NovelToon NovelToon
Mantan Calon Istri Yang Kamu Buang Kini Jadi Jutawan

Mantan Calon Istri Yang Kamu Buang Kini Jadi Jutawan

Status: tamat
Genre:Romantis / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam pengganti / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Satu surat pemecatan. Satu undangan pernikahan mantan. Dan satu warung makan yang hampir mati.

​Hidup Maya di Jakarta hancur dalam semalam. Jabatan manajer yang ia kejar mati-matian hilang begitu saja, tepat saat ia memergoki tunangannya berselingkuh dengan teman lama sekaligus rekan sekantornya. Tidak ada pilihan lain selain pulang ke kampung halaman—sebuah langkah yang dianggap "kekalahan total" oleh orang-orang di kampungnya.

​Di kampung, ia tidak disambut pelukan hangat, melainkan tumpukan utang dan warung makan ibunya yang sepi pelanggan. Maya diremehkan, dianggap sebagai "produk gagal" yang hanya bisa menghabiskan nasi.

​Namun, Maya tidak pulang untuk menyerah.

​Berbekal pisau dapur dan insting bisnisnya, Maya memutuskan untuk mengubah warung kumuh itu menjadi katering kelas atas.

​​Hingga suatu hari, sebuah pesanan besar datang. Pesanan katering untuk acara pernikahan paling megah di kota itu. Pernikahan mantan tunangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 30: Dalang

​"Bapak polisi, tunggu sebentar. Jangan diangkut dulu sampah-sampah ini ke sel."

​Suara Arlan menghentikan gerakan para petugas yang baru saja hendak menyeret si Garong dan kawan-kawannya ke dalam mobil patroli. Arlan melangkah santai, masih dengan celemek pelayan yang tersampir di tubuhnya, menatap kerumunan preman yang wajahnya sudah pucat pasi itu.

​Perwira polisi yang memimpin operasi itu menoleh dengan heran. "Ada apa, Pak Arlan? Bukannya mereka sudah mengancam keamanan Anda dan merusak tempat ini?"

​"Kalau mereka masuk sel, mereka cuma makan gratis pakai uang pajak," jawab Arlan sambil melirik Maya yang masih berdiri mematung di samping meja jati. "Gini saja, Pak. Biarkan mereka menjalani hukuman sosial di sini. Saya rasa pemilik restoran ini sangat butuh bantuan tenaga kasar."

​Maya mengerjapkan mata, menatap Arlan seolah pria itu baru saja kehilangan akal sehatnya. "Maksud kamu apa, Lan? Kamu mau mereka tetap di sini? Nanti kalau mereka ngamuk lagi gimana?"

​"Nggak akan berani, Mbak! Sumpah, Mbak! Saya mending disuruh nguras sumur pakai sendok daripada harus masuk selnya Pak Kapolres!" seru si Garong sambil bersujud di depan kaki Maya. Borgol di tangannya berdenting nyaring. "Pak Arlan, tolong kasih kami kesempatan! Apa saja kami lakuin!"

​Arlan tersenyum miring, jenis senyum yang membuat Maya tahu bahwa ada rencana licik sekaligus cerdas di balik kepala CEO itu. "Oke. Peraturan hukumannya begini. Selama satu bulan penuh, kalian berlima jadi tukang parkir dan tenaga kebersihan resmi di Dapur Rempah Maya. Tanpa gaji. Kalau ada satu saja paku yang hilang atau satu pelanggan yang cemberut karena parkirnya susah, saya sendiri yang akan memastikan kalian tidak akan pernah keluar dari penjara seumur hidup. Gimana?"

​"Setuju, Pak! Setuju banget!" sahut kelima preman itu serentak, seolah-olah baru saja ditawari tiket ke surga.

​Perwira polisi itu tertawa kecil, lalu memberi kode kepada anak buahnya untuk melepas borgol mereka. "Baik, Pak Arlan. Kalau itu keinginan Anda. Tapi kami tetap akan pantau setiap hari. Kalau mereka macam-macam, langsung hubungi saya."

​Setelah mobil polisi berlalu, suasana di depan restoran jadi sangat absurd. Si Garong yang tadinya sangar dengan jaket kulit kusam, kini berdiri tegak di depan pintu masuk. Dia membungkuk sembilan puluh derajat setiap kali ada pelanggan yang lewat.

​"Selamat siang, Ibu yang cantik! Silakan masuk, parkir motornya biar saya yang rapikan! Hati-hati langkahnya, Bu, lantainya sedang licin!" teriak si Garong dengan suara baritonnya yang menggelegar, namun nadanya dibuat selembut mungkin.

​Warga desa yang lewat sampai berhenti untuk menonton. Mereka tertawa terpingkal-pingkal melihat preman paling ditakuti di pasar kini berubah jadi pelayan parkir yang sangat sopan.

​"May, ini beneran? Kamu nggak takut?" tanya Mak Onah sambil mengintip dari balik tirai dapur.

​"Arlan yang tanggung jawab, Mak. Katanya biar mereka berguna sedikit," sahut Maya, masih merasa agak aneh.

​Maya kemudian memberi isyarat kepada Arlan untuk masuk ke gudang belakang. Dia menarik kerah jaket si Garong agar ikut masuk. "Sekarang, jelaskan lebih detail. Siapa sebenarnya yang nyuruh kalian? Restoran Intan Permata itu punya siapa?"

​Si Garong menelan ludah, wajahnya masih berkeringat dingin. Dia melirik Arlan yang bersandar di pintu gudang dengan tatapan mengintimidasi. "Itu punya Pak Burhan, Mbak. Dia pemain lama di kota sebelah. Sejak Mbak menang festival kabupaten dan dapat kontrak dari perusahaan Pak Arlan, pelanggannya jadi sepi. Apalagi para pejabat yang biasanya makan di sana, sekarang malah pesen katering ke Mbak semua."

​"Cuma karena itu dia sampai nyuruh kalian bikin rusuh?" tanya Maya geram.

​"Bukan cuma itu, Mbak. Pak Burhan itu orangnya dendaman. Dia bilang Mbak Maya cuma koki ingusan yang nggak tahu aturan main. Dia nggak mau ada pesaing di wilayah ini," si Garong berbisik, seolah takut tembok gudang itu punya telinga. "Dia bahkan bilang, kalau cara halus—maksud saya cara kami—nggak berhasil, dia mau pake cara yang lebih kasar buat mutus pasokan bahan Mbak Maya."

​Maya mengepalkan tangannya. "Sialan. Ternyata persaingan bisnis bisa sejijik ini."

​"Sabar, Maya," Arlan melangkah maju, tangannya menepuk pundak Maya dengan lembut, memberikan kehangatan yang seketika menenangkan emosi gadis itu. "Haji Burhan itu... dia merasa penguasa karena sudah terlalu lama nggak ada lawan yang sebanding."

​"Kamu tahu dia, Arlan?"

​"Saya tahu. Perusahaannya dulu sempat mau kerja sama dengan Dirgantara Group, tapi saya tolak karena laporan keuangannya bau amis. Sepertinya dia memang butuh pelajaran soal cara berbisnis yang sehat," ujar Arlan dengan nada yang sangat tenang, tapi Maya tahu itu adalah pertanda buruk bagi siapapun yang menjadi sasarannya.

​Si Garong tiba-tiba mendekat ke arah Maya, suaranya makin lirih. "Mbak, ada satu lagi. Pak Burhan itu nggak bergerak sendiri. Dia lagi nunggu kiriman bahan dari pemasok utama yang katanya mau dia boking semua supaya Mbak nggak dapet sayur dan daging segar besok pagi. Dia bilang Mbak nggak akan berhenti sampai Mbak bangkrut dan tutup warung sendiri."

​Maya terdiam, otaknya mulai berputar mencari cara untuk menyelamatkan stok bahannya untuk pesanan katering besok. Tapi Arlan justru terlihat sangat santai. Dia merogoh ponselnya lagi, jarinya menari cepat di atas layar.

​"Bapak Burhan ya?" gumam Arlan. "Restoran Intan Permata itu lokasinya yang di jalan utama kota itu, kan? Gedungnya yang bergaya klasik warna emas?"

​"Iya, Pak Arlan. Benar sekali," jawab si Garong cepat.

​Arlan menatap Maya dengan senyum yang sangat sulit diartikan. Senyum seorang pria yang memiliki segalanya di bawah ujung jarinya. "Maya, besok pagi kamu tetap belanja seperti biasa. Jangan khawatir soal pasokan."

​"Tapi kalau dia sudah boking semua gimana?"

​"Dia boleh boking pasokan, tapi dia lupa kalau saya bisa boking seluruh perusahaannya," Arlan terkekeh pelan. Dia berbicara ke ponselnya, sepertinya sedang menelepon asisten pribadinya. "Halo, Dimas? Cek kepemilikan aset gedung Restoran Intan Permata di kota sebelah. Kalau mereka sewa, beli gedungnya sekarang juga dari pemilik lahan. Kalau mereka punya sendiri, cari tahu bank mana yang pegang sertifikatnya, beli utangnya."

​Maya melongo. "Arlan, kamu mau ngapain?"

​Arlan mematikan ponselnya, menatap Maya dengan binar jahil yang kembali muncul. "Tadi preman ini bilang kalau Pak Burhan ingin memutus asap dapurmu, kan? Kalau gitu, saya akan memutus lantai tempat dia berdiri."

​Arlan melangkah mendekati si Garong yang masih gemetaran. "Kamu, balik ke depan. Pastikan semua tamu nyaman. Dan sampaikan salam saya ke Pak Burhan kalau dia telepon. Bilang kalau Dapur Rempah Maya sekarang punya pemegang saham yang sangat rewel soal keamanan."

​Si Garong langsung lari tunggang langgang ke depan, lebih semangat mengatur parkir daripada sebelumnya. Dia bahkan membukakan pintu mobil seorang pelanggan lama dengan gerakan membungkuk sembilan puluh derajat yang sangat kaku, membuat pelanggan itu bingung sekaligus merasa jadi raja.

​Maya menyandarkan tubuhnya ke rak bumbu, menatap Arlan yang sekarang sedang asyik mencuci tangan di wastafel gudang. "Arlan, kamu berlebihan. Beli gedung cuma karena dia ganggu warungku?"

​"Saya nggak suka ada orang yang bikin koki saya stres. Kalau koki saya stres, rasa masakannya bisa berubah. Dan kalau rasanya berubah, mood saya jadi berantakan," Arlan berbalik, mengeringkan tangannya dengan serbet sambil menatap Maya lekat-lekat. "Lagipula, saya sudah bilang, ini investasi. Dan menjaga investasi itu artinya menyingkirkan semua parasit di sekelilingnya."

​"Tapi beli gedung itu..."

​"Restoran itu lokasinya strategis, Maya. Sepertinya cocok kalau kita jadikan gudang penyimpanan kerupuk atau tempat parkir tambahan buat resto kamu nanti kalau sudah ekspansi," sahut Arlan tanpa beban, seolah-olah membeli restoran besar semudah membeli kerupuk di pinggir jalan.

​Maya hanya bisa menggelengkan kepala. Pria di depannya ini memang benar-benar absurd. Seorang CEO yang mau mengulek sambal sampai belepotan, menyamar jadi pelayan, tapi di saat yang sama bisa menghancurkan kerajaan bisnis orang lain hanya dalam satu panggilan telepon.

​"Maya," panggil Arlan lembut.

​"Ya?"

​"Besok pagi, siapkan menu terbaikmu. Kita akan kedatangan tamu spesial dari Jakarta yang mau meninjau lokasi katering pusat," Arlan melangkah mendekat, jarak mereka kini hanya sejengkal. Aroma maskulinnya bercampur dengan wangi rempah dapur menciptakan sensasi yang aneh di perut Maya. "Tunjukkan pada mereka, bahwa koki yang saya pilih adalah yang terbaik di dunia."

​Maya menelan ludah, menatap mata tajam Arlan yang kini meredup hangat. "Aku... aku akan usahakan."

​"Bukan usahakan. Kamu pasti bisa," bisik Arlan.

​Tepat saat suasana mulai terasa sangat dekat di gudang rempah yang remang itu, suara klakson mobil yang berisik terdengar dari depan, diikuti suara teriakan si Garong yang sangat bersemangat.

​"SELAMAT DATANG DI DAPUR REMPAH MAYA! SILAKAN MASUK, TUAN! MOBILNYA BIAR SAYA JAGAIN, JANGAN KHAWATIR, KUCING PUN NGGAK BERANI DEKETIN!"

​Maya dan Arlan refleks menjauh satu sama lain sambil tertawa kecil. Kehadiran preman-preman itu ternyata benar-benar membawa warna baru yang  kocak di warung mereka.

​Namun, di tengah tawa itu, Maya teringat kata-kata terakhir si Garong. Dia melirik Arlan yang sedang merapikan seragam kremnya.

​"Lan..."

​"Hmm?"

​"Tadi si Garong bilang, Burhan nggak bergerak sendiri. Dia bilang ada orang lain yang nunggu kabar suksesnya dia buat hancurin aku," bisik Maya, raut wajahnya kembali serius.

​Arlan menghentikan gerakannya. Matanya yang tadi jenaka seketika berubah menjadi sedingin es kembali. Dia menatap ke arah depan, seolah bisa menembus dinding gudang itu menuju musuh yang tak terlihat.

​"Saya tahu, Maya. Dan mungkin, mungkin saja, orang itu punya nama yang sangat familiar di telinga kita," gumam Arlan dingin.

1
Warni
Ada saja ujiannya.
Warni
Astaga
Dewiendahsetiowati
terima kasih untuk ceritanya dan ditunggu karya selanjutnya thor
Rina Arie
good book
Savana Liora: makasih kak
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kamu kuat Maya dan pasti bisa membuktikan bahwa kamu bisa bangkit
Savana Liora: iya. maya pasti bisa
total 1 replies
Dewi Sri
Hadir.... cerita sederhana tp bagus 👍
Savana Liora: makasih kak
total 1 replies
Feni Puji Pajarwati
good job author...ceritanya menarik dan gak bikin bosen sama alur ceritanya...
Savana Liora: makasih akak
total 1 replies
Iqlima Al Jazira
Terimakasih thor untuk ceritanya..
vote untuk mu👍
Iqlima Al Jazira: sama-sama thor
total 2 replies
Iqlima Al Jazira
aku padamu arlan🤭
tutiana
bagusss
Dewiendahsetiowati
ada aja ujiannya, paling ini kerjaan Rosa edan,bikin jengkel aja manusia 1 itu
Dewiendahsetiowati
kamu kuat Maya dan Adit akan menyesal membuang berlian kayak kamu
Dewiendahsetiowati
awal mula Maya untuk bangkit lagi
Savana Liora: iya bener
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Savana Liora: makasih udah hadir kakak
total 1 replies
Iqlima Al Jazira
aku pada mu arlan🤩
Savana Liora: halo kak. happy reading
total 1 replies
Iqlima Al Jazira
so sweet👍
Savana Liora: iya kan?
total 1 replies
Ma Em
Semangat Maya semoga masalah yg Maya alami cepat selesai dan usaha kateringnya tambah sukses .
Savana Liora: terimakasih udah mampir ya kk
total 1 replies
macha
kak semangat💪💪
Savana Liora: hi kak. makasih ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!