Tiga persahabatan Laras, Clarisa dan Maria telah menikah dengan pasangan masing - masing hingga di karuniai anak - anak yang tampan dan cantik.
Alviana anak dari pasangan Alvonso dan Laras seorang sekretaris menjalin hubungan dengan bosnya bernama Arlan seorang pria CEO dan tanpa di ketahui oleh Alviana ternyata CEO tersebut ternyata seorang ketua mafia yang sangat kejam tidak segan membunuh orang yang berkhianat selain itu ternyata pria tersebut musuh bebuyutan kakaknya Alvonso. Akankah hubungan berlanjut ke jenjang pernikahan atau kandas di tengah jalan?
Ada juga Liani seorang sekretaris bekerja di kantor Harlan, seringnya bertemu merekapun saling jatuh cinta walau jarak usia terlampau jauh tapi tidak diperdulikan oleh mereka berdua.
Akankah hubungan Liani dan Harlan sampai ke jenjang pernikahan atau kandas di jalan? ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayuk Triatmaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendapat Panggilan Dari Sekolah
Hari kedua Alvonso dan Alvian berangkat ke sekolah bersama. Seperti Alvonso dan Alvian masuk ke kelas masing - masing.
Alvonso duduk dengan santai dan mengobrol dengan teman - temannya. Arlan datang dan duduk tidak ada satupun yang ingin berteman dengannya dan Arlan tidak butuh teman.
" Lihat itu orang sombong dan arogant datang." ucap seorang gadis yang kebetulan duduk di depan Alvonso.
" Sstttt sudah tidak baik omongin orang lain, pagi - pagi jangan bikin dosa." ucap Alvonso.
Gadis itupun hanya diam dan tidak komentar lagi. Sedangkan Arlan yang mendengarkan gadis itu bicara hanya membalikkan badannya lalu menatap tajam ke arah gadis itu membuat gadis itu menunduk takut, Arlan pun membalikkan badannya.
Selang beberapa menit guru datang dan duduk di kursi miliknya. Anak - anak memberikan ucapan selamat pagi kepada gurunya.
" Anak - anak bulan depan ada lomba antar sekolah, tiap kelas mengajukan 3 siswa. Jadi persiapan diri kalian, bapak akan menguji 1 minggu sebelum lomba. Bapak minta konsentrasi dalam belajar." ucap guru itu.
Gurupun memberikan pelajaran kepada anak didiknya semua konsentrasi mendengarkan mata pelajaran yang diberikan oleh gurunya.
Tidak terasa waktu berjalan kini terdengar suara bel tanda waktu untuk istirahat. Alvonso keluar bersama teman - temannya menuju ke arah kantin bersama teman - temannya sedangkan Arlan makan di cafe langganannya di depan sekolah.
Mereka memesan makanan setelah selesai makan merekapun masuk ke dalam kelas bersamaan Arlan yang juga baru datang dengan sengaja menyenggol Alvonso karena Alvonso tidak siap membuat Alvonso oleng dan hampir jatuh tapi ada seorang yang menahan tubuhnya hingga tidak jatuh.
" Hei, kamu itu punya mata ngga sih!" bentak anak itu.
Arlan hanya menatap tajam dan tidak menyukai dirinya di bentak.
" Apa urusanmu?" tanya Arlan ketus.
" Ini menjadi urusanku karena orang yang kamu senggol adalah kakakku." ucap Alvian ketus juga.
" Kak Al tidak apa - apa?" tanya Alvian dengan lembut.
" Tidak apa - apa dek, sudahlah Alvian kita masuk kelas saja." ucap Alvonso kepada adiknya.
Anak itu ternyata Alvian karena ketika hendak masuk ke dalam kelas dengan mata elang yang diwarisi oleh daddynya dapat melihat kalau anak itu akan berbuat jahat oleh kakaknya.
" Huuu beraninya keroyokan." ledek Arlan
" Kamu ya?" ucap Alvian berusaha memukul Arlan tapi ditahan oleh kakaknya.
" Sudahlah dek, jangan diurusin orang waras ngalah aja." ucap Alvonso yang sudah mulai kesal karena Arlan mencari gara - gara terus
" Apa maksudmu aku ngga waras gitu!" bentak Arlan.
" Merasa waras tidak? kalau waras itu tidak mencari gara - gara." ucap Alvian lembut sambil tersenyum mengejek.
Arlan yang tidak terima langsung memukul Alvian tapi tangannya ditahan Alvonso dan langsung melintirnya.
" Jangan coba - coba menyakiti adik kesayanganku." ucap Alvonso dan langsung mendorong tubuh Arlan.
Arlan pun jatuh kemudian berdiri kembali ingin membalas Alvonso tapi Alvonso bisa menghindar merekapun saling serang sedangkan Alvian hanya duduk santai menatap kakak kesayangannya berantem dengan Arlan.
Alvian akan membantu kakaknya jika kakaknya membutuhkan bantuannya. Hingga datanglah para guru memisahkan mereka berdua dan membawanya ke ruangan guru.
Alvonso dan Arlan di bawa keruangan guru, Alvian meminta ikut karena Alvian sebagai saksi terlebih Alvian sangat menyayangi kakaknya akhirnya gurunya mengijinkannya.
Guru tersebut menghubungi orangtua murid masing - masing, satu jam kemudian orangtua murid Alvonso datang dan tidak berapa lama orang tua murid Arlan datang.
Mereka duduk saling berhadap - hadapan dan di sampingnya wali murid mereka.
Ibu dari orang tua murid dari Arlan mengomeli Alvonso karena membuat anaknya lebam - lebam, pakaiannya kotor dan rambutnya berantakan sedangkan Alvonso lebamnya hanya sedikit, pakaiannya dan rambutnya yang sama seperti Arlan kotor dan berantakan.
Orang tua Alvonso bersikap tenang sambil mendengarkan ocehan ibu dari Arlan. Setelah puas mengomel barulah ibu dari Arlan diam tapi nafasnya ngos - ngossan karena meluapkan segala emosinya terlebih badannya gendut mirip gajah.
" Sudah selesai bu mengomelnya?"tanya Laras dengan lembut
deg
Hati Arlan berdebar kencang karena ini baru kalinya mendengar ucapan seorang ibu yang sangat lembut tidak seperti ibunya yang setiap hari mengomelinya.
" Sudah." jawabnya ketus.
" Sayang, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Laras lembut sambil memegang ke dua tangan Alvonso.
Alvonso pun menceritakan semua yang telah terjadi dan ada saksinya yaitu Alvian adiknya. Tapi ibunya Arlan tidak terima karena anggapannya anaknya adalah benar mereka berdua sengaja bekerja sama menjelekkan anaknya.
Daddy Alvonso hanya diam walau hatinya ingin rasanya melem mulut wanita itu dan dikirim ke kandang singa. Sedangkan Ayahnya Arlan hanya diam mendengarkan istrinya mengomel tapi matanya tertuju pada mommy Laras dan mengkhayal jika mommy Laras sebagai istrinya rasanya bakalan betah di rumah pasalnya momny Laras cantik dan seksi terlebih suaranya sangat lembut tidak seperti istrinya gendut mirip gajah dan sangat cerewet karena itu suaminya jarang berada di rumah sering bepergian ke luar kota sedangkan istrinya sering pergi entah ke dalam negri ataupun ke luar negri bersama teman - teman sosialita dan menghamburkan uang suami.
Daddy Alvonso yang melihat pria itu menatap istrinya tanpa berkedip langsung melototkan matanya ke arah pria itu dan pria itupun mengalihkan matanya dan menatap ke arah lain sambil melirik ke arah mommy Laras.
Karena mommy Laras kupingnya sudah mulai panas karena dari tadi ibunya Arlan mengomel akhirnya tidak tahan lagi.
" Sayang pinjem laptopnya sebentar ya?" tanya Mommy Laras lembut dan menatap suaminya sambil tersenyum.
" Baik sayang, ini laptopnya." ucap daddy Alvonso lembut karena kebetulan daddy Alvonso membawa laptop.
Mommy Laras pun mengutak atik laptopnya, semua orang itu bingung apa yang dilakukan Laras kecuali Daddy Alvonso, Alvonso dan Alvian mereka tahu apa yang dilakukan oleh Mommy Laras.
" Maaf nyonya jika nyonya sibuk kerja nanti aja dilanjutkan di rumah ini bagaimana? sepertinya Alvonso bersalah karena di lihat dari Arlan yang mukanya lebah lebih parah dari pada Alvonso." ucap kepala sekolah pasalnya Arlan adalah ponakan kesayangannya.
Mommy Laras hanya diam dan tidak lama Laras berhenti mengetik di laptop dan memperlihatkan laptopnya ke arah mereka.
Mommy Laras meretas cctv di sekolah dan memberikan suara sehingga terdengar jelas awal kejadian dan akhir dari kejadian.
" Di cctv jelas terlihat siapa yang memulai duluan, saya dan suami saya tahu semua sifat - sifat anak - anak kami karena kami selalu memantau perkembangan semua anak - anak kami." ucap mommy Laras lembut sambil memeluk dari samping Alvonso tapi terdengar kasar oleh orangtua Arlan karena mereka tidak pernah tahu sifat anaknya dan tidak pernah mau tahu tumbuh kembangnya.
" Saya tahu sifat anak kami, anak kami tidak mungkin melakukan kekerasan jika tidak ada yang memulainya." sambung Alvonso sambil memeluk Alvian dari samping pasalnya ke dua anaknya duduk di tengah - tengah orangtuanya.