu lebih mudah disamarkan dengan kebaikan.
“Kamu tidak perlu datang,” kata Matteo.
Carmela mengangkat wajahnya. “Aku perlu.”
Matteo menatapnya tajam. Bukan ragu—takut.
“Jika aku bersembunyi sekarang,” lanjut Carmela, “mereka akan terus mencoba memojokkanku. Tapi jika aku berdiri di sampingmu… mereka kehilangan narasi.”
Hening.
Akhirnya Matteo mengangguk pelan. “Kamu datang denganku. Tapi satu hal—kamu mengikuti instingmu. Jika kamu merasa tidak aman, kita pergi. Tanpa debat.”
Carmela tersenyum kecil. “Kesepakatan.”
Malam gala itu penuh cahaya.
Gaun Carmela sederhana, hitam, jatuh elegan tanpa berusaha mencuri perhatian—justru itulah yang membuat orang-orang menoleh. Matteo berdiri di sisinya dengan setelan gelap, aura dingin yang tidak bisa disamarkan bahkan oleh musik klasik dan senyum diplomatis.
Mereka masuk bersama.
Dan dunia memperhatikan.
Bisikan menyebar cepat. Tidak tentang skandal—tentang keberanian.
Dario Vescari menyambut mereka dengan senyum hangat. Terlalu hangat.
“Matteo,” katanya, menjabat tangan. “Dan ini pasti Carmela.”
Tatapan Dario menyapu Carmela, mengukur, menilai.
“Senang bertemu,” jawab Carmela, suaranya stabil. “Acara yang indah.”
“Keindahan selalu soal sudut pandang,” balas Dario. “Dan posisi.”
Matteo tersenyum tipis. “Posisi kami jelas.”
“Oh, tentu,” sahut Dario. “Aku hanya berharap… stabil.”
Itu ancaman yang dibungkus doa.
Mereka berpencar dengan strategi senyap. Matteo berbicara dengan investor, Carmela dengan para donatur. Ia tidak berbicara banyak—ia mendengar.
Dan dari mendengar, ia menangkap pola.
Nama-nama yang sama. Tatapan yang terlalu cepat dialihkan. Satu pelayan yang terlalu sering berada di dekat mereka.
Carmela mendekati Matteo, menyentuh lengannya pelan. “Kita sedang dipetakan.”
“Aku tahu,” jawab Matteo tanpa menoleh. “Kamu baik-baik saja?”
“Lebih dari baik,” kata Carmela. “Aku melihat celah.”
Matteo menatapnya, terkejut sesaat. “Celah apa?”
“Dario tidak ingin terlihat sebagai penyerang,” bisik Carmela. “Dia ingin kamu bereaksi. Jadi jangan.”
Matteo tersenyum—bangga. “Kamu belajar cepat.”
“Aku belajar bertahan,” jawabnya.
Di balkon belakang, udara lebih dingin. Carmela berdiri sendiri sejenak—dan itulah saat bayangan mendekat.
“Masih seindah dulu,” suara itu datang dari belakang.
Carmela tidak berbalik. “Aku tidak hidup di masa lalu.”
“Sayang sekali,” kata lelaki itu. “Masa lalu hidup di kita.”
Ia menoleh.
Lorenzo.
Lebih kurus. Lebih dingin. Tapi mata itu—masih sama. Penuh rahasia dan penyesalan.
“Aku tidak menyangka kamu akan muncul,” kata Carmela.
“Aku tidak muncul,” jawab Lorenzo. “Aku dipanggil.”
“Untuk apa?” tanyanya.
“Untuk mengingatkan Matteo bahwa setiap kerajaan punya fondasi retak,” jawab Lorenzo. “Dan kamu bagian dari fondasinya.”
Carmela melangkah mendekat. “Jika kamu datang untuk mengancam—”
“Aku datang untuk memperingatkan,” potong Lorenzo. “Dario akan membuat Matteo memilih. Dan dia tidak suka pilihan yang rapi.”
Carmela menatapnya lama. “Kamu di pihak siapa?”
Lorenzo tersenyum pahit. “Aku di pihak kebenaran yang terlambat.”
Malam berakhir tanpa insiden. Itu justru yang paling menakutkan.
Di dalam mobil, Matteo menggenggam tangan Carmela. “Kamu luar biasa malam ini.”
“Aku takut,” jawabnya jujur.
“Aku juga,” kata Matteo. “Dan itu berarti kita masih manusia.”
Carmela menoleh. “Lorenzo muncul.”
Matteo menegang. “Apa katanya?”
“Bahwa Dario akan memaksamu memilih.”
Matteo terdiam lama, lalu berkata pelan, “Kalau begitu, aku sudah memilih.”
Mobil melaju menembus kota.
Di belakang mereka, bayangan bergerak. Di depan, perang yang tidak lagi bisa ditunda.
Dan di antara semua itu, Carmela tidak lagi berjalan di belakang Matteo—ia berjalan di sisinya.
Setara.
Terlihat.
Dan siap.