'Betapa kejamnya dunia pada seorang wanita yang belum bergelar ibu.'
Zahra sudah menikah dengan Aditya selama tiga tahun. Namun masih belum dipercaya memiliki seorang anak.
Meskipun belum juga hamil, tapi Zahra bersyukur Aditya dan keluarganya tidak mempermasalahkan hal itu. Zahra merasa hidupnya sempurna dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi takdir berkata lain, suatu hari ia mengetahui bahwa Aditya akan menikah dengan Nadia, teman masa kecil Aditya karena Nadia hamil.
Rasa marah dan kecewa melebur jadi satu dalam hati Zahra. Ia mulai mempertanyakan keadilan dunia.
Mampukah Zahra mengobati hatinya dan menata lagi hidupnya atau ia tetap menggenggam cinta yang menyakitkan tersebut ?
..
Hay readers kesayangan Author, Author kembali lagi nih dengan tema berbeda dari novel sebelumnya. Terus kasih dukungan buat Author ya. Silahkan dikoreksi jika ada salah.
Mohon bacanya tidak di skip-skip ya. Makasih 🙏🫶🤩
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Rumah Sakit
"Fi, gimana keadaan kamu sekarang ?" tanya Zahra saat Zafirah membuka matanya.
Zafirah dibawa ke Rumah Sakit oleh Papa Yusuf dan Mama Febi setelah Rayan pamit pulang. Zafirah tiba-tiba merasa mual dan demam hingga akhirnya pingsan.
"Kepala ku agak pusing," jawab Zafirah berusaha duduk. Lalu Zahra membantunya.
"Mau minum ?" tawar Zahra dan diangguki oleh Zafirah. Lalu Zahra membukakan air mineral botol yang tadi dibelikan Mama Febi.
"Kenapa kamu sampai seperti ini ? biasanya kamu naik gunung sendiri baik-baik saja. Apa kamu ngelamun ya saat jalan ?" tanya Zahra.
"Namanya juga kecelakaan. Tidak ada yang tau," balas Zafirah sembari menyeka keringat di dahinya. Padahal ruangan ber AC namun tubuh Zafirah mengeluarkan keringat dingin.
"Papa bilang tadi kamu diantar laki-laki ya ? siapa dia ?" tanya Zahra ingin tau.
"Aku tidak kenal awalnya. Dia yang menolong ku. Aku lihat dia memotret saat di puncak," jawab Zafirah seketika mengingat Rayan.
"Bisa jadi dia adalah obat yang dikirimkan oleh Allah untuk menyembuhkan hati kamu," kata Zahra tersenyum penuh arti.
"Apasih ?" kata Zafirah melengos.
Kemudian pintu ruangan terbuka dan masuklah Zafran serta Tomi. Tomi membawa keranjang buah dan Zafran membawa dua paperbag makanan.
"Fir, kamu sudah baikan ?" sapa Zafran pada Zafirah. Zafirah mengangguk dengan sedikit senyum.
"Semoga cepat sembuh ya, Fir. Aku dan Lidya mendoakan kamu," kata Tomi dengan meletakkan keranjang buah di atas nakas.
"Terima kasih ya, Tom. Aku pasti lekas sembuh," balas Zafirah tersenyum pula.
"Fi, Tomi kemarin nitip kain ke aku buat seragam bridesmaid kamu. Nanti kamu kasih tau aku mau model seperti apa. Biar aku yang mengurusnya," kata Zahra. Ia lalu mengupas apel untuk diberikan pada Zafirah.
"Kita makan dulu ya, aku sudah beli banyak makanan" kata Zafran. Lalu ia dibantu oleh Tomi menata semua makanan diatas meja.
"Kamu makan saja, Za. Aku tidak lapar. Mulutku juga rasanya pahit aku mau makan buah saja," ucap Zafirah.
Zahra mengangguk dan meninggalkan Zafirah untuk bergabung dengan Zafran dan Tomi.
Sebenarnya sejak membuka mata, Zafirah mencari sosok Rayan. Seorang laki-laki yang menjadi penyelamat baginya. Ia lupa jika Rayan sudah pulang sebelum ia jatuh pingsan.
Zafirah baru menyadari jika mereka belum bertukar nomor ponsel. Lalu bagaimana cara Zafirah membalas kebaikan Rayan. Alamat nya pun Zafirah tidak tau.
Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menunggu Rayan mencarinya di rumah ataupun di hotel tempatnya bekerja. Jika Rayan tidak datang, berarti memang pertemuan mereka tidak penting.
Dan Zafirah hanyalah satu dari sekian perempuan yang pernah ditemui oleh Rayan. Mengingat itu entah mengapa membuat hati Zafirah sedih.
"Fi, kenapa melamun ?" Zahra menepuk lengan Zafirah saat melihat Zafirah hanya melihat ke satu titik tanpa berkedip.
"Eh iya.." ucap Zafirah lalu menghabiskan potongan apel di tangannya.
"Jangan melamun. Kamu lagi sakit. Nanti ditempeli jin loh. Biar aku nemenin kamu disini," kata Zahra.
..
Sepulang dari rumah Zafirah, Rayan segera menghampiri tempat tidurnya yang nyaman dan tidur hingga malam.
Mama Sinta masuk ke dalam kamar Rayan saat jam makan malam dan memaksa Rayan untuk ikut makan bersama.
Dengan mata yang masih mengantuk Rayan akhirnya mandi dan pergi ke ruang makan. Disana sudah ada kedua orangtuanya dan juga Brian.
"Masih ngantuk ?" tanya Mama Sinta. Ia mengambilkan nasi ke piring Rayan.
"Sedikit, Ma.." jawab Rayan.
Brian tertawa melihat wajah Rayan. Sudah dewasa tapi masih seperti anak kecil setiap bangun tidur tidak segera membuka mata.
"Bagaimana perjalanan kamu ? seru ?" tanya Papa Johan sambil mengunyah makanannya.
"Ya seperti biasanya," jawab Rayan sambil menguap.
"Tapi ada sesuatu yang berbeda," lanjutnya dengan pelan sambil tersenyum. Matanya menerawang jauh membayangkan seorang perempuan bernama Fira.
'Bagaimana kabarnya Fira, ya ? apa dia sudah baikan. Aku mau melihatnya setelah ini,' gumamnya.
"Apanya yang beda, Ray ?" tanya Mama Sinta melihat Rayan.
"Ya pokoknya berbeda lah, Ma" jawab Rayan sambil menghabiskan makanannya dengan cepat.
"Kak Rayan kelaparan makannya cepat sekali," ujar Brian membuat Papa Johan dan Mama Sinta baru menyadarinya.
"Kamu kenapa makan cepat begitu ? makan itu pelan-pelan," tegur Mama Sinta dan dibalas anggukan kepala saja oleh Rayan.
"Baiklah aku sudah selesai. Aku pergi dulu," kata Rayan setelah piringnya benar-benar kosong hanya menyisakan sendok dan garpu saja. Lalu ia berjalan santai menuju kamarnya.
"Kenapa anak itu ?" Tanya Mama Sinta merasa heran. Papa Johan hanya mengangkat bahunya tanda tidak tau.
"Ketempelan jin gunung kali," sahut Papa Johan kemudian.
...
Rayan melihat jam masih pukul delapan. Belum terlalu malam untuk bertamu ke rumah orang. Jadi dia memutuskan bersiap-siap untuk datang ke rumah Zafirah.
Dengan menggunakan mobil kesayangannya dan mampir ke toko kue guna membeli buah tangan, akhirnya Rayan menuju rumah yang tadi pagi ia datangi. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Papa Johan. Hanya setengah jam perjalanan.
Ia memencet bel lalu datanglah seorang security dari dalam dengan tergopoh-gopoh. Ia bertanya apa keperluan Rayan ? dan Rayan mengatakan ingin bertemu dengan Fira.
"Waduh, Non Fira nya lagi ke Rumah Sakit, Mas. Mas yang anter Non Fira tadi pagi ya ?" tanya security bernama Pak Adi itu.
"Iya, Pak. Tadi saya yang antar Fira. Tapi kenapa Fira di Rumah Sakit ya " tanya Rayan bingung.
"Tadi setelah Mas nya pergi, Non Fira pingsan. Badannya juga panas akhirnya Bapak sama Ibu memutuskan membawa Non Fira ke Rumah Sakit," jelas Pak Adi.
"Rumah Sakit mana kalau saya boleh tau ?" tanya Rayan. Ia sendiri bingung kenapa harus menanyakan itu.
"Kalau itu saya tidak tau, Mas. Tadi berangkatnya buru-buru," jawab Pak Adi.
"Yasudah, Pak. Terima kasih. Ini untuk bapak saja," kata Rayan menyerahkan sekotak kue berukuran besar.
"Wah iya, Mas. Terima kasih ya,"
Rayan meninggalkan rumah Papa Yusuf dan mengendarai mobilnya entah kemana. Ia tidak memiliki tujuan. Ia melewati tempat yang dulunya sering ia habiskan untuk mengusir kebosanan yang di dalamnya berisi minuman haram dan wanita penghibur.
Sekarang ia hanya menatap saja tempat tersebut tanpa berniat untuk mampir. Sudah saatnya ia berubah menjadi pria yang disiplin dan mencintai hidupnya sendiri. Mengisinya dengan kegiatan positif dan bermanfaat.
"Aku pulang saja lah. Besok aku kembali lagi, semoga Fira sudah pulang. Kenapa tadi tidak minta nomornya pak satpam itu," kata Rayan pada dirinya sendiri.
Entah mengapa keinginan untuk bertemu dengan Zafirah sangatlah besar. Seperti ada sesuatu yang menarik dalam diri Zafirah yang ingin diketahuinya.
...
Maaf tidak up beberapa hari karena othornya lagi sakit. Kepala berat. Doakan setelah ini bisa up banyak ya☺️
karma tak Semanis kurma rasakno.
naudzubillah min dalik. mau seneng diatas derita wanita lain oh tidak bisa.
kalian mulai dng zina kn ya rasakno.
gk kasian juga kesel
harus gmna akuuuuuu😌🤣🤣🤣🤣