Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.
Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Abu yang Berbicara
Raungan api di menara desa seolah mengejek Arum. Langit Navasari yang hitam kini dihiasi lidah api kemerahan yang melahap sejarah dan masa depan desa mereka. Arum berdiri mematung di halaman rumah dinas, dadanya sesak bukan hanya karena sisa gas, tapi karena kenyataan bahwa Siska baru saja melakukan skakmat terhadap perjuangan mereka.
"Arum! Astaga, menara desa!" Baskara berlari mendekat, wajahnya legam terkena jelaga setelah mengamankan si penyusup.
"Semua arsip ada di sana, Mas," bisik Arum, suaranya hampir hilang. "Data BUMDes, laporan audit Pak Broto, bukti transaksi ilegal... semuanya."
Warga desa mulai berhamburan keluar dengan ember-ember air, namun api sudah terlalu besar. Menara itu adalah bangunan kayu tua yang kering, bahan bakar sempurna bagi rencana licik Siska.
"Kita harus ke sana, Mas! Sekarang!" Arum menarik tangan Baskara.
Sesampainya di menara, suasana kacau balau. Marno dan beberapa pemuda desa mencoba memadamkan api, namun hawa panasnya membuat siapa pun tak berani mendekat lebih dari lima meter.
"Jangan masuk, Bu Kades! Bangunannya sudah mau runtuh!" teriak Marno dengan wajah basah kuyup.
Arum menatap puncak menara. Di sana, di balik jendela kaca yang pecah karena panas, ia melihat lemari besi tua milik kakek Baskara tempat penyimpanan arsip rahasia yang bahkan Pak Broto pun tak tahu kodenya.
"Lemari itu tahan api, tapi tidak tahan jika bangunannya runtuh dan terkubur reruntuhan panas," pikir Arum cepat.
Ia tidak melihat ke arah api, melainkan ke arah tangki air raksasa di samping menara. Sebuah ide gila muncul di kepalanya. Audit risiko bukan hanya soal mencegah, tapi soal memanfaatkan apa yang ada di saat kritis.
"Marno! Mas Baskara! Bantu aku geser pipa pembuangan tangki itu!" teriak Arum.
"Untuk apa, Arum?" Baskara bingung.
"Kita tidak bisa memadamkan apinya dari bawah, tapi kita bisa membanjiri lantai dua lewat talang air! Jika lemari itu terendam air sebelum jatuh, suhunya akan turun!"
Dengan sisa tenaga yang ada, mereka bahu-membahu mengarahkan pipa besar itu. Arum sendiri memanjat tangga bambu yang goyah, mengabaikan panas yang menyengat kulitnya demi mengaitkan ujung selang ke lubang ventilasi lantai atas.
BYUURRRRR!
Ribuan liter air menghantam bagian dalam menara yang membara. Suara mendesis yang memekakkan telinga terdengar saat air bertemu api, menciptakan kabut uap panas yang menutupi seluruh pandangan. Tak lama kemudian, bangunan tua itu mengeluarkan suara retakan hebat.
BRAAAKKK!
Menara itu runtuh. Abu dan bara beterbangan ke segala arah. Semua orang terdiam, terpaku menatap tumpukan kayu yang kini menjadi arang hitam yang mengepulkan uap.
Baskara jatuh berlutut. "Habis... semuanya habis, Arum."
Arum mendekat ke tumpukan reruntuhan yang masih basah. Ia tidak menangis. Matanya menyapu setiap sudut debu hitam itu hingga ia melihat sebuah sudut logam yang menonjol di antara arang. Lemari besi itu.
Dengan bantuan linggis, Marno dan warga mencongkel reruntuhan itu. Lemari besi tersebut tampak menghitam, namun pintunya masih tertutup rapat. Arum mendekat, jemarinya yang gemetar mencoba memutar kode kombinasi yang ia hafal dari catatan rahasia kakek Baskara.
Klik. Klik. Ceklek.
Pintu lemari besi terbuka. Di dalamnya, tumpukan kertas tampak menghitam di bagian pinggirnya karena suhu tinggi, namun tulisannya masih terbaca dengan jelas. Dan yang paling mengejutkan, di atas tumpukan berkas itu, terdapat sebuah perekam suara digital milik Siska yang sepertinya terjatuh saat ia mencoba membakar ruangan itu tadi.
Arum mengambil perekam itu, menekan tombol play.
"...pastikan tidak ada yang tersisa di Navasari. Setelah menara ini terbakar, kita akan buat Baskara bersalah atas hilangnya dokumen negara ini. Biarkan dia membusuk di penjara."
Suara Siska terdengar sangat jernih di tengah kesunyian malam yang kini hanya menyisakan isak tangis warga.
Arum menatap ke arah jalan keluar desa, tempat mobil Siska menghilang tadi. "Abu memang tidak bisa bicara, Mbak Siska. Tapi rekaman ini akan membuat Anda berteriak di balik jeruji besi."
Namun, saat Arum hendak memasukkan perekam itu ke sakunya, ia merasakan sesuatu yang aneh di balik tumpukan kertas dalam lemari. Sebuah map merah yang selama ini tidak pernah disebutkan dalam laporan mana pun. Map itu bertuliskan: "Proyek Navasari: Operasi Jakarta 1995."
Arum membuka map itu sekilas, dan wajahnya mendadak pucat. Ia melihat foto masa muda Siska bersama ayah Baskara. Di bawahnya tertulis sebuah kontrak yang menyatakan bahwa Navasari sebenarnya hanyalah jaminan atas utang pribadi yang dilakukan oleh petinggi-petinggi di Jakarta.
"Mas..." Arum menoleh pada Baskara dengan tatapan ngeri. "Perang ini bukan cuma soal dana desa. Ini soal identitas kita semua. Siska bukan hanya ingin uang kita... dia ingin menghapus jejak bahwa keluarga kita adalah korban dari rencana mereka sejak tiga puluh tahun lalu."
Tiba-tiba, dari kegelapan hutan di belakang menara, terdengar suara tepuk tangan yang pelan dan ritmis. Sesosok pria tinggi dengan setelan militer muncul, didampingi oleh beberapa orang bersenjata lengkap.
"Audit yang luar biasa, Nyonya Arum," ujar pria itu. "Tapi sayangnya, rekaman dan map itu adalah barang yang dilarang keluar dari Navasari malam ini."
Pria berseragam militer itu melangkah maju, cahaya dari bara api yang masih menyala di reruntuhan menara memantul di tanda pangkat peraknya. Namanya adalah Kolonel Baskoro nama yang selama ini hanya didengar Arum sebagai "bayangan" di balik kekuatan politik Siska di Jakarta.
"Serahkan map merah itu, Arum. Itu bukan konsumsi warga desa," suara Kolonel Baskoro berat dan penuh penekanan.
Baskara pasang badan di depan istrinya. "Ini tanah kami, Kolonel. Dan apa pun yang ada di dalam lemari ini adalah hak warga Navasari untuk tahu!"
Warga desa, yang tadinya hanya membawa ember, kini mulai merapatkan barisan di belakang Baskara dan Arum. Mereka memegang apa saja—pacul, sabit, hingga kayu sisa reruntuhan. Suasana menjadi sangat mencekap. Satu letusan senjata saja bisa memicu pertumpahan darah.
Arum bisa merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya, tapi otaknya tetap bekerja seperti mesin hitung. Ia melirik ke arah Marno yang berdiri di dekat tangki air, lalu kembali menatap Kolonel Baskoro.
"Kolonel," Arum memulai, suaranya jernih dan tidak bergetar. "Anda mungkin punya senjata. Tapi apakah Anda punya sinyal?"
Kolonel Baskoro mengernyitkan alis. "Apa maksudmu?"
"Sejak saya menyalakan alarm desa tadi, sistem pemancar di menara ini secara otomatis mengunggah seluruh data yang dipindai oleh lemari besi cerdas ini ke server cloud yang saya sewa di luar negeri," bohong Arum dengan wajah paling meyakinkan yang pernah ia miliki. "Setiap sepuluh menit, jika saya tidak memasukkan kode verifikasi di ponsel saya, data 'Operasi Jakarta 1995' itu akan terkirim otomatis ke sepuluh media nasional dan kantor KPK."
Ini adalah gertakan murni. Arum tahu lemari besi itu manual, tapi Kolonel Baskoro tidak tahu seberapa jauh kemampuan teknis seorang mantan auditor papan atas seperti Arum.
Kolonel Baskoro terdiam. Ia menatap Arum dengan tatapan menilai, mencoba mencari celah kebohongan di mata wanita itu. "Kau berjudi dengan nyawamu, perempuan kecil."
"Saya tidak berjudi dengan nyawa, Kolonel. Saya sedang melakukan audit terhadap risiko karier Anda," balas Arum tajam. "Jika Anda menembak kami di sini, berita itu akan tersebar lebih cepat daripada peluru Anda. Apakah Siska layak Anda bela sampai Anda kehilangan jabatan dan masuk mahkamah militer?"
Ketegangan itu pecah ketika salah satu anak buah Kolonel berbisik, memberitahukan bahwa banyak warga yang mulai merekam kejadian ini dengan ponsel mereka dari kejauhan. Di zaman digital ini, kegelapan hutan Navasari tidak lagi bisa menyembunyikan kejahatan.
"Tarik mundur," perintah Kolonel Baskoro tiba-tiba.
"Tapi, Komandan "
"Tarik mundur!" bentaknya. Ia kemudian menoleh pada Arum. "Kau menang malam ini, Arum. Tapi ingat, data di dalam map itu adalah api yang lebih panas dari menara ini. Begitu kau membukanya sepenuhnya, kau tidak akan bisa kembali menjadi istri Pak Kades yang biasa."
Pasukan itu menghilang ke dalam kegelapan secepat mereka datang. Begitu bayangan mereka hilang, Arum jatuh terduduk di atas abu yang basah. Napasnya tersengal. Map merah itu ia dekap erat-erat.
Baskara berlutut di sampingnya, memeluk bahunya yang gemetar. "Arum, kamu hebat. Kamu benar-benar menyelamatkan kita."
"Mas..." Arum menatap suaminya dengan mata yang penuh ketakutan. "Aku berbohong soal server itu. Tidak ada data yang terunggah."
Baskara tertegun, lalu tertawa kecil penuh kekaguman. "Kamu memang istri paling cerdik sekaligus paling nekat yang pernah ada."
Arum membuka map merah itu perlahan di bawah cahaya senter Marno. Di halaman terakhir, ia menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti bernapas sejenak. Sebuah nama tercantum sebagai saksi kunci transaksi utang piutang tahun 1995 itu.
Nama itu bukan Siska. Bukan ayah Baskara.
"Mas... ini nama ibuku," bisik Arum. "Ibuku bukan meninggal karena kecelakaan di Jakarta. Dia ada di sini, di Navasari, saat semua ini terjadi. Dia adalah auditor pertama yang menemukan kecurangan ini tiga puluh tahun lalu."
Ternyata, kedatangan Arum ke Navasari bukan hanya karena pernikahan, tapi karena takdir yang ingin menyelesaikan apa yang dimulai ibunya.
menegangkan ..
lanjut thor..