NovelToon NovelToon
Kontrak Dua Minggu

Kontrak Dua Minggu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Wanita Karir
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.

Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Verifikasi di Sangkar Emas

Mobil sedan hitam mewah yang disewa Dalend-yang dibayar tunai dari sisa uang operasional-melaju mulus menuju kawasan elite di Mana keluarga Angkasa Raya tinggal. Jantung Marisa kembali berdebar, kali ini bukan karena takut atau dendam, tetapi karena antisipasi. Di sampingnya, Dalend tampak tenang, namun Marisa tahu, ketenangan itu adalah lapisan tipis yang menutupi kecemasannya.

"Ingat strateginya, Tunangan," bisik Dalend, suaranya pelan dan serius. "Tunjukkan bahwa Lo adalah alasanku untuk menjadi lebih baik. Lo adalah stabilitas dalam hidupku yang kacau. Jangan marah, jangan defensif. Setiap argumen yang mereka lemparkan, Lo kembalikan dengan kesabaran dan cinta yang dipaksakan."

Marisa mengangguk, menggenggam erat tas kecilnya yang berisi uang tunai. "Gue ingat. Gue Anchor Lo. Tapi, bagaimana kalau mama Lo menanyakan detail tentang kita? Hubungan kita."

Dalend tersenyum samar. "Jawab saja secara umum. Kami menghabiskan waktu dengan berbicara, saling berbagi ambisi, dan menemukan kesamaan. Untungnya, Mama tidak akan pernah membayangkan anaknya punya selera low profile seperti Lo. Anggap saja kita sedang berjuang melawan stereotip."

Mareka memasuki gerbang besi tempa yang menjulang tinggi, dan Marisa terkesima melihat rumah keluarga Angkasa Raya. Bukan sekedar rumah, melainkan sebuah estate megah bergaya klasik Eropa dengan halaman rumput luas dan air mancur Eropa dengan halaman rumput luas dan air mancur besar. Ini jauh melampaui imajinasinya tentang rumah konglomerat.

"Selamat datang di sangkar emas," ujar Dalend, senyumnya kini sinis.

...

Di teras depan, Bima sudah menunggu. Pria itu kini mengenakan jas abu-abu, auranya dingin dan tajam. Tatapannya tertuju pada Marisa-tatapan yang memindai setiap detail dari gaun katun Marisa yang rapi.

"Selamat pagi, Tuan Dalend. Nyonya Elvira sudah menunggu di ruang kerja Tuan Wijaya," sapa Bima, formal dan tanpa emosi, ia menghindari kontak mata dengan Dalend.

"Terima kasih, Bima. Boleh aku masuk dengan Marisa?" tanya Dalend, nadanya sopan yang tidak biasa.

"Tentu, Tuan. Silakan."

Saat mereka berjalan memasuki lobi yang sangat luas, Marisa merasakan keheningan rumah itu begitu menekan. Udara di dalam terasa berat dengan sejarah dan kekayaan yang tak terhitung. Dalens meraih tangan Marisa, menggenggamnya erat, isyarat kecil yang seolah mengingatkan bahwa mereka adalah tim.

"Kenapa Bima begitu dingin?" Bisik Marisa.

"Dia marah karena tiket London hangus. Dia sudah lelah menjadi bayangan gue. Bima sudah mengira misi ini akan gagal dan gue akan terbang ke London, meninggalkan masalah," jelas Dalend. "Dia ingin semua kembali normal, di mana gue jauh di luar negeri dan dia bisa bekerja tenang disini. Kita merusak rutinitasnya."

Mereka tiba di sebuah pintu ganda kayu ukiran. Dalend mengetuk pelan dan membuka pintu.

Di dalam ruangan yang didominasi oleh perabotan kayu gelap dan rak buku setinggi langit-langit, duduklah Tuan Wijaya Angkasa di belakang meja kerjanya yang besar. Nyonya Elvira duduk di sofa disisi ruangan, sementara Aurelia Tirtayasa duduk anggun di kursi tunggal, tampak seperti sudah menunggu lama.

"Pagi, Papa. Mama. Aurelia," sapa Dalend, suaranya tenang.

"Duduk, Dalend. Marisa," perintah Tuan Wijaya, gesturnya menunjukkan otoritas mutlak.

Marisa dan Dalend duduk di sofa di hadapan Tuan Wijaya, menjaga jarak yang wajar namun tetap terlihat intim.

...

Nyonya Elvira memulai serangan. Namun, kali ini ia lebih tenang dan metodis, seolah telah merancang setiap pertanyaan di malam hari.

"Marisa, kami sudah tahu sedikit tentang latar belakangmu, seorang Creative Consultant lepas yang orang tuanya bukan siapa-siapa di jakarta. Kami menghargai kejujuranmu semalam, Tapi, mari kita jujur. Dalend adalah putra tunggal kami. Pewaris. Apa yang bisa kamu tawarkan selain... gairah sesaat yang mendorongnya membatalkan studi demi kamu?" Nyonya Elvira menekan kata 'Gairah' dengan nada jijik yang tersembunyi.

Marisa menarik napas. Ia tidak boleh terpancing emosi.

"Tuan, Nyonya Angkasa," Marisa memulai, suaranya lembut namun percaya diri. "Saya tidak punya warisan, aset, atau koneksi bisnis untuk ditawarkan. Yang saya tawarkan pada Dalend adalah tujuan."

Marisa menoleh sedikit ke Dalend. Dalend menatapnya, matanya memancarkan rasa ingin tahu yang dalam, seolag ia sendiri sedang mendengarkan jawaban itu untuk pertama kalinya.

"Selama ini, Dalend selalu bersembunyi di balik pemberontakan. Dia punya potensi, Tuan Wijaya, semua orang tahu. Tapi tidak pernah punya alasan kuat untuk menggunakan potensi itu," lanjut Marisa, bicaranya kini diarahkan pada Tuan Wijaya. "Saya tidak memintanya meninggalkan London. Saya hanya bilang, saya tidak bisa meninggalkannya. Dan pilihan untuk tetap tinggal dan bertanggung jawab adalah pilihannya sendiri. Saya tidak memaksanya, saya hanya menjadi alasan yang cukup baik baginya untuk akhirnya memilih serius dengan hidupnya. "

Tuan Wijaya tetap diam, mengamati. Tapi di mata Nyonya Elvira, Marisa melihat kebingungan. Ini bukan jawabam yang mereka harapkan dari seorang 'gadis pengejar harta'.

Aurelia menyela, suaranya sopan tapi menusuk. "Nona Marisa, Anda berbicara tentang tujuan. Tapi Bukankah lebih realitis jika Dalend mencapai tujuannya dengan menyelesaikan studinya di universitas top, lalu kembali dan mengambil alih perusahaan dengan pengetahuan yang matang? Anda hanya menunda, bukan menyelesaikan masalahnya."

Marisa tersenyum tipis pada Aurelia. "Nona Aurelia, Dalend sudah sangat cerdas. Saya rasa, yang ia butuhkan bukan buku di London, melainkan pengalaman nyata di lapangan, sekarang juga. Dia sudah dewasa, dan dia butuh tantangan yang serius, bukan sekadar degree. Saya percaya, The next step Dalend tidak ada di London, tapi ada di sini, membantu Papanya. Dan saya ada di sini untuk memastikan dia tidak lari lagi."

Tuan Wijaya meletakkan pulpennya. "Dalend," ia memanggil.

"Ya, Pa."

"Apakah ini benar? Kamu menolak tiketmu, yang Bima sudah siapkan dengan susah payah, demi Marisa?" Dalend menghela napas. Ia tahu ini adalah momen krusial untuk kontrak mereka, dan juga untuk dirinya sendiri.

"Ya, Pa. Marisa benar. Saya lelah memberontak dan lari. Dan anehnya, Saya baru sadar kemarin malam, saya punya keinginan untuk menunjukkan pada Marisa bahwa saya bisa menjadi seseorang yang bertanggung jawab. Saya ingin Marisa bangga pada Saya, Pa. Saya akan tetap di sini. Saya akan bekerja di bawah Papa di Divisi Properti yang paling kacau. Berikan saya waktu enam bulan untuk membuktikan bahwa saya bisa berhasil tanpa London. Saya tidak butuh uang saku, saya hanya  butuh Marisa di sisi saya," kata Dalend, dengan suara yang di penuhi kesungguhan.

Marisa merasa jantungnya menghangat. Kalimat Dalend terdengar begitu tulus, nyaris tidak seperti akting. Ia bahkan menggunakan Marisa sebagai alasan untuk serius bekerja-tujuan Dalend yang sebenarnya.

...

Saat Tuan Wijaya tampak merenung, Nyonya Elvira beralih ke serangan personal.

"Marisa, kamu bilang kamu tinggal bersama di apartemen yang baru. Kami perlu bukti keseriusan ini. Bima, tunjukkan pada mereka," perintah Nyonya Elvira.

Bima masuk, membawa amplop tebal. Ia menyarankan foto-foto kepada Tuan Wijaya.

Marisa melihat sekilas. Itu adalah foto-foto mereka di bank, di mall, dan yang paling mengganggu, foto Dalend mencium punggung tangannya, dan foto saat Dalend memegang wajahnya di Le Mirage. Bima bahkan berhasil mengambil gambar Marisa saat ia melepas high heels di sofa apartemen Dalend.

"Ini membuktikan kalian bersama. Tapi tidak membuktikan keseriusan pernikahan " kata Nyonya Elvira, menatap Marisa dengan sinis. "Kalian tidur di ranjang yang sama, atau hanya sandiwara untuk mengambil uang Angkasa Raya?"

Marisa terdiam. Pertanyaan ini melanggar batas privasi, bahkan untuk drama mereka.

Di bawah meja besar itu, jari-jari Dalend bergerak, mencari tangan Marisa. Saat ia menemukannya, ia tidak mengenggamnya kuat seperti semalam. Dalend hanya menyentuh lembut pergelangan tangan Marisa, mengelusnya dengan ibu jarinya, sebuah isyarat tersembunyi yang meminta Marisa untuk tenang. Ini bukan hanya akting, ini dukunganku, isyarat jari itu berkata.

Marisa merasakan gelombang kehangatan yang asing. Sentuhan ini, tersembunyi dari pandangan keluarga yang menghakimi, terasa lebih intim dan nyata daripada pura-pura ciuman semalam.

"Kami tidur terpisah," jawab Marisa, tenang. "Saya tidur  di kamar utama. Dalend tidur di kamar tamu."

Nyonya Elvira tersenyum penuh kemenangan. "Aha! Jadi hanya sandiwara?"

"Bukan sandiwara, Nyonya," balas Marisa, suaranya tetap stabil. "Ini adalah rasa hormat. Dalend tahu saya adalah gadis dengan nilai-nilai kuat. Kami akan menikah di waktu yang tepat, setelah ibu saya pulih. Sampai saat itu, Dalend menunjukan bahwa dia menghormati saya dan keputusan saya. Kami tidan terburu-buru. Kami tidak butuh nafsu untuk membuktikan cinta kami. Kami butuh kepercayaan. " Jawaban Marisa kembali menohok. Dalend di sebelahnya tersenyum kecil. Dalend tahu, Marisa tidak hanya menyelamatkan kontrak, tetapi juga menyelamatkan harga dirinya.

Tuan Wijaya menghela napas panjang, menatap putranya dan Marisa. "Dalend, kamu benar-benar yakin dengan keputusan ini? Membatalkan London, bekerja di Divisi Properti?"

"Yakin, Pa. Saya tidak akan lari. aku akan buktikan bahwa Marisa adalah pilihan yang tepat. Beri aku kesempatan, Pa," Dalend bersikeras.

Tuan Wijaya melirik Nyonya Elvira, yang wajahnya masih dipenuhi rasa tidak suka, tetapi kini bercampur dengan keraguan. Aurelia, di sisi lain, tampak kecewa. Ia menyadari Dalend telah lolos dari perjodohan mereka.

...

Setelah keheningan yang panjang, Tuan Wijaya akhirnya berbicara. "Baiklah," katanya, suaranya berat. "Bima, hubungi agen perjalanan. Batalkan tiket London Dalend."

Marisa merasakan Dalend meremas pergelangan tangannya di bawah meja. Sebuah kemenangan!

"Dalend, kamu akan mulai bekerja di Divisi Properti besok pagi. Dan mengenai pernikahan," Tuan Wijaya menatap Marisa. "Kami akan mengadakan pesta pertunangan resmi dalam waktu dua minggu. Kami akan mengumumkan pertunangan ini kepada publik. Mama kamu akan mengurus semua detailnya. Ini untuk memastikan kamu tidak main-main lagi."

Nyonya Elvira tersentak. "Dua minggu, Pa? Itu terlalu cepat!"

"Ini keputusan final, Elvira. Jika Dalend serius, kita juga harus serius," kata Tuan Wijaya tegas.

Dalend bangkit, memeluk ayahnya. "Terima kasih, Pa. Saya tidak akan mengecewakan Papa."

Tuan Wijaya mengangguk. "Sekarang, kalian boleh pergi. Kami akan bahas detail dengan Mama kamu." Dalend menarik Marisa keluar dari ruangan, hampir berlari. Setelah pintu tertutup, Dalend mengangkat Marisa, memutarnya di udara.

"Kita berhasil, Marisa! Lo luar biasa! Lo baru saja menyelamatkan hidup gue!" teriak Dalend, gembira. Marisa Tertawa, tawa yang lepas dan tulus. Ia baru sadar,  tawa itu bukan tentang uang, tapu tentang kemenangan bersama.

"Turunin gue, Dalend!" Marisa memukul bahunya. Dalend menurunkannya, wajahnya berseri-seri. Ia mengeluarkan ponsel baru yang ia beli.

"Sesuai janji. Lima puluh juta rupiah," kata Dalend. Ia melakukan transfer cepat ke rekening Marisa. "Cek rekening Lo."

Marisa membuka ponselnya, dan melihat notifikasi transfer masuk. 50.000.000,00. Itu nyata. Uang itu kini ada di tangannya. Tiket kebebasan. Tiket untuk menyelamatkan ibunya.

"Lo sudah dapat fee Lo, Tunangan," Dalend tersenyum. "Kontrak selesai. Lo bebas."

Marisa menatap layar ponsel, lalu menatap Dalend. Pria di depannya, yang kini bebas dari London dan perjodohan, adalah orang yang berbeda. Penuh energi, penuh harapan.

"Gue... gue harus pulang sekarang," kata Marisa, suaranya sedikit tercekat. Ia bisa naik bus sekarang, membayar perawatan ibunya, dan melupakan semua ini.

"Tunggu," Dalend menahan tangan Marisa. Wajahnya yang gembira kini berubah serius. "Ada satu hal lagi."

"Apa?"

"Kontrak Dalend dan Marisa memang selesai," Dalend mengakui. "Tapi, gue baru saja dipaksa bertunangan secara resmi dalam waktu dua minggu, dan gue butuh tunangan untuk itu. Gue butuh Lo, Marisa."

"Gue enggak bisa, Dalend. Gue harus pulang. Ini terlalu bahaya buat gue," Marisa menolak.

"Gue tahu. Tapi ini bukan lagi tentang melarikan diri dari Mama. Ini tentang menyelamatkan muka gue di depan Papa, dan membuktikan bahwa pilihan gue adalah nyata. Gue enggak akan mengancam Lo. Tapi gue akan bayar Lo lagi. Gue akan bayar Lo lima puluh juta lagi, untuk dua minggu, sampai pesta pertunangan itu selesai," Dalend Menawarkan. "Setelah pesta, Lo bebas. Gue akan bilang pada Papa bahwa kita putus karena alasan pribadi. Lo pergi dengan seratus juta, gue dapat kebebasan, dan Mama harus menerima kenyataan."

Marisa terdiam. Lima puluh juta lagi. Seratus juta. Itu bisa mengubah hidup ibunya sepenuhnya. Tapi dua minggu lagi dengan Dalend, berpura-pura menjadi tunangannya yang penuh cinta. Terutama setelah getaran yang ia rasakan di bawah meja tadi.

"Gue enggak mau pura-pura ciuman lagi," desis Marisa.

Dalend tersenyum, godaannya kembali, namun kini lebih hangat dan jujur. "Gue janji, enggak akan ada lagi pura-pura ciuman."

Marisa menatap Dalend. Keputusannya akan menentukan dua minggu ke depan hidupnya.

"Oke," Marisa menghela napas. "Gue terima kontrak kedua. Tapi, kali ini, Lo tidur di kamar tamu, dan gue pegang kuncinya. Dan jangan pernah lagi nyentuh gue tanpa izin."

Dalens tertawa, senang. Ia meraih tas Marisa. "Selamat datang kembali, Tunangan. Sekarang, mari kita urus masalah ibu Lo dulu. Kita berangkat ke kampung Lo sekarang. "

...

1
Sherlys01
Semangat yaa😁💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!