Kekerasan yang dialami mawar dimasa kecil
membuat nya terperangkap dimasa lalu nya.
sehingga menjadikan diri nya seperti setangkai mawar yang tak bisa disentuh
penghinaan yang diterima Putra telah mengikis semua harga dirinya. Bahkan perceraian nya pun menyandarkan nya pada kenyataan pahit.
bisakah sebentuk ketulusan membalikan hidup mereka?
hanya cinta sejati yang bisa menyembuhkan luka. bersediakah mereka berjuang bersama untuk melepaskan diri dari kelam nya masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kevin N Pratama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mawar 17
"Memang kau tau aku pernah pacaran?"
"Hanya menebak, dulu pacarmu pernah mengajakmu berkencankan? Kita bisa melakukannya lagi." rayu Putra.
"Tebakanmu salah, aku tidak pernah pacaran. Aku keburu gila!" jawab mawar sedih.
Yah, sial! Ini akan jadi lebih sulit untukku. Kalau dia menerimaku, aku tetap membutuhkan stok kesabaran yang banyak.
°°°°
Putra menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Karena kau belum pernah berpacaran, maka saatnya kau mencobanya! Aku tidak akan mengecewakanmu sebagai pacar, Ayolah... Berikan aku kesempatan." bujuk Putra lagi.
Mawar terdiam dengan sendok cake yang masih ditangannya. Tidak pernah terpikir olehnya untuk menjalin hubungan dengan pria lebih dari seorang teman. Pengalaman masa lalunya membuatnya menjaga jarak dan selalu berhati-hati dengan yang namanya pria. Dia tidak menyangka Putra berharap lebih padanya.
"Baiklah, jika aku merasa begitu nyaman dengan keberadaan Putra, mungkin tidak salah jika kami sedikit lebih dekat lagi. Sebab selama ini Putra tidak pernah menampakkan perbuatan tercela." Batin Mawar.
Setelah berfikir Mawar mencari nafas panjang dan mengembuskannya pelan, Mawar menatap Putra.
"Aku tidak tau harus mulai dari mana," ujar Mawar pelan.
"Kau bisa memulainya dengan mengatakan 'ya, aku mau' atau 'ya, aku bersedia'. Yaa seperti itu." jawab Putra semangat empat lima.
"Baiklah, ya, aku mau. Walaupun takut, aku akan mencobanya. Mungkin kau sulit mengerti semua yang sudah kualami dan bagaimana perasaanku karenanya. Sejujurnya aku..."
"Tidak apa-apa," potong Putra cepat.
"Itu saja sudah cukup untukku," ujar Putra lagi dengan debaran di dada. Dengan memberanikan diri mengangkat tangan Mawar dan mengecupnya lembut.
"Aku bisa mengerti, memang tidak mudah mengatasi rasa takut. Aku pernah mengalaminya dan tahu bagaimana rasanya. Aku tidak menjanjikan semua akan selalu indah, tapi satu hal yang harus kamu tau, aku tidak akan pernah menyakitimu."
Mata Mawar berkaca-kaca, tidak pernah ada seorangpun yang menjanjikan hal itu padanya. Pria yang datang padanya, hanya menyakitinya saja. Tapi tidak dengan Putra, Mawar merasa Putra layak diberikan kesempatan.
"Haruskah seperti ini?" tanya Mawar sembari menghapus jejak air mata dipipi mulusnya.
"Ya.. Kau layak mendapatkannya. Aku ingin mengganti saat-saat kesepian yang pernah kau lewati sendirian. Mengganti semua kehilanganmu, hingga kau tidak lagi merasa sendiri." ujar Putra sambil menggenggam tangan Mawar.
Jangan tutup dirimu, karena aku bersedia melakukan apa pun demi kebahagiaanmu.
Mawar menarik tangannya dari genggaman Putra.
"Terimakasih, kau sudah banyak melakukan banyak hal untukku, padahal aku lebih sering menyusahkanmu. Dan lagi aku buta dalam urusan hubungan asmara dengan lawan jenis, Aku bisa bisa hanya akan mempermalukanmu, aku terlalu lama gila." jawab Mawar sambil menarik nafas panjang dan memakan es krim coklatnya.
Putra berdiri dan berkata
"Sudah berapa kali aku bilang padamu, aku tidak suka kau mengatakan seperti itu."
"Memang itu kenyataannya, memang kalau kau tidak suka, kau mau apa? Kau tidak bisa melarangku, kau juga tidak bisa memukulku. Aku tidak takut padamu." ujar Mawar sambil mengacungkan sendok es krimnya pada Putra.
Putra kaget atas perubahan gadis ini, beberapa menit yang lalu dia terlihat rapuh, tapi sekarang dia seolah menantang Putra. Mungkin karena dia tau Putra tidak akan menyakitinya.
Setelah berfikir sejenak, Putra menyunggingkan senyum miring di bibirnya.
"Yah kau benar, aku memang tidak akan memarahimu apalagi memukulmu. Tapi aku bisa menciummu." jawab Putra santai.
"Apa?!" pekik Mawar kaget.
"Kau dengarkan baik-baik, kalau kau mengatakan lagi, hal-hal yang tidak aku sukai, aku tidak akan ragu untuk menciummu," ujar Putra sembari menahan tawa saat melihat expresi Mawar.
"Cih, kau tidak akan mungkin melakukannya." desis Mawar.
"Percayalah, aku bisa melakukannya, apalagi sekarang kita pacaran. Banyak hal yang dilakukan oleh orang yang berpacaran." goda Putra.
Wajah Mawar terlihat panik, dia tau bahwa Putra selalu bersungguh-sungguh dalam ucapannya.
"Memangnya ap.. Apa lagi yang biasa dilakukan oleh orang ber...berpacaran?"
"Sebenarnya Putra tidak tega melihat kepanikan Mawar, tapi ternyata menggoda gadis ini sangat menyenangkan.
"Banyak! Bermacam-macam, bisa berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, dan kita bisa berci....". Ucapan Putra terpotong Mawar yang terlihat semakin pucat.
"Cukup, aku menyesal Putra, maaf! Bisakah kita batalkan saja?" Mawar menjawab sambil menunduk kepalanya, dia tidak tau harus melakukan itu semua. Dia menyesal telah bertahun-tahun melewati semua hal itu, dia merasa sangat bodoh.
"Sudah, cepat habiskan cake dan es krimmu, kalau tidak akan mencair." kata Putra.
"Bisa-bisanya kau memikirkan makanan di saat aku panik seperti ini, ku pikir kau temanku." kesal Mawar.
"Aku bukan temanmu lagi." Bantah Putra.
Wajah Mawar semakin memucat.
"Jadi kau bukan lagi temanku?"
Putra menggelengkan kepalanya.
"Tentu saja bukan, tapi lebih dari itu. Kau pacarku." Tawa Putra pecah.
"Putra kau!" wajah Mawar tadi panik sekarang terperangah.
"Jangan marah, percuma. Kau tidak terlihat menakutkan tapi menggemaskan." goda Putra.
Mawar memandang Putra sambil melotot, berusaha membuat mimik wajah seseram mungkin. Tapi usahanya hanya membuat Putra semakin tertawa.
"Eh bagaimana kalau kita menonton film?" tanya Putra. Dia yakin Mawar pasti belum pernah ke bioskop.
"Nonton di mana? Di bioskop? Aku belum pernah ke sana, apakah kau berniat menyogokku lagi?" tanya Mawar.
Putra hanya mengangguk dengan cengiran di bibirnya.
"Kau harus mencobanya, percayalah itu sangat menyenangkan. Lagi pula ini masih jam delapan malam, kita tidak akan terlambat pulang." bujuk Putra lagi.
"Tapi, cake ku belum habis." jawab Mawar dengan wajah memelas.
"Bawah saja, kau bisa menikmatinya di mobil. Ayoo!"
"Apakah aku tak punya pilihan lain?" tanya Mawar.
"Tidak ada, Ayo kita nonton. Kebanyakan orang pacaran pergi nonton ke bioskop." ujar Putra sambil menarik Mawar ke mobil.
"Kenapa seperti itu? Apakah mereka tidak memiliki TV di rumah?" dengan wajah polosnya Mawar bertanya.
"Rasanya berbeda, kau lihat saja nanti."
Putra menyalahkan mobil dan mulai mengarahkan mobil ke pusat kota. Sepanjang perjalanan Mawar tidak hentinya tersenyum sembari memeluk boneka beruangnya.
"Apakah aku harus menjadi boneka itu, agar bisa di peluk seperti itu. Iri sekali rasa nya." batin Putra sambil melirik Mawar.
°°°
Sedangkan yang ada di pikiran Mawar, dia memang gembira karena mendapatkan kesempatan melihat bioskop. Dengan berdebar Mawar membayangkan seperti apa bioskop itu. Apakah benar akan ada layar besar dan suara keras? Tapi yang paling ingin Mawar lakukan adalah makan popcorn dan memesan minuman bersoda. Mawar tidak sabar lagi untuk segera sampai di mall.
Mawar tersenyum lebar ketika Putra mulai mencari tempat parkir yang masih kosong di mall. Sedangkan Putra terharu saat menoleh ke arah Mawar dan mendapati mata gadis itu berbinar. Rasanya Putra selalu ingin membuat gadis itu selalu tersenyum, Putra bertekad akan berusaha lebih keras lagi untuk membahagiakannya.
°°°°
Selamat malam reader
Maafkan atas kesalahan teknis terjadi input cerita yang berulang.. Silahkan baca yang berjudul mawar 01-seterusnya ya.
kedepan nya saya akan lebih berhati hati lagi. Makluk author nya masi amatiran, hehehheee
Selamat menikmati 😁
Jika berkenan boleh sekiranya memberikan setangakai bunga mawar nya minimal.
Siapa tau mawar nya luluh akan cinta putra 🤣
°°°°
----Mohon dukungan nya ----
°Jangan lupa
Rate
Like
dan jejak komentar
°Terimakasih
semoga kalian bisa saling memberi kebahagia dan kenyamanan..